astronomi

Galaxy Terjauh di Alam Semesta

Tim astronom internasional menemukan galaksi yang paling jauh di jagat raya.

Galaksi tersebut berjarak 30 miliar tahun cahaya dari Bumi dan membantu astronom memahami apa yang terjadi sesaat setelah Dentuman Besar atau Big Bang.

Galaksi tersebut ditemukan lewat hasil analisis data Teleskop Hubble. Sementara, jaraknya dikonfirmasi dengan teleskop yang berbasis di Observatorium Keck, Hawaii.

Penemuan galaksi ini dipublikasikan di jurnal Nature.

Karena lamanya cahaya bergerak di antariksa mencapai Bumi, astronom memperkirakan bahwa galaksi itu berasal dari masa 13,1 miliar tahun lalu. Jaraknya kini 30 miliar tahun cahaya karena semesta terus mengembang.

Pimpinan tim penelitian, Steven Finkelstein dari University of Texas di Austin, mengatakan, “Ini adalah galaksi paling jauh yang kami konfirmasi. Kita melihat galaksi ini seperti 700 juta tahun setelah Big Bang.”

Galaksi itu sendiri dinamai z8_GND_5296.

Astronom mengukur jarak galaksi tersebut dengan menganalisis warnanya.

Karena semesta mengembang dan setiap benda menjauhi manusia, gelombang cahaya juga merenggang. Hal ini membuat suatu obyek lebih merah dari yang sebenarnya.

Astronom menyusun tingkat perubahan warna menjadi merah itu dalam sebuah skala yang disebut redshift.

Astronom menemukan, redshift galaksi itu adalah 7,51. Ini lebih besar dari redshift galaksi yang dianggap terjauh sebelumnya, 7,21.

Angka tersebut membuat galaksi ini ditetapkan sebagai yang terjauh untuk saat ini.

Galaksi itu sendiri sangat kecil, hanya 1-2 persen massa Bimasakti dan kaya unsur berat.

Namun demikian, galaksi itu punya karakteristik yang mengejutkan, mampu mengubah debu menjadi bintang baru dalam kecepatan yang mengagumkan, ratusan kali lebih cepat dari Bimasakti.

Ini adalah galaksi berjarak jauh kedua yang punya tingkat produksi bintang mengagumkan.

Finkelstein mengatakan, “salah satu yang menarik saat mempelajari semesta adalah mempelajari yang ada di batas-batas dan bahwa mereka mengungkapkan sesuatu tentang proses fisika apa yang mendominasi pembentukan dan evolusi galaksi.”

“Yang mengagumkan dari galaksi ini bukan hanya jaraknya, ini juga istimewa,” katanya.

Meski demikian, dalam beberapa tahun ke depan, dengan James Webb Sace Telescope milik NASA, astronom pasti dapat menemukan galaksi yang lebih jauh.

Menanggapi hasil riset ini, Alfonso Aragon-Salamanca dari University of Nottingham, mengungkapkan bahwa temuan ini sangat penting namun pencarian harus terus dilanjutkan.

“Semakin jauh kita mengeksplorasi, semakin dekat kita menuju penemuan bintang pertama yang terbentuk di semesta,” katanya seperti dikutip BBC, Rabu (23/10/2013).

Namun, Stephen Serjeant dari Open University menuturkan bahwa analisis redshift untuk menentukan jarak galaksi menantang. Tapi, banyak klaim galaksi terjauh setelah dianalisis lagi ternyata berada lebih dekat dari yang diduga.

sumber: BBC

Advertisements
Categories: astronomi, sains | Tags: | Leave a comment

Galaksi Terpadat di Alam Semesta

Anak panah menunjuk galaksi M60-UCD1 | NASA/ESA
 Ilmuwan menemukan galaksi yang padat layaknya Kota Jakarta, berjarak 54 juta tahun cahaya dari Bumi. Galaksi ini dinobatkan sebagai galaksi paling padat sejagat.

Dengan bantuan Hubble Space Telescope dan Chandra X Ray Observatory, ilmuwan menemukan bahwa galaksi bernama M60-UCD1 itu 15.000 kali lebih padat dibandingkan dengan Bimasakti.

“Berkelana dari bintang ke bintang akan lebih mudah di M60-UCD1 dibandingkan dengan di galaksi kita, tetapi masih akan memakan waktu ratusan tahun dengan teknologi saat ini,” kata Jay Strader dari Michigan State University yang memimpin studi.

Bagian paling padat dari galaksi tersebut adalah pusatnya, di mana 200 juta massa bintang tinggal dan terentang dalam radius hanya 80 tahun cahaya.

Hal itu berarti, jarak satu bintang dengan bintang lain di galaksi ini 25 kali lebih dekat dibandingkan dengan Bimasakti.

Chandra X Ray Observatory mengungkap bahwa pusat galaksi ini adalah sumber sinar X yang sangat kuat karena memiliki lubang hitam raksasa yang 10 juta kali lebih masif daripada Matahari. Ukuran lubang hitam itu dua kali lebih masif dari lubang hitam di Bimasakti.

Astronom memprediksi, pada masa lalu, M60-UCD1 berdekatan dengan galaksi lain dan bintang-bintangnya ditarik. Lubang hitam raksasa kemudian menarik bintang-bintang yang survive ke pusat.

“Kami berpikir hampir semua bintang telah ditarik dari bagian luar dari galaksi yang semula lebih besar dari saat ini,” kata Duncan Forbes dari Swinburne University di Australia seperti dikutip National Geographic, Rabu (25/9/2013).

“Ini meninggalkan inti galaksi sebelumnya yang sangat padat dan lubang hitam supermasif,” ungkapnya.

sumber : National Geographic
Categories: astronomi, sains | Tags: | Leave a comment

Galaksi Terkecil di Jagat Raya

Segue 2 | Garrison-Kimmel, Bullock

Galaksi kerdil yang memuat 1.000 bintang dan mengorbit Galaksi Bimasakti menjadi galaksi terkecil yang pernah ditemukan.

Galaksi tersebut dinamai Segue 2. Bintang-bintang di galaksi itu disatukan oleh gumpalan materi gelap. Ilmuwan yang menemukan galaksi kecil itu mengatakan bahwa penemuan galaksi ini bisa memperkaya pemahaman tentang pembentukan alam semesta.

Ilmuwan mengungkapkan, semesta seharusnya kaya akan galaksi-galaksi kerdil. Namun, jumlah galaksi kerdil yang ditemukan saat ini jauh dari yang diperkirakan.

Kosmolog dari Uniersity of California, Irvine, James Bullock, mengatakan, “Ketidakmampuan astronom untuk mengukur obyek kosmik ini jadi teka-teki, menunjukkan bahwa mungkin pemahaman teoretis kita tentang semesta memiliki kekurangan.”

“Menemukan galaksi sekecil Segue 2 seperti menemukan gajah yang lebih kecil dari tikus,” ungkap Bullock seperti dikutip Space, 10 Juni 2013.

Segue termasuk galaksi yang sangat redup. Menurut astronom, kecerlangan galaksi itu sekitar 900 kali lebih terang dari Matahari. Sementara kecerlangan Bimasakti mencapai 20 miliar kali lebih terang.

Evan Kirby yang juga terlibat dalam riset mengungkapkan bahwa Segue 2 mempunyai densitas 10 kali lebih kecil dari yang diduga.

Penemuan Segue 2 dipublikasikan di Astrophysical Journal. Penemuan Segue 2 akan membantu ilmuwan menerangkan bagaimana unsur-unsur seperti besi dan karbon terbentuk di alam semesta kita.

Sumber : SPACE.COM
Categories: astronomi, sains | Tags: | Leave a comment

Neutrino, Kunci Menuju Batas Semesta

Dengan teropong elektron, manusia mengetahui keberadaan jutaan bintang di jagat raya. Dengan neutrino, ilmuwan berharap menemukan batas semesta ini. Penelitian partikel yang jauh lebih kecil dari elektron, nyaris tak bermassa, dan berkecepatan mendekati kecepatan cahaya itu kini terus dilakukan.

Neutrino adalah salah satu jenis partikel elementer (fermion) yang memiliki massa sangat kecil. Gabungan tiga jenis neutrino (neutrino elektron, neutrino muon, dan neutrino tao) hanya bermassa kurang dari 0,28 eV (elektron-Volt). Bandingkan dengan masa elektron yang sebesar 105,6 MeV (Mega-elektron-Volt).

Sesungguhnya massa neutrino belum dapat terukur secara akurat dengan teknologi instrumentasi yang ada. Kendalanya, partikel subatom ini tidak bermuatan listrik sehingga tidak berinteraksi dengan partikel lain. Itulah sebabnya, neutrino dengan mudah melewati materi apa pun di jagat raya, termasuk Bumi.

Neutrino sulit terdeteksi dan susah ”ditangkap” meskipun tersebar di muka Bumi karena kemunculannya menyertai paparan sinar Matahari ke Bumi. Setiap detik, ada sekitar 65 miliar neutrino dari Matahari melewati areal seluas satu sentimeter persegi di muka Bumi.

Neutrino sesungguhnya bukan material baru. Partikel renik ini mulai menjadi perhatian banyak periset setelah ditemukan dan dipublikasikan oleh fisikawan Austria, Wolfgang Pauli, pada tahun 1930.

Ada serangkaian tonggak sejarah penemuan neutrino, di antaranya penamaan partikel tersebut oleh Enrico Fermi yang menjulukinya ”neutrino”, artinya si kecil yang netral. Lalu penemuan tiga jenis atau variasi neutrino pada tahun 1956 oleh Fred Reines dan Clyde Cowan dalam eksperimen di reaktor nuklir. Reines kemudian meraih Hadiah Nobel Fisika tahun 1995.

Upaya mengukur massa neutrino berhasil dilakukan peneliti di Observatorium Kamiokande Super di Jepang yang mulai beroperasi tahun 1996. Observatorium ini terletak 1.000 meter di bawah tanah di Tambang Mozumi di daerah Kamioka Hida.

Detektor neutron yang digunakan antara lain berupa tabung foto sebanyak 13.000 buah yang ditanamkan dalam tanah pada kedalaman hingga 2 kilometer (km). Penelitian ini menemukan ukuran neutrino yang juga disebut partikel ”titik”, yaitu sepersejuta massa elektron atau di bawah dua elektron volt.

Penelitian yang dilakukan setelah itu belum mencapai perkembangan berarti. Salah satu riset yang relatif baru adalah OPERA (Oscillation Project with Emulsion-Racking Apparatus) yang dilaporkan peneliti di European Organization for Nuclear Research (CERN) pada tahun 2011.

Dalam penelitian itu dilakukan penembakan partikel neutrino menembus Bumi dari CERN Swiss hingga ke Gran Sasso National Laboratory di Italia. Bila ditarik garis lurus dari penampang Bumi, jaraknya mencapai 730 km dengan kedalaman 1.400 meter. Penelitian selama tiga tahun itu bertujuan mengukur waktu kedatangan 15.000 neutrino.

Mereka sempat menyebutkan neutrino berkecepatan 299.798 km per detik, yaitu di atas cahaya, yang 299.792 km per detik. Namun, hasil itu kemudian dikoreksi karena ternyata saat pengukuran terjadi gangguan teknis pada salah satu kabel di instalasi yang digunakan.

Penelitian ulang yang dilakukan tim dari Imaging Cosmic and Rare Underground Signals (ICARUS) di lokasi sama menunjukkan kecepatan neutrino sama dengan kecepatan cahaya, tidak superluminal (lebih cepat dari cahaya).

Kutub Selatan

Penelitian dilakukan pula di Kutub Selatan. Namun, pengukuran partikel bersifat unik ini harus tetap jauh dari permukaan Bumi, yaitu dengan menempatkan detektor neutrino di bawah tanah. Tujuannya untuk mengurangi pengaruh distorsi dari sinar kosmis.

Di lokasi itu, neutrino yang dapat menembus Bumi tidak terkontaminasi oleh partikel lain. ”Di lapisan sangat keras di dasar Bumi diharapkan banyak neutrino yang tertangkap,” kata Terry Mart, pakar fisika nuklir dan partikel teoretis dari Universitas Indonesia.

Di Kutub Selatan, peneliti dari Universitas Wisconsin-Madison Amerika membangun Ice Cube (Kubus Es). Bangunan dalam lapisan es ini berukuran tidak tanggung-tanggung, tingginya lebih dari 2,45 km atau hampir delapan kali tinggi Menara Eiffel di Paris.

Dalam bangunan raksasa itu terjulur 86 kabel hingga kedalaman 2.450 meter. Tiap kabel menahan 60 modul optik digital yang masing-masing memuat 5.160 sensor. Pemasangan banyak sensor dan jauh di bawah lapisan es bertujuan menangkap neutrino lebih baik. Modul ini dirancang tahan beroperasi dalam lingkungan yang sangat ekstrem selama minimal 20 tahun.

Teropong semesta

Pada masa mendatang, para ilmuwan berharap dapat menggunakan sifat partikel subatom yang kekal ini dan tembus materi apa pun sebagai teropong untuk mencapai batas alam semesta. Kemampuannya diharapkan lebih baik dari teleskop elektron.

Menurut teori Dentuman Besar (Big Bang), alam semesta berawal dari suatu ledakan obyek yang sangat panas dan terus berekspansi hingga saat ini. Sisa-sisa radiasi kosmik—akibat dentuman besar itu—dalam bentuk gelombang mikro ditemukan oleh fisikawan Arno Penzias dan Robert Wilson pada tahun 1964.

Penemuan neutrino diharapkan bisa mendukung lebih lanjut penelitian fenomena tersebut. Dalam jumlah yang amat sangat banyak neutrino ini tentu akan bisa memengaruhi ekspansi alam semesta.

Hal ini dimungkinkan karena pada 23 Februari 1987, Super- Kamiokande untuk pertama kalinya mendeteksi neutrino dari ledakan supernova yang terjadi di Large Magellanic Cloud. Pengamatan ini menegaskan bahwa teori ledakan supernova adalah benar dan membuka era baru dalam astronomi neutrino.

Categories: astronomi, sains | Tags: | Leave a comment

Cara Shalat dan Puasa di Antariksa !

International Space Station (ISS) dilihat dari pesawat ulang alik Endeavour |

 

Sejumlah Muslim ternyata pernah pergi ke antariksa. Muslim pertama yang pergi adalah Sultan Salman Al Saud dari Arab Saudi, yang terbang dalam misi STS 51-G pada 17 Juni 1985. Yang terakhir adalah astronot Malaysia, Sheikh Muszaphar Sukhor, yang terbang dalam misi Soyuz TMA-11 pada 10 Oktober 2007.

Jadi pertanyaan sekarang, bisakah dan bagaimanakah Muslim harus menunaikan ibadah di antariksa? Memasuki Ramadhan seperti saat ini, jika ada Muslim di antariksa, maka bagaimana harus menjalankan shalat tarawaih atau shalat lain? Apakah Muslim di antariksa bisa berpuasa?

Sejak keberangkatan Sheikh Muszaphar Sukhor, isu tentang beribadah di antariksa mengemuka. Pada tahun 2006, Badan Antariksa Malaysia (ANGKASA) bekerja sama dengan Department of Islamic Development Malaysia (JAKIM) mengadakan Seminar on Islam and Living in Space.

Seminar tersebut menghasilkan sebuah pedoman bagi Muslim untuk menjalankan ibadah di antariksa. Dinyatakan bahwa walaupun berada di luar angkasa, Muslim tetap dapat menjalankan ibadah. Hanya, perlu beberapa penyesuaian terkait kondisi antariksa yang berbeda dengan Bumi.

Shalat, termasuk tarawih, harus dilakukan sendiri jika tak ada Muslim lain dalam misi antariksa yang sama. Kondisi antariksa dengan gravitasi rendah kadang mempersulit Muslim untuk berdiri tegak, rukuk, dan bersujud seperti di Bumi. Karenanya, Muslim di antariksa diperbolehkan shalat dengan posisi duduk atau tidur telentang.

Umat Muslim juga harus wudu sebelum shalat. Karena kondisi minim air, Muslim di antariksa bisa melakukan tayamum untuk menggantikan wudu. Tayamum bisa dilakukan dengan menggosokkan telapak tangan pada permukaan yang bersih atau cermin, lalu mengusapkannya pada bagian tubuh tertentu yang harus dibersihkan.

Arah shalat harus menghadap ke kiblat. Di antariksa, Muslim juga bisa menghadap kiblat bila mengetahui betul arah kiblat. Bila tidak, muslim bisa shalat dengan menghadap ke Bumi. Bila tak paham atau sulit juga menentukan arah Bumi, Muslim bisa shalat menghadap ke mana saja.

Untuk shalat wajib, Muslim juga bisa menjalankan shalat lima waktu dan tetap berhak untuk melakukan jamak (menggabungkan) atau qasar (menyingkat) bila punya halangan tertentu. Sementara itu, waktu shalat wajib mengikuti waktu shalat tempat peluncuran misi antariksa.

Bila akan berpuasa, maka Muslim juga tetap bisa melakukannya. Bila merasa kurang nyaman, maka Muslim bisa mengganti ibadah puasanya setelah Ramadhan ketika kembali ke Bumi. Waktu sahur, imsak, puasa, dan berbuka mengikuti waktu yang sama dengan tempat peluncuran.

Sheikh Muszaphar Sukhor sendiri terbang ke antariksa pada saat Ramadhan. Dikutip Reuters, 24 September 2007, Sukhor saat itu berharap dapat tetap berpuasa di antariksa. Namun, ia juga mengatakan bahwa Islam sangat toleran. Oleh karenanya, penggantian puasa saat sudah berada di Bumi juga diperbolehkan.

sumber: kompas

Categories: astronomi | Tags: | Leave a comment

Muslim yang Pernah ke Antariksa

 

Puluhan astronot dan turis antariksa telah mengangkasa. Adakah di antara mereka yang Muslim? Jawabannya, ada. Hingga saat ini, sudah 8 Muslim yang pergi ke antariksa, baik bersama misi Rusia maupun Amerika Serikat. Siapa saja mereka? Berikut daftarnya.

Sultan Salman Al Saud

Sultan Salman Al Saud adalah mantan pilot Royal Saudi Air Force. Ia terbang ke antariksa dalam misi STS-51-G dengan pesawat antariksa Discovery. Ia menjalankan misi pada 17-24 Juni 1985.

Sultan Salman Al Saud menjadi Muslim pertama yang pergi ke antariksa. Ia pun memecahkan rekor sebagai orang termuda yang pernah ke antariksa, yakni pada usia 28 tahun.

Saat ke antariksa, Sultan Salman Al Saud bertugas menjadi payload specialist. Ia tergabung dalam tim beranggotakan 7 astronot, merepresentasikan Arab Satellite Communication Organization dalam memasang satelitnya, ARABSAT 1-B.

Muhammed Faris

Muhammed Faris adalah orang Suriah pertama yang berhasil ke antariksa. Ia sebelumnya adalah pilot di Syrian Air Force sebelum terpilih untuk berpartisipasi dalam program penerbangan antariksa Intercosmos.

Muhammed Faris terbang ke antariksa dalam misi Mir EP-1 dengan Soyuz TM-3 ke Stasiun Luar Angkasa Mir pada bulan Juli 1987. Ia menghabiskan 7 hari dan 23 jam di antariksa sebelum akhirnya pulang dengan misi Soyuz TM-2.

Musa Maranov

Musa Maranov adalah seorang kolonel di Soviet Air Force. Ia lulus dari Moscow Aviation Institute sebelum akhirnya terpilih sebagai kosmonot pada 1 Desember 1978.

Musa Maranov terlibat dalam dua misi antariksa, tercatat sebagai salah satu astronot yang menghabiskan waktu terlama di antariksa, dan pernah melaksanakan 20 kali misi spacewalk.

Misi pertama Musa Maranov berlangsung pada 21 Desember 1987 hingga 21 Desember 1988, tepatnya selama 365 hari dan 22 jam. Sementara itu, misi keduanya berlangsung pada 2 Desember 1990 hingga 26 Mei 1995, tepatnya selama 175 hari dan 1 jam.

Abdul Ahad Mohmand

Abdul Ahad Mohmand adalah mantan anggota Afghan Air Force. Ia terbang ke antariksa bersama misi Mir-EP 3 dengan Soyuz TM-6 pada 29 Agustus 1988, menjalankan misi 9 hari di Stasiun Luar Angkasa Mir.

Selama di antariksa, Abdul Ahad Mohmand menjalankan beberapa eksperimen serta memotret negaranya dari antariksa dan membuatkan teh Afganistan bagi semua kru astronot.

Toktar Aubakirov

Toktak Aubakirov berasal dari Kazakhstan. Ia menjalankan misi ke antariksa bersama misi Soyuz TM-13 pada 2 Oktober 1991. Ia menghabiskan waktu sekitar 8 hari di antariksa.

Talgat Musabayev

Talgat Musabayev terlibat tiga misi ke antariksa, yakni pada misi Mir EO-16 dengan penerbangan Soyuz TM-19, misi Mir EO-25 dengan penerbangan Soyuz TM-27, dan misi ISS EP-1.

Total hari yang dihabiskan Aubakirov di antariksa mencapai 341 hari. Dalam misi terakhirnya, ia juga membawa turis angkasa pertama, Dennis Tito.

Shalizan Sharipov

Shalizan Sharipov adalah investigator proyek Advanced Diagnostic Ultrasound in Microgravity. Ia telah dua kali pergi ke antariksa dan menjalankan dua misi spacewalk.

Misi pertama Sharipov ke luar angkasa adalah membawa 8.000 pon alat eksperimen bersama misi STS-89 dengan pesawat ulang alik Endeavour. Misi ini berlangsung selama 8 hari, yakni 22-31 Januari 1998.

Sementara itu, misi keduanya adalah bersama Expedition 10 ke International Space Station (ISS) dengan Soyuz TMA-5. Misi berlangsung selama 192 hari sejak peluncuran dari Baikonur Cosmodrome pada 14 Oktober 2004.

Pada misi kedua, Sharipov bertugas mendukung fungsional dari ISS. Ia juga melaksanakan beberapa penelitian termasuk ekologi Bumi dari antariksa.

Anousheh Ansari

Anousheh Ansari adalah orang Iran pertama sekaligus seorang Muslimah (wanita Muslim) pertama yang pergi ke antariksa. Ia terbang sebagai turis antariksa dengan Soyuz TMA-9 pada 18 September 2006.

Selama di antariksa, Ansari menjalankan beberapa eksperimen seperti mekanisme di balik anemia, bagaimana perubahan otot mempengaruhi sakit punggung, serta dampak radiasi pada kru ISS dan mikroorganisme yang hidup di tubuh pada kru.

Sheikh Muszaphar Sukhor

Sheikh Muszaphar Sukhor adalah orang Malaysia pertama yang terbang ke antariksa. Ia terbang dengan Soyuz TMA-11 pada 10 Oktober 2007.

Sheikh Muszaphar Sukhor terbang ke antariksa atas kerja sama dengan Rusia dalam program Angkasawan, setelah Malaysia membeli banyak pesawat Rusia, Sukhoi Su-30.

Di antariksa, Sheikh Muszaphar Sukhor melakukan beberapa eksperimen seperti pertumbuhan kanker hati dan leukemia serta kristalisasi beragam protein dan mikroba.

sumber: kompas.com

Categories: astronomi, sejarah | Tags: | Leave a comment

Galaksi Masa Lampau Menyimpan Banyak Gas Hidrogen

detail berita

CALIFORNIA – Astronom masih berusaha memahami bagaimana galaksi dapat terbentuk dan berevolusi. Mereka meyakini bahwa galaksi yang terbentuk miliaran tahun lalu memiliki kandungan hidrogen dan mendukung untuk pembentukan bintang yang tinggi.

Dilansir Redorbit, Jumat (14/6/2013), astronom mempelajari cahaya dari galaksi terjauh. Mereka juga mengamati bagaimana pembentukan galaksi tertua di alam semesta (universe) dan perkembangan evolusinya.

Akan tetapi, peneliti memiliki kendala ketika galaksi yang ingin diamati, justru berada di lokasi yang terjauh. Ini yang menyulitkan peneliti untuk mengungkap lebih dalam asal-usul galaksi tersebut.

Hal tersebut merupakan masalah yang dihadapi astronom, terutama untuk mempelajari kuantitas gas hidrogen pada evolusi galaksi. “(Galaksi yang berjarak) jauh, muda, galaksi tersebut terlihat sangat berbeda dengan galaksi yang terdekat,” ungkap Jacinta Delhaize dari  International Centre for Radio Astronomy Research.

Ia mengatakan, galaksi terjauh tersebut menunjukkan tanda-tanda evolusi yang telah berlangsung dalam waktu lama. “Tantangannya ialah mencoba dan membayangkan properti fisik apa di dalam galaksi yang mengalami perubahan, dan bagaimana serta mengapa hal tersebut bisa terjadi,” jelasnya.

Astronom memprediksi bahwa galaksi awal mengandung kuantitas tinggi elemen paling ringan. Delhaize menjelaskan, galaksi di masa lalu membentuk bintang dengan lebih cepat ketimbang galaksi saat ini.

“Kami berpikir bahwa galaksi masa lalu memiliki hidrogen lebih banyak. Itulah mengapa tingkat pembentukan bintang mereka lebih tinggi,” tuturnya.

Di 2012, astronom mengklaim telah menemukan galaksi terjauh yang ada di alam semesta. Galaksi terjauh ini tampak seperti gumpalan yang sangat kecil, yang hanya sebagian kecil dari ukuran galaksi Bima Sakti.

Objek ini juga memberikan wawasan baru terkait masa awal terbentuknya alam semesta, atau sekira 13,7 miliar tahun lalu. Para ilmuwan mengatakan, galaksi yang baru ditemukan ini bernama MACS0647-JD. Galaksi ini kabarnya telah berusia sekira 420 juta tahun dan terbentuk setelah ledakan dahsyat (Big Bang). (fmh)

sumber: okezone

Categories: astronomi, sains | Tags: | Leave a comment

Ilmuwan Temukan Tiga Planet Mirip Bumi

 

CNN
Kepler 62f.
Kepler 62f.

WASHINGTON — Para ilmuwan mengumumkan penemuan tiga planet yang bisa menjadi kandidat tempat tinggal manusia di luar sistem tata surya. Sayangnya, letak tiga planet tersebut sangat jauh dari bumi.

Satelit NASA Kepler mengawasi lebih dari 150 ribu bintang untuk mengidentifikasi planet mirip bumi. Satelit itu menemukan tiga planet. Dua planet, Kepler-62E dan Kepler-62F yang merupakan planet terjauh untuk menjadi calon tempat tinggal manusia. Keduanya dinaungi bintang tuan rumah-seperti mataharinya bumi, Kepler62. Planet ketiga yang berpotensi dihuni disebut Kepler-69C.

Planet-planet tersebut merupakan planet terkecil yang pernah ditemukan di zona hunian, daerah dekat sebuah bintang dimana planet secara teori dapat menahan air. Kepler-69c tampak kurang jelas di zona layak huni dibandingkan dua planet lain.  “Dengan semua penemuan ini…planet yang mirip bumi berada di mana-mana,” ujar ilmuwan Kepler, thomas Barclay dilansir CNN.

Kepler-62 terletak sejauh 1.200 tahun cahaya dari bumi. Sementara, kepler-69 terletak 2.700 tahun cahaya. Satu tahun cahaya merupakan jarak cahaya dalam ruang hampa dalam satu tahun, hampir 6 triliun mil.

Kepler-62F diperkirakan 40 persen lebih besar dari bumi, paling berpotensi seperti planet bumi. Kemungkinan planet tersebut berbatu dengan kutub, daratan, dan air.

Sementara itu, Kepler-62E diperkirakan 60 persen lebih besar dari planet bumi dan sedikit lebih dekat dengan planet induknya. Diperkirakan, planet ini sebagian besar terdiri dari lautan.

Planet lainnya, Kepler-69c tampak mengorbit sebuah bintang mirip matahari. Planet ini diperkirakan 70 persen lebih besar dari bumi dan juga memiliki air dengan laut yang berkedalaman ribuan kilometer.

Categories: astronomi, sains | Leave a comment

NASA Ungkap Misteri Lapisan Ozon Bumi

 

detail berita

Ilustrasi (Foto: Astrobio)

CALIFORNIA – Lapisan ozon berada di 25 kilometer di atas permukaan Bumi. Ilmuwan National Aeronautics and Space Administration (NASA) berupaya mengungkap misteri yang ada pada lapisan terpenting bagi kehidupan makhluk hidup di Bumi tersebut.

Dilansir Astrobio, Rabu (3/4/2013), bau yang keluar dari ozon, bila dihirup kabarnya akan membuat paru-paru seseorang terbakar. EPA (Environmental Protection Agency) mengklasifikasi tingkat ozon terendah sebagai polusi udara.

Sekalipun ozon berbahaya bila terhirup, namun tanpa adanya lapisan di angkasa ini, kehidupan di Bumi akan menjadi mustahil. Lapisan ini berada di 25 kilometer di atas permukaan Bumi, di mana terdapat molekul ozon yang memblok radiasi sinar ultraviolet (UV) berbahaya.

Sinar ini kabarnya akan membakar kulit dan menyebabkan kanker. Di Mars, lapisan ozon ini tidak ditemukan dan apabila sinar matahari menerpa permukaan Mars, hal tersebut akan dapat memberikan efek mematikan.

Bagaimana lapisan ozon di Bumi? Untuk melacak lapisan ozon di Bumi, NASA akan meluncurkan sensor ozon berbasis luar angkasa, yakni SAGE III. Sensor ini dijadwalkan untuk dipasangkan di International Space Station pada 2014.

Para peneliti mulai khawatir tentang ozon di awal 1970-an. Ketika itu, ilmuwan kimia Frank “Sherry” Rowland dan Mario Molina dari University of California mengungkapkan bahwa bahan utama dari semprotan aerosol bisa merusak ozon di stratosfer.

Ketakutan semakin menjadi ketika di 1985, peneliti British Antarctic Survey mengumumkan, konsentrasi ozon di atas Halley Bay dekat Kutub Selatan mengalami kebocoran alias muncul “lubang ozon”. Kabarnya, lubang tersebut kian membesar dari waktu ke waktu.

Untuk mengatasi kerusakan pada ozon, kerjasama internasional dilakukan terkait upaya untuk mengurangi penggunaan bahan kimia penghancur ozon yang diatur oleh Montreal Protocol. Kerjasama tersebut disepakati pada September 1987 dan menghasilkan pengurangan pada kerusakan ozon. Lapisan ozon akan “sembuh” total sepenuhnya pada 2050. (fmh)

 

Categories: astronomi, sains | Tags: , | Leave a comment

Satelit

Satelit adalah benda yang mengorbit benda lain dengan periode revolusi dan rotasi tertentu. Ada dua jenis satelit yakni satelit alam dan satelit buatan. Sisa artikel ini akan berkisar tentang satelit buatan.

Sejarah

Satelit buatan manusia pertama adalah Sputnik 1, diluncurkan oleh Soviet pada tanggal 4 Oktober 1957, dan memulai Program Sputnik Rusia, dengan Sergei Korolev sebagai kepala disain dan Kerim Kerimov sebagai asistentnya. Peluncuran ini memicu lomba ruang angkasa (space race) antara Soviet dan Amerika.

Sputnik 1 membantu mengidentifikasi kepadatan lapisan atas atmosfer dengan jalan mengukur perubahan orbitnya dan memberikan data dari distribusi signal radio pada lapisan ionosphere. Karena badan satelit ini diisi dengan nitrogen bertekanan tinggi, Sputnik 1 juga memberi kesempatan pertama dalam pendeteksian meteorit, karena hilangnya tekanan dalam disebabkan oleh penetrasi meteroid bisa dilihat melalui data suhu yang dikirimkannya ke bumi.

Sputnik 2 diluncurkan pada tanggal 3 November 1957 dan membawa awak mahluk hidup pertama ke dalam orbit, seekor anjing bernama Laika.

Pada bulan Mei, 1946, Project Rand mengeluarkan desain preliminari untuk experimen wahana angkasa untuk mengedari dunia, yang menyatakan bahwa, “sebuah kendaraan satelit yang berisi instrumentasi yang tepat bisa diharapkan menjadi alat ilmu yang canggih untuk abad ke duapuluh”. Amerika sudah memikirkan untuk meluncurkan satelit pengorbit sejak 1946 dibawah Kantor Aeronotis angkatan Laut Amerika (Bureau of Aeronautics of the United States Navy). Project RAND milik Angkatan Udara Amerika akhirnya mengeluarkan laporan diatas, tetapi tidak mengutarakan bahwa satelit memiliki potensi sebagai senjata militer; tetapi, mereka menganggapnya sebagai alat ilmu, politik, dan propaganda. Pada tahun 1954, Sekertari Pertahanan Amerika menyatakan, “Saya tidak mengetahui adanya satupun program satelit Amerika.”

Pada tanggal 29 Juli 1955, Gedung Putih mencanangkan bahwa Amerika Serikat akan mau meluncurkan satelit pada musim semi 1958. Hal ini kemudian diketahui sebagai Project Vanguard. Pada tanggal 31 July, Soviets mengumumkan bahwa mereka akan meluncurkan satelit pada musim gugur 1957.

Mengikuti tekanan dari American Rocket Society (Masyarakat Roket America), the National Science Foundation (Yayasan Sains national), and the International Geophysical Year, interest angkatan bersenjata meningkat dan pada awal 1955 Angkatan Udara Amerika dan Angkatan Laut mengerjai Project Orbiter, yang menggunakan wahana Jupiter C untuk meluncurkan satelit. Proyek ini berlangsung sukses, dan Explorer 1 menjadi satelit Amerika pertama pada tanggal 31 januari 1958.

Pada bulan Juni 1961, tiga setengah tahun setelah meluncurnya Sputnik 1, Angkatan Udara Amerika menggunakan berbagai fasilitas dari Jaringan Mata Angkasa Amerika (the United States Space Surveillance Network) untuk mengkatalogkan sejumlah 115 satelit yang mengorbit bumi.

Satelit buatan manusia terbesar pada saat ini yang mengorbit bumi adalah Station Angkasa Interasional (International Space Station).

Jenis satelit

Jenis orbit

Banyak satelit dikategorikan atas ketinggian orbitnya, meskipun sebuah satelit bisa mengorbit dengan ketinggian berapa pun.

  • Orbit Rendah (Low Earth Orbit, LEO): 300 – 1500km di atas permukaan bumi.
  • Orbit Menengah (Medium Earth Orbit, MEO): 1500 – 36000 km.
  • Orbit Geosinkron (Geosynchronous Orbit, GSO): sekitar 36000 km di atas permukaan Bumi.
  • Orbit Geostasioner (Geostationary Orbit, GEO): 35790 km di atas permukaan Bumi.
  • Orbit Tinggi (High Earth Orbit, HEO): di atas 36000 km.

Orbit berikut adalah orbit khusus yang juga digunakan untuk mengkategorikan satelit:

  • Orbit Molniya, orbit satelit dengan perioda orbit 12 jam dan inklinasi sekitar 63°.
  • Orbit Sunsynchronous, orbit satelit dengan inklinasi dan tinggi tertentu yang selalu melintas ekuator pada jam lokal yang sama.
  • Orbit Polar, orbit satelit yang melintasi kutub

Daftar negara peluncur satelit

Negara-negara yang mampu meluncurkan satelit sendiri, termasuk pembuatan kendaraan peluncur.

Catatan: banyak negara yang dapat mendisain dan membuat satelit -yang mana bisa dibiliang tidak memerlukan kapasitas ekonomi, ilmu dan industri yang tinggi — tetapi tidak mampu untuk meluncurkannya, dan mereka menggunakan peluncur asing. Daftar dibawah tidak menempatkan berbagai negara tersebut, dan hanya mencantumkan negara yang mampu meluncurkan satelitenya sendiri, ditambah tanggal dimana negara tersebut menunjukan kemampuannya. Seterusnya juga tidak mencantumkan konsorsium satelit atau satelite multinasional.

Peluncuran pertama dari berbagai negara
Urutan Negara Tahun Peluncuran Pertama Roket Satelit
1  Uni Soviet 1957 Sputnik-PS Sputnik 1
2  Amerika Serikat 1958 Juno I Explorer 1
3  Perancis 1965 Diamant Astérix
4  Jepang 1970 Lambda-4S Ōsumi
5  Republik Rakyat Cina 1970 Long March 1 Dong Fang Hong I
6  Britania Raya 1971 Black Arrow Prospero X-3
7  India 1980 SLV Rohini
8  Israel 1988 Shavit Ofeq 1
 Russia[1] 1992 Soyuz-U Templat:Kosmos
 Ukraina[1] 1992 Tsyklon-3 Strela (x3, Russian)
9  Iran 2009 Safir-2 Omid 1

Daftar negara yang meluncurkan satelit dengan dibantu negara lain

Peluncuran pertama menurut negara termasuk bantuan dari pihak lain[1]
Negara Tahun peluncuran Satelit pertama Payloads di orbit pada tahun 2008[2]
 Uni Soviet
( Russia)
1957
(1992)
Sputnik 1
(Cosmos-2175)
1,398
 Amerika Serikat 1958 Explorer 1 1,042
 Kanada 1962 Alouette 1 25
 Italia 1964 San Marco 1 14
 Perancis 1965 Astérix 44
 Australia 1967 WRESAT 11
 Jerman 1969 Azur 27
 Jepang 1970 Ōsumi 111
 Republik Rakyat Cina 1970 Dong Fang Hong I 64
 Britania Raya 1971 Prospero X-3 25
 Polandia 1973 Intercosmos Kopernikus 500  ?
 Belanda 1974 ANS 5
 Spanyol 1974 Intasat 9
 India 1975 Aryabhata 34
 Indonesia 1976 Palapa A1 10
 Cekoslowakia 1978 Magion 1 5
 Bulgaria 1981 Intercosmos Bulgaria 1300
 Brasil 1985 Brasilsat A1 11
 Meksiko 1985 Morelos 1 7
 Swedia 1986 Viking 11
 Israel 1988 Ofeq 1 7
 Luksemburg 1988 Astra 1A 15
 Argentina 1990 Lusat 10
 Pakistan 1990 Badr-1 5
 Korea Selatan 1992 Kitsat A 10
 Portugal 1993 PoSAT-1 1
 Thailand 1993 Thaicom 1 6
 Turki 1994 Turksat 1B 5
 Ukraina 1995 Sich-1 6
 Chili 1995 FASat-Alfa 1
 Malaysia 1996 MEASAT 4
 Norwegia 1997 Thor 2 3
 Philippines 1997 Mabuhay 1 2
 Mesir 1998 Nilesat 101 3
 Singapura 1998 ST-1 1
 Taiwan 1999 ROCSAT-1
 Denmark 1999 Ørsted 3
 Afrika Selatan 1999 SUNSAT 1
 Arab Saudi 2000 Saudisat 1A 12
 Uni Emirat Arab 2000 Thuraya 1 3
 Maroko 2001 Maroc-Tubsat 1
 Aljazair 2002 Alsat 1 1
 Yunani 2003 Hellas Sat 2 2
 Nigeria 2003 Nigeriasat 1 2
 Iran 2005 Sina-1 4
 Kazakhstan 2006 KazSat 1 1
 Belarus 2006 BelKA 1
 Kolombia 2007 Libertad 1 1
 Vietnam 2008 VINASAT-1 1
 Venezuela 2008 Venesat-1 1

Album

Categories: astronomi, sains | Tags: | Leave a comment