arkeologi

Benarkah Neanderthal Pernah Kawin dengan Manusia Modern?

BBCIndonesia.com

Sebuah temuan baru meragukan teori yang menyebutkan bahwa nenek moyang manusia modern telah melakukan perkawinan silang dengan manusia Neanderthal selama ribuan tahun.

Para ilmuwan meneliti usia fosil Neanderthal di dua lokasi di Spanyol bagian selatan dan menyimpulkan mereka jauh lebih tua dari yang diperkirakan sebelumnya.

Dengan kata lain, demikian temuan baru ini, tidak mungkin manusia Neanderthal dan manusia modern pernah hidup bersama di wilayah tersebut, demikian laporan wartawan sains kantor berita AP, John von Radowitz.

Menurut para peneliti, kemungkinan besar Neanderthal telah lama meninggalkan kawasan tersebut sebelum kedatangan Homo sapiens (manusia modern) pertama.

Sejak 1990-an, para ahli percaya bahwa Neanderthal terakhir mengungsi di Semenanjung Spanyol dan akhirnya punah sekitar 30.000 tahun yang lalu.

Pernah kawin?

Fosil tengkorak manusia Neanderthal yang ditemukan di selatan Spanyol.

Sejumlah analisa selama ini menyebutkan pula bahwa sebagian DNA manusia Neanderthal telah bercampur manusia modern melalui perkawinan.

Hal ini didasarkan hipotesa bahwa manusia modern menguasai kawasan yang ditempati orang-orang Neanderthal 10.000 tahun sebelumnya.

Tetapi penelitian terbaru, yang menggunakan metode penanggalan menunjukkan, manusia Neanderthal menguasai Spanyol hanya berlangsung sampai sekitar 45.000 sampai 50.000 tahun
lalu.

Sebelumnya, sebagian ahli yakin jejak DNA Neanderthal dapat ditemukan pada manusia modern yang hidup saat ini, terutama orang Eropa.

Walaupun masih diperdebatkan, beberapa ahli percaya bahwa tautan genetik itu terjadi karena Neanderthal dan manusia modern memiliki nenek moyang yang barangkali telah tinggal di Afrika Utara.

Keduanya diduga pindah ke Eurasia dari Afrika, tetapi pada waktu yang berbeda.

Categories: arkeologi, sains | Leave a comment

Manusia Purba Punah karena Kurang Bergaul??

Daily Mail Homo neanderthalensis

LONDON, KOMPAS.com — Salah satu spesies manusia purba, Neanderthals, pernah hidup di wilayah Eropa, Asia Tengah, dan Timur Tengah selama 300.000 tahun. Namun, spesies itu menghilang dalam rekaman fosil sejak 30.000-40.000 tahun lalu.

Sebab kepunahan Neanderthals menjadi topik hangat dalam antropologi. Ada dugaan bahwa spesies itu punah karena tak sanggup mengatasi dampak perubahan iklim. Ada pula anggapan bahwa spesies itu punah gara-gara kalah berkompetisi dengan manusia.

Kini, pakar dari University of Oxford dan Natural History Museum di London punya hipotesis baru. Menurut mereka, Neanderthals punah karena kemampuan sosial yang rendah. Neanderthals terlalu banyak berinvestasi pada kemampuan melihat.

Membandingkan 32 tengkorak Homo sapiens atau manusia modern dan 13 tengkorak Neanderthals, ilmuwan mendapati bahwa spesies manusia purba itu punya rongga mata yang besar. Ini menjadi indikasi bahwa sebagian besar otak spesies ini bertanggung jawab dalam kontrol pengelihatan.

“Lebih banyak bagian dari otak Neanderthals yang didedikasikan untuk pengelihatan dan kontrol tubuh, meninggalkan sebagian kecil otak untuk mengontrol fungsi lain seperti membangun hubungan sosial,” kata Eiluned Pearce, ilmuwan Oxford yang memimpin studi ini.

Proporsi otak Neanderthals berbeda dengan proporsi otak primata dan manusia saat ini. Bagian yang bertanggung jawab dalam membangun hubungan sosial lebih besar. Semakin besar bagian itu, maka semakin cerdas spesies membangun jejaring.

Riset arkeologis menunjukkan bahwa Neanderthals cuma punya kemampuan membangun jejaring dalam ukuran kecil. Spesies ini cuma mampu memindahkan sumber daya dalam jarak dekat. Kemampuan bertukar alias berdagang spesies ini juga diragukan.

Dalam kondisi ideal, keterbatasan Neanderthals mungkin tak masalah. Namun dalam kondisi sulit, seperti zaman es, keterbatasan meminimalkan peluang untuk tetap eksis. Inilah yang menjadi sebab kepunahan Neanderthals.

“Kalau Neanderthals punya lebih sedikit kenalan dalam lingkup sosialnya, maka hal ini berarti bahwa ada lebih sedikit bantuan yang bisa didapatkan dalam suatu peristiwa seperti gagal sumber daya,” kata Pearce seperti dikutip AFP, Selasa (12/3/2013).

“Grup kecil juga sangat bergantung pada fluktuasi demografi yang berarti ada peluang lebih besar grup tertentu punah. Grup kecil sulit mempertahankan pengetahuan sehingga inovasi akan cenderung hilang,” sambungnya.

Neanderthals diduga punya mata tajam karena terbiasa tinggal di lintang tinggi dengan cahaya minim. Sementara itu, manusia modern yang berevolusi di Afrika terbiasa dengan lingkungan yang cukup terang.

Kemampuan pengelihatan Neanderthals mungkin awalnya cukup membantu. Namun, dalam kondisi tak stabil, kemampuan sosial lebih dibutuhkan. Karena hal inilah manusia modern “memenangkan” lingkungan Bumi dan mendominasi hingga saat ini.

Sumber :
AFP
Categories: arkeologi, sains | Leave a comment

Manusia dan Neanderthal Tidak Berpasangan

Antropolog telah menghancurkan teori bahwa Homo sapien dan Neanderthal pernah berpasangan sehingga mewariskan manusia modern dengan genetik dari sepupu misterius mereka.

Dalam dua tahun terakhir, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa Homo sapien berpasangan dengan Neanderthal, hominid misterius yang tinggal di sebagian Eropa, Asia Tengah dan Timur Tengah sampai 300 ribu tahun lalu namun punah 30-40 ribu tahun lalu.

 

Bukti-bukti ini berasal dari DNA fosil yang menunjukkan bahwa rata-rata orang Eurasia dan Asia memiliki kesamaan satu sampai empat persen DNA dengan Neanderthal, namun orang Afrika hampir tak memiliki kesamaan DNA itu.

Kini sebuah penelitian baru dari para peneliti di University of Cambridge di Inggris menemukan bahwa kesamaan DNA itu berasal dari moyang yang sama, bukan dari “hibridisasi” atau reproduksi antara dua spesies hominid berbeda ini.

Jurnal AS Proceedings of the National Academy of Sciences pada Senin lalu menerbitkan laporan tentang Andrea Manica dan Anders Eriksson dari Grup Evolusi Ekologi yang mengembangkan model komputer untuk simulasi perjalanan genetik tersebut.

Awal perjalanan genetik itu dari nenek moyang yang sama dari Neanderthal dan Homo Sapien yang hidup setengah juta tahun lalu di beberapa bagian Afrika dan Eropa.

Sekitar 300-350 ribu tahun lalu, populasi Eropa dan Afrika dari hominid ini kemudian terpisah.

Terisolasi secara genetik, populasi di Eropa berevolusi sedikit demi sedikit menjadi Neanderthal, sementara populasi di Afrika menjadi Homo sapen yang kemudian meluas keluar dari Afrika sekitar 60-70 ribu tahun lalu.

Komunitas Homo sapien yang secara geografis lebih dekat ke Eropa–kemungkinan di Afrika Utara-menyimpan gen nenek moyang yang lebih besar, menurut teori tersebut.

Komunitas ini pula yang menjadi ‘penjajah’ pertama Eurasia pada perpindahan keluar dari Afrika.

Teori ini bisa menjelaskan bagaimana orang Eropa dan Asia modern memiliki kesamaan genetik dengan Neanderthal, sementara orang Afrika tak memiliki gen ini.

“Hasil kerja kami jelas-jelas menunjukkan pola-pola yang kita lihat di genome Neanderthal bukanlah hal yang istimewa, dan sesuai dengan harapan kami, apa yang kita lihat tanpa hibridisasi,” kata Manica dalam rilis pers.

“Jadi, jika ada hibridisasi terjadi–sulit untuk membuktikan proses ini tak pernah terjadi–jumlahnya sangat sedikit dan jauh lebih kecil dari apa yang diklaim orang sekarang.”

Salah satu pertanyaan terbesar dalam antropologi adalah apa yang terjadi pada kaum Neanderthal.

Hibridisasi atau perkawinan bisa menjawab itu sebagian. Jika Neanderthal menikah dengan manusia, mereka tidak terhapus oleh Homo sapien atau perubahan iklim. Namun genetik mereka akan bercampur dengan genom dari Homo yang lebih dominan.

Dalam studi terpisah yang diterbitkan oleh PNAS, para ilmuwan yang dipimpin oleh Svante Paabo dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman, menemukan bahwa Neanderthal dan Homo sapen berpisah 400-800 ribu tahun lalu, lebih awal dari diperkirakan.

Tim tersebut juga menghitung kapan manusia berpisah dengan simpanse–primata terdekat dengan manusia–sekitar 7-8 juta tahun lalu, lebih cepat dari perkiraan awam 6-7 juta tahun lalu.

Categories: arkeologi, paleontologi, sains | Tags: | Leave a comment

Ada Gen Manusia Neanderthal dalam diri Manusia Modern

manusia purba,neanderthalFlavio Takemoto/stock.xchng
Tim riset internasional telah memetakan gen dari Neanderthal yang sudah lama punah dan membandingkannya dengan gen manusia modern. Mereka menemukan ada gen Neanderthal di dalam diri kita.
Laporan itu dipublikasikan oleh Journal Science setelah para 56 ilmuwan yang berasal dari seluruh dunia bekerja intensif selama lima tahun.
Proyek ini menggunakan sedikit bubuk tulang dari tiga Neanderthal wanita dari sebuah gua di Kroasia, yang telah meninggal 40.000 tahun yang lalu. Lalu mereka membandingkan gen tersebut dengan gen dari manusia sekarang yang tinggal di lima wilayah yang berbeda, Prancis, Papua Nugini, China, Afrika Selatan, dan Afrika Utara.
Kesimpulan dari penelitian itu adalah manusia modern memiliki 1 sampai 4  persen gen Neanderthal pada gen yang membawa kode protein. Gen-gen terebut telah memasuki garis keturunan manusia modern saat Neanderthal dan leluhur manusia meninggalkan Afrika 50.000 tahun yang lalu dan berlabuh di Timur Tengah, Eropa, dan Asia. Neanderthal punah sekitar 30.000 tahun yang lalu.
Genom lengkap dari neandhertal dan manusia modern, yang hidup terpisah selama 400.000 tahun itu, 99,5 persen serupa. Dengan demikian Neanderthal merupakan rekan evolusi terdekat manusia. Sebagai perbandingan, manusia dan simpanse memiliki 98 persen tingkat kemiripan pada gen mereka.
Peneliti mengatakan bahwa mereka telah melakukan analisis terhadap sekitar 60 persen atau 4 miliar DNA Neanderthal yang disebut dengan nucleotides. Walaupun belum selesai, Svante Pääbo, ahli genetika dari Jerman, mengatakan kepada wartawan, “60 persen sudah merupakan contoh statistik yang sangat memuaskan dari gen secara keseluruhan.”
meskipun demikian, “Dibutuhkan fakta yang kuat untuk membuktikan adanya kawin silang antara dua spesies purba tersebut,” kata Richard E. Green dari UC Santa Cruz yang juga terlibat dalam studi. (Arief Sujatmoko, Sumber: Daily Galaxy)
Categories: arkeologi, biologi, paleontologi, sains | Tags: | Leave a comment

Tengkorak Vampir Kembali Ditemukan di Inggris

Penemuan kerangka dengan pasak di tubuh menunjukkan masih ada rasa takut mengenai mayat yang bangkit dari kubur pada tahun 1820-an.

vampir,kelelawar,mitos(Thinkstockphoto)

Para arkeolog merinci beberapa laporan baru dari sebuah penemuan arkeologi lama, mengenai makam makhluk pengisap darah, atau lebih dikenal sebagai vampir, di Inggris. Makam yang bertanggal antara tahun 550 hingga 700, ditemukan pertama kali pada tahun 1959 di Southwell, Nottinghamshire, oleh arkeolog Charles Daniels.

Di dalam makam, terkubur tengkorak dengan paku logam di bahu, jantung, dan pergelangan kaki. Saat pertama kali ditemukan, Daniels langsung mengenali bahwa kerangka tersebut bukanlah tengkorak yang biasa, namun tidak ada penyelidikan lebih lanjut saat itu.

“Komentar Daniels bukanlah sebuah lelucon bahwa dia memang telah memeriksa ‘mata dari gigi’ kerangka tersebut dan jelas ada keterkaitannya dengan vampir,” kata Matthew Beresford, arkeolog dari Southwell.

Para penulis yang juga arkeolog melaporkan hasil penelitian terbarunya secara menyeluruh mengenai tengkorak Southwell dengan menerbitkan dua buah buku, di mana vampir diangkat sebagai subjeknya. Dalam bukunya, Beresford melihat konteks yang lebih luas dari sebuah permakaman. Termasuk penggalian yang terjadi di masa lalu yang ternyata memiliki fenomena pemakaman yang menyimpang –sesuatu yang hanya sedikit diakui di Inggris.

“Selama periode zaman Anglo-Saxon, pencuri, pembunuh, atau pun pengkhianat dihukum dengan cara dikubur di tanah yang terendam air dengan kepala menghadap ke bawah, dipenggal, atau diintai,” tulis Beresford.

Perlakuan seperti itu lantas diperluas penerapannya bagi siapapun yang melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Para arkeolog yakin masih ada sisa-sisa kerangka yang mungkin masih terkubur di situs tersebut karena Daniels mengaku tidak dapat mengambil keseluruhan tubuh tengkorak.

“Menurut sebuah legenda vampir Southwell, sepertinya ia (kerangka yang ditemukan) bukanlah yang terakhir yang dimakamkan di kota ini karena penduduk setempat khawatir bila hidup lagi akan menjadi sumber bencana bagi mereka,” kata Beresford dalam situsnya.

Dalam catatan sejarah, tertulis tahun 1822 Henry Standley, salah seorang terpidana kasus pembunuhan ditemukan tewas di dalam selnya. “Ia mencabut nyawa dengan menggantung dirinya,” kata Beresford.

Sebuah laporan surat kabar lokal tanggal 15 Februari 1822 mengungkapkan, Standley dimakamkan di dekat persimpangan jalan dengan pasak yang terpancang ke tubuh. Lokasi persimpangan jalan dipilih sebagai permakaman karena di situlah lokasi ideal bagi seseorang terduga vampir.

“Teorinya, jika mereka hidup kembali maka mereka tidak mengetahui jalan kembali ke desa. Dan dalam cerita rakyat, jika seseorang bunuh diri, maka berisiko besar menjadi vampir dalam kematiannya,” kata Beresford.
(Umi Rasmi Sumber: Discovery News)

Categories: arkeologi, sains | Leave a comment

Kelainan Tulang Bantu Menguak Kepastian Kerangka Raja Richard III

Luka bekas perang dan tes DNA juga mendukung kepastian bahwa kerangka yang ditemukan adalah Raja Richard III.

raja richard iii,inggrisRaja Richard III. (thinkstockphoto)

Arkeolog yang mengekskavasi kerangka tulang di pelataran parkir di Leicester, Inggris, sejak 2012 lalu memastikan bahwa tulang tersebut adalah Raja Richard ke III, Senin (4/2). Kepastian didapat setelah diketahui adanya kelainan tulang belakang yang dialami si kerangka.

Selain itu, juga terdapat luka bekas perang yang sesuai dengan deskripsi penyebab kematian Raja Richard III di Perang Mawar –perang sipil yang berperan penting dalam sejarah Inggris dan disebut juga Pertempuran Bosworth. Kepastian ini diumumkan sehari setelah para arkeolog merilis foto tengkorak yang mengalami bekas luka.

Untuk lebih memastikannya, para peneliti di University of Leicester melakukan serangkaian tes. Termasuk ekstrak DNA dari gigi dan tulang untuk dibandingkan dengan Michael Ibsen –keturunan dari saudari Raja Richard III, Anne of York.

Ternyata ditemui kesamaan genetik antara kerangka dengan Ibsen. “DNA menunjukkan bahwa ini adalah kerangka dari Richard III,” ujar Turi King, ahli genetika dari University of Leicester.

Raja Richard ke III lahir pada 1452 dan memerintah Inggris mulai dari 1483 hingga 1485. Pendeknya masa kekuasaan Richard III berhubungan dengan kematiannya di Perang Mawar.

Meski demikian, reputasi sejarahnya penuh kontroversi. Ada satu cerita yang menyebut sang raja tega membunuh dua keponakannya sendiri demi mengamankan tahta.

Shakespeare juga pernah menampilkan teater berjudul “Richard III” yang berisi catatan kejahatan sang raja. Namun, menurut perkumpulan Richard III Society, banyak fakta dari drama ini yang dianggap tidak valid.
(Zika Zakiya. Sumber: Discovery News)

Categories: arkeologi, sains | Leave a comment

Catatan Sejarah dari Feses Orang Romawi

KOMPAS.com – Sekitar 10 ton feses berumur 2.000 tahun diangkat dari bekas pembuangan limbah di bawah kota kuno Herculaneum, dekat Naples, Italia. Kandungan feses tersebut bisa memberikan pandangan baru tentang kehidupan orang-orang biasa sehari-hari dalam Kekaisaran Roma.

Berdasarkan temuan biji-bijian, pecahan cangkang, dan temuan lain menunjukkan bahwa penduduk Herculaneum memiliki jenis makanan yang beragam, termasuk ayam, kambing, ikan, buah ara, adas, zaitun, bulu babi, dan beberapa moluska. “Makanan standar orang kota,” kata peneliti sejarah Andrew Wallace-Hadrill. “Jenis makanan yang baik, yang akan direkomendasikan dokter,” tambahnya.

Temuan ini dianggap menarik karena mengungkap makanan orang-orang biasa. Makanan yang biasa terungkap adalah makanan para kaum elite Roma. “Baru sedikit yang diketahui tentang makanan orang biasa,” Wallace-hadrill memberi catatan.

Feses ditemukan di tempat penampungan yang menampung limbah dari blok-blok tempat tinggal serta toko-toko. Menurut ilmuwan, tempat limbah ini dianggap terbesar dari yang pernah ditemukan. Panjangnya mencapai 70 meter dengan lebar 1 meter dan tinggi 2 hingga 3 meter. Para peneliti tidak menemukan saluran pengaliran dari tempat penampungan.

Tempat penampungan tersebut diperkirakan berasal dari tahun 79 SM. Saat itu, terjadi letusan Gunung Vesuvius yang mengubur Herculaneum dan tetangganya yang terkenal Pompeii.

Para peneliti menemukan perhiasan, koin, dan batu-batu berharga dari toko pernak-pernik. Mereka juga menemukan perabotan rumah tangga, seperti lampu rusak dan barang-barang pecah belah.

Fesesnya sendiri, seperti dikatakan Wallace-Hadrill, “Sama sekali tidak berbau.” Saat ini baru 70 karung dari 774 karung feses yang sudah diteliti. Penelitian lebih lanjut, penelitian mikroskopis, terhadap feses diharapkan memberi informasi mengenai penyakit, bakteri, atau infeksi parasit. (National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)

Categories: arkeologi, sains, Uncategorized | Leave a comment

Misteri Piramida Peotihuacan Suku Aztec

Pada abad ke-13,ketika Orang2 Aztec menyapu masuk ke Meksiko Bagian Tengah,Kota Teotihuacan yang dulunya padat ini (kira2 puncak kejayaanya sekitar 400 M) telah sepi ditinggalakan para pembangunnya yang misterius.
Bahkan orang-orang Aztec yang ganas pun sangat terpukau saat pertama kali melihat bangunan piramida-piramida kematian ini.Pusat upacaranya yang megah,dimana puluhan ribu masyarakatnya berkumpul di tengah-tengah monumen batu keramat,terbenam di bawah rimbunnya pepohonan nan hijau.
Orang-orang Aztec menamai situs purbakala ini dan mengidentifikasi monumen2 paling agung dan megah sesuai dengan kepercayaannya sendiri,yaitu Piramida Matahari dan Piramida Bulan.
Karena berasumsi bahwa beberapa bangunan ini adalah makam,mereka menyebut jalan raya utamanya “Street of the Dead” (Jalan Para Arwah).
Makam2 yang berharga dan mengerikan baru-baru ini ditemukan di Piramida Bulan dalam penggalian yang dipimpin oleh Cabrera Castro dari National Institute of Antropology and History Meksiko,dan Saburo Sugiyama dari Aichi Prefectural University Jepang.Menggali jauh ke dalam struktur batu setinggi 43 meter,para arkeolog menemukan lima lokasi pemakaman.
Mereka membersihkan lapisan terakhir tanah dari dasar dan menemukan lokasi pembantaian yang mengerikan.Kepala-kepala tanpa tubuh dan jasad para pejuang dan para pejabat penting asing,mamalia karnivora,burung pemangsa,dan reptilia mematikan.
Dua kuburan massal yang terpaut jarak waktu setengah abad menyampaikan pesan yang sama,militer Teotihuacan mendominasi bagian dari Mesoamerika dengan kekuatan brutal.
Di bawah penggalian pengarah Saburo Sugiyama,terbaring jasad2 sepuluh pria dari sekitar tahun 300 M.Kemungkinan tawanan perang,mereka dibuat tunduk untuk selamanya,dengan tangan terikat dibelakang tubuh dan semua barang dan perhiasannya dilucuti,mereka dipenggal kepalanya dan dilempar ke sebuah timbunan.Semua korban ini adalah orang asing,seperti yang ditunjukkan oleh analisa tulang dan gigi bertahtakan batuan hijau dan pyrite.
Bukti-bukti menunjukkan,semua korban ini dibunuh dalam upacara ritual untuk menyucikan tahapan2 berikutnya dari konstruksi piramida ini.Kurban paling awal,dari sekitar tahun 200 M,menandai perluasan signifikan dari bangunan ini.Orang asing yang terluka,mungkin tahanan perang,tampaknya dikubur hidup-hidup.Tangannya diikat di belakang tubuhnya,aneka binatang lambang kekuatan mitologi dan militer mengelilingi mayat2 mereka.
Berbagai persembahan dibuat sangat indah,temasuk berbagai senjata obsidian,dan patung kecil dari batu hijau solid.Kemungkinana kurban2 ini dipersembahkan untuk seorang Dewi Perang.
Teotihuacan salah satu perkotaan pertama dibelahan bumi barat.Luasnya hampir 20 kilometer persegi,pada masa kejayaannya,kota perdagangan kaya dengan jaringan luas.
Tak diketahui sebabnya,kota ini runtuh mendadak sekitar tahun 600 M.Banyak penduduknya yang misterius melarikan diri,mereka meninggalakan sedikit catatan untuk digali informasinya.
Hanya tersisa reruntuhan kota dan aneka petunjuk yang menggugah rasa ingin tahu akan sebuah budaya yang pada masanya sangat kuat.
Lokasi teotihuacan

http://1.bp.blogspot.com/_O727moVhtEg/STYi5WBjH4I/AAAAAAAAAFw/EPUBVqdglNQ/s200/m-teotihuacan.jpg
Sekitar 1500 Masehi, Bangsa Aztec menguasai Meksiko. Bangsa ini memang dikenal kejam, para prajurit memburu manusia untuk dikuliti dan dikorbankan kepada para Dewa mereka. Satu hal yang menarik dari sejarah bangsa ini ialah adanya legenda mengenai suatu kota yang hilang. Kota kuno misterius yang fantastis dengan dipenuhi arsitektur-arsitektur luar biasa bernama Teotihuacan. Kota misterius yang hancur itu begitu besarnya, hingga saat suku Aztec menemukannya, mereka percaya pastilah itu tempat yang paling suci di seluruh alam semesta. Bangsa Aztec menamainya Teotihuacan yang memiliki arti tempat dewa-dewa. Kota kuno ini begitu menakjubkan, jaringan jalan-jalan panjang dan piramida-piramida besar berdiri di kota tersebut. Kota tersebut memiliki luas keseluruhan 12,8 km persegi, area yang lebih besar dari Kekaisaran Roma. Suku Aztec menyebut jalan utamanya sebagai jalan kematian dan mereka menamai 2 piramida terbesar sebagai Piramida Matahari dan Piramida Bulan. Dari bangkitnya sekitar tahun 1 Masehi hingga keruntuhannya 7 abad kemudian, Teotihuacan merupakan kota terbesar dibelahan bumi barat. Bangsa Aztec bahkan tidak pernah tahu siapa yang membangun kota besar ini dan mengapa mereka meninggalkannya. Dan hingga hari ini masih menjadi teka-teki membingungkan. Sesuatu hal yang mengerikan pastilah pernah terjadi di sini, hingga seluruh penduduknya lenyap tak berbekas sehingga mengubah kota besar tersebut menjadi sebuah kota hantu tak berpenghuni.
Di Kebudayaan kuno Afrika, Asia, Eropa dan Benua Amerika kita mengetahui alasan utama piramida-piramida besar dibangun, sebagian besar sebagai makam bagi keluarga kerajaan, adapula sebagai altar untuk melangsungkan upacara dan doa. Tapi Piramida di Teotihuacan adalah misteri. Tujuan utama dari pembangunan piramida di sini telah hilang ditelan waktu, karena para pembangun piramida hampir tak meninggalakan informasi apa-apa bagi kita. Kita tak tahu, mereka menyebut diri mereka sebagai bangsa apa? bahasa apakah yang mereka tuturkan atau dimana para penguasa dikubur? Mereka tak meninggalkan buku, sistem tulisan, sejarah tertulis masa lalu. Selama hampir seabad, ahli purbakala telah mengumpulkan banyak petunjuk. Lebih dari 900 ribu pecahan tembikar telah dianalisa, dinomori, dan dikemas. Makna dari beberapa artifak masih banyak diperdebatkan, namun penggalian belum lama ini mengungkap kisah tentang hidup dan mati dari kota piramida ini.
Walaupun merupakan sebuah kota besar, namun sebenarnya Teotihuacan merupakan suatu tempat yang terpencil di wilayah utara yang disebut Mesoamerika. Di awal mula millenium pertama Masehi, tempat tersebut hanyalah wilayah tandus dan gersang, lebih banyak kaktus daripada manusia. Lalu, mendadak hampir dalam semalam, populasi manusia meladak hingga pulahan ribu di kota itu. Bagaimana bisa tempat terpencil berdebu ini mendadak berubah menjadi kota terbesar se-Amerika?
Satu teori menyebutkan bahwa orang-orang kabur dari api para dewa, yaitu letusan gunung berapi mengerikan. Gunung mendadak meletus dan lava membanjiri lerengnya. Seluruh kota terkubur dan sungai-sungai terbendung. Lahan-lahan pertanian musnah dan mengalami kehancuran total. Saat mencari tempat aman, orang-orang yang selamat berhamubran menuju tempat yang akan dikenal sebagai Teotihuacan. Tapi kota itu adalah misteri di dalam misteri. Mengapa semua orang berlari ke tempat yang tandus ini? Padahal terdapat situs lain yang lebih jauh dari gunung berapi, dengan tanah yang lebih subur dan lebih banyak hujan.
Para pengungsi pasti tertarik ke lokasi ini karena ada sesuatu. Atau mungkin ada pemimpin berwibawa yang mengatur populasi pengungsi ini menjadi tatan baru, keharmonisan baru dengan semesta dan kosmos. Orang yang hubungannya sangat kuat pada kekuatan suci yang disukai para dewa. Pemimpin berwibawa itu kemudian berencana membuat persembahan besar untuk para dewa dari gunung berapi. Dimana unsur-unsur bangunan persembahan terdiri dari unsur yang membunuh keluarga mereka dan menghancurkan kota mereka dulu. Mereka akan membangun gunung berapi buatan manusia yaitu piramida. Kemudian sebuah kota dan cara hidup baru pun telah lahir. Piramida-piramida menghantarkan jaman baru, masa dengan tatanan dan harapan masa depan. Piramida-piramida raksasa yang masih tersisa hingga hari ini hanyalah merupakan suatu saksi bisu dari kejayaan di Teotihuacan. Para wisatawan datang dari mana-mana ke tempat yang luar biasa ini. Teotihuacan merupakan adikuasa pertama di Benua Amerika, keajaiban dunia kuno yang lahir dari bencana, dan dibangun oleh sejumlah pengungsi. Selama berabad-abad, keberhasilan mereka menarik orang untuk hidup dalam bayang-bayang piramida. Hingga bencana misterius lainnya entah bagaimana menghancurkan mimpi itu.
Apakah yang sebenarnya terjadi di Teotihuacan dimasa lalu sehingga penduduknya bisa lenyap tak berbekas seperti itu? Rahasianya terletak di jantung piramida-piramida itu sendiri. Di Puncak abad 4 M, tak ada tempat di bumi seperti Teotihuacan. Pada masa itu, Kerajaan Besar di Mesir sudah lama runtuh, Peradaban Klasik di Yunani telah memudar, Kekaisaran Roma sudah lama dijatuhkan kaum Bar-bar. Namun di belahan dunia lain, Teotihuacan sedang mencapai puncak kejayaannya. Beberapa hal penting yang terjadi di bumi, terjadi di Teotihuacan ini. Populasi saat itu membengkak dan mencapai 200 ribu jiwa, ini menjadikan Teotihuacan tak ada tandingannya di Mesoamerika maupun di dunia. Kota ini mengendalikan rute niaga dari Arizona sekarang hingga El Salvador, kekuasaanya membentang di seluruh Mesoamerika. Untuk membandingkan bagaimana keramaian Teotihuacan pada masa silam maka bandingkanlah dengan beberapa kota modern masa kini seperti New York, London, dll. Teotihuacan bisa digambarkan sebagai kota modern masa silam, imigran beruduyung-duyung datang untuk mencari penghidupan baru. Bisa dikatakan, orang dari seluruh Mesoamerika datang untuk hidup di kota piramida ini. Piramida-piramida diibaratkan sebagai pencakar langit yang mengisyaratkan kekuasaan dan dominasi.
Tafsiran Arkeologis menyebutkan bahwa kemungkinan terbesar mengapa kota itu ditinggalkan adalah adanya penemuan-penemuan mengerikan di jantung setiap piramida. Nantinya, tulang-belulang yang berserakan di dalamnya akan menyibak sifat asli dari Kota Besar ini. Mungkin merupakan kunci mengapa megakota yang begitu kuat dan mulia ini akan ditinggalkan oleh orang-orang yang membangunnya. Jauh di dalam kota terdapat bukti akan sisi lain dari Teotihuacan yang amat berbeda. Mungkin juga penuh kekerasan seperti Suku Maya atau Aztec, Teotihuacan juga punya masa lalu kelam dan berdarah. Saburo Sugiyama, Seorang Arkeologi yang telah bertahun-tauhn meneliti Artifak di Teotihuacan mendapatkan penemuan aneh jauh di dalam Piramida Bulan. Tualng belulang manusia berserakan muncul dari dalam tanah dan nampaknya tempat tersebut bukan merupakan penguburan normal. Kerangka-kerangka manusia itu terpenggal, lengan-lengan mereka diikat di punggung. Sesuatu yang keras, kelam dan mengerikan tentulah pernah terjadi disini. Ahli antropologi forensik, Michael Spence, yakin bahwa ia bisa tahu kisah sebenarnya orang-orang itu meninggal. Kerangka-kerangka manusia itu dulunya adalah koraban persembahan. Mereka mengorbankannya dengan mengikat lalu memukulinya minimal dua kali. Untuk menjaga kemakmuran kota piramida, nyawa mereka dipersembahkan untuk para dewa. Teotihuacan sebenarnya juga bukanlah merupaklan kota yang damai dan harmonis, mata uangnya adalah darah manusia. Teotihuacan juga dikatakan sering berperang, dan mereka memuaskan dewa-dewa mereka dengan darah para tawanan perang.
Tapi entah kenapa, di puncak kejayaannya dan pengaruhnya ada yang tak beres. Darah saja tak cukup, para dewa mengkhianati kota piramida. Selama lebih dari 5 abad kota ini berkembang, lalu disekitar abad 6 ia runtuh dan pusat kota yang suci itupun ditinggalkan. Sangat sulit dibayangkan mendadak kota ramai seperti New York misalnya ditinggalkan para penduduknya dalam waktu yang sangat cepat, begitupula Teotihuacan. Hilangnya para pembangun piramida ini adalah misteri besar yang bisa diselesaikan dengan petunjuk terkecil. Bukan dari piramidanya tapi dari gigi yang dikumpulkan dari kuburan kuno, sebab gigi termasuk cara terbaik memahami kesehatan seseorang. Gigi yang kuat menandakan kesehatan yang bagus, namun gigi yang ditemukan disini menunjukkan semuanya tidak baik. Di tahun-tahun terakhir kemansyuran kota itu, kesehatan penduduk tak sebaik sebelumnya. Sebab dari penurunan kesehatan ialah popularitas piramida itu sendiri. Terlalu banyak orang datang untuk hidup dalam bayangna perlindungannya. Kota ini menjadi sekumpulan jalanan padat, rawan penyakit dan bau buangan kotoran. Tak ada cukup makanan atau air minum sehingga menjadikan manusia hidup tidaklah panjang di Teotihuacan. Piramia-piramida itu terlalu sukses sehingga tidak menyadari bahwa kota ini tumbuh menuju titik kehancuran. Tumbuh perpecahan antara orang kaya dan miskin. Jalan utama kota saat itu menjadi wilayah terlarang bagi rakyat jelata. Lalu ada bencana terakhir yang tak bisa dicegah yaitu kekeringan. Kebutuhan akan hujan sangat mendesak, para pendeta bahkan membunuh bayi-bayi di kota itu dengan harapan air mata bayi dapat mendatangkan hujan.
Para ilmuwan dulu percaya saat runtuh dari dalam, kota itu juga diserang dan dimusnahkan oleh bangsa lain. Tapi ada sedikit bukti kekuasaan yang cukup besar diwilayah itu untuk menyerang dan mengalahkan kota selemah Teotihuacan. Teotihuacan pasti menghancurkan diri, lahir dari ketakutan akan gunung berapi, kota ini akan mati dalam api. Hampir 15 abad kemudian, bukti masih terlihat di dinding piramida dan kuil yaitu tanda-tanda pembakaran. Apinya begitu panas hingga menghanguskan batu. Mungkin terjadi secara spontan pada suatu malam, saat ritual suci pengorbanan memohon hujan atau makanan. Menurut suatu teori, warga kota bangkit memberontak dan membakar lambang kejayaan mereka dulu. Dan mereka percaya, dari seluruh penderitaan mereka bersumber pada piramida-piramida yang terletak di kota mereka. Petunjuk menarik mendukung teori ini, yaitu bukti samar kerusakan akibat api di 2000 kompleks apartemen di Teotihuacan.
Tapi teori lain jauh lebih aneh dan bahkan lebih menakutkan. Para arkeologis mendapati bukti tumpukan kayu hangus di reruntuhan kuil. Sisa-sisa api unggun besar dan bukan disebabkan oleh sebuah kekacauan, tapi sesuatu yang direncanakan. Pelakunya mungkin para pendeta yang melayani para dewa dan piramida. Mereka menganggap kejayaan Teotihuacan sudah berlalu, sehingga kediaman kekuasaansuci, lahan suci dari jalan kematian harus dibasmi. Mereka membakar kuil yang ada di puncak piramida, dan menghancurkan pahatan dewa-dewa mereka. Para pendeta merusak ikatan suci antara kota dan kosmos selamanya. Bak gunung berapi membara, kuil di puncak piramida terbakar. Pesan terakhir bagi para dewa, Teotihuacan sudah mati. Seiring waktu berjalan, para penduduk dengan cepat pula meninggalkan kota besar yang telah “sekarat” tersebut.sumber: http://haxims.blogspot.com/2010/02/misteri-piramida-peotihuacan-suku-aztec.html

Categories: arkeologi, sains | Leave a comment

Peneliti Berhasil Ungkap Misteri Kematian Raja Mesir Kuno

Peneliti Berhasil Ungkap Misteri Kematian Raja Mesir Kuno

 

Mumi Ramses III

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA–Para peneliti berhasil memecahkan misteri pembunuhan Raja Ramesses III di Mesir seabad lalu, setelah meneliti mumi sang raja dan naskah-naskah kuno.

Para peneliti melihat lagi mumi Ramesses III untuk mencari jawaban, melakukan pemindaian Computed Tomography (CT) dan menemukan luka serius pada tenggorokan sang raja.

Dalam hasil penelitian yang dipublikasikan di British Medical Journal pada Senin (17/12), peneliti menyebut Raja Ramesses sepertinya mati dengan tenggorokan terkoyak di haremnya.

“Luka yang besar dan dalam di lehernya pasti disebabkan oleh sebuah pisau tajam atau pedang,” kata tim peneliti dalam publikasi British Medical Journal yang dikutip LiveScience.

Mereka menambahkan, potongan yang memutus trakea, esophagus dan banyak pembuluh darah bisa langsung membunuhnya.

Peneliti juga menemukan sebuah jimat bergambar mata Horus, dewa pelindung raja pada masa Mesir kuno, di tenggorokan mumi dan menduga jimat itu digunakan untuk mendapat keberuntungan.

Menurut para peneliti, kemungkinan besar pembalsam pada zaman Mesir kuno mencoba memulihkan luka selama proses pembuatan mumi dengan memasukkan jimat, yang umumnya digunakan untuk tujuan penyembuhan, lalu menutup leher dengan berlapis-lapis linen.

Persekongkolan melawan Ramesses III dipercaya dipimpin oleh seorang istrinya, Ratu Tiye yang kedua, dan Pangeran Pentawere, putra mereka.

Papirus kuno berisi dokumen pengadilan menunjukkan bahwa penghuni harem raja diplot untuk membunuh sang raja sebagai bagian dari kudeta terhadap istana, namun masih belum jelas apakah skema pembunuhan itu berhasil.

Naskah-naskah kuno juga menunjukkan Pentawere diputus bersalah dalam persidangan, dan kemudian bunuh diri, namun tubuhnya tak pernah berhasil diidentifikasi.

Para peneliti yang melakukan studi terbaru menemukan satu mumi yang diduga Pentawere, mumi yang dijuluki “pria tak dikenal E.” Analisis genetik terhadap mumi itu menunjukkan bahwa dia merupakan keturunan Ramesses III.

Ekspresi berkerut pada mumi itu membuat para ilmuwan berspekulasi “pria E” diracun atau dikubur hidup-hidup.

Analisis baru tidak menunjukkan penyebab pasti kematiannya, tapi mereka menemukan bahwa paru-parunya penuh, yang bisa menunjukkan bahwa dia mati karena sesak nafas atau tercekik, atau mungkin bunuh diri.

“Pria E” juga terkubur dalam kulit kambing, bahan yang secara ritual dianggap kotor pada zaman Mesir kuno.

Ini bisa diinterprestasikan sebagai bukti sebuah hukuman dengan prosesi penguburan biasa, bukan prosesi penguburan untuk keluarga kerajaan, kata peneliti yang menyimpulkan bahwa “pria E” merupakan “kandidat yang bagus” untuk Pentawere.

Para sarjana sejak lama berusaha memecahkan teka-teki tentang kematian Ramesses III, yang dipercaya memerintah dari tahun 1186 SM sampai 1155 SM pada dinasti ke-20 Mesir.

Redaktur: Taufik Rachman
Sumber: antara
Categories: arkeologi, sains | Leave a comment

Telur Dinosaurus Berusia 60 Juta Tahun di Temukan di Chechnya

 

Seorang pakar geologi asal Rusia menemukan fosil telur dinosaurus yang berusia 60 juta tahun di Chechnya. Dirinya pun yakin, masih ada banyak fosil yang ada di bawah tanah dan gundukan gunung itu.

“Kami menemukan sekira 40 telur dinosaurus, namun jumlah yang sebenarnya masih belum dikonfirmasi,” ujar pakar geologi dari Universitas Chechen, Said-Emin Dzhabrailov, seperti dikutip Daily Mail, Rabu (18/4/2012).

 Telur-telur dinosaurus itu ditemukan ketika para pekerja konstruksi meruntuhkan sisi dari sebuah bukit untuk membangun jalan raya di dekat Georgia dan Pegunungan Kaukasus. Tim dari pakar geologi itu langsung mendaki bukit berbatu yang terletak di dekat lokasi konstruksi itu.

Dzhabrailov mengatakan, para otoritas di Chechen mulai mempertimbangkan untuk mengubah wilayah itu menjadi sebuah cagar budaya guna menarik atensi para wisatawan di Rusia.

Chechnya sebelumnya merupakan wilayah yang sempat dilanda perang separatis pada tahun 1994 dan 2001. Meski demikian, kekerasan di Chechnya mulai menurun setelah pemerintah setempat mulai menjalankan proyek untuk meningkatkan potensi wisata di Chechnya.
Categories: arkeologi, sains | Leave a comment