religi

Kunci Kebahagiaan

Uang dan Kebahagiaan (ilustrasi)
Oleh: Imam Nawawi

Sudah pasti, tak satu pun manusia menginginkan kesengsaraan. Sebaliknya, seluruh manusia mendambakan kebahagiaan.

Tetapi, dunia adalah pentas yang Allah sediakan untuk melihat bagaimana perilaku manusia kala menerima qadha dan takdir-Nya.

Sudah sunnatullah dalam hidup ini ada yang kaya dan ada yang miskin. Bagi Allah, perkara yang paling penting dari seorang hamba adalah bagaimana sikapnya dalam menerima takdir-Nya. Apakah tetap melakukan amal terbaik dalam segala kondisi (QS 67:2) atau tidak?

Soal kaya dan miskin tidak semata-mata ditentukan hukum kausalitas (sebab-akibat). Dan, kebahagiaan di dalam Islam tidak bisa dibeli dengan materi. Sejauh ini, masih ada anggapan siapa yang rajin dan berilmu pasti ia akan mendapatkan kekayaan dunia.

Anggapan ini memotivasi banyak orang belajar untuk kelak dapat hidup kaya (secara materi), sehingga melakukan apa saja untuk itu. Padahal, di dalam Islam menuntut ilmu dengan rajin itu untuk mendapat ridha Allah dengan beriman dan bertakwa kepada-Nya.

Di sisi lain, kaya atau tidak manusia di dunia, itu bergantung dari niat di dalam hatinya. Jadi, akan mengejar apa seorang manusia sangat ditentukan olehniatnya.

Di dalam Alquran Allah menegaskan, “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.’’ (QS 11: 15-16).

Dalam tafsir Ibnu Katsir, Qatadah berpendapat, “Barang siapa yang menjadikan dunia ini sebagai tujuan, niat, dan sesuatu yang selalu ia kejar maka Allah akan memberikan balasan di dunia atas kebaikan yang telah ia lakukan, sehingga ketika menuju alam akhirat kelak, tidak ada lagi kebaikan baginya yang dapat diberikan sebagai balasan. Sedangkan, seorang mukmin akan diberikan balasan di dunia atas kebaikan yang telah dilakukannya dan diberikan pula pahala atasnya kelak di akhirat.”

Sebagai Muslim, kita mesti sadar Allah pasti akan memberikan ujian kepada seluruh hamba-Nya. Entah itu berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. (QS 2: 155).

Hal ini tidak bisa dihindari karena memang sudah ketetapan Allah bagi seluruh hamba-Nya yang mengaku beriman. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. 29: 2).

Artinya, kebahagiaan itu adalah ketika kita mengimani dengan kekuatan ilmu bahwa hidup ini hakikatnya adalah ujian, sehingga hadir keridhaan yang dalam dan keikhlasan yang menghujam terhadap segala qadha dan takdir Allah yang diterimanya. Ridha itulah kunci kebahagiaan.

Nabi bersabda, “Akan merasakan indahnya iman (bahagia), orang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Nabi Muhammad SAW sebagai rasul utasan Allah SWT.” (HR Muslim).

SUMBER : REPUBLIKA.CO.ID, 

Categories: religi | Tags: | Leave a comment

Tunaikan Janji Menggendong Ibunda Saat Berhaji

null

Seorang jamaah haji asal Pakistan menjadi contoh yang patut ditiru tentang bakti seorang anak laki-laki kepada ibunya.

Pria tersebut terlihat menggendong ibunya yang sudah tua di punggungnya dengan langkah yang cukup enerjik di bawah sengatan sinar matahari, agar segera sampai di stasiun kereta.

Jamaah haji lain kagum kepada pria bernama Muhammad Amin itu, yang terlihat bergegas menggendong ibunya melewati kerumunan orang.

Reporter Okaz berusaha mewawancarainya, tetapi pria Pakistan itu tidak menjawab karena sibuk membawa ibunya ke tempat yang teduh, lansir Saudi Gazette Jumat (18/10/2013).

Wartawan Okaz mengikuti Amin sampai stasiun kereta. Amin kemudian menceritakan bahwa ibunya sedang sakit dan dia khawatir dengan kondisinya.

“Saya ingin selalu melayani ibu selama haji. Ibu saya langsung koma ketika baru melahirkan saya dan hampir meninggal dunia. Sejak ayah menceritakan tentang hal itu, saya berjanji akan menggendongnya di punggung saya selama berhaji, sebab saya sadar tidak bisa membalas jasa yang telah dilakukannya untuk saya,” kata Amin.

Amin datang ke Arab Saudi sejak beberapa tahun lalu. Dia menabung agar dapat memberangkatkan haji ibunya.*

Subahanallah…..

Categories: religi | Tags: | Leave a comment

Kisah Dua Orang Saleh dan guci Emas

Alkisah, di masa lalu sebelum era keislaman, hidup dua orang saleh yang sangat wara. Mereka sangat jujur, amanah dan tak mudah terperdaya oleh harta dunia. Keduanya pun kamudian dipertemukan dalam sebuah mumalah.

Suatu hari, dua pria saleh itu bertransaksi jual beli tanah. Seorang membeli sebidang lahan dari seorang lain. Kesepakatan terjalin, keduanya pun bertransaksi kemudian berpisah.

Beberapa hari berikutnya, pria yang membeli tanah mendatangi si penjual. Bukan untuk komplain tentang tanah yang ia beli, melainkan ia ingin memberikan seguci emas. Ada apa gerangan? Bukankah dia sudah membayar tunai tanah sesuai perjanjian jual beli.

Ternyata si pembeli telah menemukan seguci emas itu terpendam di bahwa tanah yang ia beli. Saat menggalinya, emas-emas itu ditemukan. Ia pun bermaksud mengembalikan emas itu karena dipikirnya, emas itu merupakan harta si pemilik tanah yang lupa tak diambil ketika menjual tanah.

“Ambillah emasmu, aku hanyalah membeli tanah darimu, bukan membeli emas,” ujar si pembeli kepada si pemilik tanah.

Namun ternyata seguci emas itu bukan milik si penjual. Ia hanyalah pemilik tanah itu, bukan beserta emas didalamnya. Ia pun baru tahu bahwa di bawah lahannya terpendam harta yang jumlahnya banyak itu.

Seperti halnya kejujuran si pembeli menemukan harta terpendam, si pemilik tanah pun berkata jujur bahwa dia bukan pemilik emas itu. Ia pun menyerahkan kembali emas itu pada si pembeli.

“Aku menjual tanah kepadamu beserta isinya,” ujar si pemilik tanah.

Inilah sikap orang saleh, mereka bukan berebut harta seperti kebanyakan orang. Keduanya justru saling menyerahkan harta itu karena takut harta itu bukanlah hak mereka. Kebingunan pun melanda mereka. Akhirnya, keduanya menemui seorang qadhi (hakim) untuk memutuskan perihal seguci emas itu.

Mendengar kisah keduanya, qadhi pun kebingungan. Namun ia takjud pada kedua orang saleh yang sama-sama berakhlak mulia. Qadhi pun seorang yang bijak, ia tidak mungkin sembrono memutuskan sesuatu. Ia kemudian berfikir keras untuk memecahkan masalah keduanya seadil-adilnya.

Sang qadhi pun kemudian menemukan sebuah solusi yang akan menyenangkan kedua pihak. Ia pun bertanya pada dua pria saleh itu, “Apakah kalian berdua memiliki anak?” tanyanya.

Seorang berkata, “Saya memiliki seorang anak laki-laki,” ujarnya. Sementara seorang yang lain berkata, “Saya memiliki seorang anak perempuan,” tuturnya. Maka diputuskanlah perkara yang sangat agung.

Qadhi berkata, “Nikahkanlah anak-anak kalian itu, dan berilah mereka kecukupan dengan seguci emas ini. Bersedekahlah kalian dengan harta ini,” putus qadhi.

Giranglah keduanya dengan putusan tersebut. Kedua orang saleh itu sangat gembira akan menjadi besan. Maka dilangsungkanlah pernikahan putra-putri dari bapak-bapak yang shalih. Anak-anak mereka pun pasangan yang pas, saleh dan salehah. Pasangan itu membangun rumah tangga dengan harta seguci emas itu. Kedua pria shaleh itu pun gembira.

Kisah tersebut kurang lebih diambil berdasarkan dari kabar Rasulullah melalui haditsnya. Hadis tersebut diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah. Derajat hadits pun shahih, kisah tersebut benar adanya pernah terjadi di masa lampau dengan Rasulullah sebagai pembawa kabar.

Dua pria shalih telah menjadi teladan bagaimana muslimin bersikap wara. Mereka bersikap sangat hati-hati pada hal yang belum jelas halal dan haramnya. Tak jelas bagi mereka kehalalan seguci emas itu bagi mereka meski harta itu sangat menggiurkan. Mereka pun meninggalkan syubhat harta itu.

Dalam hadis arbain disebutkan, dari Nu’man bin Basyir, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, di antara keduanya terdapat perkara yang samar (syubhat) tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang menghindari syubuhat maka ia membersihkan Dien dan kehormatannya. Barangiapa yang terjatuh ke dalam syubhat  berarti dia jatuh ke dalam perkara yang haram…,” hadis riwayat Bukhari dan Muslim.

sumber : republika

Categories: religi | Tags: | Leave a comment

Perempuan Pertama Yang Masuk Surga

Fatimah Az-Zahra, walaupun putri kesayangan Rasulullah SAW, namun tidak pernah manja. Pantang baginya meminta sesuatu kepada sang ayah. Hidupnya sederhana, dan taat beribadah.

Sebagai seorang istri, serta ibu dari Hasan dan Husein, Fatimah selalu sabar dan ikhlas. Tugas kesehariannya dijalani sendiri, seperti menggiling gandum sampai tangannya lecet.

Tidak ragu mengangkut air untuk kebutuhan keluarga hingga alasnya berbekas di dadanya. Rumah Fatimah selalu bersih, dan rapi berkat keuletannya mengurus perabotan di rumah.

Suatu hari Fatimah menanyakan kepada ayahnya, siapakah perempuan yang pertama kali masuk surga? Rasulullah menjawab, “Wahai Fatimah, jika engkau ingin mengetahui perempuan pertama masuk surga, selain Ummul Mukminin, dia adalah Ummu Mutiah.

“Siapakah Mutiah itu, ya Rasulullah? Di manakah dia tinggal?” tanya Fatimah penasaran. Karena tidak ada yang mengenal Mutiah. Rasulullah menjelaskan, Ummu Mutiah yang dimaksud adalah perempuan yang tinggal di pinggiran Kota Madinah.

Jawaban itu membuat Fatimah tercengang. Ternyata bukan dirinya perempuan yang masuk surga pertama kali. Padahal Fatimah sebagai putri Rasulullah, dan telah menjalankan ibadah, amalan, serta bermuamalah dengan baik.

Untuk memenuhi rasa penasaran, Fatimah berkunjung ke rumah Mutiah di pinggiran Madinah. Dia ingin menyelidiki amalan dan ibadah apa yang dilakukan Mutiah hingga Rasulullah menyebut namanya sebagai perempuan terhormat.

Keesokan harinya, Fatimah pamit kepada suaminya mengunjungi kediaman Mutiah. Dia mengajak putranya Hasan. Setelah mengetuk pintu, memberi salam, terdengar suara dari dalam rumah. “Siapa di luar?” tanya Mutiah.

Fatimah menjawab, “Saya Fatimah, putri Rasulullah.”

Mutiah belum mau membuka pintu, malah balik bertanya, “Ada keperluan apa?”

Fatimah menjawab, ingin bersilaturahim saja. Dari dalam rumah Mutiah kembali bertanya, “Anda seorang diri atau bersama yang lain?”
“Saya bersama Hasan, putra saya,” jawab Fatimah dengan sabar.

“Maaf, Fatimah,” kata Mutiah, “Saya belum mendapat izin dari suami untuk menerima tamu laki-laki.”

“Tetapi Hasan anak-anak,” balas Fatimah.

“Walaupun anak-anak, dia lelaki juga. Besok saja kembali lagi setelah saya mendapat izin dari suami saya,” timpal Mutiah.

Fatimah tidak bisa menolak. Setelah mengucapkan salam ia bersama Hasan meninggalkan kediaman Mutiah.

Keesokan harinya, Fatimah kembali mengunjungi rumah Ummu Mutiah. Kali ini bukan hanya Hasan yang ikut, Husein pun ingin ikut ibunya. Tiba dikediaman Ummu Mutiah, terjadi lagi dialog dari balik pintu.

Menurut Mutiah, suaminya telah mengizinkan Hasan masuk ke rumahnya. Sebelum pintu dibuka, Fatimah mengatakan, kali ini bukan hanya Hasan yang ikut, melainkan bertiga bersama Husein. Mendengar jawaban Fatimah, Mutiah urung membukakan pintu.

Mutiah menanyakan, apakah Husein seorang perempuan? Fatimah meyakinkan Mutiah bahwa, Husein cucu Rasulullah, saudaranya Hasan. “Dia seorang anak laki-laki.”

“Saya belum meminta izin kepada suami kalau Husein mau berkunjung ke rumah ini,” kata Mutiah.

“Tapi Husein masih anak-anak,” tegas Fatimah.

“Walaupun anak-anak, Husein laki-laki juga. Maafkan Fatimah, bagaimana kalau kembali besok, setelah saya meminta izin kepada suami,” kata Mutiah.

Fatimah tidak bisa memaksa Mutiah. Dia bersama Hasan dan Husein kembali pulang, namun besok berjanji untuk datang lagi.

Keesokan harinya, Mutiah menyambut kedatangan Fatimah bersama Hasan dan Husein dengan gembira. Kali ini kehadiran Hasan dan Husein telah mendapat izin dari suaminya. Fatimah pun bersemangat ingin segera ‘menyelidiki’ ibadah, amalan, dan muamalah apa saja yang dilakukan perempuan pertama masuk surga ini.

Keadaan rumah Mutiah jauh dari yang dibayangkan Fatimah. Rumahnya sangat sederhana, tanpa perabotan mewah. Namun, semuanya tertata rapi dan bersih. Tempat tidur beralaskan seprai putih yang harum. Setiap sudut ruangan tampak segar dan wangi membuat penghuninya senang berlama-lama di rumah. Hasan dan Husein pun merasa betah bermain di kediaman Ummu Mutiah.

Selama berkunjung, Fatimah tidak menemukan sesuatu yang istimewa dilakukan Mutiah. Namun, Ummu Mutiah kelihatan sibuk mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu. “Maaf Fatimah, saya tidak bisa duduk tenang menemanimu, karena saya harus menyiapkan makanan untuk suami,” ungkap Mutiah yang terlihat sibuk.

Mendekati waktu makan siang semua masakan sudah tersedia. Mutiah menuangkan satu per satu makanan di wadah khusus untuk dikirim ke suaminya yang bekerja di ladang. Yang membuat Fatimah heran, selain makanan, Mutiah membawa bekal sebuah cambuk.

“Apakah suamimu penggembala?” tanya Fatimah. Menurut Mutiah, suaminya bekerja sebagai petani, bukan penggembala.

“Lalu, untuk apa cambuk tersebut?” tanya Fatimah semakin penasaran.

Mutiah menjelaskan, cambuk ini sangat penting fungsinya. Jika suami Mutiah merasa masakan istrinya tidak enak, dia ridha cambuk yang ‘bicara’.

Mutiah akan menyerahkan cambuk kepada suaminya untuk dipukulkan ke punggungnya. “Berarti aku tidak bisa melayani suami dan menyenangkan hatinya,” kata Mutiah.

“Apakah itu kehendak suamimu?” tanya Fatimah.

“Ini bukan kehendak suami. Suamiku orang yang penuh kasih sayang. Semua ini kulakukan karena keinginanku sendiri, agar jangan sampai menjadi istri durhaka kepada suami.”

Jawaban Mutiah menjadi jawaban atas misteri yang selama ini dicari Fatimah. Masya Allah, demi menyenangkan suami, Mutiah rela dicambuk.

“Aku hanya mencari keridhaan dari suami, karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada suami yang baik dan suami ridha kepada istrinya,” ujar Mutiah.

“Ternyata ini rahasianya,” gumam Fatimah.

Mutiah kini balik heran, “Maksudnya rahasia apa, Fatimah?”

Fatimah menjelaskan bahwa Rasulullah mengatakan dirinya (Ummu Mutiah) adalah perempuan yang diperkenankan masuk surga pertama kali.

“Pantas saja kelak Mutiah menjadi perempuan pertama masuk surga. Dia menjaga diri dan sangat tulus berbakti kepada suami,” ujar Fatimah dalam hati.

Apa yang dilakukan Mutiah bukan simbol perbudakan suami kepada istrinya. Melainkan cermin ketulusan, dan pengorbanan istri yang patut mendapat balasan surga.

sumber: Republika

 

Categories: religi | Tags: | 1 Comment

Kisah Penghuni Pertama Neraka

Tiga orang menanti sidang dengan kepercayan diri yang sangat. Ketiganya yakin betul akan diputuskan menjadi penghuni surga.

Namun pengadilan Allah jauh berbeda dengan pendadilan manusia. Allah Maha Tahu segala hal meski ukurannya seberat dzarrah. Allah pun memiliki sifat Maha adil yang memutuskan setiap perkara tanpa dzalim.

Tiga orang yang merasa menjadi calon penghuni surga ini pun tergelak. Mereka yang terdiri dari orang-orang shalih itu justru berakhir di neraka. Mereka diseret dengan kasar ke dalam api yang membara. Apa gerangan yang terjadi? Rupanya mereka hanyalah shalih di pandangan manusia, namun tak mentauhidkan Allah dalam niat amal mereka.

Orang pertama dipanggil menghadap Allah. Ia merupakan seorang pria yang mati syahid. Si pria mengakui banyaknya nikat yang diberikan Allah padanya. Allah pun bertanya, “Apa yang telah kau perbuat dengan berbagai nikmat itu?”

Mujahid itu menjawab, “Saya telah berperang karena-Mu sehingga saya mati syahid,” ujarnya.

Allah ta’ala pun menyangkalnya, “Kau telah berdusta. Kau berperang agar namamu disebut manusia sebagai orang yang pemberani. Dan ternyata kamu telah disebut-sebut demikian,” firmanNya. Mujahid riya itu pun diseret wajahnya dan dilempar ke jahannam.

Orang kedua pun dipanggil. Ia merupakan seorang alim ulama yang mengajarkan Alquran pada manusia. Seperti orang pertama, Allah bertanya hal sama, “Apa yang telah engkau perbuat berbagai nikmat itu?”

Sang ulama menjawab, “Saya telah membaca, mempelajari dan mengajarkannya Alquran karena Engkau,” ujarnya.

Namun Allah berfirman, “Kamu berdusta. Kau mempelajari ilmu agar disebut sebagai seorang alim dan kau membaca Alquran agar kamu disebut sebagai seorang qari,” Allah, mengadili. Sang alim ulama pun menyusul si mujahid, masuk ke neraka yang apinya menjilat-jilat.

Orang ketiga pun dipanggil. Kali ini ia merupakan seorang yang sangat dermawan. Sang dermawan dianugerahi Allah harta yang melimpah. Allah pun menanyakan tangung jawabnya atas nikmat itu, “Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmatKu” firmanNya.

Sang dermawan menjawab, “Saya tidak pernah meninggalkan sedeqah dan infaq di jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau,” jawabnya.

Dia pun tak jauh beda dengan dua orang sebelumnya. “Kau berdusta,” firman Allah. “Kau melakukannya karena ingin disebut sebagai seorang dermawan. Dan begitulah yang dikatakan orang-orang tentang dirimu,” firmanNya.

Sang dermawan yang riya ini pun diseret dan dilempar ke neraka, bergabung denan dua temannya yang juga menyimpan sifat riya di hati.

Di mata manusia, ketiganya merupakan seorang yang taat beribadah dan diyakini akan menjadi penduduk surga. Namun hanya Allah yang mengetahui segala isi hati hambaNya. Ketiganya tak pernah mengikhlaskan amalan untuk Allah, melainkan agar diakui manusia. Mereka pun berakhir di neraka dan menjadi penghuni pertama neraka.

Kisah pengadilan akhirat tersebut terdapat dalam hadits Rasulullah dari Abu Hurairah. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim, An-Nasa-i, Imam Ahmad dan Baihaqy. Kisah yang sama dalam teks hadits yang berbeda juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan al-Hakim.

Di akhir hadits, Abu Hurairah bahkan membaca firman Allah yang menjadi hikmah pelajaran atas kisah tersebut. “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan,” (QS Hud: ayat 15-16).

sumber: republika

Categories: religi | Tags: | Leave a comment

MAKNA ZAKAT

 

Bulan Ramadhan merupakan bulan ibadah dan taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah SWT. Bulan ini dijadikan pula oleh “banyak” umat sebagai bulan zakat dan sedekah meskipun pada hakikatnya zakat harta dan sedekah tidak mutlak harus dikaitkan dengan bulan Ramadhan.

Karena banyaknya wajib zakat dan orang-orang yang tergugah hatinya untuk bersedekah pada bulan suci ini, maka tidak heran bila banyak pula terlihat kaum mustadh’afin yang hilir mudik, membuang air muka yang tersisa, untuk mendapatkan haknya. Di sana-sini terlihat semacam “pameran kemiskinan“, suatu hal yang tidak sedikit pun direstui oleh agama. Bukankah kemiskinan mendekati kekufuran?

Sangat menarik mempelajari ketelitian redaksi Al-Quran, antara lain yang menyangkut kewajiban berzakat. Sepanjang pengamatan saya, kewajiban tersebut selalu digambarkan dengan kata atu – suatu kata yang dari akarnya dapat dibentuk berbagai ragam kata dan mengandung berbagai makna. Makna-maknanya antara lain istiqamah (bersikap jujur dan konsekuen), cepat, pelaksanaan secara amat sempurna, memudahkan jalan, mengantar kepada, seorang agung lagi bijaksana, dan lain-lain.

Jika makna-makna yang dikandung oleh kata tersebut dihayati, maka kita akan memperoleh gambaran yang sangat jelas dan indah tentang cara menunaikan kewajiban tersebut. Bahasa Al-Quran di atas menuntut agar:

Pertama, zakat dikeluarkan dengan sikap istiqamah sehingga tidak terjadi kecurangan – baik dalam perhitungan, pemilihan dan pembagiannya.

Kedua, bergegas dan bercepat-cepat dalam pengeluarannya, dalam arti tidak menunda-nunda hingga waktunya berlalu.

Ketiga, mempermudah jalan penerimaannya, bahkan kalau dapat mengantarkannya kepada yang berhak sehingga tidak terjadi semacam pameran kemiskinan dan tidak pula menghilangkan air muka.

Keempat, mereka yang melakukan petunjuk-petunjuk ini adalah seorang yang agung lagi bijaksana.

Kalau makna-makna di atas diperhatikan dan dihayati dalam melaksanakan kewajiban ini, maka dapat diyakini bahwa harta benda yang dikeluarkan benar-benar menjadi zakat dalam arti “menyucikan” dan “mengembangkan” jiwa dan harta benda pelaku kewajiban ini.

Kesucian jiwa melahirkan ketenangan batin, bukan hanya bagi penerima zakat tetapi juga bagi pemberinya. Karena kedengkian dan iri hati dapat tumbuh pada saat seorang tak berpunya melihat seseorang yang berkecukupan namun enggan mengulurkan bantuan. Kedengkian ini melahirkan keresahan bagi kedua belah pihak.

Pengembangan harta akibat zakat, bukan hanya ditinjau dari aspek spiritual keagamaan berdasarkan ayat Allah memusnahkan riba dan mengembangkan sedekah/zakat (QS 2: 276). Zakat juga harus ditinjau secara ekonomis-psikologis, yakni dengan adanya ketenangan batin dari pemberi zakat, ia akan dapat lebih mengkonsentrasikan usaha dan pemikirannya guna pengembangan hartanya. Di samping itu, pemberian zakat mendorong terciptanya daya beli baru dan, terutama, daya produksi dari para penerima tersebut.[]

Categories: religi | Tags: | Leave a comment

MEMAHAMI TAKDIR TUHAN

Tidak jarang kita terlibat perdebatan yang tak berujung pangkal perihal kepercayaan akan takdir dan dampaknya bagi umat Islam. Sebagian umat Islam mengalami kesulitan dalam memahami masalah pelik ini sehingga bingung. Karena, jangankan mereka, para ilmuwan dan filosof pun tidak sedikit yang bingung.

Mengingkari qadha dan qadr sebagai rukun iman tidak berarti mengingkari kepercayaan kepada takdir dan qadha Ilahi

Memang dalam surah Al-Nisa ayat 136 hanya menyebutkan lima unsur keimanan, tanpa menyebut takdir. Tetapi, Nabi saw. ketika ditanya tentang iman, beliau menyebut takdir, di samping kelima lainnya. Namun harus diakui bahwa, ketika itu, beliau tidak menamainya rukun.

Semua kaum Muslim percaya sepenuhnya kepada takdir, hanya saja mereka berbeda dalam menafsirkan maknanya. Tulisan ini berusaha melihatnya dari sudut pandang Al-Quran. Taqdir berasal dari kata qadr, yakni “kadar“, “ukuran“, dan “batas“. Matahari beredar di tempat peredarannya , itulah takdir Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui, begitu juga dengan bulan (QS 36: 38).

Dia Yang menciptakan segala sesuatu, lalu Dia menetapkan atasnya takdir (ketetapan) yang sesempurna-sempurnanya (QS 25: 2).

Dan tidak sesuatu pun kecuali ada di sisi Kami khazanah (sumber)-nya dan Kami tidak menurunkannya kecuali dengan kadar (ukuran) tertentu (QS 15 :21).

Banyak sekali ayat Al-Quran yang mengulang-ulang hakikat ini.

Walhasil, segala sesuatu dari yang terbesar hingga yang terkecil, ada takdir yang ditetapkan Tuhan atasnya (lihat QS 65: 35). Rumput hijau atau yang hangus terbakar pun berlaku atasnya takdir Tuhan (QS 87: 4-5). Bagaimana ia tumbuh subur, mengapa ia kering, berapa kadar kekeringannya, kesemuanya itu ukurannya telah ditetapkan oleh Allah. Itulah yang disebut takdir atau sunnatullah yang menurut para rasionalis disebut sebagai hukum-hukum (Tuhan Yang berlaku di) alam.

Manusia mempunyai takdir sesuai dengan ukuran yang diberikan Allah atasnya. Makhluk ini tidak dapat terbang seperti burung. Ini adalah takdir-Nya atau ukuran kemampuan yang ditetapkan Tuhan atasnya. Di samping itu, manusia berada dalam lingkungan takdir, sehingga apa yang dilakukannya tidak terlepas dari hukum-hukum dengan aneka kadar ukurannya itu.

Harus diingat bahwa hukum-hukum itu banyak, dan kita diberi kemampuan untuk memilih – tidak seperti matahari dan bulan, misalnya. Kita dapat memilih yang mana di antara takdir (ukuran–ukuran) yang ditetapkan Tuhan yang kita ambil. Umar bin Khaththab membatalkan rencana kunjungannya ke satu daerah karena mendengar adanya wabah di daerah tersebut. Beliu ditanya: “Apakah Anda menghindar dari takdir Tuhan?” Umar menjawab: “Saya menghindar dari takdir yang satu ke takdir yang lain.”

Berjangkitnya penyakit akibat wabah merupakan takdir Tuhan. Bila menghindar sehingga terbebas dari wabah, ini juga takdir. Kalau begitu ada takdir baik dan takdir buruk. Tetapi ingat, Anda diberi takdir untuk memilih. Karenanya, jangan hanya saat petaka saja terjadi, kita berucap: “Itu takdir.” Ucapkanlah juga pada saat kita meraih sukses.

Takdir, sebagaimana yang dipahami oleh Ahlussunnah boleh jadi tidak seperti di atas. Dan memang pelbagai pandangan tentang takdir sangat sulit dipahami, sehingga gampang menimbulkan kesalahpahaman. Namun demikian, banyak faktor yang lebih dominan dalam kemunduran umat pada saat sekarang ini. Kurang adil menimpakannya pada satu faktor yang juga belum sepenuhnya terbukti.[]

Categories: religi | Tags: | Leave a comment

Ruginya Tidak Puasa di Bulan Ramadhan

Tahukah Anda bahwa :

Rasulullah SAW dari Abu Hurairah RA, bersabda “Barangsiapa tidak berpuasa sehari dari hari-hari Ramadhan maka tidak dapat digantikan oleh hari yang lain dari hari-hari dunia.”

Categories: religi | Tags: | Leave a comment

Perbedaan dan Persamaan Halal Islam dan Kosher Yahudi

Kita semua sering mendengar kata ‘halal’ حلال atau pernah melihat logo-logo halal dari MUI yang terdapat di produk-produk makanan dan minuman yang kita beli sehari-hari. Dalam bahasa Inggris dan Perancis, (kata halal sudah resmi diakui menjadi kata bahasa Inggris dan Perancis) halal diartikan terbatas dalam hal makanan saja, namun dalam bahasa Arab dan di dalam pengertian Islam, halal berarti segala hal yang diperbolehkan menurut hukum Islam. Jadi halal dalam pengertian Islam dapat mencakup pula masalah perbuatan, perkataan, cara berpakaian, dan lain sebagainya. Namun dalam artikel kali ini, kita hanya membatasi permasalahan halal dalam hal makanan saja.

Namun tahukah anda, dalam agama Yahudi terdapat juga aturan-aturan diet atau makanan yang kurang lebih paralel seperti kehalalan dalam Islam, yang disebut kosher (dalam bahasa Inggris dan Perancis) atau kashrut/ כַּשְרוּת dalam bahasa Ibrani (Hebrew). Walaupun terdapat kesamaan-kesamaan antara halal dan kosher, namun halal dan kosher tidak selamanya identik, terdapat perbedaan-perbedaan yang signifikan antara halal dan kosher. Nah, untuk jelasnya mari kita mengetahui persamaan dan perbedaan antara halal dan kosher ini,

HALAL حلال
Dalam hukum Islam, halal dalam makanan bukan saja menyangkut apa yang boleh dimakan dan apa yang tidak boleh dimakan, tetapi juga menyangkut prasayarat binatang yang akan disembelih, cara menyembelih, ritual penyembelihan, persiapan makanan sebelum dihidangkan, dan lain-lain. Dalam mempersiapkan makanan yang halal, hal-hal yang harus diperhatikan adalah:

  • Binatang harus hidup dan sehat pada saat penyembelihan
  • Binatang yang disembelih harus binatang yang halal untuk disembelih
  • Semua darah harus dikucurkan keluar badan binatang setelah disembelih
  • Yang harus menyembelih adalah seorang Muslim
  • Penyembelihan harus dengan pisau yang sangat tajam dan harus sekali sembelih
  • Setiap sebelum menyembelih, menyebutkan basmallah atau nama Allah setiap kali akan menyembelih
  • Dalam menyimpan makanan halal, tidak boleh bercampur dengan makanan yang haram, karena akan menjadi haram

KOSHER כַּשְרוּת
Dalam kosher Yahudi, peraturan-peraturan umumnya adalah sebagai berikut:

  • Binatang yang disembelih harus binatang yang kosher (yang diperbolehkan dalam hukum makanan Yahudi)
  • Seperti halnya dalam halal, dalam kosher binatang yang disembelih harus dalam keadaan hidup dan sehat pada waktu disembelih
  • Darah dari binatang yang disembelih harus mengucur keluar juga.
  • Namun dalam kosher ada beberapa bagian dari binatang yang tidak boleh dimakan
  • khusus untuk buah dan sayuran, harus diinspeksi dulu agar tidak ada hama yang ikut termakan
  • Pengucapan nama Tuhan (paralel seperti basmallah dalam agama Islam) cukup sehari sekali untuk seluruh binatang yang akan disembelih pada hari itu
  • Dalam kosher, daging dan susu (juga produk-produk yang terbuat dari susu seperti keju, mentega, dan lain-lain) tidak boleh dicampur, baik dalam penyimpanannya maupun pada saat memakannya, jadi makanan seperti cheeseburger adalah tidak kosher (tidak boleh) menurut agama Yahudi. (Beberapa sekte Yahudi bahkan ada yang tidak memperbolehkan ikan dicampur dengan daging)
  • Produk-produk anggur yang tidak dibuat oleh orang Yahudi tidak boleh dikonsumsi

Oke, untuk lebih jelasnya, persamaan dan perbedaan antara halal dan kosher dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Jenis Makanan Halal Islam Kosher Yahudi
Babi Tidak Boleh Tidak Boleh
Sapi, Biri-Biri, Kambing, dsb. Boleh Boleh, tapi hanya bagian depan saja
Ayam Boleh Boleh
Kelinci Boleh Tidak Boleh
Ayam Hutan, Bebek, Angsa Boleh Tidak Boleh
Alkohol Tidak Boleh Boleh
Gelatin Boleh, asal dari binatang halal Boleh, meskipun dari binatang non-kosher
Keju Boleh asal enzim yg digunakan berasal dari binatang halal Boleh, enzim dari binatang apapun (asal tidak tercampur daging)
Binatang Amfibi Tidak Boleh Tidak Boleh
Burung Pemangsa Tidak Boleh Tidak Boleh
Binatang Karnivora Tidak Boleh Tidak Boleh
Binatang Laut Boleh Boleh, namun hanya yang bersirip dan bersisik saja, jadi binatang laut seperti kerang dan cumi-cumi tidak boleh
Tumbuhan Laut Boleh Boleh
Darah Tidak Boleh Tidak Boleh

sumber: http://spektrumku.wordpress.com

Categories: religi | Tags: | Leave a comment

Kematian



oleh : Prof M. Quraish Shihab, M.A.

Sebelum  membicarakan  wawasan  Al-Quran  tentang  kematian,
terlebih  dahulu  perlu  digarisbawahi  bahwa kematian dalam
pandangan Al-Quran tidak hanya terjadi  sekali,  tetapi  dua
kali. Surat Ghafir ayat 11 mengabadikan sekaligus membenarkan
ucapan orang-orang kafir di hari kemudian:

     "Mereka berkata, 'Wahai Tuhan kami, Engkau telah
     mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan
     kami dua kali (pula), lalu kami menyadari
     dosa-dosa kami maka adakah jalan bagi kami untuk
     keluar (dari siksa neraka)?"

Kematian  oleh   sementara   ulama   didefinisikan   sebagai
"ketiadaan  hidup,"  atau  "antonim  dari  hidup."  Kematian
pertama dialami oleh manusia sebelum kelahirannya, atau saat
sebelum  Allah menghembuskan ruh kehidupan kepadanya; sedang
kematian kedua, saat ia meninggalkan dunia  yang  fana  ini.
Kehidupan  pertama  dialami  oleh  manusia pada saat manusia
menarik dan menghembuskan nafas di dunia,  sedang  kehidupan
kedua  saat  ia berada di alam barzakh, atau kelak ketika ia
hidup kekal di hari akhirat.

Al-Quran  berbicara  tentang  kematian  dalam  banyak  ayat,
sementara pakar memperkirakan tidak kurang dari tiga ratusan
ayat yang berbicara  tentang  berbagai  aspek  kematian  dan
kehidupan sesudah kematian kedua.

KESAN UMUM TENTANG KEMATIAN

Secara   umum  dapat  dikatakan  bahwa  pembicaraan  tentang
kematian bukan  sesuatu  yang  menyenangkan.  Namun  manusia
bahkan  ingin hidup seribu tahun lagi. Ini, tentu saja bukan
hanya ucapan Chairil Anwar, tetapi Al-Quran  pun  melukiskan
keinginan  sekelompok  manusia  untuk hidup selama itu (baca
surat Al-Baqarah [2]: 96). Iblis berhasil  merayu  Adam  dan
Hawa   melalui   "pintu"   keinginan   untuk   hidup   kekal
selama-lamanya.

     "Maukah engkau kutunjukkan pohon kekekalan (hidup)
     dan kekuasaan yang tidak akan lapuk? (QS Thaha
     [20]: 120).

DEMIKIAN IBLIS MERAYU ADAM.

Banyak faktor yang membuat seseorang enggan mati. Ada  orang
yang  enggan  mati  karena ia tidak mengetahui apa yang akan
dihadapinya setelah kematian; mungkin  juga  karena  menduga
bahwa  yang  dimiliki  sekarang  lebih  baik  dari yang akan
didapati nanti. Atau mungkin juga karena membayangkan betapa
sulit  dan  pedih  pengalaman  mati  dan  sesudah mati. Atau
mungkin karena khawatir  memikirkan  dan  prihatin  terhadap
keluarga  yang  ditinggalkan,  atau  karena tidak mengetahui
makna hidup dan mati, dan lain sebagainya, sehingga semuanya
merasa cemas dan takut menghadapi kematian.

Dari   sini   lahir   pandangan-pandangan   optimistis   dan
pesimistis terhadap  kematian  dan  kehidupan,  bahkan  dari
kalangan para pemikir sekalipun.

Manusia,   melalui   nalar  dan  pengalamannya  tidak  mampu
mengetahui hakikat kematian,  karena  itu  kematian  dinilai
sebagai  salah  satu  gaib nisbi yang paling besar. Walaupun
pada  hakikatnya  kematian  merupakan  sesuatu  yang   tidak
diketahui,   namun  setiap  menyaksikan  bagaimana  kematian
merenggut nyawa yang hidup manusia semakin  terdorong  untuk
mengetahui  hakikatnya  atau,  paling tidak, ketika itu akan
terlintas dalam benaknya, bahwa suatu ketika  ia  pun  pasti
mengalami nasib yang sama.

Manusia  menyaksikan  bagaimana  kematian tidak memilih usia
atau tempat, tidak  pula  menangguhkan  kehadirannya  sampai
terpenuhi  semua  keinginan.  Di  kalangan  sementara orang,
kematian menimbulkan kecemasan,  apalagi  bagi  mereka  yang
memandang  bahwa hidup hanya sekali yakni di dunia ini saja.
Sehingga tidak sedikit yang pada akhirnya menilai  kehidupan
ini  sebagai siksaan, dan untuk menghindar dari siksaan itu,
mereka menganjurkan agar melupakan kematian dan  menghindari
sedapat  mungkin segala kecemasan yang ditimbulkannya dengan
jalan melakukan apa saja secara bebas  tanpa  kendali,  demi
mewujudkan  eksistensi manusia. Bukankah kematian akhir dari
segala sesuatu? Kilah mereka.

Sebenarnya akal dan perasaan  manusia  pada  umumnya  enggan
menjadikan  kehidupan  atau  eksistensi mereka terbatas pada
puluhan tahun saja. Walaupun manusia menyadari bahwa  mereka
harus mati, namun pada umumnya menilai kematian buat manusia
bukan berarti kepunahan. Keengganan manusia menilai kematian
sebagai  kepunahan  tercermin antara lain melalui penciptaan
berbagai cara  untuk  menunjukkan  eksistensinya.  Misalnya,
dengan  menyediakan  kuburan,  atau  tempat-tenapat tersebut
dikunjunginya dari saat ke  saat  sebagai  manifestasi  dari
keyakinannya  bahwa  yang telah meninggalkan dunia itu tetap
masih hidup walaupun jasad mereka telah tiada.

Hubungan antara yang hidup dan  yang  telah  meninggal  amat
berakar  pada jiwa manusia. Ini tercermin sejak dahulu kala,
bahkan jauh sebelum kehadiran agama-agama besar dianut  oleh
umat  manusia  dewasa  ini.  Sedemikian berakar hal tersebut
sehingga orang-orang Mesir  Kuno  misalnya,  meyakini  benar
keabadian manusia, sehingga mereka menciptakan teknik-teknik
yang dapat mengawetkan  mayat-mayat  mereka  ratusan  bahkan
ribuan tahun lamanya.

Konon  Socrates  pernah  berkata,  sebagaimana  dikutip oleh
Asy-Syahrastani dalam bukunya Al-Milal wa An-Nihal (I:297),

     "Ketika aku menemukan kehidupan (duniawi)
     kutemukan bahwa akhir kehidupan adalah kematian,
     namun ketika aku menemukan kematian, aku pun
     menemukan kehidupan abadi. Karena itu, kita harus
     prihatin dengan kehidupan (duniawi) dan bergembira
     dengan kematian. Kita hidup untuk mati dan mati
     untuk hidup."

Demikian  gagasan  keabadian  hidup  manusia  hadir  bersama
manusia   sepanjang  sejarah  kemanusiaan.  Kalau  keyakinan
orang-orang Mesir Kuno mengantar  mereka  untuk  menciptakan
teknik  pengawetan  jenazah  dan  pembangunan  piramid, maka
dalam pandangan pemikir-pemikir  modern,  keabadian  manusia
dibuktikan oleh karya-karya besar mereka.

Abdul  Karim  Al-Khatib  dalam  bukunya Qadhiyat Al-Uluhiyah
(I:214)  mengutip  tulisan   Goethe   (1749-1833   M)   yang
menyatakan:

     "Sesungguhnya usaha sungguh-sungguh yang lahir
     dari lubuk jiwa saya, itulah yang merupakan bukti
     yang amat jelas tentang keabadian. Jika saya telah
     mencurahkan seluruh hidup saya untuk berkarya,
     maka adalah merupakan hak saya atas alam ini untuk
     menganugerahi saya wujud baru, setelah kekuatan
     saya terkuras dan jasad ini tidak lagi memikul
     beban jiwa."

Demikian filosof Jerman itu menjadikan kehidupan duniawi ini
sebagai  arena  untuk  bekerja keras, dan kematian merupakan
pintu  gerbang  menuju   kehidupan   baru   guna   merasakan
ketenangan dan keterbebasan dari segala macam beban.

PANDANGAN AGAMA TENTANG MAKNA KEMATIAN

Agama,  khususnya  agama-agama samawi, mengajarkan bahwa ada
kehidupan sesudah kematian. Kematian adalah awal  dari  satu
perjalanan   panjang   dalam   evolusi   manusia,   di  mana
selanjutnya ia akan memperoleh kehidupan dengan segala macam
kenikmatan atau berbagai ragam siksa dan kenistaan.

Kematian  dalam  agama-agama  samawi  mempunyai peranan yang
sangat    besar    dalam    memantapkan     akidah     serta
menumbuhkembangkan   semangat  pengabdian.  Tanpa  kematian,
manusia tidak akan berpikir tentang apa  sesudah  mati,  dan
tidak  akan  mempersiapkan  diri  menghadapinya. Karena itu,
agama-agama  menganjurkan  manusia  untuk  berpikir  tentang
kematian.    Rasul   Muhammad   Saw.,   misalnya   bersabda,
"Perbanyaklah mengingat pemutus  segala  kenikmatan  duniawi
(kematian)."

Dapat  dikatakan  bahwa  inti  ajakan  para  Nabi  dan Rasul
setelah kewajiban percaya  kepada  Tuhan,  adalah  kewajiban
percaya akan adanya hidup setelah kematian.

Dari  Al-Quran  ditemukan bahwa kehidupan yang dijelaskannya
bermacam-macam   dan   bertingkat-tingkat.   Ada   kehidupan
tumbuhan,  binatang,  manusia,  jin, dan malaikat, sampai ke
tingkat tertinggi  yaitu  kehidupan  Yang    Mahahidup   dan
Pemberi Kehidupan. Di sisi lain, berulang kali ditekankannya
bahwa ada kehidupan di  dunia  dan  ada  pula  kehidupan  di
akhirat.  Yang  pertama  dinamai  Al-Quran al-hayat ad-dunya
(kehidupan yang rendah),  sedangkan  yang  kedua  dinamainva
al-hayawan (kehidupan yang sempurna).

     "Sesungguhnya negeri akhirat itu adalah al-hayawan
     (kehidupan yang sempurna" (QS Al-'Ankabut [29]:
     64).

Dijelaskan pula bahwa,

     "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar, sedang
     akhirat lebih baik bagi orang-orang bertakwa, dan
     kamu sekalian (yang bertakwa dan yang tidak) tidak
     akan dianiaya sedikitpun (QS Al-Nisa' 14]: 77)

Di lain ayat dinyatakan,

     "Hai orang-orang yang beriman, mengapa jika
     dikatakan kepada kamu berangkatlah untuk berjuang
     di jalan Allah, kamu merasa berat dan ingin
     tinggal tetap di tempatmu? Apakah kamu puas dengan
     kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di
     akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini
     dibanding dengan akhirat (nilai kehidupan duniawi
     dibandingkan dengan nilai kehidupan) di akhirat
     hanyalah sedikit (QS At-Tawbah [9]: 38).

Betapa kehidupan  ukhrawi  itu  tidak  sempurna,  sedang  di
sanalah  diperoleh  keadilan  sejati  yang  menjadi  dambaan
setiap manusia, dan di sanalah  diperoleh  kenikmatan  hidup
yang tiada taranya.

Satu-satunya   jalan   untuk   mendapatkan   kenikmatan  dan
kesempurnaan itu, adalah  kematian,  karena  menurut  Raghib
Al-Isfahani:

     "Kematian, yang dikenal sebagai berpisahnya ruh
     dari badan, merupakan sebab yang mengantar manusia
     menuju kenikmatan abadi. Kematian adalah
     perpindahan dari satu negeri ke negeri yang lain,
     sebagaimana dirtwayatkan bahwa, "Sesungguhnya
     kalian diciptakan untuk hidup abadi, tetapi kalian
     harus berpindah dan satu negen ke negen (yang
     lain) sehingga kalian menetap di satu tempat."
     (Abdul Karim AL-Khatib, I:217)

Kematian walaupun kelihatannya adalah kepunahan, tetapi pada
hakikatnya  adalah  kelahiran  yang  kedua. Kematian manusia
dapat diibaratkan dengan menetasnya telur-telur.  Anak  ayam
yang   terkurung   dalam   telur,   tidak   dapat   mencapai
kesempurnaan evolusinya kecuali apabila ia menetas. Demikian
juga  manusia,  mereka  tidak  akan mencapai kesempurnaannya
kecuali apabila meninggalkan dunia ini (mati).

Ada beberapa istilah yang digunakan Al-Quran untuk  menunjuk
kepada   kematian,   antara  lain  al-wafat  (wafat),  imsak
(menahan).

Dalam surat Al-Zumar (39): 42 dinyatakan bahwasanya,

     "Allah mewafatkan jiwa pada saat kematiannya, dan
     jiwa orang yang belum mati dalam tidurnya, maka
     Allah yumsik (menahan) jiwa yang ditetapkan
     baginya kematian, dan melepaskan yang lain (orang
     yang tidur) sampai pada batas waktu tertentu."

Ar-Raghib menjadikan istilah-istilah tersebut sebagai  salah
satu  isyarat betapa Al-Quran menilai kematian sebagai jalan
menuju perpindahan ke sebuah tempat, dan keadaan yang  lebih
mulia  dan  baik  dibanding dengan kehidupan dunia. Bukankah
kematian adalah wafat yang berarti kesempurnaan serta  imsak
yang berarti menahan (di sisi-Nya)?

Memang,  Al-Quran  juga  menyifati  kematian sebagai musibah
malapetaka (baca surat Al-Ma-idah [5]: 106), tetapi  agaknya
istilah  ini  lebih  banyak  ditujukan  kepada  manusia yang
durhaka, atau terhadap mereka  yang  ditinggal  mati.  Dalam
arti bahwa kematian dapat merupakan musibah bagi orang-orang
yang ditinggalkan sekaligus musibah bagi  mereka  yang  mati
tanpa  membawa  bekal  yang  cukup  untuk  hidup  di  negeri
seberang.

Kematian  juga  dikemukakan  oleh  Al-Quran  dalam   konteks
menguraikan  nikmat-nikmat-Nya  kepada  manusia. Dalam surat
Al-Baqarah (2): 28 Allah mempertanyakan  kepada  orang-orang
kafir.

     "Bagaimana kamu mengingkari (Allah) sedang kamu
     tadinya mati, kemudian dihidupkan (oleh-Nya),
     kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya
     kembali, kemudian kamu dikembalikan kepada-Nya."

Nikmat yang diakibatkan  oleh  kematian,  bukan  saja  dalam
kehidupan   ukhrawi   nanti,  tetapi  juga  dalam  kehidupan
duniawi, karena tidak dapat  dibayangkan  bagaimana  keadaan
dunia kita yang terbatas arealnya ini, jika seandainya semua
manusia hidup terus-menerus tanpa mengalami kematian.

Muhammad Iqbal menegaskan bahwa mustahil  sama  sekali  bagi
makhluk  manusia  yang  mengalami perkembangan jutaan tahun,
untuk  dilemparkan  begitu  saja  bagai  barang  yang  tidak
berharga.  Tetapi itu baru dapat terlaksana apabila ia mampu
menyucikan dirinya secara terus menerus. Penyucian jiwa  itu
dengan  jalan menjauhkan diri dari kekejian dan dosa, dengan
jalan amal saleh. Bukankah Al-Quran menegaskan bahwa,

     "Mahasuci Allah Yang di dalam genggaman
     kekuasaan-Nya seluruh kerajaan, dan Dia Mahakuasa
     atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan
     hidup untuk menguji kamu siapakah di antara kamu
     yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya Dia
     Mahamulia lagi Maha Pengampun" (QS Al-Mulk [67]:
     1-2).1

Demikian  terlihat  bahwa  kematian  dalam  pandangan  Islam
bukanlah  sesuatu  yang  buruk,  karena di samping mendorong
manusia untuk  meningkatkan  pengabdiannya  dalam  kehidupan
dunia  ini,  ia  juga merupakan pintu gerbang untuk memasuki
kebahagiaan abadi, serta mendapatkan keadilan sejati.

KEMATIAN HANYA KETIADAAN HIDUP DI DUNIA

Ayat-ayat Al-Quran dan hadis Nabi menunjukkan bahwa kematian
bukanlah  ketiadaan  hidup  secara  mutlak, tetapi ia adalah
ketiadaan hidup di dunia,  dalam  arti  bahwa  manusia  yang
meninggal pada hakikatnya masih tetap hidup di alam lain dan
dengan cara yang tidak dapat diketahui sepenuhnya.

     "Janganlah kamu menduga bahwa orang-orang yang
     gugur di jalan Allah itu mati, tetapi mereka itu
     hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki" (QS
     Ali-'Imran [3]: 169).

     "Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang
     yang meninggal di jalan Allah bahwa 'mereka itu
     telah mati,' sebenarnya mereka hidup, tetapi kamu
     tidak menyadarinya" (QS Al-Baqarah [2]: 154).

Imam Bukhari meriwayatkan melalui sahabat Nabi Al-Bara'  bin
Azib,  bahwa  Rasulullah Saw., bersabda ketika putra beliau,
Ibrahim, meninggal dunia, "Sesungguhnya untuk dia  (Ibrahim)
ada seseorang yang menyusukannya di surga."

Sejarawan Ibnu Ishak dan lain-lain meriwayatkan bahwa ketika
orang-orang  musyrik  yang  tewas  dalam  peperangan   Badar
dikuburkan    dalam    satu    perigi    oleh    Nabi    dan
sahabat-sahabatnya, beliau  "bertanya"  kepada  mereka  yang
telah  tewas  itu,  "Wahai  penghuni perigi, wahai Utbah bin
Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Ummayah bin Khalaf; Wahai  Abu
Jahl   bin   Hisyam,  (seterusnya  beliau  menyebutkan  nama
orang-orang yang di dalam perigi itu satu per  satu).  Wahai
penghuni  perigi!  Adakah  kamu  telah  menemukan  apa  yang
dijanjikanTuhanmu itu benar-benar ada? Aku  telah  mendapati
apa yang telah dijanjikan Tuhanku."

"Rasul. Mengapa  Anda  berbicara  dengan  orang  yang  sudah
tewas?"  Tanya  para  sahabat.  Rasul menjawab: "Ma antum hi
asma' mimma aqul minhum,  walakinnahum  la  yastathi'una  an
yujibuni  (Kamu  sekalian tidak lebih mendengar dari mereka,
tetapi mereka tidak dapat menjawabku)."2

Demikian beberapa teks keagamaan yang dijadikan alasan untuk
membuktikan bahwa kematian bukan kepunahan, tetapi kelahiran
dan kehidupan baru.

MENGAPA TAKUT MATI?

Di atas telah dikemukakan beberapa faktor  yang  menyebabkan
seseorang merasa cemas dan takut terhadap kematian.

Di sini akan dicoba untuk melihat lebih jauh betapa sebagian
dari  faktor-faktor  tersebut  pada  hakikatnya  bukan  pada
tempatnya.

Al-Quran  seperti  dikemukakan  berusaha menggambarkan bahwa
hidup di akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan dunia.

     "Sesungguhnya akhirat itu lebih baik untukmu
     daripada dunia" (QS Al-Dhuha [93]: 4).

Musthafa  Al-Kik  menulis  dalam   bukunya   Baina   Alamain
bahwasanya  kematian  yang dialami oleh manusia dapat berupa
kematian mendadak seperti serangan  jantung,  tabrakan,  dan
sebagainya,  dan  dapat  juga merupakan kematian normal yang
terjadi melalui proses  menua  secara  perlahan.  Yang  mati
mendadak  maupun  yang normal, kesemuanya mengalami apa yang
dinamai sakarat al-maut (sekarat)  yakni  semacam  hilangnya
kesadaran yang diikuti oleh lepasnya ruh dan jasad.

Dalam  keadaan  mati  mendadak,  sakarat  al-maut  itu hanya
terjadi beberapa saat singkat, yang mengalaminya akan merasa
sangat  sakit  karena  kematian  yang dihadapinya ketika itu
diibaratkan oleh Nabi Saw.- seperti "duri yang berada  dalam
kapas,  dan  yang dicabut dengan keras." Banyak ulama tafsir
menunjuk ayat Wa nazi'at gharqa (Demi malaikat-malaikat yang
mencabut  nyawa  dengan  keras)  (QS  An-Nazi'at  [79]:  1),
sebagai isyarat  kematian  mendadak.  Sedang  lanjutan  ayat
surat     tersebut     yaitu    Wan    nasyithati    nasytha
(malaikat-malaikat yang mencabut ruh  dengan  lemah  lembut)
sebagai   isyarat   kepada   kematian  yang  dialami  secara
perlahan-lahan.3

Kematian yang melalui proses lambat itu dan yang  dinyatakan
oleh  ayat  di  atas  sebagai "dicabut dengan lemah lembut,"
sama keadaannya dengan proses yang  dialami  seseorang  pada
saat  kantuk  sampai  dengan  tidur. Surat Al-Zumar (39): 42
yang  dikutip   sebelum   ini   mendukung   pandangan   yang
mempersamakan  mati  dengan tidur. Dalam hadis pun diajarkan
bahwasanya tidur identik dengan kematian. Bukankah doa  yang
diajarkan  Rasulullah  Saw.  untuk  dibaca  pada saat bangun
tidur adalah:

     "Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami
     (membangunkan dari tidur) setelah mematikan kami
     (menidurkan). Dan kepada-Nya jua kebangkitan
     (kelak)."

Pakar tafsir Fakhruddin Ar-Razi, mengomentari surat Al-Zumar
(39): 42 sebagai berikut:

     "Yang pasti adalah tidur dan mati merupakan dua
     hal dari jenis yang sama. Hanya saja kematian
     adalah putusnya hubungan secara sempurna, sedang
     tidur adalah putusnya hubungan tidak sempurna
     dilihat dari beberapa segi."

Kalau  demikian.  mati  itu  sendiri  "lezat  dan   nikmat,"
bukankah   tidur   itu   demikian?  Tetapi  tentu  saja  ada
faktor-faktor ekstern yang dapat menjadikan  kematian  lebih
lezat dari tidur atau menjadikannya amat mengerikan melebihi
ngerinya   mimpi-mimpi   buruk   yang    dialami    manusia.
Faktor-faktor  ekstern  tersebut muncul dan diakibatkan oleh
amal manusia yang diperankannya dalam kehidupan dunia ini

Nabi Muhammad Saw. dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh
Imam   Ahmad   menjelaskan   bahwa,  "Seorang  mukmin,  saat
menjelang kematiannya, akan didatangi oleh  malaikat  sambil
menyampaikan  dan  memperlihatkan  kepadanya  apa yang bakal
dialaminya setelah kematian. Ketika itu tidak ada yang lebih
disenanginya  kecuali  bertemu  dengan Tuhan (mati). Berbeda
halnya  dengan  orang  kafir  yang   juga   diperlihatkannya
kepadanya  apa  yang bakal dihadapinya, dan ketika itu tidak
ada sesuatu yang lebih dibencinya  daripada  bertemu  dengan
Tuhan."

Dalam surat Fushshilat (41): 30 Allah berfirman,

     "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan bahwa
     Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan
     pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada
     mereka (dengan mengatakan), 'Janganlah kamu merasa
     takut dan jangan pula bersedih, serta
     bergembiralah dengan surga yang dijanjikan Allah
     kepada kamu.'"

Turunnya  malaikat  tersebut  menurut  banyak  pakar  tafsir
adalah  ketika  seseorang  yang sikapnya seperti digambarkan
ayat di atas sedang menghadapi  kematian.  Ucapan  malaikat,
"Janganlah  kamu  merasa  takut"  adalah  untuk  menenangkan
mereka menghadapi maut  dan  sesudah  maut,  sedang  "jangan
bersedih"   adalah   untuk  menghilangkan  kesedihan  mereka
menyangkut persoalan dunia yang ditinggalkan  seperti  anak,
istri, harta, atau hutang.

Sebaliknya Al-Quran mengisyaratkan bahwa keadaan orang-orang
kafir ketika menghadapi kematian sulit terlukiskan:

     "Kalau sekuanya kamu dapat melihat
     malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang
     kafir seraya memukul muka dan belakang mereka
     serta berkata, 'Rasakanlah olehmu siksa neraka
     yang membakar' (niscaya kamu akan merasa sangat
     ngeri)" (QS Al-Anfal [8]: 50)

     "Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di
     waktu orang-orang yang zalim berada dalam
     tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para
     malaikat memukul dengan tangannya sambil berkata,
     'Keluarkanlah nyawamu! Di hari ini, kamu dibalas
     dengan siksaan yang sangat menghinakan karena kamu
     selalu mengatakan terhadap Allah perkataan yang
     tidak benar, dan karena kamu selalu menyombongkan
     diri terhadap ayat-ayat-Nya" (QS Al-An'am [6]:
     93).

Di  sisi  lain,  manusia  dapat  "menghibur"  dirinya  dalam
menghadapi   kematian  dengan  jalan  selalu  mengingat  dan
meyakini bahwa semua manusia pasti akan mati. Tidak  seorang
pun  akan  luput  darinya,  karena  "kematian  adalah risiko
hidup." Bukankah Al-Quran menyatakan bahwa,

     "Setiap jiwa akan merasakan kematian?" (QS Ali
     'Imran [3]: 183)

     "Kami tidak menganugerahkan hidup abadi untuk
     seorang manusiapun sebelum kamu. Apakah jika kamu
     meninggal dunia mereka akan kekal abadi? (QS
     Al-Anbiya' [21]: 34)

Keyakinan  akan  kehadiran  maut  bagi  setiap  jiwa   dapat
membantu meringankan beban musibah kematian. Karena, seperti
diketahui, "semakin banyak yang terlibat dalam  kegembiraan,
semakin   besar   pengaruh   kegembiraan   itu   pada  jiwa;
sebaliknya,  semakin  banyak  yang  tertimpa  atau  terlibat
musibah, semakin ringan musibah itu dipikul."

Demikian  Al-Quran  menggambarkan kematian yang akan dialami
oleh manusia taat dan durhaka, dan demikian kitab suci  irõi
menginformasikan   tentang  kematian  yang  dapat  mengantar
seorang mukmin agar  tidak  merasa  khawatir  menghadapinya.
Sementara, yang tidak beriman atau yang durhaka diajak untuk
bersiap-siap menghadapi berbagai ancaman dan siksaan.

Semoga kita semua mendapatkan keridhaan Ilahi dan surga-Nya.
[]

Catatan kaki:
1 Tajdid Al-Fikr Al-lslami, 134.
2 Muhammad Husain Haikal, Sejarah Hidup Muhammad: 259.
3 Musthafa Al-Kik, hlm. 67
Categories: religi | Leave a comment