kisah sukses

Wirausaha Sukses Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih

Wirausaha Sukses Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih,wirausaha sukses,wirausaha,nasi goreng kambing,nasi goreng kambing kebon sirih,peluang usaha nasi goreng,peluang usaha

Mau masakan nasi goreng kambing dengan tekstur bumbu layaknya kari? Coba saja datangi Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih. Di tempat ini, Anda akan menikmati nasi goreng kambing tanpa tersiksa bau daging kambing yang menyegat.

 

Hadi, pemilik dan pengelola Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih adalah generasi penerus kedua usaha kaki lima Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih dan membagi kisahnya kepada okezone. Nasi goreng yang sudah dikenal sejak tahun 1958 ini didirikan Alm H Nein. Dengan menu andalannya adalah nasi goreng kambing, setiap hari usaha ini penuh dengan pelanggan.

 

“Pada awalnya, hanya coba – coba membuat bumbu racikan nasi goreng dipadukan dengan daging kambing. Jahe, kunyit, lengkuas, daun jeruk, serta biji pala merupakan sebagian bahan dari nasi goreng tersebut. Namun dengan bergulirnya waktu, nasi goreng jualan Alm H Nein ini semakin diminati banyak orang,” kata Hadi membuka percakapan.

 

Sesudah orangtuanya meninggal, Hadi meracik sendiri bumbu Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih yang diambil dari resep leluhur. Dengan kombinasi serta ukuran yang tepat, Hadi mengklaim resep nasi goreng kambing nya ini tidak akan jatuh ke tangan orang lain.

 

“Koki di sini tidak dapat membocorkan bumbu, karena racikannya memakai banyak bahan. Orang yang suka mencoba -coba meracik menu sekali pun susah menebak campuran bumbu bahan nasi goreng kita,” papar Hadi.

 

Daging kambing dipilih sebagai menu utama nasi goreng yang dimasak sebanyak empat kuali besar. Untuk itu, Hadi menuturkan alasannya mengapa ia memakai daging binatang khas perayaan hari besar agama Islam ini.

 

“Daging kambing itu enak. Lebih enak, lebih manis, dan lebih gurih dari daging lainnya,” ungkap Hadi.

 

Cara memasak di sini pun terbilang unik. Di dalam satu adonan, koki memasak untuk satu kuali atau sama dengan untuk 100 porsi.

 

Meski identik dengan nasi goreng kambing, tapi di tempat ini pun Anda tetap bisa menikmati menu lainnya, yaitu sate kambing, sup kambing, nasi goreng ayam, serta sate ayam.

 

“Nasi goreng ayam kami ciptakan sebagai alternatif menu bagi pengunjung yang tidak mengonsumsi daging kambing,” ucap wirausaha sukses ini.

 

Nasi goreng kambing berwarna kuning kecokelatan yang ditaburi bawang goreng dan dilengkapi emping ini tidak hanya digandrungi warga pribumi. Namun, warga asing pun seperti Arab, Afrika, dan Turki juga senang berkunjung ke tempat ini.

 

Nasi goreng pinggir jalan yang lokasinya dekat dengan Monas dan Jalan Sabang ini memang selalu penuh dengan pengunjung. Mengenai omzet yang diperoleh per hari, dengan tersenyum Hadi menjawabnya dengan perumpaan.

 

“Kalau sedang ramai pengunjung, omzet bersih dalam sehari bisa mencapai empat kuali. Tapi kalau kondisinya lagi biasa saja, hanya tiga kuali,” ujarnya.

 

Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih memang hidangan lezat yang menarik untuk dicicipi. Karena mulai dari rasa, keunggulan, dan bumbu berbeda dengan nasi goreng lainnya. Nasi goreng ini lebih banyak bermain rempah-rempah, sehingga menciptakan rasa kari yang sepintas mirip dengan nasi kebuli.

 

Nah, jika Anda ingin menikmati nasi goreng khas Kebon Sirih ini, Anda dapat merogoh kocek Rp19.000 untuk nasi goreng ukuran biasa, Rp12.000 jika memesan setengah porsi, dan Rp31.000 untuk porsi jumbo. Buka setiap hari dari pukul 17.00-02.00 WIB, Anda dapat memilih waktu yang tepat untuk menyantap nasi goreng ini.

 

“Biasanya weekdays banyak orang kantoran yang datang, sedangkan weekend banyak keluarga,” tandas Hadi mengakhiri pembicaraan. Nah, sekarang anda tahu bahwa peluang usaha nasi goreng itu menggiurkan.

 

Sumber Refferrensi : okezone

Categories: kisah sukses | Leave a comment

Ismail Wirausaha Es Tebu

Ismail Wirausaha Es Tebu

Wirausaha Sukese Es Tebu

Tidak banyak orang seperti Tubagus Muhammad Ismail. Saat orang lain sulit mendapat pekerjaan, Tubagus Muhammad Ismail malah meninggalkan pekerjaannya dengan gaji 10 juta rupiah per bulan. Tubagus Muhammad Ismail lebih memilih wirausaha berjualan es tebu keliling dan sales parfum murah.

 

Penjual es tebu itu dikerumuni oleh ibu – ibu muda saat melintas di kawasan Wage, Sidoarjo. Tawa riang serta canda mereka berbaur dengan suara anak – anak yang berebut membeli. Susana ini hampir terjadi setiap hari jam 15.00-17.00.

 

Inilah rutinitas Tubagus Muhammad Ismail menjajakan es tebunya di kawasan tersebut. Pria 39 tahun ini berbeda dari penjual es tebu lain. Penampilannya rapi, bersih, pakaian necis, dan wangi. Dengan tinggi badan sekitar 170 centi meter, kulit putih, paras tampan, pria berdarah Banten-Sunda-Padang ini jauh dari stigma penjual es tebu keliling.

 

Karenanya, tidak heran Ismail merupakan tukang tebu favorit – setidaknya – di kawasan Wage. Seseorang warga perumahan bahkan menjuluki Ismail sebagai tukang tebu paling ganteng se-Asia Tenggara.

 

Ada cerita, dulu pernah ada seorang ibu yang naik sepeda terjebur got gara-gara meleng melihat Ismail nggenjot rombong tebunya. ”Tapi, saya tak tahu cerita persisnya seperti apa. Saya hanya diberi tahu tetangga saya,” kata Ismail lalu tersenyum.

 

Pria ramah ini tidak hanya punya nilai lebih dari segi fisik, tapi juga idealisme. Karena idealisme inilah ismail memilih mundur dari pekerjaannya sebagai legal staff di sebuah perusahaan rokok besar di Surabaya. Padahal, di tempat tersebut, dia sudah mempunyai gaji cukup besar, Rp 10 juta per bulan.

 

Sementara hasil jualan wirausaha es tebu keliling ketika itu, paling banyak Ismail dapat Rp 1,5 juta per bulan. ”Ini pendapat saya pribadi, bukan bermaksud memojokkan siapa – siapa,” katanya. ”Saya merasa bahwa rokok adalah sesuatu yang mudharat-nya jauh lebih besar daripada manfaatnya. Itulah yang membuat saya bimbang, saya bekerja di industri yang seperti itu,” lanjut bapak satu anak tersebut. ”Makanya, saya lebih bahagia sekarang, meski pendapatan pas – pasan. Kedamaian hati, itu yang paling penting,” sambungnya.

 

Ismail kemudian menuturkan kisahnya. ”Ketika kuliah, saya sudah bekerja di perusahaan advertising, anak perusahaan rokok itu,” katanya. Itu terjadi pada 1991 ketika kuliahnya di Fakultas Hukum Untag memasuki tahap akhir. Setahun setelahnya, Ismail dipindahkan ke induknya, bagian legal department. ”Waktu pindah, saya belum lulus,” paparnya.

 

Ismail baru lulus tahun berikutnya. Kelulusan ini mendongkrak eselon dan gajinya di perusahaan tersebut. Konditenya selalu baik. Pelan – pelan gajinya naik. Karena tempatnya bekerja merupakan salah satu perusahaan dengan rate gaji tertinggi di Surabaya, Ismail dapat hidup berkecukupan.

 

Hidup Ismail terbilang mapan, tinggal di rumah tipe 45 di Griyo Wage Asri. ”Hingga saya keluar pada tahun 2007, gaji saya Rp 10 juta. Itu belum termasuk bonus dan tunjangan lain,” kenangnya.

 

Meskipun gajinya besar, Ismail selalu gelisah. Puncaknya terjadi pada tahun 2005. ”Saya merasa industri tempat saya bekerja tidak cocok dengan hati nurani saya,” tuturnya. Rokok, bagi Ismail, adalah hal paling merugikan dalam kehidupan. Terutama dari sudut pandang keimanannya.

 

Ismail memang religius. ”Sejak kecil, orang tua saya selalu menekankan nilai – nilai Islam yang kuat kepada saya,” paparnya. Ajaran itu terus terbawa sampai sekarang. Sebab itu, Ismail selalu berusaha ikut pengajian di mana pun. ”Untuk menambah ilmu,” tuturnya.

 

Hampir seluruh pengajian di Surabaya dan Sidoarjo pernah Ismail datangi. Bahkan, Ismail selalu menyempatkan ikut kuliah subuh di TVRI. Tapi, Ismail mengaku tak ikut sebuah organisasi keagamaan apa pun. ”Saya tak ikut PKS atau apa pun. Saya lebih suka begini saja,” katanya.

 

Dalam Islam, rokok dianggap makruh (sesuatu yang sebaiknya ditinggalkan). Bahkan, sebagian ulama termasuk MUI menilai haram. ”Itu yang memengaruhi pemikiran saya,” katanya.

 

Apalagi, ikhwan – ikhwan ( saudara saudara ) sepengajian sering mengingatkan Ismail. Dan juga sering mengirim e-mail berisi tulisan dan gambar tentang akibat merokok. ”Ngeri, ngeri, kalau melihat gambarnya. Paru-paru yang hitam membusuk, orang yang kondisinya sekarat, wahh… pokoknya mengerikan,” tuturnya kemudian.

 

Satu pemikiran itu mulai menusuk dirinya. ”Masak sih saya memberi makan anak dan istri dengan uang yang dihasilkan dari industri yang merusak masyarakat,” katanya sambil buru – buru menambahkan bahwa itu pendapatnya pribadi.

 

Sejak saat itu, kinerja Ismail melorot drastis. Manajemen perusahaan melihat perubahan tersebut. Manajemen yang bijak mengajak Ismail berbicara dari hati ke hati. Karena memang sudah bimbang, Ismail memutuskan mundur dari perusahaan pada Juni tahun 2007. ”Saya akan merugikan perusahaan bila tidak dapat kerja maksimal. Karena situasinya seperti itu, saya pikir inilah titik untuk hijrah. Saya keluar secara baik-baik,” ungkapnya.

 

Atas jasa – jasanya selama 16 tahun bekerja, perusahaan memberi Ismail pesangon Rp 400 juta. Selepas dari perusahaan, Ismail melakukan apa saja yang halal untuk menyambung hidup. Di antaranya, ber wirausaha menjadi sales parfum tiruan. ”Saya menemukan dunia yang asyik. Ternyata, saya juga punya potensi di bidang marketing,” katanya dengan mata berbinar.

 

Untuk menambah penghasilan, Ismail berjualan es tebu. ”Saya bertemu pemilik Mr Tebu dan saya membeli Waralaba es tebu nya seharga Rp 10 juta. Itu sudah dapat rombong ( gerobak beca ) dan peralatannya,” tuturnya. Dia menggenjot sendiri rombong tersebut.

 

Perubahan hidup ini membuat Sri Lestari (istri yang kini telah berpisah) kaget. Kata – kata seperti terus kerjo opo, Pa? sering kali terucap. Ketika Ismail memutuskan menggenjot sendiri rombong es tebunya, Sri nyaris tak percaya. ”Sing bener wae, Pa?” ujar Sri sebagaimana ditirukan Ismail. Namun, Ismail tidak bergeming. Melihat keteguhan hati suaminya, Sri bisa memahami. ”Apalagi, tetap harus ada penghasilan kan,” katanya. Ismail tak bersedia mengungkapkan alasan pisah dari istrinya.

 

Selain jualan parfum serta wirausaha es tebu, Ismail mencoba jual beli apa saja. Mulai seprai hingga mobil. Namun, hanya eceran. ”Maklum, dana terbatas dan penghasilan harus ditingkatkan,” ungkapnya.

 

Dari berjualan parfum, Ismail hanya mendapatkan rata – rata Rp 600 ribu per bulan, sedangkan dari berjualan es tebu menghasilkan keuntungan bersih Rp 700 ribu – Rp 800 ribu. ”Tapi, saya bangga dengan pilihan ini. Meski hanya jadi tukang es tebu dan sales parfum, saya jauh lebih berbahagia daripada saat masih kerja di industri rokok,” tegasnya. Ismail selah satu wirausaha sukses yang memanfaatkan Peluang usaha es tebu.

 

Categories: kisah sukses | Leave a comment

Kemampuan Yang Diperlukan Oleh Seorang Wirausahawan

Kemampuan yang diperlukan oleh seorang wirausahawan bisa dikelompokkan jadi tiga kelompok utama:

1. Kemampuan teknis seperti membaca, menulis, mendengarkan, presentasi lisan, pengorganisasian, pembinaan, bekerja individual, bekerja didalam tim, dan teknis tahu bagaimana (know-how)

2. Kemampuan manajemen usaha termasuk hal-hal dalam memulai usaha , mengembangkan usaha, dan mengelola perusahaan.

3. Kemampuan dalam mengambil keputusan, pemasaran, manajemen, pembiayaan, akuntansi, produksi, kontrol, dan negosiasi juga sangat penting dalam membangun dan mengembangkan usaha baru.

Kemampuan terakhir ini melibatkan kemampuan kewirausahaan. Beberapa kemampuan ini, membedakan pengusaha atau wirausahawan dari manajer termasuk disiplin, pengambil risiko, inovatif, teguh, kepemimpinan visioner, serta yang berorientasi perubahan.

 

Kesalahan Umum dan Solusi pada Wirausaha

 

Seorang wirausahawan baru umumnya akan mengalami beberapa kesalahan dalam membuka wirausaha baru, Berikut ini hal yang biasanya dilakukan seorang wirausahawan.

1. Kurangnya Pengalaman Usaha.

Manajer wirausaha juga perlu mempunyai pengalaman bila mereka ingin mengembangkan usahanya.

2. Kesalahan Dalam Mengelola Usaha

3. Kontrol Keuangan Usaha Kurang

Wirausaha yang sukses memerlukan kontrol keuangan yang tepat dan ketat.

4. Upaya Pemasaran yang Lemah,

Membangun kantung konsumen agar bertambah secara berkesinambungan memerlukan usaha, kreatifitas, pemasaran dan promosi secara terus-menerus. Slogan dan trademark juga di perlukan agar konsumen ingat usaha kita.

5. Pertumbuhan Menjadi Tidak Terkendali

Pertumbuhan usaha merupakan hal yang alami, sehat dan diinginkan oleh semua wirausaha. Tapi, mesti juga direncanakan dan dikendalikan. Pakar manajemen Peter Drucker berkata perusahaan-perusahaan baru lebih baik untuk memperkirakan pertumbuhan modal hanya setiap peningkatan penjualan 40 hingga 50 persen.

6. Kegagalan Guna Mengembangkan Rencana Strategis.

Gagal dalam merencanakan, berarti gagal untuk bertahan.

7. Kontrol Persediaan Yang Barang Buruk

Mengendalikan persediaan barang merupakan salah satu tanggung jawab manajerial yang sering terabaikan.

8. Lokasi Usaha Kurang Strategis

Memilih lokasi usaha yang tepat merupakan sebagian strategi guna mengembangkan usaha. Seringkali, lokasi usaha dipilih tanpa penelitian yang benar, investigasi, dan perencanaan.

9. Harga Jual Tidak Tepat

Menentukan harga jual yang tepat agar menghasilkan keuntungan yang inginkan menuntut wirausahawan

 

tahu berapa biaya untuk membuat, memasarkan serta mendistribusikan barang dan jasa.

10. Ketidakmampuan dalam Membuat Transisi Entreprenurial

Setelah usaha dimulai, akan terjadi pertumbuhan, biasanya pertumbuhan ini membutuhkan gaya manajemen yang sangat berbeda. Pertumbuhan mengharuskan wirausahawan untuk mendelegasikan wewenangnya dan tidak menangani – kegiatan operasional sehari-hari . Sesuatu yang biasa dilakukan olehnya.

 

Adapun untuk mengatasi kesalahan kesalahan yang umumnya dilakukan oleh wirausahawan adalah sebagai berikut:

 

1. Mengenal bisnis secara mendalam.

Kenali benar bidang bisnis wirausaha yang di jalankan, pasarnya, persaingannya sampai harga jual rata rata pesaing lain.

2. Kembangkan rencana wirausaha dengan matang.

Kembangkan wirausaha dengan matang, terkendali dan di rencanakan.

3. Kelola keuangan dengan tepat.

Pisahkan keuangan pribadi anda dengan keuangan usaha

4. Pahami laporan keuangan.

Pahamilah laporan keuangan walau dalam skala sederhana. Laporan keuangan wajib di buat apapun usaha yang dijalankan, apapun skala usahanya.

5. Belajar mengelola karyawan secara efektif.

Bila usaha anda sudah memperkerjakan pegawai, wirausahawan harus tahu berapa karyawan yang wirausahawan butuhkan dan akan di gunakan untuk apa.

6. Jaga kondisi badan.

Sebagian wirausaha memerlukan fisik yang kuat, begitu juga kepemimpinan pada usaha kecil. Biasanya usaha kecil akan di pegang langsung oleh wirausahawannya, bila kondisi badan wirausahawan menurun biasanya akan berpengaruh pula pada usaha yang di jalankan.

 

 

Categories: kisah sukses | Leave a comment

Fathi Bawazier, iseng-Iseng Berhadiah Lima Usaha Percetakan Besar

Sekembalinya dari petualangan di Amerika Serikat, rutinitas sebagai manajer keuangan di sebuah proyek pasar kota Karawang membuat Fathi Bawazier jenuh. Ia pun iseng-iseng mendirikan usaha jasa desain grafis di garasi rumahnya. Siapa sangka, dari usaha pengisi waktu luang itulah kini ia bisa memiliki lima percetakan besar

Fathi: Masih ada rejeki halal bila dikejar

Di sebuah halte menuju kota Los Angeles, Amerika Serikat, di situlah Fathi Bawazier bersama sepupunya diturunkan sopir bis antar-kota negara itu. Pemuda kelahiran Bogor, Jawa Barat, yang baru saja datang dari Indonesia mengadu nasib di negera Paman Sam itu, kagetnya bukan kepalang. Ia ternyata turun di sebuah wilayah gembel, seperti yang kerap ditontonnya diberbagai film-film produksi Holywood.

Tak mengenal siapa pun di sana, uang sejumlah 400 dollar AS disakunya hanya bisa menyewa penginapan murah di wilayah tersebut. Tak sedikit pun rasa takut menghinggapi dirinya saat itu. Pengalaman merantau empat bulan di negara Australia setamat SMK di usianya yang ke 19 tahun, membuatnya sedikit familiar dengan kondisi di negara orang lain. Tekadnya jauh lebih kuat saat kedua orang tuannya menahannya untuk hidup di Indonesia saja.

Setiap hari di kota itu, ia bolak-balik ke sebuah Masjid untuk berdoa. Seperti sudah menjadi jalannya, ia akhirnya bertemu dengan orang Indonesia yang membantunya mencarikan pekerjaan. Mulailah ia bekerja dari tukang bersih-bersih, tukang antar pizza hingga akhirnya diterima di sebuah pompa bensin. Di pompa bensin itulah karirnya menanjak hingga menjadi manajer. Ia pun disekolahkan, tetapi kabar tak baik pun datang dari kampung halamannya.

“Bapak saya sakit berat,” ujarnya sembari melanjutkan, kuliahnya belum sempat kelar di negara tersebut. Awalnya ia bercita-cita, bila tak lulus tes masuk perguruan tinggi negeri di Indonesia, ia harus kuliah di luar negeri. Saat ia pulang dari Amerika, ia tidak mendapati ayahnya dalam kondisi terkulai lemas, melainkan segar bugar karena kedatangannya ternyata menyembuhkan ayahnya dalam sekejab. Singkat cerita, ia pun menikah dan kemudian dipanggil mertuanya di kota Karawang untuk membantu financial sebuah proyek pasar di kota itu.

“Awalnya saya dimintai bantuan untuk financial manager selama enam bulan, tetapi ternyata proyeknya ditambah bukan hanya di satu blok pasar saja,” tukasnya yang akhirnya meninggalkan pekerjaannya di Bogor sebagai guru. Ia pernah mengajar di sebuah lembaga kursus bahasa Inggris, di sebuah bank dan toko furniture. Alhasil, kesibukannya sebagai financial manager itu, membuatnya jenuh. Hobinya ngutak-ngatik komputer adalah kegiatannya sepulang kerja untuk mengatasi rasa jenuhnya.

“Akhirnya saya berpikir alangkah sayangnya, punya barang mahal di rumah, gak saya manfaatkan jadi duit,” ceritanya yang kemudian memiliki ide untuk membuka usaha desain grafis. Karena hanya sebagai pengisi waktu, ia pun memanfaatkan garasi rumahnya untuk usaha tersebut. Tetapi sayangnya, ia belum memiliki kemampuan desain grafis, sehingga memaksanya untuk belajar beberapa program desain secara otodidak.

“Kuncinya adalah bahasa Inggris, dengan bantuan menu help, saya sudah bisa menguasai program correl draw saat itu,” ujar bapak tiga anak ini. Saat dia sudah fasih dengan program itu, ia pun men-transfer-kan ilmunya kepada karyawannya yang saat itu hanya satu orang. Sebuah komputer pentium miliknya saat itu, masih langka di daerah Karawang, sehingga antrean pengguna jasa desainnya pun kian panjang di depan garasinya.

“Karena pentium itu baru saya yang punya di Karawang waktu itu. Saat jasa desain lainnya bisa ngeprint memakan waktu 30 menit, saya hanya dalam 2 menit saja,” ujarnya berbahak seraya menunjukkan bahwa saat ini ngeprint dalam hitungan detik bukan hal yang langka lagi di daerah Karawang. Saat itu, hanya usahanyalah yang bisa membuat logo sebab telah memiliki peralatan scanner.

Di luar dugaannya, permintaan akan jasa desainnya pun melesat tajam. Satu orang karyawannya nyaris tak bisa menyelesaikan sendiri pekerjaannya. Ia pun mulai menambah karyawan. “Setelah satu karyawan, tambah lagi menjadi dua, tiga dan empat akhirnya saya membeli mesin cetak,” sebutnya. Ia membeli mesin cetak berlabel Toko saat itu. Layanannya pun melebar ke jasa sablon.

“Akhirnya, mulai padatlah garasi rumah saya itu,” ujarnya melanjutkan, ruko milik mertuanya yang juga merupakan seorang pengusaha sukses di kota itu dipakainya untuk kemudian membuka usaha percetakan. Ia memberikan nama usaha percetakannya Cipta Grafika. “Mertua saya bilang, kalau mau maju pinjam uang di bank,” kisahnya, yang sempat berpikir, kenapa mertuanya yang kaya itu tak memberikan uang begitu saja kepadanya.

Mertuanya yang ternyata membangun usahanya dari nol, ia melanjutkan, ingin mengajar pahitnya membangun usaha dari bawah. “Dan ternyata beda rasanya kalau pinjam uang orang lain, rasa takutnya ada dan memakainya dengan hati-hati sekali,” tandasnya. Waktu pun berjalan, ruko mertuanya ia tinggalkan, ia pun membeli lahan sendiri untuk dijadikan usaha percetakan, di sebuah jalan kota Karawang.

Gedung tiga lantai dibangunnya, di dalamnya di bagi per devisi. Bukan hanya itu, ia juga menambah cabang-cabang percetakannya, hingga jumlahnya menjadi lima percetakan besar. Diantaranya di Cikarang, Cianjur dan Purwakarta. “Saya juga akan membuka kesempatan franchise percetakan, dan bisa dibilang sebagai franchise percetakan pertama di Indonesia,” lanjutnya. Kini karyawannya berjumlah 62 orang yang tersebar di seluruh percetakannya.

Usaha percetakan yang bermula dari tahun 1994 itu tak pernah goyang. Saat krisis moneter tahun 1998 silam, percetakan yang melayani semua kebutuhan cetak itu tetap bertahan, sementara para pesaingnya bertumbangan. Ia Tidak bersaing dengan harga, tetapi kualitas pelayanan. “Saya ingin menyampaikan bahwa rejeki yang halal itu masih ada bila dikejar,” pungkas pria yang menolak mentah-mentah segala bentuk mark up dalam usahanya itu.

Categories: kisah sukses | Leave a comment

Meraup Ratusan Juta Dari Cireng Isi

Wirausaha Cireng Isi

Pastinya siapapun sudah mengenal cireng isi, anda mungkin sudah mencicipinya entah dari para pedagang atau membuat sendiri. Penganan asal Bandung Jawa Barat ini terbuat dari tepung ketela atau tepung aci yang di isi berbagai isian yang menggugah selera. Warnanya yang putih dan agak liat saat di kunyah akan terasa lezat saat di makan selagi hangat, bila sudah dingin maka cireng akan sedikit lebih alot dan keras.

Bila selama ini, anda mungkin saja hanya mengenal aci goreng ini sebagai makanan tradisional yang kerap dijual  oleh tukang gorengan di pinggiran jalan. Meskipun demikian, janganlah sekalipun Anda memandang remeh kudapan tradisional ini. Seorang wirausaha di daerah Jakarta Selatan berhasil mengubah stigma cireng sebagai penganan murahan. Di tangannya, cireng isi sudah menjadi mesin uang yang handal.

Wirausaha ini bernama Yusuf Setiady. Kendatipun baru 6 bulan menggeluti dunia bisnis cireng isi, pencapaian Yusuf sungguh luar biasa cemerlang. Saat ini, setiap bulan dia mampu meraih omzet hingga Rp 120 juta. “Laba saya sekitar 20 persen,” klaim Yusuf.

Kunci utama keberhasilan yusuf adalah keberaniannya dalam menciptakan inovasi. Yusuf membuat produk cireng dengan berbagai aneka isi. Misalkan, dia membuat cireng isi keju, cireng isi oncom, cireng isi daging sapi, cireng isi daging ayam, cireng isi kacang hijau dan cireng isi sosis. Terobosan lainnya, dia tidak hanya menjajakan cireng dalam keadaan matang, tapi juga menjual cireng isi siap goreng ke konsumen.

Meskipun saat ini banyak produk cireng yang beredar di pasaran, Yusuf mengklaim cireng hasil kreasinya mempunyai kekhasan tersendiri, yaitu lebih renyah serta tidak terlalu liat saat digigit. “Itu, karena saya memakai aci mendoan,” kata Yusuf membuka rahasia isi dapurnya.

Yusuf membangun usaha cireng isi ini bersama 5 orang temannya yang berasal dari Jakarta dan Bandung. Sebelumnya, hampir 11 tahun mereka berbisnis tahu. “Modal awal bisnis cireng ini hanya Rp 100.000,” ujar pria 39 tahun ini.

Saat ini belum ada merek yang melekat pada produk cireng isi Yusuf. Dia hanya memanggilnya Cireng Aneka Rasa. Yusuf menjual cireng isi berdiameter sekitar tujuh cm ini didalam kemasan plastik. Satu plastik berisi 10 buah cireng isi dengan lima rasa. Jadi, didalam satu kemasan, ada dua buah cireng isi yang memiliki rasa sama. “Harga jual di konsumen Rp 5.000 – Rp 6.000 per bungkus,” kata Yusuf.

Dia memproduksi cireng ini di daerah Cibuntu, Bandung, tempat dahulu dia memproduksi tahu. Tidak kurang, ada 20 orang karyawan yang membantu Yusuf membuat cireng dan tahu. Tapi, Yusuf sendiri lebih banyak menangani pemasaran. Sejauh ini, produknya sudah tersebar didaerah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Kapasitas produksi usaha Yusuf tergolong besar. Bayangkan saja, Yusuf setidaknya mendatangkan cireng dari Bandung sebanyak tiga kali dalam seminggu. Setiap kali datang, kiriman cireng itu mencapai 50 boks yang masing – masing berisikan 50 bungkus cireng. “Pengiriman setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu,” kata pria kelahiran Cianjur ini.

Sesudah sampai di Jakarta, Yusuf menyebarkan ribuan bungkus cireng isi tersebut kepada sekitar 30 agen penjualannya. Agen lalu menjual lagi kepada pelanggan mereka serta menawarkan ke beberapa komples perumahan.

Melihat usahanya yang maju pesat, suami dari Nurjanah ini mengaku sangat optimis. Yusuf sudah mengambil ancang – ancang untuk mengembangkan bisnisnya. Di antaranya dia akan memasang merek dan mengejar pengesahan status kelayakan produk – izin P-IRT dari Departemen Kesehatan.

Yusuf juga ingin menjual cireng isi dengan sistem gerobak di pinggir jalan. Dengan cara ini, ia berharap penjualannya bisa lebih cepat meningkat. Saat ini, Yusuf sudah menyiapkan tiga gerobak. Nantinya, wirausaha cireng isi ini juga ingin menjajal sistem kemitraan. “Saya akan mencoba bikin master (kemitraan) dulu,” ujarnya.
(Di review dari Anastasia Lilin Yuliantina/Kontan – http://ukmkecil.com)

Categories: kisah sukses | Leave a comment

Yoad Nazriga, Sukses Belajar Ilmu Kimia, Sukses Meraup Omset Ratusan Juta

Yoad Nazriga, Sukses Belajar Ilmu Kimia, Sukses Meraup Omset Ratusan Juta

Modifikasi jaket motor lain, raih peluang besar.

Modifikasi jaket motor lain, raih peluang besar.

Berhasil menjual dua buah jaket motor perusahaan lain, Yoad Nazriga berani mendirikan usaha konveksi jaket motor milik sendiri. Mahasiswa pasca sarjana (S2) jurusan Kimia, Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, kini mereguk omset hingga ratusan juta rupiah setiap bulan dari usaha berlabel ADN Adrenalin itu.

Tak selumrah kuliah sambil bekerja, kuliah sambil berwirausaha masih terdengar aneh di telinga. Sulit dibayangkan dua tanggung jawab besar itu dipikul seorang mahasiswa. Namun, fakta sebaliknya juga berbicara. Pengusaha mahasiswa yang telah menjadi jutawan kian merebak. Di antaranya masuk dalam daftar orang terkaya dunia, semisal Bill Gates (Microsoft), Steve Jobs (Apple) dan Mark Zuckerberg (Facebook).

Inovasi yang dilakukan ketiga miliarder industri IT itu, melejitkan usahanya hingga di belahan dunia mana pun. Awalnya, mereka jeli menangkap peluang, kemudian fokus mengembangkannya – sampai-sampai drop out dari kuliahnya. Lantas, peluang itu jugalah, yang membuat Yoad Nazriga, tergoda menjadi pengusaha sambil kuliah strata satu (S1) hingga kini pasca sarjana (S2) di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ia menjalankan beberapa usaha dengan mereknya masing-masing di kota Bandung, antara lain Bakso Sehat Gayuss, Tanaman Obat Kang Anda dan Mukena Katun Paris. Menariknya, usaha-usaha itu bisa dibilang gak nyambung dengan jurusan Kimia yang tengah ia pelajari di kampusnya “Sebab hidup itu luas, janganlah keluasan itu dibatasi dengan pengetahuan yang diperoleh di kampus saja,” ujar mahasiswa jurusan Kimia sejak S1 hingga kini S2 ITB ini.

“Namun semua usaha itu sudah saya suntik mati,” sambungnya. Apa pasal? Berdagang jaket motor yang merupakan mainannya yang terakhir, cukup menggelorakan adrenalin. Betapa tidak, dua buah jaket motor yang pertama kali dipajangnya di dunia maya, langsung diserbu pembeli. Saat itu juga, ia bukan hanya senang karena jaketnya laku, tetapi layaknya ilmuwan Archimedes berpekik eureka! Ia senang telah menemukan peluang menguntungkan tersebut.

Tekadnya kian bulat, awal Januari 2011 bersama rekannya, Ihsanudin, ia mendirikan usaha konveksi jaket motor berlabel ADN Adrenalin di Kota Kembang itu. Ia mengaku, konsep jaketnya memang mirip dengan jaket motor yang telah ada. Tetapi tak seratus persen ia tiru. Ia membuat jaket yang dibutuhkan segmen laki-laki usia 17 hingga 40 tahun. “Jaket motornya macho, nyaman bila dipakai serta safety,” urainya.

Sebagai jaket yang safety, kata dia, jaket motornya bisa melindungi penggunanya selama berkendara. “Terutama bila terjadi kecelakaan yang tidak diinginkan,”. Untuk itu, jaket motor tersebut dilapisi beberapa bahan yang diklaim berkualitas, semisal busa empuk yang dilapisi bahan anti-slip dan anti-gores, sehingga jaket bandel alias tak bisa robek.

Sementara, dari sisi kenyamanan jaket tersebut berbahan adem atau tidak panas bila dipakai. Selebihnya, demi kesehatan, bahan jaket itu juga anti angin dan air. Tak berhenti sampai di situ, jaket itu didesainnya agar tampak macho bagi lelaki yang menggunakannya. “Resleting YKK, jahitannya saya jamin kuat rapi,” tambahnya tentang kelebihan jaket tersebut.

Awalnya ia menghadapai tantangan: sulit mencari tenaga kerja. Setelah mendapatkannya pun masih harus trial and error. Apalagi, dirinya sama sekali tak bisa menjahit. Namun modalnya, ia tahu seluk-beluk tentang jaket motor dari pengalaman berdagang sebelumnya. Alhasil, awal melempar produknya ke pasar, langsung diborong sebanyak 30 buah oleh agennya di Malaysia.

Kian menemukan bentuknya, jaket motor Yoad banyak dipesan oleh berbagai komunitas motor, perusahaan hingga yang membeli satuan. Untuk pesanan dalam jumlah banyak, ia mematok harga mulai dari Rp135 ribu hingga Rp 250 ribu. Sementara, untuk satuan dibanderol dengan harga mulai dari Rp185 ribu sampai Rp285 ribu.

“Tergantung tingkat safety, kerumitan model dan bahan yang digunakan serta banyak dan besarnya bordir,” alasan Yoad tentang perbedaan harga tersebut. Tak heran, sebulan omsetnya mencapai Rp80 juta hingga Rp100 juta. Setelah dikurangi biaya, kurang lebih Rp20 juta untung bersih dikantonginya.

Ia tak mau jor-joran mereguk manis laba jaket motornya. “Saya hanya gunakan sebagian aja yang cukup buat keperluan penting, seperti biaya kuliah dan keluarga, sisanya untuk kemajuan perusahaan,” cerita suami Novi Kurniasari. Aset usaha ditambahnya, seperti mesin, stok bahan baku dan aset perusahaan lainnya.

Yoad membuktikan, kuliah sambil berwirausaha adalah hal ringan yang dianggap berat. Buktinya, kuliah S1 Kimia di ITB ia selesaikan dengan gemilang. Prestasi kembali ia toreh dalam hal wirausaha. Baru-baru ini, ia berhasil menjadi finalis Youth Business Competition Joy Green Tea 2011. ADN Adrenalin yang berawal satu karyawan kini menggurita menjadi 14 orang karyawan dengan 10 buah mesin.

Lantas apakah setelah menimba ilmu Kimia sampai S2di kampus ternama itu, Yoad bakal bekerja di perusahaan lain bila ada tawaran menarik? “Sayang dong usaha yang telah kita bangun susah payah kemudian dilepas,” ujarnya tak sedikit pun berminat menjadi karyawan. Menjadi pengusaha, menurutnya bisa mempekerjakan orang, keuntungan jelas serta bebas berkreasi. Hanya saja, karena merupakan hobi, ia paling berminat mengajar Fisika, Matematika, Kimia hingga bahasa Arab.

Apalagi, prospek usaha yang berhubungan dengan sepeda motor kian bagus. Hal itu didukung juga oleh gaya hidup masyarakat Indonesia yang konsumtif. Jumlahnya juga sangat besar sehingga bisa dimanfaatkan untuk mereguk keuntungan berlipat. “Hampir di setiap rumah ada motor bahkan hingga pelosok pedesaan sekalipun,” katanya. Ke depan, ia berencana mengembangkan sayap untuk produk celana, rompi, sepatu hingga tekstil.

Informasi lebih lanjut :
ADN Adrenalin
Perumahan Sarijadi
Blok 14 No. 114 RT. 02 RW 05
Kel. Sarijadi
Kec. Sukasari
Bandung

Website :
www. jaketmotor.org
www.jaketadrenalin.com

Categories: kisah sukses | Tags: | Leave a comment

Purwandi Sarmanto, Demi Menyalip Gaji Istri, Rela Bangkrut Berkali-kali

Pur : Taklukkan istri dengan menjadi pengusaha

Pur : Taklukkan istri dengan menjadi pengusaha

Ingin melebihi gaji istrinya yang merupakan seorang general manager perusahaan Jepang, Purwandi Sarmanto putuskan menjadi pengusaha. Mulai dari usaha riil hingga gaib ia lakoni hingga akhirnya jatuh cinta dengan Sop Janda. Sukseskah ia?
 
Bekerja sebagai seorang staf penelitian dan pengembangan di sebuah perusahaan ternama, masa muda Purwandi Sarmanto lebih dari cukup. Kebahagiaannya saat itu kian lengkap saat mulai memadu kasih dengan seorang wanita cantik hingga berujung naik ke pelaminan. Tak bisa digambarkan betapa bahagia awal mengarungi rumah tangga pria kelahiran Lampung itu.
 
Sang Istri yang rela menerima ia apa adanya, tak menuntut “setoran” besar darinya saban bulan. Sebab, tanpa dia bekerja pun dari gaji istri yang merupakan seorang general manager perusahaan Jepang, kebutuhan keluarga bisa tertutupi sepanjang hayat. Bahkan segala kebutuhan itu bisa dipenuhi dengan standar yang jauh lebih mewah dari yang pernah dirasakannya.
 
“Saya dibeliin arloji yang harganya Rp8 juta, makan di restoran yang sekali makan Rp1 juta hingga baju atau celana seharga jutaan rupiah,” ujarnya tentang segala kemewahan yang turut dinikmati dari gaji besar istrinya. Istrinya tak pernah menganggap dia sebagai orang yang memanfaatkan situasi, begitu pun dirinya lebih menganggap posisi istrinya sebagai sebuah berkah bagi keluarga.
 
Namun lama-kelamaan, Pur – begitu sapaan akrabnya, merasa minder juga. Ia merasa seperti “ditaklukkan” istri oleh gajinya yang jauh lebih tinggi. Perasaan itu terus membahana dalam dirinya. “Bohong bila suami dalam posisi seperti saya tak merasa minder,” imbuhnya. Ia kian down saat berada di tengah keluarga istrinya yang rata-rata menduduki posisi puncak perusahaannya masing-masing.
 
Tak mau rasa tertekan itu abadi dialaminya, ia kemudian mencari solusi. Menurutnya, rasa percaya dirinya akan kembali bila penghasilannya jauh lebih tinggi dari istri. “Bila saya mengejar melalui karir, sampai mati pun gak bakal dapat,” tandas suami Dewi Susilo Utami ini. Untuk itu, ia sempat gelap mata. Ia tergiur tawaran instan oknum tertentu melipatgandakan uang dengan cara gaib. Ratusan juta hasil pinjaman dari orang tuanya pun melayang untuk hal sia-sia itu.
 
“Antara terhipnotis atau goblok, saya juga gak tahu,” begitu ia menyebutkan alasan percaya dengan tawaran gaib tersebut. Itulah dampak ketergesa-gesaannya saking ingin melebihi pendapatan istri. Cara keliru itu pun akhirnya ditinggalkannya. Beruntung suatu waktu ia mengikuti seminar entrepreneur sehingga terinspirasi untuk berbisnis properti.
 
Ia kembali meraih empati orang tuanya sehingga pinjaman modal terkucurkan lagi. Sempat untung miliaran rupiah, tetapi akhirnya kandas juga lantaran belum fasih bermain properti dengan orang yang lebih paham dunia itu. Namun, saat itu ia telah memiliki sebuah tempat yang tak tahu harus dibuat apa.
 
Tercetus ide untuk membuat usaha kuliner. Ia mencoba mencari begitu banyak sumber hingga browsing di internet untuk menemukan ide kuliner. Sempat menjajal makanan khas Wonogiri – tempat orang tuanya berasal, tetapi tak laris seperti yang didambakannya.“Akhirnya ketemu ide untuk membuat sop daging sapi,” lanjutnya. Namun, itu hanya sebatas ide. Ia sendiri sama sekali tak bisa memasak. Jangankan itu, menilai sebuah masakan enak atau tidak pun dia bukan ahlinya. Tak mau menyerah dengan itu, ia pun melakukan trial and error pembuatan menu sop di rumah orang tuanya.
 
Tak tanggung-tanggung demi mendapatkan formula yang pas, ia menghabiskan waktu tiga bulan untuk trial and error. Koki yang juga keluarga sendiri tugasnya membuat sop setiap hari lalu dibagi-bagikan gratis kepada tetangga di kampungnya. “Sampai berapa kuintal saya beli daging sapinya,” lanjutnya. Ia mengaku, kadang-kadang masakan percobaannya membuat penduduk di kampungnya sakit perut.
 
Melihat kelakuannya yang hanya menghabiskan uang, orang tua dan keluarga dekatnya komplain. “Saya gak boleh masak di rumah orang tua bahkan orang tua melarang saya ke Lampung lagi saking pusingnya dengan tingkah saya,” kenangnya. Ia tak putus asa. Tempat percobaan masak pun dipindahnya ke rumah saudaranya yang lain. Hingga suatu waktu ia menemukan formula yang cocok.
 
“Saya berpikiran kalau sekali orang makan terus ketagihan pasti usahanya sukses,” ujarnya. Setelah sopnya sudah mencapai tahap itu, ia lalu percaya diri mengoperasikan usaha kuliner yang dinamakannya Sop Janda itu. Ide nama brand itu muncul liar begitu saja dari pikirannya. Pro dan kontra terhadap nama Sop Janda itu pun terjadi.
 
Mendengar nama Sop Janda, orang tuanya lebih menganggap itu sebagai rumah bordil. Saat buka pertama kali di Panjang, Lampung, dalam dua minggu pertama rata-rata pengunjungnya adalah laki-laki. Nama Sop Janda juga pernah diprotes oleh anggota dewan terhormat karena melecehkan kaum hawa. Ia tetap bersikeras, sebab nama janda ia plesetkan sebagai singkatan dari Jawa-Sunda.
 
Singkat cerita, setelah pengunjung merasakan menunya, akhirnya bukan “janda” yang diingat tetapi menu sopnya itu sendiri. Sop Janda pun populer di Lampung hingga akhirnya ia mendirikan dua buah outlet di daerah itu. Enam bulan berikutnya ia membuka cabang lainnya di Jakarta. Dari enam buah outlet itu hingga kini ia bisa mengantongi omset Rp500 juta setiap bulan atau laba bersih sebesar Rp100 juta. Usaha itu kini mempekerjakan 63 orang karyawan.
 
Akhirnya motivasi ingin menyalip gaji istri tercinta terwujudlah sudah. “Perubahan yang saya rasakan dengan menjadi pengusaha ini sederhana saja, istri saya jadi ‘takluk.’ Dia minta berapa saja saya kasih. Saya sudah punya bargaining position. Gajinya bisa ditutupi oleh penghasilan satu outlet Sop Janda,” tutupnya tertawa lebar.
Categories: kisah sukses | Leave a comment

M. Hajaz, Dua Rumah Melayang Untuk Tambahan Modal Usaha

M. Hajaz, Dua Rumah Melayang Untuk Tambahan Modal Usaha

Hajaz : rumah kesayangan dilego demi menjadi pengusaha

Hajaz : rumah kesayangan dilego demi menjadi pengusaha

Tak peduli pahit getirnya menahan senang selama sepuluh tahun mengangsur rumah, M. Hajaz justru menjual rumah idamannya. Bukan seperti orang kebanyakan yang menjual rumah karena kebutuhan mendesak, ia justru menjual rumah demi keinginan liarnya menjadi pengusaha. Apakah usaha yang belum tentu untung itu bisa mengembalikan rumahnya atau justru melayang sia-sia?

Membeli rumah di Jakarta, ibarat membeli derita bagi seorang karyawan bergaji pas-pasan. Gaji yang benar-benar cukup untuk kebutuhan sebulan, harus dipangkas untuk menyicil angsuran kredit rumah. Sisa gaji diperketat agar dapur rumah tangga tetap ngebul. Selama bertahun-tahun sepanjang tenggat waktu angsuran, mereka harus menunda segala macam kesenangannya.

Bisa dibayangkan, betapa merdekanya bila rumah tersebut lunas. Seperti mengangkat piala kemenangan, sertifikat hak milik rumah tak bosan ditatap dari berbagai sudut. Kondisi demikian dialami M. Hajaz, 7 tahun silam. Karyawan level biasa ini, girangnya bukan kepalang. Rumahnya di kawasan Serpong, Banten, selesai dicicil setelah melewati jangka waktu 10 tahun.

Tak tergambarkan kelegaan serupa terjadi pada istri dan ketiga anaknya. Namun belum sempat berlama-lama menikmati nyamannya rumah sendiri, Hajaz – begitu ia disapa, berubah pikiran. Ia menjual rumah yang telah susah payah didapatkannya itu. Ia tidak sedang gelap mata. Hanya saja, alasannya mungkin terasa aneh di telinga. Merasa gajinya tak sanggup menjamin masa depan ketiga anaknya, ia ingin cari sumber penghasilan lain dengan menjadi pengusaha.

“Saya juga dianggap aneh oleh istri dan orang tua saya,” cerita Hajaz pertama kali mengutarakan niat menjual rumah kepada orang-orang terdekatnya. Ia tak terpukul, tetapi justru tertantang. Segala trik dilakukannya meyakinkan mereka. Singkat cerita, keluarganya akhirnya larut bersama tujuannya menjadi pengusaha. Hanya satu syarat yang harus dipenuhinya, usahanya harus untung bila tak ingin rumahnya melayang sia-sia.

“Sisa penjualan rumah itu saya pakai buat dp (down payment) rumah baru,” imbuhnya menjawab syarat itu dengan ide yang bisa dibilang gila tersebut. Masalah modal pun sudah ia atasi. Usaha digital printing berlabel Izzi Print mulai dioperasikannya dengan menyewa salah satu tempat di Rawamangun, Jakarta Timur. Zona baru mulai ditapakinya. Zona yang pernah dirasakannya selama 10 tahun menyicil rumah mulai terulang. Tetapi bebannya bertambah sepuluh kali lipat.

Pasalnya, selain harus menyicil rumah setiap bulan, tanggung jawab sebagai kepala keluarga harus dipenuhinya. Tak berhenti di situ, ia juga harus memikirkan biaya operasional usaha, gaji pegawai hingga sewa tempat tahun berikutnya. “Mungkin karena digital printing masih baru saat itu yang bermain di kelas bawah, usaha saya di tahun awal cukup ramai,” jelasnya. Omset dalam satu bulan berkisar di angka Rp30 juta.

Ia pun tenang. Kewajibannya aman di awal tahun. Kantong yang tadinya diprediksi bolong, tetap tebal. Namun, di tahun berikutnya ia ditampar oleh kelakuan karyawannya sendiri. “Karyawan tersebut membuat saya kehilangan order seratus persen dari klien-klien besar,” tukas pria kelahiran Gresik ini. Karyawan itu, memasukan seluruh order klien-klien besarnya ke tempat orang lain. Izzi Print pun goyang sebab pendapatannya minus.

“Saya akhirnya turun tangan mencari klien, ikut motret dan sebagainya,” jelas suami Elfi ini. Menurutnya, pembelajaran dari itu, ia lebih hati-hati lagi dalam bekerjasama dengan siapa pun. Ia mulai dari nol untuk mencari klien dalam skala besar sebab data base dibawa kabur oleh marketing yang telah berkhianat tersebut.

“Sampai-sampai saya diusir secara halus oleh pemilik tempat usaha,” ceritanya tentang dampak dari kelakuan karyawannya tadi. Namun ia tetap sabar. Ia tak melawan, tetapi berserah kepada Yang Kuasa. Ia pun mundur pelan-pelan dari tempat usaha itu, dan mencari tempat usaha lain yang lebih terjangkau. Akhirnya, tak jauh dari situ ia mendapatkan sebuah tempat yang lebih murah. Dari tempat itulah, ia kembali mencatat cerita gemilang.

Order klien besar datang kembali. Sampai-sampai ia kewalahan saking banyaknya order. Ia pun semakin tahu seluk-beluk bisnis digital printing. Kendati telah beranjak naik, Hajaz kembali gila. Cicilan rumah baru belum kelar, ia malah membeli sebuah usaha waralaba. Bukan cuma itu. Ia juga kesengsem dengan usaha laundry. “Untuk tambahan operasional dan usaha laundry ini, rumah yang sudah saya cicil tiga tahun itu saya jual lagi,” ucapnya tentang perbuatan nekatnya tersebut.

Lebih gila lagi, penjualan rumah itu tak disisihkan lagi untuk uang muka rumah baru. “Saya justru membeli mobil,” katanya. Siapa pun tak mengerti jalan pikiran Hajaz. Sudah dua kali menjual rumah, seharusnya kapok atau setidaknya membeli rumah baru lagi. Hanya saja, ia beralasan, dengan mobil itu selain bisa menghibur anak-anak, juga bisa dimanfaatkan sebagai aset yang melancarkan usahanya.

Usahanya pun berjalan lancar. Brand waralabanya dan usaha laundry bahkan telah balik modal. Dari itu, ia tinggal menunggu laba yang bertelur setiap bulannya. Izzi Print bahkan terus menerus mendapatkan order dari berbagai klien besar, di Jakarta hingga daerah melalui beberapa cabangnya.

Keputusan gila Hajaz tak keliru. Kini dengan menjadi pengusaha, ia bisa membeli rumah ketiga yang nilainya berpuluh kali lipat dari rumah pertamanya dulu. Ia juga telah memiliki mobil dan bisa menjamin masa depan yang cerah bagi ketiga anaknya. “Walau tidak terlihat, jaminan masa depan anak saya lakukan melalui berbagai asuransi,” pungkas Hajaz.

 

Informasi lebih lanjut:
Izziprint
Jl. Gading Raya No. 21 Pisangan Timur
Jakarta Timur
Telp 021-4707313
Hp: 0812 817 3900
Website : www.izziprint.com
Email : izziprint@yahoo.com

Categories: kisah sukses | Leave a comment

Dedy Kushendriyatno, Memulai Usaha Dengan Pengalaman dan Modal Nol

Sebagai karyawan kontrak, sebenarnya Dedy Kushendriyatno masih terhitung beruntung dibandingkan ribuan pencari kerja di kota Yogyakarta empat tahun silam. Pendidikannya yang mumpuni membuatnya diterima di sebuah perusahaan IT bank. Selain fasilitas mobil, empat belas kali gajian berikut berbagai tunjangan menambal kantongnya. Saat itu posisinya mulai menanjak dari karyawan biasa menjadi supervisor maintenance IT di perusahaan tersebut.

Prestasinya sudah mulai diperhitungkan. Namun, impiannya untuk merasakan posisi direktur tetap saja sulit tercapai di perusahaan yang penuh kompetisi antara sesama karyawan itu. “Pengen sekali ngerasain jadi direktur, ya, cuma satu jalannya mesti keluar dari perusahaan itu,” sebutnya tentang cara kilatnya menjadi direktur.

Genap empat tahun sebagai karyawan, ia berani resign dari perusahaan itu. Sayangnya, bukan dukungan penuh yang diperoleh dari orang-orang terdekatnya, tetapi justru ejekan, cemoohan hingga berujung menyepelekannya. “Kok kemarin jadi IT bank, sekarang jadi tukang cuci. Belum punya pengalaman sok-sokan jadi pengusaha lagi,” ujar pria kelahiran Pati ini tergelak.

Ia tepis rasa mindernya saat itu dengan tetap fokus pada tujuannya menjadi pengusaha. ”Biarin jadi tukang cuci, yang penting sekalian jadi direkturnya para tukang cuci,” gumamnya dalam hati, tak berani dengan tegas mengatakannya, sebab belum bisa menunjukkan bukti. Namun tetap saja bagi siapa pun saat itu, keputusan yang dia ambil sangatlah konyol.

Usaha jasa laundry membutuhkan total modal sebesar Rp50 juta. Sementara ia hanya memiliki modal satu kali gaji terakhir, sebesar Rp1,5 juta. Ia juga masih harus memikirkan kelangsungan hidup rumah tangganya. Usaha yang dibangunnya itu pun belum tentu bisa langsung untung, sebab ia masih nol pengalaman menjadi pengusaha.

“Mau bisnis, ya, jangan pakai duit sendiri, pakai duit orang lain saja,” ia berargumen soal ulahnya yang dianggap tak masuk akal itu. Ia kemudian mulai mendekati mantan teman-teman kantornya yang dinilai bisa menjadi bankir usaha tersebut. Ditawarkannya sebuah kerjasama bisnis bagi hasil. Singkat cerita masalah modal akhirnya teratasi.

Modal sudah terkumpul, Dedy, begitu sapaan akrabnya, mendirikan usaha jasa laundry di kota Yogyakarta. Ia berani menjadi tukang cuci buat usahanya itu bersama istri dan kedua karyawannya. Namun, persaingan antara sesama usaha laundry di kota itu tak bisa dibendung, sehingga pendapatan bulan pertama cukup tipis. Ia putar akal sehingga tercetus ide mencari pasar lebih besar dengan kontrak kerja tahunan.

“Alhamdulillah strategi pema-saran saya berhasil jitu. Bulan kedua saya mendapatkan kontrak kerja laundry service dari EO-nya PPE FE UGM yang bergerak di bidang sentra pendidikan kilat daerah Indonesia Timur, instansi dan Departemen Keuangan dengan kontrak service laundry tiap tahunan,” ujar suami Tri Setyaningsih ini bangga. Dari situ arus cash flow-nya pun mulai moncer bulan-bulan berikutnya.

Sukses dengan usaha layanan jasa laundry, otaknya terus mencari celah bisnis. Ia mulai mengincar peluang baru yang masih luput dari perhatian pengusaha laundry tanah air, yakni usaha laundry management business support, berikut melayani pengadaan kebutuhan mesin-mesin laundry. Ia mengemas mesin-mesin laundry itu dalam beberapa paket waralaba yang bisa dijalankan oleh pengusaha laundry baru. Di dalamnya sudah terdiri dari standart operasi hingga pendampingan saat menjalani usahanya.

Lantas, pasarnya mulai mapan, setahun kemudian ia mulai main sebagai dealer atau penyalur mesin-mesin laundry baik skala kecil mau pun industri, semisal untuk hotel atau laundry-laundry profesional besar. “Hingga sekarang saya dipercaya menjadi distributor oleh principal salah satu merek mesin laundry built-up impor dan principal salah satu merk mesin laundry lokal,” kata pria yang mengaku dipercaya investor atau principal karena selalu menjaga komitmen ini.

Di bawah fr3sh Group, kini ia telah memiliki lebih dari 260-an member outlet laundry di seluruh Indonesia. “Saya dan tim manajemen mau launching laundry booth drive thru on SPBU pada bulan Mei ini,” lanjutnya tentang inovasi selanjutnya. Kini semua usahanya menjadi keran uang yang tak henti-hentinya mengalirkan laba ke kantongnya.

Omset bruto dikantonginya sebesar ratusan juta rupiah setiap bulan. “Kalau dulu kerja 4 tahun jadi employer cari uang apalagi mau menabung sampai terkumpul 200 juta nggak mungkin sekali,” tukasnya. Sementara sebagai entrepreneur dalam 4 tahun sudah bisa menghasilkan aset seperti mobil, rumah, toko, outlet, karyawan, dan sebagainya senilai lebih dari Rp1 miliar.

“ Tentu enakan jadi pengusaha,” tandasnya seraya menyebutkan, bukan hanya bisa merasakan posisi direktur, tetapi juga lebih bahagia dunia akhirat sebab bisa membantu siapa pun yang membutuhkan. Bukan hanya itu, apa pun yang diinginkannya bisa didapatkan sebab memiliki lebih banyak uang ketimbang hanya menjadi karyawan. Alhasil, orang-orang terdekatnya kini justru banyak belajar darinya untuk menjadi pengusaha.

Categories: kisah sukses | Leave a comment

Priyanto, Tanpa Modal, Sukses Kembangkan Usaha Rental Multimedia Terlaris di Jakarta

Priyanto : Kuncinya adalah hubungan baik

Resign sebagai sales sebuah perusahaan rental multi media besar, Priyanto akhirnya mendirikan usaha serupa. Namun mantan sales terbaik itu tak memiliki modal. Lantas, apa yang ia lakukan hingga usaha bernama rental Sinar Java itu mampu menjadi usaha rental audio visual and staging yang paling diburu di Jakarta?

Di sebuah perusahaan yang kantornya masih berukuran sepetak ruangan, di situlah Priyanto pertama kali menjajaki dunia sales multi media. Kerja keras pantang menyerah pria kelahiran Tegal ini perlahan mengantarnya menemukan pasar jasa rental yang dijualnya dari perusahaan tempatnya bekerja. Ia pun sukses menjadi sales hingga dua kali mendapatkan penghargaan di perusahaan tersebut.

Atas jasanya, perusahaan itu  pun menjadi besar hingga saat ini. Penjualan yang dibukukannya jauh di atas sesama rekan salesnya. “Penjualan bisa mencapai Rp800 juta setiap tahun,” imbuhnya tentang penjualan yang mampu ditorehnya dalam satu tahun di perusahaan tersebut. Priyanto pun mampu mengantongi komisi hingga Rp20 juta setiap bulannya. Semula naik angkot, ia perlahan bisa membeli motor besar hingga beberapa kali gonta-ganti mobil.

Hubungan baik dengan para kliennya di perusahaan itu ia genggam erat. Klien-kliennya umumnya dari perusahaan berskala besar. “Akhirnya saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempat saya bekerja itu,” tambah bapak satu anak ini. Apa pasal? Ia ingin membuka usaha serupa. Tetapi sayang, hasil tabungannya selama bekerja tak cukup untuk untuk mengembangkan usaha bermodal miliaran rupiah itu.

Ia tak patah arang. Kondisi itu tak menciutkan nyalinya yang kian besar lantaran sebuah proyek besar yang telah disodorkan kepadanya dari sebuah mantan kliennya di perusahaan lama. “Waktu itu saya mendapat sebuah proyek motor show,” tukasnya seraya melanjutkan, dari proyek itu ia langsung mengantongi pendapatan hingga ratusan juta rupiah. Semangatnya menjadi pengusaha pun kian bertumbuh.

Berbagai peralatan multi media berkualitas pun dibelinya. Karyawan yang tadinya cuma segelintir terus bertambah hingga menjadi puluhan orang. Perusahaan rental yang ia namakan Sinar Java itu pun terus terus mendapat tempat di hati para kliennya. “Sampai-sampai saya mendapatkan proyek dari luar jakarta, seperti Bali, Yogyakarta, Semarang hingga Makassar,” tukasnya. ia juga pernah menjalankan sebuah proyek road show pesawat baru sebuah maskapai penerbangan nasional.

Namun karena ia masih bermain sendiri tanpa pemegang saham lainnya, ia mengaku keterbatasan modal merupakan kendala utama dalam usahanya. “Sementara peluangnnya masih sangat besar,” ujarnya. Apalagi ia telah menjalin hubungan yang relatif bagus dengan para kliennya di seluruh penjuru tanah air. Alhasil, karena kualitas pelayanan, kualitas alat ia usahanya menjadi salah satu yang paling diperhitungkan di Jakarta.

Categories: kisah sukses | Leave a comment