kisah penuh hikmah

Kisah Ketegaran Bara’ah, Gadis Cilik Hafal Al-Qur’an Penderita Kanker

 

 

Oleh; Ustadz Fuad Al Hazimi

 

Berikut ini adalah kisah Bara’ah Abu Lail gadis kecil yang menderita kanker ganas stadium akhir dan menjadi yatim piatu hanya dalam lima hari.[1]

 

Bara’ah Abu Lail , hafal Al Qur’an di usia 10 tahun. Namun Allah lebih Menghendakinya bahagia di jannah-Nya. Anak kecil ini divonis terkena kanker ganas. Setelah ibunya lebih dulu meninggal dunia karena penyakit yang sama.

 

Saat ibunya mengetahui umur nya tidak lagi panjang, sang ibu berkata kepada anaknya yang tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya :

 

“Anakku…. aku sebentar lagi ibu akan mendahului kamu menuju jannah allah. dan ibu ingin engkau setiap hari membacakan al qur’an yang telah engkau hafalkan di telinga ibu. kelak al qur’an itulah yang akan menjagamu di dunia (sepeninggal ibu …)

 

Demikianlah setiap sore gadis kecil ini membacakan Al Qur’an di telinga ibu yang terbaring lemah di rumah sakit.

 

Suatu hari ayah Bara’ah mendapat berita sangat penting dari rumah sakit bahwa kondisi istrinya kritis. Maka tanpa pikir panjang ia bergegas mengajak Bara’ah menuju rumah sakit. Sesampai di rumah sakit, sang ayah tidak ingin anaknya ikut bersamanya melihat apa yang terJadi dengan ibunya. Ia khawatir gadis kecil itu shock jika mendengar kabar kondisi terburuk yang terjadi pada ibunya. Rupanya sang istri benar-benar sedang kritis.

 

Dalam kondisi sangat berduka ayah Bara’ah bergegas menuju mobilnya untuk memberitahukan kondisi ibunya, namun Allah berkehendak lain. Karena guncangan jiwa akibat musibah yang diterimanya, ia tidak fokus saat menyeberang jalan.

 

Qaddarullah, sebuah mobil menabraknya. Laki-laki itu pun meninggal seketika di hadapan putri tercintanya. Bara’ah menangis tersedu-sedu sambil memangku jasad ayahnya tercinta yang sudah tak bernyawa lagi.

 

Belum selesai musibah yang harus dihadapi gadis kecil ini, lima hari berselang dari wafatnya sanga ayah, ibunya tercinta pun menyusul dipanggil Allah menghadap-Nya. Tinggallah Bara’ah sebatang kara di negeri orang. Kedua orangtua Bara’ah adalah warga negara Mesir yang bekerja sebagai tenaga medis di Arab Saudi.

 

Tidak berselang lama, tanpa sebab tanpa gejala apapun sebelumnya, gadis kecil ini merasakan kesakitan yang luar biasa sebagaimana dialami oleh ibunya. Setelah diperiksa oleh dokter, ternyata ia pun mengidap penyakit kanker stadium akhir seperti yang dialami oleh ibunya. Namun dengarlah apa yang diucapkan gadis kecil ini ketika ia tahu apa yang dialaminya :

 

alhamdulillah …. sebentar lagi aku akan menyusul papa dan mama….!!!”

 

Seluruh yang mendengar ucapan gadis kecil itu terkejut bukan kepalang. Ujian dan musibah yang bertubi-tubi menimpa anak sekecil itu tetapi tidak sedikit pun membuatnya putus asa atau gundah gulana. Ia bahkan begitu sabar menghadapi beratnya cobaan hidup yang dihadapinya.

 

Subhaanallaah… Al-Qur’an membuatnya seteguh karang menghadapi ujian yang bertubi-tubi datang

 

Seorang dermawan Saudi Arabia lalu membiayainya untuk berobat ke Inggris. Dan berikut adalah suara terakhir dari Bara’ah sesaat sebelum Allah Memanggilnya menghadap-Nya di Jannah Nya, Insya Allah :

 

https://www.youtube.com/watch?v=eSrV4d6Pq1M.

 

Doa Tatkala Mendapatkan Musibah, Kesedihan hati dan Kegundahan Jiwa

 

Rasulullah shAllallAhu ‘alaihi wasallam bersabda :

 

“Barangsiapa yang sedang mendapatkan musibah, kesedihan hati dan kegundahan jiwa kemudian membaca do’a ini pastilah Allah akan menghilangkan semua kesedihan dan kesulitannya serta menggantikan dengan jalan keluar baginya”.

 

اللَّهُمَّ إِنَّا عَبِيْدُكَ بَنُوا عَبِيْدِكَ بَنُوا إِمَائِكَ نَوَاصِيْناَ بِيَدِكَ مَاضٍ فِيْناَ حكْمُكَ عَدْلٌ فِيْناَ قَضَاؤُكَ نَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِى كِتَابِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِى عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوْبِناَ وَنُورَ صُدُوْرِناَ وَجَلاَءَ أَحْزَانِناَ وَذَهَابَ هُمُوْمِناَ

 

“Ya Allah sesungguhnya kami adalah hamba-Mu, anak dari hamba-hamba Mu, ubun-ubun kami ada di tangan-Mu. Segala takdir-Mu terhadap kami telah Engkau tetapkan, dan sungguh betapa adilnya ketetapan itu atas kami. Kami memohon kepada-Mu dengan semua Nama yang Engkau Miliki, yang telah Engkau Namakan untuk Diri-Mu, atau telah Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara makhluk-Mu, atau Engkau Turunkan dalam Kitab-Mu, atau Engkau simpan dalam Ilmu yang Ghaib di sisi-Mu. Jadikanlah Al Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya bagi dada kami, penghapus duka dan kesedihan kami, dan pelipur kegundahan jiwa kami”.[2]

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

 

“Tidaklah seseorang mendapatkan kesusahan atau kesulitan lalu ia berdo’a (sebagaimana di atas) pastilah allah akan menghilangkan semua kesedihan dan kesulitannya serta menggantikan dengan jalan keluar baginya”.

 

Lalu seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

 

“Ya Rasulallah, bolehkah kami menghafalkannya ?”.

 

Beliau menjawab : “Aku anjurkan bagi yang mendengarnya agar menghafalkan (dan mengamalkannya)”.

 

(HR. Hakim dalam Al Mustadrak, beliau berkata: Hadits ini Shahih dengan persyaratan Imam Muslim). [Ahmed Widad]

sumber: VOA-ISLAM.COM

Categories: kisah penuh hikmah | Leave a comment

Mari Belajar Hidup dari Kodir dan Deny

Deny sedang ditarik ayahnya Kodir (tak tampak)

(sebuah kisah inspirasi dari blog tetangga 🙂  )

Kamis, 21 Februari 2013 sore. Saya berjalan kaki melintasi Jalan Gatot Subroto dari Kuningan hingga kawasan Senayan, Jakarta. Di depan Polda Metro Jaya, saya mendapati seorang bapak sedang mengerek sebuah gerebak barang kecil ukuran persegi empat. Di bawahnya ada roda-roda kecil dan ditarik dengan nilon kecil.

Di atas gerobak itu tergeletak seorang pria dewasa tanpa kedua tangan dan kaki. Dia tertelungkup di atas sebuah kasur kapuk kecil sambil membaca sebuah buku. Dibolak baliknya halaman-halaman buku itu dengan lengannya yang mini. Dia mengenakan kaus kuning dengan celana pendek warna merah garis-garis. Kepalanya dengan rambut yang digunting pendek ditutupi topi kotak-kotak khas Jokowi-Ahok. Nama pria ini Deny. Sementara sang penarik adalah Kodir, ayahnya sendiri. Atau di Jakarta lebih dikenal dengan panggilan Bapa Deny. Mereka berasal dari Ciamis, Jawa Barat.

Selain menarik gereobak itu, Kodir menggendong sebuah kotak yang berisi rokok-rokok berbagai merek untuk dijajakan. Sambil menjual rokok, dia terus menarik putranya yang tergolek lemas itu.

Saya lalu mengajak Kodir dan Deny berbicara sebentar. Kodir pun berkisah tentang Deny. Menurutnya, Deny cacat sejak dalam kandungan ibunya. Dia dilahirkan dalam keadaan cacat seperti saat memasuki usianya yang ke-19 tahun saat ini. “Tidak punya keturunan seperti ini sebelumnya. Anak pertama saya, laki-laki lahir dan bertumbuh normal,” ceritanya.

Tetapi Kodir tidak pernah menyesal memiliki anak seperti Deny. Tak tampak kesedihan pada wajahnya. Baik Kodir maupun Deny selalu tersenyum. Dia menerima kenyataan ini dengan lapang dada. “Allah sudah memberikannya seperti ini, ya mau gimana lagi,” ujarnya sambil terus mengerek Deny dan membunyikan pluit bila hendak menyeberang jalan.

Dia melihat ini sebagai sebuah ujian. Ujian ini semakin berat ketika pada 2006 lalu, istrinya dipanggil Tuhan karena kanker kandungan. “Ibunya sudah dipanggil Tuhan, saya diberi yang seperti ini. Ya mau gimana lagi. Kesabaran dan ketabahan saya diuji,” ujarnya.

Kadir dan putranya itu tinggal di bilangan Cipinang, Jakarta Timur. Pada sore itu, mereka keluar dari tempat tinggalnya pukul 14.00 WIB, di antar seseorang ke kuningan. Dari kuningan lalu Kodir berjalan kaki sambil menarik Deny di atas gerobak. Di atas Semanggi dia belok ke bawah Jembatan Semanggi lalu naik untuk pindah ke sisi jalan Gatot Subroto yang lain kembali ke kuningan dan selanjutnya kembali ke tempat tinggalnya di Cipinang.

Kodir menceritakan bahwa dia tidak meminta-minta dengan membawa Deny kemanapun dia pergi. Dia hanya menjajakan rokok. Tetapi kalau ada orang yang iba dengan Deny lalu memberikan tanda kasih mereka, Kodir tidak menolak. “Saya tidak meminta pak. Itu dosa buat saya. Tetapi kalau ada yang memberi sebagai ungkapan belas kasihan, saya terima,” tuturnya.

Dengan cerita pengalaman ini, saya hanya ingin berbagi tentang perjuangan hidup, ketabahan dan ketekunan dalam menjalani hidup ini. Apapun pengalaman yang kita alami. Setiap peristiwa dan pengalaman selalu ada hikmahnya. Petik saja hikmah dari setiap pengalaman hidup Anda. Jangan banyak mengeluh. Tetap ceria dalam pengalaman seburuk apa pun seperti yang diperlihatkan oleh Kodir dan putranya, Deny…
(sumber: Ciarciar.blogspot.com)

Categories: kisah penuh hikmah | Leave a comment

Ketegaran Sang Bunga Surga Masyithah

Mesir ribuan abad silam menjadi saksi sejarah kehidupan seorang wanita yang hatinya dipenuhi keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Saat itu, Negeri Piramida dikuasai Firaun yang bengis. Ia memaksa seluruh rakyat Mesir menyembahnya.

Allah  SWT lalu mengutus Nabi Musa untuk menyelamatkan Bani Israil dari kekejaman sang raja. Namun Firaun teramat sangat kejam hingga mereka yang beriman begitu takut untuk memperlihatkan keimanan mereka kepada Allah Ta’ala. Salah satu yang menyembunyikan keimanan tersebut yakni seorang wanita bernama Masyithah beserta keluarganya.

Masyithah merupakan salah satu pelayan istana Firaun. Ia bertugas sebagai sebagai tukang sisir putri Firaun. Sejak bertahun-tahun silam, keluarga Masyithah telah setia melayani istana. Ketika agama Ibrahim disampaikan Musa di tanah Mesir, mereka mengimaninya. Namun tak ada yang tahu keimanan Masyithah, termasuk sang majikan.

Hingga suatu hari, tibalah saat Allah menguji keimanan Masyithah dan keluarganya. Saat itu Masyithah tengah menyisir rambut putri Firaun. Tiba-tiba sisir ditangannya jatuh, dan tanpa sadar asma Allah keluar dari lisan Masyithah.

“Allah!” seru Masyithah spontan. Mendengarnya, putri Firaun sontak kaget. Ia pun segera menginterogasi Mayithah, “Siapakah Allah itu?” Jika Allah itu Tuhan, maka berarti Masyithah siap dihukum mati karena telah menentang Firaun.

Masyithah tak juga menjawab pertanyaan sang putri. Keringat dingin menderas tubuhnya, ketakutan menderu hatinya. “Siapa Allah itu? Mengapa kau tak menjawab! Apakah kau punya Tuhan selain ayahku?!” seru sang putri.

Masyithah terus bungkam, namun sang putri terus mendesaknya. Hingga keberanian pun datang dari diri Masyithah. Ia tahu betul, inilah saatnya keimanan hendak diuji Allah. “Allah adalah Tuhanku, Tuhan ayahmu, dan Tuhan seluruh alam,” jawab Mayithah tegas.

Mendengarnya, sang putri pun segera beranjak dari tempat duduknya menuju kediaman sang ayah. Ia segera melaporkan apa yang baru saja didengarnya dari lisan Masyithah kepada sang penguasa Mesir yang kejam. Sementara Masyithah mengabarkan kepada keluarganya untuk bersiap diri mendapat hukuman Firaun. Bersiap diri untuk tegar diatas keimanan kepada Allah.

Firaun marah bukan kepalang ketika mendengar kabar dari sang putri. Ia pun segera memanggil Masyithah ke hadapannya. Tanpa keraguan, Masyithah pun pergi memenuhi panggilan raja.

“Apa kau menyembah sesuatu selain aku?” tanya Firaun dengan suara menggelegar. Seluruh istana dibuat takut dengan amarahnya.

Masyithah pun menjawab, “Ya, saya menyembah Allah. Allah Tuhanku, Tuhanmu dan Tuhan segala sesuatu,” kata Masyithah.

Firaun pun menyuruh pengawalnya untuk mengikat Masyithah kemudian menaruh seekor ular besar di hadapannya. Namun Masyithah tak merasa takut sedikitpun .

Bertambah terbakarlah emosi Firaun. Ia pun segera memanggil tangan kanannya, Hamman untuk mengeksekusi mati keluarga Masyithah.

Hamman kemudian segera mengumpulkan beberapa pengawal untuk menangkap Masyithah dan keluarganya. Ia pun kemudian memerintahkan pengawal lain untuk membuat lubang besar untuk diisi air panas layaknya kawah bara dari gunung api. Ia bermaksud merebus hingga mati Masyithah dan keluarganya.

Tibalah hari eksekusi.  Rakyat dikumpulkan untuk menyaksikan  hukuman ala Firaun. Masyithah, bersama sang suami dan empat orang anak termasuk satu bayi yang digendongnya  siap menghadapi hukuman keji tersebut.

Mereka melihat kubangan besar berisi air mendidih yang siap melepuhkan tubuh mereka. Namun hati mereka tak gentar dengan siksaan dari seorang manusia. Mereka memilih beriman kepada Allah, Tuhan seluruh manusia.

Sebelum dilempar ke air mendidih, mereka ditanya oleh Hamman apakah masih akan terus mengimani Allah dan enggan menuhankan Firaun? Mereka menjawab, “Allah adalah Tuhanku, Tuhan Firaun dan Tuhan seluruh alam. Kami akan terus beriman kepada Allah sekalipun harus terjun ke kawah mendidih.”

Maka bulatlah keputusan Hamman untuk memasak mereka hidup-hidup dalam kubangan air yang mendidih. Suami Masyitah pertama kali yang mendapat giliran. Tubuhnya langsung dilalap air yang mendidih, tinggal seonggok daging gosong tak bernyawa.

Melihat eksekusi keji tersebut, Hamman terbahak-bahak dan terus menghina orang-orang yang beriman kepada Allah.

Masyithah terus di atas ketegarannya mengimani Allah. Setelah sang suami, giliran anak-anaknya. Satu per satu, mereka dipaksa masuk ke air mendidih yang apinya menjilat-jilat. Semuanya dilakukan dihadapan Masyithah.

Hingga tinggallah tersisa Masyithah dan seorang anaknya yang masih bayi. Ia menggendong bayi itu erat-erat. Hatinya masih di atas ketegaran agama Allah. Maka diseretlah ia dan bayinya mendekati air yang teramat sangat panas itu.

Ketika hampir memasuki kubangan air, tiba-tiba setan membisikkan keraguan di dalam hatinya. Keraguan dengan merasa sedih dan kasihan pada sang bayi yang belum sempat tumbuh dewasa melihat dunia, bayi yang baru lahir tanpa dosa.

Masyithah pun menghentikan langkahnya menuju ajal. Ia terus saja memandangi bayinya yang merah dengan perasaan sedih yang mendalam. Melihatnya, Hamman sempat berpikir Masyithah akan mencabut kata-katanya dan akan kembali menuhankan Firaun. Ia pun girang karena merasa ancamannya pada Masyithah berhasil.

Namun pikiran Hamman salah. Masyithah tak pernah sedikitpun melepaskan keimanannya pada Allah.

Lalu dengan kehendak Allah, sang bayi tiba-tiba berkata kepada ibunya, “Wahai ibu, jangan takut, sesungguhnya Surga menanti kita,” ujar bayi yang digendongnya.

Mendengarnya, kembalilah ketegaran dan keberanian Masyithah. Ia pun mencium anaknya. Kemudian masuklah keduanya ke dalam air yang mendidih. Masyithah dan keluarganya mengakhiri hidup mereka dengan berpegang teguh pada akidah.

Kisah Masyithah disebut dalam sebagian hadit Rasulullah tentang Isra Mikaj yang diriwayatkan Imam Ahmad, Ibnu Hibban dan Thabrani.

Dalam perjalanan Isra Mikraj Rasulullah ke Masjidil Al-Aqsa, beliau melewati sebuah daerah yang aromanya sangat harum semerbak seperti harum kasturi. Rasulullah pun bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, aroma harum apakah ini?”.

Jibril pun menjawab, “Ini adalah harum Masyithah, tukang sisir putri Firaun.”

Rasulullah pun kembali bertanya, “Apa gerangan kelebihan Masyithah?”.  Jibril pun mengabarkan kisah Masyithah kepada Rasulullah..

Dari kisah di atas dapat dipetik hikmah tentang ketegaran Masyithah di atas keimanan dan ketaqwaan kepada Allah.

Ia amat sabar menghadapi cobaan keimanan meski maut mengancamnya. Maka ia pun enggan menjual belikan keimanan karena takut mati apalagi hanya karena urusan duniawi.

Masyithah yakin bahwa keimanan dan ketakwaan yang dijaga hingga akhir hayat, maka balasannya adalah surga.

“Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai seorang Muslim.”  (QS  Ali ‘Imran: 102.

“Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.” (QS Ar Ra’d: 24).

sumber: republika

Categories: kisah penuh hikmah | Tags: | Leave a comment

Kepompong Kupu-kupu

Seorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Suatu hari lubang kecil muncul. Dia duduk dan mengamati dalam beberapa jam kupu-kupu itu ketika dia berjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.

Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya, dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya.Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, sayap2 mengkerut.Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yg mungkin akan berkembang dalam waktu.

Semuanya tak pernah terjadi. Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yg menghambat dan perjuangan yg dibutuhkan kupu-kupu untukmelewati lubang kecil adalah jalan Allah untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

kisah-kisah inspirasi terbaik

Kadang-kadang perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Allah membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yg semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah dapat terbang. Saya memohon Kekuatan ..Dan Allah memberi saya kesulitan-kesulitan untuk membuat saya kuat.

Mengutip perkataan seorang ulama,
“daripada meminta ‘ya Allah ringankanlah masalahku’, namun pintalah ‘Ya Allah kuatkanlah punggungku'”

Categories: kisah penuh hikmah | Leave a comment

Tetesan Air Mata Seorang Ibu

“Seorang ibu bisa mengurus sepuluh orang anak, tapi sepuluh orang anak belum tentu mampu mengurus seorang ibu”.

Saudara/i ku seiman..para facebooker yang dirahmati Allah..sungguh tak sekali pun kudengarkan muhadharah ini kecuali saya dalam keadaan berlinang airmata, saya terjemahkan untuk kita semua, moga kecintaan pada Ibu selalu diingatkan oleh Allah dalam hati-hati kita…selama beliau masih bersama kita..

Suatu hari seorang wanita duduk santai bersama suaminya , pernikahan mereka berumur 21 tahun, mereka mulai bercakap dan ia bertanya pada suaminya, ” Tidakkah engkau ingin keluar makan malam bersama seorang wanita?”. Suaminya kaget dan berkata,” Siapa? Saya tak memiliki anak juga saudara”. Wanita itupun kembali berkata,” Bersama seorang wanita yang selama 21 tahun tak pernah kau temani makan malam”.

Tahukah kalian siapa wanita itu??

Ibunya…

ُﻩﺎَّﻳِﺇ ﻻِﺇ ﺍﻭُﺪُﺒْﻌَﺗ ﻻَﺃ َﻚُّﺑَﺭ ﻰَﻀَﻗَﻭ َﻙَﺪْﻨِﻋ َّﻦَﻐُﻠْﺒَﻳ ﺎَّﻣِﺇ ﺎًﻧﺎَﺴْﺣِﺇ ِﻦْﻳَﺪِﻟﺍَﻮْﻟﺎِﺑَﻭ ٍّﻑُﺃ ﺎَﻤُﻬَﻟ ْﻞُﻘَﺗ ﻼَﻓ ﺎَﻤُﻫﻼِﻛ ْﻭَﺃ ﺎَﻤُﻫُﺪَﺣَﺃ َﺮَﺒِﻜْﻟﺍ ﻻْﻮَﻗ ﺎَﻤُﻬَﻟ ْﻞُﻗَﻭ ﺎَﻤُﻫْﺮَﻬْﻨَﺗ ﻻَﻭ َﻦِﻣ ِّﻝُّﺬﻟﺍ َﺡﺎَﻨَﺟ ﺎَﻤُﻬَﻟ ْﺾِﻔْﺧﺍَﻭ * ﺎًﻤﻳِﺮَﻛ ﻲِﻧﺎَﻴَّﺑَﺭ ﺎَﻤَﻛ ﺎَﻤُﻬْﻤَﺣْﺭﺍ ِّﺏَﺭ ْﻞُﻗَﻭ ِﺔَﻤْﺣَّﺮﻟﺍ ﺍًﺮﻴِﻐَﺻ

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali- kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Al Isra’: 23-24)

Wanita itu berkata pada suaminya, ”Selama kita bersama tak pernah engkau bersama ibumu walau sejenak saja, hubungilah beliau, ajak makan malam berdua..luangkan waktumu untuknya”, suaminya terlihat bingung, seakan-akan ia lupa pada ibunya.

Maka hari itu juga ia menelpon ibunya, menanyakan kabar dan berkata “ Ibu, gimana menurutmu jika kita habiskan malam ini berdua, kita keluar makan malam. Saya akan menjemput ibu, bersiaplah”. Ibunya heran, ” Anakku, apakah terjadi sesuatu padamu?” jawabnya. ” Tidak ibu”, berulang kali sang ibu bertanya.

“ Ibu, malam ini saya ingin keluar bersamamu”.

Mengherankan! Ibunya begitu tak percaya namun sangat bahagia. “Mungkin kita bisa makan malam bersama, bagaimana menurutmu?”. Ibunya kembali bertanya, ”Saya keluar bersamamu anakku?”

Ibunya seorang janda, ayahnya telah lama wafat, dan anak lelakinya teringat padanya setalah 21 tahun pernikahannya. Hal yang sangat menggembirakannya, begitu lama waktu telah berlalu ia dalam kesendirian, dan datanglah hari ini, anaknya menghubunginya dan mengajaknya bersama. Seolah tak percaya, diapun bersiap jauh sebelum malam tiba. Tentu, dengan perasaan bahagia yang meluap-luap! Ia menanti kedatangan anaknya.

Laki-laki itupun bercerita : “ Setibaku di rumah menjemput ibu, kulihat beliau berdiri di depan pintu rumah menantiku”

Wanita tua…menantinya di depan pintu! “Dan ketika beliau melihatku, segera ia naik ke mobil.

Saya melihat wajahnya yang dipenuhi kebahagiaan, ia tertawa dan memberi salam padaku, memeluk dan menciumku, dan berkata: Anakku, tidak ada seorang pun dari keluargaku..tetanggaku…yang tidak mengetahui kalau saya keluar bersamamu malam ini, saya telah memberitahukan pada mereka semua, dan mereka menunggu ceritaku sepulang nanti” Lihat bagaimana jika seorang anak mengingat ibunya!

Sebuah syair berbunyi :

Apakah yang harus kulakukan
agar mampu membalas
kebaikanmu? Apakah yang harus kuberikan
agar mampu membalas
keutamaanmu?

Bagaimanakah kumenghitung
kebaikan-kebaikanmu ?

Sungguh dia begitu
banyak..sangat banyak..dan
terlampau banyak!

Dan kami pun berangkat, sepanjang jalan saya pun bercerita dengan ibu, kami mengenang hari-hari yang lalu.

Setiba di restoran, saya baru menyadari bahwa baju yang dikenakan ibu adalah baju terakhir yang Ayah belikan untuknya, setelah 21 tahun saya tak bersamanya tentu pakaian itu terlihat sangat sempit, dan saya pun terus memperhatikan ibuku. Kami duduk dan datanglah seorang pelayan menanyakan menu makanan yang hendak kami makan, kulihat ibu membaca daftar menu dan sesekali melirik kepadaku, akhirnya kufahami kalau ibuku tak mampu lagi membaca tulisan di kertas itu. Ibuku sudah tua dan matanya tak bisa lagi melihat dengan jelas.

Kubertanya padanya,” Ibu, apakah engkau mau saya bacakan menunya?” Beliau segera mengiyakan dan berkata, “ Saya mengingat sewaktu kau masih kecil dulu, saya yang membacakan daftar menu untukmu, sekarang kau membayar utangmu anakku..kau bacakanlah untukku”

Maka sayapun membacakan untuknya, dan demi Allah..kurasakan kebahagiaan merasuki dadaku..

Beberapa waktu datanglah makanan pesanan kami, saya pun mulai memakannya. Tapi ibuku tak menyentuh makanannya, beliau duduk memandangku dengan tatapan bahagia. Karena rasa gembira beliau merasa tak selera untuk makan.

Dan ketika selesai makan, kami pun pulang, dan sungguh, tak pernah kurasakan kebahagian seperti ini setelah bertahun-tahun. Saya telah melalaikan ibuku 21 tahun lamanya.

Setiba di rumah, kutanyakan padanya : “ Ibu..bagaimana menurutmu kalo kita mencari waktu lain untuk keluar lagi?” beliau menjawab,” Saya siap kapan saja kau memintaku!”

Maka haripun berlalu, Saya sibuk dengan pekerjaan..dengan perdagangan..dan terdengar kabar Ibuku jatuh sakit. Dan beliau selalu menanti malam yang telah kujanjikan. Hari terus berlalu dan sakitnya kian parah. Dan…(Ya Alloh … Astaghfirullohal al’adzim…Ibuku meninggal dan tak ada malam kedua yang kujanjikan padanya.

Setelah beberapa hari, seorang laki- laki menelponku, ternyata dari restoran yang dulu kudatangi bersama ibuku. Dia berkata,” Anda dan istri Anda memiliki kursi dan hidangan makan malam yang telah lunas” Kami pun ke restoran itu, setiba disana..pelayan itu mengatakan bahwa Ibu telah membayar lunas makanan untuk saya dan istri.

Dan menulis sebuah surat berbunyi : “Anakku, sungguh saya tahu bahwa tak akan hadir bersamamu untuk kedua kalinya.

Namun, saya telah berjanji padamu, maka makan malamlah dengan uangku, saya berharap istrimu telah menggantikanku untuk makan malam
bersamamu”

Saya menangis membaca surat ibuku…dimana saya selama ini ?? di mana cintaku untuk Ibu?? Selama 21 tahun…. ….

dikisahkan kembali dari muhadharah syekh Nabil al ‘audhy- hafizhahullahu ta’ala- (ﻚﻠﻤﻟﺍ ﺪﺒﻋ ).

Sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=153349741468664&set=a.104715419665430.5691.100003809169180&type=1&theater

Categories: kisah penuh hikmah | Leave a comment

Doa Seekor Kucing

Hampir setiap kita pernah merasa terusik seekor kucing ketika sedang makan di sebuah warung sederhana. Rasanya sungguh menjengkelkan. Lagi enak-enak makan koq ada yang meong-meong minta jatah. Bisa jadi napsu makan menyurut bila meong-meong tidak berhenti. Apalagi kalau kucing rada agresif maksa-maksa. Langkah cepat mengusirnya adalah dengan menyiramkan air segelas ke badan kucing. Atau dengan ayunkan tendangan ke perut kucing. Nggak ada yang protes, ‘kan?

Selesai? Bisa ya bisa tidak.

Ya… Mengusir kucing pengganggu makan adalah langkah umum mengatasi perkara insidentil. Kucing pergi habis perkara!

Tidak… Ada sebuah pertanyaan di sini: adakah langkah lain untuk memanfaatkan kehadiran kucing lapar? Tentu ada jika Anda mau belajar sedikit tentang keberadaan mahluk-mahluk. Kita sadar mereka  masing-masing membawa manfaat untuk kehidupan semesta. Namun adakah kita menyadari bahwa kebahagiaan dan keluhan seekor kucing punya makna tersendiri?

Mari lanjutkan.

Untuk itu saya teringat sebuah kisah nyata. Ijinkan saya berbagi kisah yang entah kapan kejadiannya namun sangat menggugah. Semoga kisah di bawah ini cukup untuk sedikit menyingkap makna hubungan hewan dengan manusia. Hubungan antar jiwa-jiwa bernapas di sekitar kita.

@@@

Di suatu kota di Pulau Jawa. Datanglah seorang gadis berambut panjang ke warung makan. Dia hanya mengantongi uang Rp.10.000,- sedangkan anggaran makan siang adalah Rp.4.000,-. Anggaran cukup untuk sepiring nasi putih, sepotong tempe goreng, seporsi sayur asem. Gadis ini dikenal penyayang hewan walaupun tidak memelihara hewan piaraan di dalam rumah.

Dia sedang duduk di bangku warung makan sembari menyantap makan siang pada suapan pertama ketika seekor kucing  mengusik dari kolong meja. Melongok ke bawah. Saling pandang sedetik dengan kucing kelaparan. Wajah memelas kucing meminta jatah makan siang. Tangan kiri si gadis mencomot ikan goreng lalu menyorongkannya pas di bawah hidung kucing.

Selesai makan dia lapor kepada penjaga warung, “Nasi satu, tempe satu, sayur asem satu, ikan lele satu… Berapa semua, Pak?”

“Semua sepuluh ribu.”

Pembayaran selesai.

“Eh, Mba… Perasaan tadi saya nggak liat Mba makan ikan lele goreng. Koq dihitung?”

“Saya ambil satu makanya saya bayar, hehe…”

Penjaga warung tidak tahu bahwa ikan lele goreng diam-diam disorongkan bulat-bulat buat makan siang kucing! Si gadis menikmati makan dengan biaya Rp.4.000,- sedangkan si kucing kena Rp.6.000,-. Kebiasaan yang demikian itu konon berlangsung lama. Entah berepa ekor kucing yang ketiban rejeki nomplok dari tangan si gadis berambut panjang.

Pada suatu malam 5 tahun kemudian.

Seorang emak-emak memergoki ulah si gadis menyajikan makan malam  buat tiga ekor kucing di sebuah warung. 3 ekor ikan tongkol disorongkan ke kolong meja. 3 ekor kucing menggondol masing-masing satu potong kemudian membawa lari ke luar warung. Emak terkesima. Enak banget kucing makan malem dapet daging empuk?

Penasaran dia mau tau,”Nak… kamu koq royal amat ngasih kucing sepotong ikan utuh?”

“Emm… nggak royal koq. Ada tamu pejabat aja kita sediakan macam-macam lauk sampe ngutang-ngutang. Masa nggak bisa ngasih seekor ikan buat kucing?”

“Tapi kan dengan begitu uang kamu cepat habis… Cari gantinya dari mana?”

“Dengan berusaha dan berdoa.”

“Ya, kamu kerja. Terus siapa yang mendoakan kamu? Emm… Kucing??? hehe. “

“Doa seekor kucing kelaparan  lebih manjur daripada doa satu jamaah manusia kekenyangan,” balas si gadis, haqqul yakin.

“Ah, masa…? Kata siapa?” Emak mengernyitkan dahi.

“Kata hati sanubari saya.”

@@@

Si emak melangkah pulang sembari merenungkan perbicaraan singkat dengan gadis berambut panjang. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dia ingat gadis itu 5 tahun lalu adalah seorang penjaga toko pakaian milik pengusaha Cina. Ketika itu penampilan amat sederhana. Sekarang baru ngeh. Si gadis sudah menjadi Manager Pemasaran untuk majikan yang sama. Penampilan Wanita Karir.

***

Ragile

http://www.kompasiana.com/ragile

Categories: kisah penuh hikmah | Leave a comment

Siti Penjual Bakso berusia 7 Tahun

Siti Penjual Bakso berusia 7 Tahun membuat miris pembaca kaskus dan kompasiana dengan kisah perjuangan hidupnya. Siti orang pinggiran adalah seorang anak yatim yang harus ikut bekerja membiayai hidupnya dan ibunya dengan berjualan bakso keliling. Siti Pedagang Bakso cilik tinggal di Desa Karangkamulyan, Kec. Cihara, Kabupaten Lebak, Banten Selatan. Siti orang pinggiran yang harus kita pedulikan. Tulisan ini adalah milik seorang penulis kompasiana. Mari kita simak kisah hidup Siti Bocah Penjual Bakso

Siti Penjual Bakso berusia 7 Tahun

Siti, seorang bocah yatim yang ditinggal mati ayahnya sejak usia 2 tahun. Kini Siti berumur 7 tahun. Sehari-hari sepulang sekolah Siti masih harus berkeliling kampung menjajakan bakso. Karena ia masih anak-anak, tentu belum bisa mendorong rombong bakso. Jadi bakso dan kuahnya dimasukkan dalam termos nasi yang sebenarnya terlalu besar untuk anak seusianya. Termos seukuran itu berisi kuah tentu sangat berat.

Tangan kanan menenteng termos, tangan kiri menenteng ember plastik hitam berisi mangkok-mangkok, sendok kuah, dan peralatan lain. Dengan terseok-seok menenteng beban seberat itu, Siti harus berjalan keluar masuk kampung, terkadang jalanannya menanjak naik. Kalau ada pembeli, Siti akan meracik baksonya di mangkok yang diletakkan di lantai. Maklum ia tak punya meja. Terkadang jika ada anak yang membeli baksonya, Siti ingin bisa ikut mencicipi. Tapi ia terpaksa hanya menelan ludah, menahan keinginan itu. Setelah 4 jam berkeliling, ia mendapat upah 2000 perak saja! Kalau baksonya tak habis, upahnya hanya Rp. 1000,- saja. Lembaran seribuan lusuh berkali-kali digulung-gulungnya.

Sampai di rumah, Siti tak mendapati siapapun. Ibunya jadi buruh mencangkul lumpur di sawah milik orang lain. Tak setiap hari ia mendapat upah uang tunai. Terkadang ia hanya dijanjikan jika kelak panenan berhasil ia akan mendapatkan bagi hasilnya. Setiap hari kaki Ibunda Siti berlumur lumpur sampai setinggi paha. Ia hanya bisa berharap kelak panenan benar-benar berhasil agar bisa mendapat bayaran.

Hari itu Siti ingin bisa makan kangkung. Ia pergi ke rumah tetangganya, mengetuk pintu dan meminta ijin agar boleh mengambil kangkung. Meski sebenarnya Siti bisa saja langsung memetiknya, tapi ia selalu ingat pesan Ibunya untuk selalu minta ijin dulu pada pemiliknya. Setelah diijinkan, Siti langsung berkubang di empang untuk memetik kangkung, sebatas kebutuhannya bersama Ibunya. Petang hari Ibunya pulang. Siti menyerahkan 2000 perak yang didapatnya. Ia bangga bisa membantu Ibunya. Lalu Ibunya memasak kangkung hanya dengan garam. Berdua mereka makan di atas piring seng tua, sepiring nasi tak penuh sepiring, dimakan berdua hanya dengan kangkung dan garam. Bahkan ikan asin pun tak terbeli, kata Ibunda Siti.

Bayangkan, anak sekecil itu, pulang sekolah menenteng beban berat jualan bakso keliling kampung, tiba di rumah tak ada makanan. Kondisi rumahnya pun hanya sepetak ruangan berdinding kayu lapuk, atapnya bocor sana-sini. Sama sekali tak layak disebut rumah. Dengan kondisi kelelahan, dia kesepian sendiri menunggu Ibunya pulang hingga petang hari.

Sering Siti mengatakan dirinya kangen ayahnya. Ketika anak-anak lain di kampung mendapat kiriman uang dari ayah mereka yang bekerja di kota, Siti suka bertanya kapan ia dapat kiriman. Tapi kini Siti sudah paham bahwa ayahnya sudah wafat. Ia sering mengajak Ibunya ke makam ayahnya, berdoa disana. Makam ayahnya tak bernisan, tak ada uang pembeli nisan. Hanya sebatang kelapa penanda itu makam ayah Siti. Dengan rajin Siti menyapu sampah yang nyaris menutupi makam ayahnya. Disanalah Siti bersama Ibunya sering menangis sembari memanjatkan doa. Dalam doanya Siti selalu memohon agar dberi kesehatan supaya bisa tetap sekolah dan mengaji. Keinginan Siti sederhana saja : bisa beli sepatu dan tas untuk dipakai sekolah sebab miliknya sudah rusak.

Kepikiran dengan konsidi Siti, dini hari terbangun dari tidur saya buka internet dan search situs Trans7 khususnya acara Orang-Orang Pinggiran. Akhirnya saya dapatkan alamat Siti di Kampung Cipendeuy, Desa Cibereum, Cilangkahan, Banten dan nomor contact person Pak Tono 0858 1378 8136.

Usai sholat Subuh saya hubungi Pak Tono, meski agak sulit bisa tersambung. Beliau tinggal sekitar 50 km jauhnya dari kampung Siti. Pak Tono-lah yang menghubungi Trans7 agar mengangkat kisah hidup Siti di acara OOP. Menurut keterangan Pak Tono, keluarga itu memang sangat miskin, Ibunda Siti tak punya KTP. Pantas saja dia tak terjangkau bantuan resmi Pemerintah yang selalu mengedepankan persyaratan legalitas formal ketimbang fakta kemiskinan itu sendiri. Pak Tono bersedia menjemput saya di Malimping, lalu bersama-sama menuju rumah Siti, jika kita mau memberikan bantuan. Pak Tono berpesan jangan bawa mobil sedan sebab tak bakal bisa masuk dengan medan jalan yang berat.

Saya pun lalu menghubungi Rumah Zakat kota Cilegon. Saya meminta pihak Rumah Zakat sebagai aksi “tanggap darurat” agar bisa menyalurkan kornet Super Qurban agar Siti dan Ibunya bisa makan daging, setidaknya menyelematkan mereka dari ancaman gizi buruk. Dari obrolan saya dengan Pengurus Rumah Zakat, saya sampaikan keinginan saya untuk memberi Siti dan Ibunya “kail”. Memberi “ikan” untuk tahap awal boleh-boleh saja, tapi memberdayakan Ibunda Siti agar bisa mandiri secara ekonomi tentunya akan lebih bermanfaat untuk jangka panjang. Saya berpikir alangkah baiknya memberi modal pada Ibunda Siti untuk berjualan makanan dan buka warung bakso, agar kedua ibu dan anak itu tidak terpisah seharian. Siti juga tak perlu berlelah-lelah seharian, dia bisa bantu Ibunya berjualan sambil belajar.

Mengingat untuk memberi “kail” tentu butuh dana tak sedikit, pagi ini saya menulis kisah Siti dan memforward ke grup-grup BBM yang ada di kontak BB saya. Juga melalui Facebook. Alhamdulillah sudah ada beberapa respon positif dari beberapa teman saya. Bahkan ada yang sudah tak sabar ingin segera diajak ke Malimping untuk menemui Siti dan memeluknya. Bukan hanya bantuan berupa uang yang saya kumpulkan, tapi jika ada teman-teman yang punya putri berusia 7-8 tahun, biasanya bajunya cepat sesak meski masih bagus, alangkah bermanfaat kalau diberikan pada Siti.

Adapula teman yang menawarkan jadi orang tua asuh Siti dan mengajak Siti dan Ibunya tinggal di rumahnya. Semua itu akan saya sampaikan kepada Pak Tono dan Ibunda Siti kalau saya bertemu nanti. Saya menulis artikel ini bukan ingin menjadikan Siti seperti Darsem, TKW yang jadi milyarder mendadak dan kemudian bermewah-mewah dengan uang sumbangan donatur pemirsa TV sehingga pemirsa akhirnya mensomasi Darsem. Jika permasalahan Siti telah teratasi kelak, uang yang terkumpul akan saya minta kepada Rumah Zakat untuk disalurkan kepada Siti-Siti lain yang saya yakin jumlahnya ada beberapa di sekitar kampung Siti.

Mengetuk hati penguasa formal, mungkin sudah tak banyak membantu. Saya menulis shout kepada Ibu Atut sebagai “Ratu” penguasa Banten ketika kejadian jembatan ala Indiana Jones terekspose, tapi toh tak ada respon. Di media massa juga tak ada tanggapan dari Gubernur Banten meski kisah itu sudah masuk pemberitaan media massa internasional. Tapi dengan melalui grup BBM, Facebook dan Kompasiana, saya yakin masih ada orang-rang yang terketuk hatinya untuk berbagi dan menolong. Berikut saya tampilkan foto-foto Siti yang saya ambil dari FB Orang-Orang Pinggiran. Semoga menyentuh hati nurani kita semua.

Categories: kisah penuh hikmah | Tags: | Leave a comment

Kisah Menakjubkan Istri Shalihah yang Dimadu


Dahulu di Baghdad ada seorang laki-laki penjual kain yang kaya. Tatkala dia sedang berada di tokonya, datanglah seorang gadis muda mencari-cari sesuatu yang hendak dibeli. Ketika sedang berbicara, tiba-tiba gadis itu menyingkap wajahnya di sela-sela perbincangan tersebut sehingga laki-laki terrebut terkesima dan berkata, “Demi Allah, aku terpana dengan apa yang kulihat.”

Gadis itupun berkata, “Kedatanganku bukan untuk membeli apapun. Selama beberapa hari ini aku keluar masuk pasar untuk mencari seorang pria yang menarik hatiku dan bersedia menikah denganku. Dan engkau telah membuatku tertarik. Aku memiliki harta. Apakah engkau mau menikah denganku?”

Laki-laki itu berkata, “Aku telah menikahi sepupuku, dialah istriku. Aku telah berjanji kepadanya untuk tidak membuatnya cemburu dan aku juga telah mempunyai seorang anak darinya.”

Wanita itu mengatakan, “Aku rela jika engkau hanya mendatangiku dua kali dalam seminggu.” Akhirnya laki-laki itupun setuju lalu bangkit bersamanya. Akad nikah pun dilakukan. Kemudian dia pergi menuju rumah gadis tersebut dan berhubungan dengannya.

Setelah itu, si pedagang kain pulang ke rumahnya lalu berkata kepada istrinya, “Ada teman yang memintaku tinggal semalam di rumahnya.” Dia pun pergi dan bermalam bersama istri barunya.

Setiap hari setelah zhuhur dia mengunjungi istri barunya. Hal ini berlangsung selama delapan bulan, hingga akhirnya istrinya yang pertama mulai merasa aneh dengan keadaannya. Dia berkata kepada pembantunya, “Jika suamiku keluar, perhatikanlah ke mana dia pergi.”

Si pembantu pun membuntuti suami majikannya pergi ke toko, namun ketika tiba waktu zhuhur dia pergi lagi. Si pembantu terus membuntuti tanpa diketahui hingga tibalah suami majikannya itu di rumah istri yang baru. Pembantu itu mendatangi tetangga-tetangga sekitar dan bertanya, “Rumah siapakah ini?” Mereka menjawab, “Rumah milik seorang wanita yang telah menikah dengan seorang penjual kain.”

Pembantu itu segera pulang menemui majikannya lalu menceritakan hal tersebut. Majikannya berpesan, “Hati-hati, jangan sampai ada seorang pun yang lain mengetahui hal ini.” Dan istri lama si pedagang kain juga tetap bersikap seperti biasa terhadap suaminya.

Si pedagang kain menjalani kehidupan bersama istrinya yang baru selama satu tahun. Lalu dia jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia dengan meninggalkan warisan sebanyak delapan ribu dinar. Maka istri yang pertama membagi harta warisan yang berhak diterima oleh putranya, yaitu tujuh ribu dinar. Sementara sisanya yang berjumlah seribu dinar ia bagi menjadi dua. Satu bagian ia letakkan di dalam kantong, kemudian ia berkata kepada pembantunya, “Ambillah kantong ini dan pergilah ke rumah wanita itu. Beritahukan kepadanya bahwa suaminya telah meninggal dengan mewariskan uang sebesar delapan rib dinar. Putranya telah mengambil tujuh ribu dinar yang menjadi haknya, dan sisanya seribu dinar aku bagi denganmu, masing-masing memperoleh setengah. Inilah bagian untukmu. Dan sampaikan salamku juga untuknya.”

Si pembantu pun pergi ke rumah istri kedua si pedagang kain, kemudian mengetuk pintu. Setelah masuk, disampaikannyalah berita tentang kematian si pedagang kain, dan pesan dari istri pertamanya. Wanita itupun menangis, lalu membuka kotak miliknya dan mengeluarkan secarik kertas seraya berkata kepada si pembantu, “Kembalilah kepada majikanmu dan sampaikan salamku untuknya. Beritahukan kepadanya bahwa suaminya telah menceraikanku dan telah menulis surat cerai untukku. Maka kembalikanlah harta ini kepadanya karena sesungguhnya aku tidak berhak mendapatkan harta warisannya sedikitpun.” (Shifatus Shofwah, 2/532)

Subhanallah…….

Dinukil dari: Majalah Akhwat Shalihah vol. 16/1433 H/2012, dalam artikel “Mutiara Berkilau para Wanita Shalihah” oleh Syaikh Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim hafizhahullah, hal. 68-69.

Categories: kisah penuh hikmah | Leave a comment

“Secret Millionaire”

https://i2.wp.com/lifeinla.com/absolutenm/articlefiles/6984-Secret_Millionaire_image.jpg

Ray terpaku menatap televisi di depannya, tanpa terasa air matanya menetes haru, saat dia menyaksikan seorang laki-laki yg memberikan sepatunya kepada seorang gelandangan dikarenakan sepatu gelandangan itu sudah rusak penuh dengan lakban. Itu adalah acara TV favoritnya “Secret Millionaire” acara TV yg menyiarkan jutawan-jutawan asing memberikan uang yg tidak sedikit kepada orang-orang yg membutuhkan dan mereka merasa bahagia melakukannya.

Dalam hati ia berkata “Andai aku seorang Jutawan, ingin rasanya seperti mereka…. sayangnya dia hanya seorang karyawan biasa yg gajinya pas-pasan dan rasanya tidak mungkin bergaya seperti sang Jutawan ….

Suatu hari sepulang kerja dengan sepeda motornya Ray melewati pasar malam yg cukup ramai pembeli, maklum hari itu hari-hari terakhir bulan Ramadhan, sehingga banyak orang-orang yg ingin berbelanja keperluan Lebaran.

Dengan membawa motor dengan perlahan di jalan yg ramai, dia melihat seorang laki-laki dengan pakaian kumal berjalan sambil membawa gerobak,  di dalam gerobak tampak seorang wanita  dengan pakaian lusuh pula. Gerobak itu berjalan perlahan di samping pasar malam yg mulai ramai, di dalam gerobak tampak wanita dengan baju yang lusuh menatap kios-kios baju yg ada di sampingnya…

Tidak berapa lama motor yg dibawa Ray telah melewati gerobak tsb…sekilas hatinya bertanya-tanya” kira-kira mereka akan pakai pakaian apa untuk Lebaran nanti ya??”….punyakan mereka pakaian yg bagus?? ..duhh kasian mereka…

Ray berhenti di sebuah kios pakaian wanita, di belinya sepotong pakaian, dan kemudian sambil mengejar gerobak itu dengan motornya di berikan pakaian itu kepada wanita di dalam gerobak tsb. “Terima kasih” kata wanita di dalam gerobak itu… Ray tersenyum …  dan tidak terasa air matanya mengalir .. .bahagia…. bahagia yang mungkin  sama dengan para “secret Millionaire” rasakan…

Renungan:  Tidak perlu menunggu menjadi Jutawan untuk membahagiakan  orang lain…. karena kekayaan yg sebenarnya adalah kekayaan nurani.

Categories: kisah penuh hikmah | Leave a comment

Ikan Kecil Dan Air

 

Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang-bincang di tepi sungai. Sang Ayah berkata kepada anaknya, “Lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati.” Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengar percakapan itu dari bawah permukaan air, ikan kecil itu mendadak gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan ini. Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, “Hai tahukah kamu dimana tempat air berada? Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati.”

Ternyata semua ikan yang telah ditanya tidak mengetahui dimana air itu. Si ikan kecil itu semakin kebingungan. Lalu ia berenang menuju mata air untuk bertemu dengan ikan sesepuh yang sudah berpengalaman, kepada ikan sesepuh itu ikan kecil ini menanyakan hal yang sama, “Dimanakah air?” Ikan sesepuh itu menjawab dengan bijak, “Tak usah gelisah anakku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya.

Memang benar, tanpa air kita semua akan mati.” “Manusia kadang-kadang mengalami situasi yang sama seperti ikan kecil, mencari kesana kemari tentang kehidupan dan kebahagiaan, padahal ia sedang menjalaninya, bahkan kebahagiaan sedang melingkupinya sampai-sampai ia sendiri tidak menyadarinya. ” Terkadang kita tidak sadar bahwa apa yang kita miliki saat ini sudah cukup membuat kita bahagia. Apa sih yang kita cari di kehidupan ini? Hidup adalah pilihan. Jangan juga pernah mengira bahwa orang lain lebih bahagia dari kita.. Karena apa yang kita lihat dari orang lain itu hanya luarnya saja.. Dalamnya? Tidak ada yg tahu. Tapi kita seharusnya lebih tahu apa yang ada pada kita dan yang disekitar kita.

Categories: kisah penuh hikmah | Leave a comment