Diabetes

Siapa bilang Diabet tak bisa sembuh??

Siapa yang berani menjamin angka gula darah seseorang hari ini sama dengan esok? Atau siapa yang berani menjamin angka gula darah akan selalu sama setiap saat, bahkan sampai akhir hayat?? Siapa yang berani menjamin…??

Sebaliknya yakinkah kita bahwa angka gula darah bisa berubah dalam hitungan detik, menit, jam atau hari?? Tentu kita meyakini perubahan tersebut, apalagi jelas-jelas dalam prakteknya cek gula darah dinyatakan sbg hasil “sewaktu”. Bukankah hal ini menandakan bahwa angka gula darah sangat stabil dan bisa berubah dalam waktu sekejap.

Lantas bagaimana dengan mereka yg di ketahui angka gula darahnya saat itu, detik itu melampaui angka normal lalu di vonis menderita diabet yang seolah angka gula darahnya akan berlaku sepanjang hidupnya..?

Bukankah melontarkan vonis kepada seorang menderita diabet seumur hidupnya merupakan perbuatan mendahului taqdir?? Padahal Islam melarang kita mengatakan akan berbuat sesuatu nanti atau esok hari tanpa ucapan Insya Allah. Padahal bila angka gula darah tsb berubah satu jam atau esok hari, tentu dia tidak termasuk penderita diabet??.. Kadang juga dengan tanpa rasa dosa berani menyatakan bahwa penyakit tsb tidak ada obatnya dan tidak bisa di sembuhkan….

Karena Allah-lah yang menimpakan penyakit ini, maka seseorang dapat sembuh hanya dengan kehendak-Nya. Bila Allah menghendaki, Dia mampu menghilangkan penyakit karena Dia-lah Yang Maha Menyembuhkan.

Sebaliknya, bila tidak, tak satu dokter pun di dunia ini dengan perangkat teknologi tercanggih dan obat terbaru yang mampu menyembuhkan penyakit seseorang. Semua obat hanyalah sarana untuk membantu kesembuhan seseorang. Jika Allah mengehendaki, Dia akan menjadikan pengobatan tersebut sebagai jalan tercapainya kesembuhan. Sebaliknya, penyakit yang tampaknya tak berbahaya dapat saja menyebabkan kematian, kecuali Allah berkehendak lain.

Oleh sebab itu, manusia hendaknya membandingkan kelemahannya ini dengan Keperkasaan Allah dan meminta pertolongan-Nya di saat mengalami kesulitan. Jangan lupa bahwa kita tidak memiliki penolong dan pelindung selain Allah.

“dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku,”
(QS. Asy Syu’araa’, 26:80)

Categories: Diabetes, Pengobatan Islami | Tags: | Leave a comment

5 Kebiasaan yang Memperburuk Diabetes

Diabetes adalah penyakit kronis yang dapat mengancam kualitas hidup Anda. Walaupun demikian, diabetes merupakan penyakit yang dapat dikelola, asalkan Anda dapat menerapkan kebiasaan-kebiasaan sehat dalam kehidupan Anda.

Sebaliknya, kebiasaan, perilaku yang tidak sehat dapat memperburuknya. Beberapa kebiasaan di bawah ini perlu Anda pertimbangkan :

1. Banyak duduk di depan layar kaca.

Kebanyakan pasien diabetes tidak menyadari bahwa banyak duduk di depan layar kaca (TV) ada hubungannya dengan penyakit diabetes yang disandangnya. Penelitian menunjukkan bahwa duduk meningkatkan risiko diabetes. Semakin lama anda duduk di depan TV semakin besar pula risikonya. Duduk 2 jam di depan TV meningkatkan risiko diabetes 20 persen, apalagi biasanya mulut Anda juga tidak pernah diam, cemilan, yang tidak sehat sering menjadi teman Anda.

Kebiasaan duduk, apalagi setelah Anda selesai makan meningkatkan kadar gula darah Anda 24 persen lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang berjalan pelan-pelan setelah makan.

2. Menghindari makan

Banyak pasien diabetes saya lihat, karena takut gula darahnya tinggi, mereka kemudian tidak makan. Menghindari makan pagi, atau makan siang akan mengakibatkan kadar gula darah tidak stabil, turun tiba-tiba, kemudian dapat naik lagi, begitu juga kadar Insulin dalam darah Anda.

Hal ini bisa mendorong Anda mengkonsumsi makanan, cemilan yang tidak sehat, bahkan lebih banyak dibandingkan Anda tetap makan seperti biasa. Bila Anda menggunakan obat-obat diabetes, menghindari makan akan mempersulit kontrol gula darah Anda, dan bahkan bisa mengakibatkan komplikasi akut hipoglikemia.

3. Mengurangi tidur

Mengurangi tidur malam hari juga sering dilakukan pasien diabetes. Tidak tidur juga kadang-kadang dianggapnya dapat menurunkan gula darah, menurunkan berat badan. Padahal, kurang tidur juga akan berakibat naiknya kadar gula darah Anda, bisa karena kecendrungan Anda untuk ngemil yang tidak sehat, berlebihan, atau karena dehidrasi yang Anda alami.

Mengurangi tidur malam hari juga sering membuat Anda mengantuk siang hari dan sebagai kompensasinya Anda akan banyak tidur siang itu.  Tidur siang hari mengakibatkan aktifitas fisik Anda berkurang, kadar gula darah Anda dapat meningkat.

4. Tidak makan obat

Banyak penyandang diabetes yang menghentikan  obat-obatan yang dikonsumsinya. Alasan  mereka bisa karena gula darah mereka sudah normal, tidak merasakan lagi gejala-gejala yang biasanya dikeluhkannya, atau mereka menggunakan obat tradisional, herbal, dan mereka percaya herbal yang dikonsumsinya bisa mengontrol gula darahnya dengan baik.

Pengalaman saya, herbal barangkali bisa membantu, tapi belum tentu dapat  menggantikan obat-obatan yang selama ini digunakan. Menghentikan obat-obat tiba-tiba juga bisa mengakibatkan kadar gula darah menjadi tinggi, tidak terkontrol dengan baik. Keadaan ini akan mempercepat komplikasi-komplikasi diabetes yang mungkin terjadi.

5. Tidak memeriksa gula darah

Kadar gula darah yang terkontrol dengan baik merupakan faktor penting bagi penyandang diabetes. Kadar gula darah itu akan menentukan perjalanan penyakit Anda. Karena itu, mengetahui kadar gula darah itu harus dilakukan secara periodik. Bila Anda menggunakan terapi insulin, satu atau 2 kali dalam sehari pemeriksaan itu diperukan, sebaiknya dilakukan pagi hari sebelum makan pagi.

Kalau Anda penyandang diabetes tipe 2  yang sudah terkontrol dan hanya mendapatkan obat-obat diabetes oral, pemeriksaan bisa lebih jarang. Pemeriksaan gula darah ini penting, tidak hanya  mengurangi risiko potensi komplikasi, tetapi juga berguna untuk mengevaluasi efektifitas  terapi yang selama ini diberikan, termasuk obat-obat yang dikonsumsi,  diet,  olahraga, aktifitas fisik yang direkomendasikan.

sumber : kompas

Categories: Diabetes, kesehatan | Tags: | Leave a comment

7 Kebiasaan yang bisa Tekan Resiko Diabetes

 

Diabetes merupakan penyakit kronik yang dapat mengurangi kualitas hidup penderitanya. Namun risiko diabetes sebenarnya dapat dikelola dengan menjalani gaya hidup yang sehat.

Berikut merupakan kebiasaan-kebiasaan yang dapat mengurangi risiko diabetes.

1. Angkat beban

Menurut sebuah studi baru yang dimuat dalam The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, menambah massa otot dapat mengurangi resistensi insulin dan mengurangi risiko mengembangkan prediabetes. Para peneliti menemukan setiap penambahan 10 persen massa otot, risiko prediabetes turun sebanyak 12 persen.

Profesor ilmu olahraga di Old Dominion University Sheri Colberg-Ochs menyarankan untuk menambahkan latihan daya tahan ke dalam jadwal olahraga Anda tiga hari dalam seminggu. Selain itu lakukan juga paling tidak dua setengah jam per minggu untuk latihan kardio pembakar kalori seperti berlari, bersepeda, atau berenang.

2. Cukup tidur

Kekurangan tidur dalam jangka panjang dapat memicu resistensi insulin, terutama bagi mereka yang berrisiko tinggi diabetes. Sebuah studi pendahuluan dari University of Chicago menemukan bahwa orang yang tidur kurang dari enam jam per hari memiliki risiko diabetes yang tertinggi.

3. Konsumsi serat

Serat tidak hanya baik untuk pencernaan, namun juga baik untuk memperlambat glukosa dalam aliran darah. Maka jika ingin makan manis, cobalah buah-buahan yang manis sekaligus berserat seperti pir. Selain itu, cobalah nasi merah sebagai sumber karbohidrat Anda. Sebuah studi dalam Archives of Internal Medicine mengatakan, memakan dua atau lebih sajian nasi merah per minggu dapat mengurangi risiko diabetes sebanyak 11 persen.

4. Hindari stres

Stres kronik merupakan faktor risiko dari banyak penyakit, termasuk diabetes. Hal ini berhubungan dengan hormon stres kortisol yang dapat meningkatkan kadar gula darah. Mengurangi stres dapat dilakukan dengan cara melatih pernapasan, mendengarkan musik lembut, atau mendapatkan pemijatan.

5. Konsumsi omega-3

Asam lemak omega-3 yang ditemukan dalam ikan seperti salmon dan sardin dapat membantu memperbaiki sensitivitas insulin. Konsumsi paling tidak satu sajian per minggu.

6. Konsumsi vitamin D

Vitamin D mungkin bisa menjadi faktor kunci untuk melawan diabetes. Studi yang dipublikasi dalam The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism menemukan bahwa orang yang cukup mengonsumsi vitamin D memiliki kemungkinan lebih kecil untuk mengembangkan diabetes tipe 2. Konsumsi 1000 hingga 2000 IU vitamin D per hari melalui produk susu, ikan, atau suplemen.

7. Konsumsi kayu manis

Sebuah studi dalam Journal of the American Board of Family Medicine mengungkapkan, kayu manis dapat mengurangi kadar gula darah. Kayu manis kaya akan nutrien yang disebut polifenol yang membantu insulin untuk bekerja lebih efektif.

 

Sumber :
Womens Health
Categories: Diabetes, kesehatan | Tags: | Leave a comment

Alpukat & Apel baik untuk Diabetesi

 

detail berita

Lemak sehat alpukat baik untuk diabetesi (Foto: Corbis)

MENJAGA asupan makanan bagi penderita diabates adalah sebuah hal yang sangat wajib. Begitu juga ketika mengonsumsi buah.

Pada umumnya, buah adalah makanan yang kaya akan manfaat. Tapi bagi para penderita diabetes atau diabetesi, rasa buah yang manis membuat mereka harus berpikir dua kali.

Diabetesi harus memilih buah yang rendah glukosa untuk tubuhnya. Buah seperti duren merupakan pantangan terbesar karena kandungan alkoholnya tinggi.

Kendati demikian, ada tiga jenis buah yang lezat dan aman dikonsumsi para diabetesi, sebagaimana dilansir Boldsky.

Alpukat

Alpukat memiliki kandungan yang dapat mengurangi kadar kolesterol jahat dan trigliserida. Selain itu, buah ini tinggi kalium yang baik untuk pengobatan diabetes. Lemak sehat di dalamnya meningkatkan kadar insulin, sehingga menurunkan tingkat gula darah.

Apel

Penelitian telah membuktikan bahwa apel mencegah kondisi yang menyebabkan sindrom metabolik yang menyebabkan diabetes. Apel juga mengurangi peradangan yang merupakan salah satu gejala dari diabetes.

Jeruk bali

Kadar karbohidrat dalam jeruk bali cenderung rendah. Buah ini mampu meningkatkan proses pencernaan dan membantu menghilangkan racun. Vitamin C, serat pectin, dan antioksidan likopen mengurangi tingkat glukosa sehingga memastikan keseimbangan sempurna antara tingkat gula darah

Categories: Diabetes, kesehatan | Tags: | Leave a comment

Konsumsi Kurkumin Cegah Diabetes

 

detail berita

Serbuk kurkumin (Foto: Corbis)

PARA penderita diabetes selalu cemas akan makanan yang dikonsumsinya. Berdasarkan penelitian di Thailand, suplemen yang mengandung senyawa yang ditemukan dalam bumbu kari dapat membantu mencegah diabetes pada orang yang berisiko tinggi.

Kurkumin merupakan senyawa dalam rempah-rempah kunyit. Penelitian laboratorium sebelumnya telah menyarankan bahwa kurkumin dapat melawan peradangan dan apa yang disebut kerusakan oksidatif pada sel tubuh, termasuk diabetes tipe 2.

“Karena manfaat dan keamanan, kami mengusulkan bahwa ekstrak kurkumin dapat digunakan untuk terapi intervensi untuk populasi pradiabetes,” tulis pemimpin studi Somlak Chuengsamarn dari Srinakharinwirot University di Nakomnayok, Thailand.

Penelitian ini melibatkan 240 orang dewasa Thailand dengan pradiabetes yang secara acak ditugaskan untuk mengonsumsi kapsul kurkumin. Masing-masing berisi 250 miligram “kurkuminoid” dan dikonsumsi sebanyak enam kapsul sehari.

Foxnews melansir para peneliti menemukan bahwa suplemen tampaknya meningkatkan fungsi beta-sel, yaitu sel-sel dalam pankreas yang melepaskan hormon insulin yang mengatur gula darah. Mereka berspekulasi bahwa efek anti-inflamasi kurkumin membantu melindungi beta-sel dari kerusakan.

Namun seorang pakar diabetes mengatakan masih terlalu dini bagi orang untuk memakai kurkumin sebagai obat pencegah diabetes.

“Ini terlihat menjanjikan, namun masih ada banyak pertanyaan,” kata Constance Brown-Riggs, seorang pendidik diabetes bersertifikat dan juru bicara Akademi Nutrisi dan Diet.

Brown-Riggs menambahkan bahwa konsumen tidak dapat memastikan bahwa suatu produk sebenarnya mengandung bahan, atau jumlah bahan, yang tercantum pada label.

“Jika saya berbicara kepada pasien tentang hal ini, saya akan mengatakan berkonsentrasi pada makan dan gaya hidup sehat akan lebih baik.” (ina)

Categories: Diabetes, kesehatan | Leave a comment

Obat Pencegah Diabetes

 

detail berita

dr. Tri Juli Edi Tarigan, Sp.PD, ketua umum JDM (Jakarta Diabetes Meeting)

DIABETES adalah salah satu penyakit yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Meskipun begitu, ada beberapa obat yang ternyata dapat mencegah penyakit diabetes tersebut.

Diperkirakan saat ini diseluruh dunia ada lebih dari 366 juta orang yang terkena diabetes. Dengan perkembangan gaya hidup yang menurun, dan banyaknya paparan lingkungan yang tidak sehat, bisa mengakibatkan peningkatan diabetes.

“Anda mungkin bisa memerhatikan lingkungan Anda. Pasti ada saja orang yang terkena diabetes. Tidak ada yang tidak terkena diabetes di lingkungan Anda,” ujar dr. Tri Juli Edi Tarigan, Sp.PD, ketua umum JDM (Jakarta Diabetes Meeting), dalam sebuah konferensi pers bertema, Tingkatkan Kemampuan Praktisi Kesehatan dalam Mengendalikan Diabetes, di Bebek Bengil Resto, Jakarta, Selasa (6/11/2012).

Dalam acara ini, dr. Tri mengatakan ada beberapa obat yang dapat mencegah terjadinya diabetes. “Sebenarnya ada obat-obatan yang berfungsi untuk mencegah diabetes, di antaranya metformin, acarbose, dan pioglitazone. Namun penggunaan obat ini harus dengan beberapa aturan, seperti dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, karena dokter akan memberikan dosis yang tepat, dan tentunya di bawah pengawasan dokter,” jelas dr. Tri. (ina)

Categories: Diabetes, kesehatan | Tags: | Leave a comment

Diabetes Penyakit Mematikan di Dunia

detail berita

Diabetes (Foto: diabetes.co.uk)

DIABETES kini menjadi penyakit yang paling banyak diderita penduduk dunia. Parahnya, banyak orang yang tidak menyadari dan tidak terdiagnosa diabetes.

International Diabetes Federation (IDF) melaporkan jumlah penderita diabetes saat ini diperkirakan mencapai 371 juta orang, naik dari angka 366 juta pada tahun lalu. Angka ini akan terus naik, hingga diperkirakan pada 2030 akan mencapai 552 juta orang yang menderita diabetes, demikian yang dilansir Health24.

Di banyak Negara, diabetes menjadi salah satu penyakit yang sangat di khawatirkan. Negara-negara barat memiliki masalah diabetes akibat dari banyaknya kasus obesitas dan kurangnya olahraga.

Sementara di negara miskin, penyakit ini juga meluas dengan cukup cepat. Berbarengan dengan urbanisasi, empat dari lima penderita diabetes saat ini tinggal di negara yang berpenghasilan rendah dan menengah.

Negara Cina merupakan negara dengan penderita diabetes mencapai 92.300.000 orang. Ini adalah angka paling tinggi dibanding negara lain. Di negara-negara di kawasan Afrika juga mengalami masalah kesehatan yang cukup rumit, karena mereka memiliki fasilitas kesehatan yang sangat minim.

IDF memperkirakan bahwa, secara global, 187 juta orang belum tahu bahwa mereka menderita kondisi tersebut. Diabetes saat ini menjadi penyakit kronis, hampir sejajar dengan kanker, penyakit kardiovaskular, dan juga penyakit pernafasan. Kampanye kesehatan saat ini tengah digalakkan untuk mencapai targer MDGs pada 2015 mendatang. (ina)

Categories: Diabetes, kesehatan | Tags: | Leave a comment

Tanda-tanda Diabetes? Cek Tiga Bagian Tubuh Ini

 

detail berita

Memutihkan ketiak (Foto: Google)
DIABETES merupakan suatu penyakit yang berhubungan dengan tingginya kadar glukosa dalam aliran darah dan kurangnya glukosa dalam sel yang diperlukan. Glukosa ini diperlukan untuk energi dan memfungsikan sebagian besar organ. Tetapi tahukah Anda, diabetes dapat dilihat melalui bagian tubuh manusia?

Dokter spesialis Anak Endokrin FKUI Jakarta, dr Aman Bhakti Pulungan dalam seminar “Asupan Gula yang Berlebih Dapat Mengganggu Konsentrasi dan Kesehatan Anak” di Hotel Mulia Jakarta, Rabu, 19 Desember 2012, menyatakan bahwa penderita diabetes dapat dilihat dari bagian tubuh. Menurutnya, bagian yang tampak adalah tanda-tanda dari keluarnya insulin ke permukaan kulit karena tubuh tidak dapat menampung lebih banyak.

Berikut ini adalah bagian-bagian yang tampak dalam tubuh oleh penderita diabetes menurut dr Aman:

Leher bagian belakang

Leher bagian belakang yang memiliki lipatan berwarna hitam dapat dikatakan bahwa orang tersebut penderita diabetes. Berbeda dengan kotoran yang menumpuk (daki), warna hitam ini sangat pekat. Meskipun orang tersebut berkulit terang, lipatan hitam pada leher belakang ini tetap ada.

Ketiak

Sama halnya dengan leher bagian belakang, ketiak yang berwarna gelap juga merupakan ciri-ciri penderita diabetes.

Jari tangan

Lekukan pada jari tangan yang berwarna hitam identik dengan penyakit diabetes.

Untuk memastikan diabetes tidaknya seseorang, konsultasilah kepada dokter Anda. “Untuk lebih memastikan parah tidaknya insulin di tiga bagian tersebut, segera konsultasi ke dokter,” tutup dr Aman.
(tty)

Categories: Diabetes, kesehatan | Tags: , | Leave a comment

Pencegahan Diabetes Melitus

Pencegahan penyakit diabetes melitus tipe 2 terutama ditujukan kepada orang-orang yang memiliki risiko untuk menderita DM tipe 2. Tujuannya adalah untuk memperlambat timbulnya DM tipe 2, menjaga fungsi sel penghasil insulin di pankreas, dan mencegah atau memperlambat munculnya gangguan pada jantung dan pembuluh darah. Faktor risiko DM tipe 2 dibedakan menjadi faktor yang dapat dimodifikasi dan faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Usaha pencegahan dilakukan dengan mengurangi risiko yang dapat dimodifikasi.

Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi contohnya ras dan etnik, riwayat anggota keluarga menderita DM, usia >45 tahun, riwayat melahirkan bayi dengan BB lahir bayi>4000 gram atau riwayat pernah menderita DM gestasional (DMG), dan riwayat lahir dengan berat badan rendah, kurang dari 2,5 kg.

Faktor risiko yang dapat dimodifikasi contohnya berat badan berlebih, kurangnya aktivitas fisik, hipertensi (> 140/90 mmHg), gangguan profil lipid dalam darah (HDL < 35 mg/dL dan atau trigliserida > 250 mg/dL, dan diet tak sehat tinggi gula dan rendah serat. Pencegahan DM juga harus dilakukan oleh pasien-pasien prediabetes yakni mereka yang mengalami intoleransi glukosa (GDPP dan TGT) dan berisiko tinggi mederita DM tipe 2.

Pencegahan DM tipe 2 pada orang-orang yang berisiko pada prinsipnya adalah dengan mengubah gaya hidup yang meliputi olah raga, penurunan berat badan, dan pengaturan pola makan. Berdasarkan analisis terhadap sekelompok orang dengan perubahan gaya hidup intensif, pencegahan diabetes paling berhubungan dengan penurunan berat badan. Menurut penelitian, penurunan berat badan 5-10% dapat mencegah atau memperlambat munculnya DM tipe 2. Dianjurkan pula melakukan pola makan yang sehat, yakni terdiri dari karbohidrat kompleks, mengandung sedikit lemak jenuh dan tinggi serat larut. Asupan kalori ditujukan untuk mencapai berat badan ideal.

Akitivitas fisik harus ditingkatkan dengan berolah raga rutin, minimal 150 menit perminggu, dibagi 3-4 kali seminggu. Olah raga dapat memperbaiki resistensi insulin yang terjadi pada pasien prediabetes, meningkatkan kadar HDL (kolesterol baik), dan membantu mencapai berat badan ideal. Selain olah raga, dianjurkan juga lebih aktif saat beraktivitas sehari-hari, misalnya dengan memilih menggunakan tangga dari pada elevator, berjalan kaki ke pasar daripada menggunakan mobil, dll.

Merokok, walaupun tidak secara langsung menimbulkan intoleransi glukosa, dapat memperberat komplikasi kardiovaskular dari intoleransi glukosa dan DM tipe 2. Oleh karena itu, pasien juga dianjurkan berhenti merokok.

Categories: Diabetes, kesehatan | Leave a comment

Penyebab Diabetes Melitus

Diabetes Tipe 1 dipercaya sebagai penyakit autoimun, di mana sistem imun tubuh sendiri secara spesifik menyerang dan merusak sel-sel penghasil insulin yang terdapat pada pankreas. Belum diketahui hal apa yang memicu terjadinya kejadian autoimun ini, namun bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa faktor genetik dan faktor lingkungan seperti infeksi virus tertentu berperan dalam prosesnya. Walaupun diabetes tipe 1 berhubungan dengan faktor genetik, namun faktor genetik lebih banyak berperan pada kejadian diabetes tipe 2.

Diabetes tipe 2 diduga disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Banyak pasien diabetes tipe 2 memiliki anggota keluarga yang juga menderita diabetes tipe 2 atau masalah kesehatan lain yang berhubungan dengan diabetes, misalnya kolesterol darah yang tinggi, tekanan darah tinggi (hipertensi) atau obesitas. Keturunan ras Hispanik, Afrika dan Asia memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk menderita diabetes tipe 2. Sedangkan faktor lingkungan yang mempengaruhi risiko menderita diabetes tipe 2 adalah makanan dan aktivitas fisik kita sehari-hari.

Berikut ini adalah faktor-faktor risiko mayor seseorang untuk menderita diabetes tipe 2.

  • Riwayat keluarga inti menderita diabetes tipe 2 (orang tua atau kakak atau adik)
  • Tekanan darah tinggi (>140/90 mm Hg)
  • Dislipidemia: kadar trigliserida (lemak) dalam darah yang tinggi (>150mg/dl) atau kadar kolesterol HDL <40mg/dl
  • Riwayat Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) atau Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT)
  • Riwayat menderita diabetes gestasional atau riwayat melahirkan bayi dengan berat lahir lebih dari 4.500 gram
  • Makanan tinggi lemak, tinggi kalori
  • Gaya hidup tidak aktif (sedentary)
  • Obesitas atau berat badan berlebih (berat badan 120% dari berat badan ideal)
  • Usia tua, di mana risiko mulai meningkat secara signifikan pada usia 45 tahun
  • Riwayat menderita polycystic ovarian syndrome, di mana terjadi juga resistensi insulin

Diabetes gestasional disebabkan oleh perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan. Peningkatan kadar beberapa hormon yang dihasilkan plasenta membuat sel-sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin (resistensi insulin). Karena plasenta terus berkembang selama kehamilan, produksi hormonnya juga semakin banyak dan memperberat resistensi insulin yang telah terjadi.

Biasanya, pankreas pada ibu hamil dapat menghasilkan insulin yang lebih banyak (sampai 3x jumlah normal) untuk mengatasi resistensi insulin yang terjadi. Namun, jika jumlah insulin yang dihasilkan tetap tidak cukup, kadar glukosa darah akan meningkat dan menyebabkan diabetes gestasional. Kebanyakan wanita yang menderita diabetes gestasional akan memiliki kadar gula darah normal setelah melahirkan bayinya. Namun, mereka memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menderita diabetes gestasional pada saat kehamilan berikutnya dan untuk menderita diabetes tipe 2 di kemudian hari.

Categories: Diabetes, kesehatan | Leave a comment