hewan purbakala

Ilmuwan akan “Hidupkan Kembali” Mammoth?

WASHINGTON – Ilmuwan berencana untuk menghidupkan kembali hewan purba yang telah punah ribuan tahun lalu. Menggunakan teknologi seperti kloning dan genome sequencing (pengurutan gen), ilmuwan mengklaim dapat memunculkan kembali hewan purba yang telah punah.

Dilansir Nbcnews, spesies purba yang hendak dimunculkan kembali ini ialah Mammoth, yang telah punah 3 ribu sampai 10 ribu tahun lalu. Di Maret tahun lalu, ilmuwan di Rusia dan Korea Selatan mengumumkan sebuah kerjasama bahwa mereka akan berusaha untuk mengkloning Mammoth dan menghasilkan spesimen Mammoth yang hidup.

“Ini menggunakan teknologi baru seperti kloning pengurutan gen untuk merekonstruksi spesies yang punah,” ungkap peneliti Carl Zimmer. Ilmuwan sebelumnya telah berhasil mengklaim seekor Domba Dolly pada 1996.

Hewan mamalia tersebut bisa dikloning melalui sel di dalam laboratorium. Ilmuwan asal Spanyol dan Prancis telah bekerja selama bertahun-tahun untuk membawa kembali kambing Pyrenean ibex (Capra pyrenaica pyrenaica) dari kepunahan.

Ilmuwan telah melakukan kloning sel pada hewan tersebut. Namun, hewan tersebut tak dapat bertahan hidup dalam waktu yang lama. Diketahui hewan tersebut mati setelah 10 menit usai kelahiran.

Peneliti dari Rusia dan Korea berusaha untuk melakukan “penghidupan kembali” pada spesies Mammoth dengan cara melihat jaringan Mammoth berbulu yang diawetkan dalam mesin pendingin di Siberia. Mereka berharap bisa menemukan sel-sel yang cocok untuk kloning. (fmh)

Categories: Flora & Fauna, hewan purbakala | Leave a comment

Ilmuwan Temukan Bangkai Mammoth Berusia 10.000 Tahun

Gajah Mammoth Purba akan Dihidupkan Kembali

SIBERIAN TIMES
YAKUTSK, (PRLM).- Para ilmuwan di Siberia telah menemukan untuk pertama kalinya sampel darah mammoth, yang dapat digunakan untuk menciptakan kembali spesies punah ini.

Darah berusia 10.000 tahun ini tersegel di dalam es pada bangkai mammoth betina.

Jaringan otot yang terawetkan juga ditemukan pada makhluk yang berusia antara 50 dan 60 tahun saat mati, menurut tim Rusia yang membuat penemuan ini di pulau-pulau di lepas pantai utara Siberia.

Menurut Siberian Times, kini darah tersebut disediakan bagi para ilmuwan Korea Selatan yang ingin menggunakan DNA mammoth untuk membawa makhluk purba ini hidup kembali.

Semyon Grigoriev, kepala Museum Mammoth di North Eastern Federal University mengatakan kepada The Siberian Times: “Kami benar-benar terkejut menemukan darah dan jaringan otot mammoth.”

Dia menyebutnya sebagai mammoth yang terawetkan dengan baik dalam sejarah paleontologi.

“Ini adalah pertama kalinya kami berhasil memperoleh darah mammoth. Tidak ada orang yang pernah melihat sebelumnya bagaimana darah mammoth mengalir,” jelasnya.

Mammot ini ditemukan di sebuah makam es di Kepulauan New Siberian, atau Kepulauan Novosibirsk, dan bagian dari bangkai terawetkan karena sepenuhnya beku selama 10.000 tahun. “Perkiraan umur hewan ini adalah sekitar 10.000 tahun,” kata Dr Grigoriev.

Categories: Flora & Fauna, hewan purbakala | Tags: | Leave a comment

Mammoth Punah karena Meteor Raksasa

 

Mammoth

Tim peneliti dari Amerika Serikat mengumumkan temuan terbaru tentang penyebab kepunahan dari binatang raksasa mammoth pada zaman dahulu. Menurut mereka, kepunahan mammoth disebabkan oleh tabrakan meteor besar di Bumi.
Temuan terbaru ini merevisi penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa mammoth punah akibat perburuan yang dilakukan manusia prasejarah.

Diperkirakan sekitar 12.800 tahun lalu, sebuah meteor besar menghantam Bumi dan menghasilkan gas beracun di udara, seperti dilansir Softpedia, 23 Mei 2013.

Gas yang berjumlah besar itu diduga menghalangi sinar matahari yang masuk ke Bumi, sehingga menyebabkan temperatur Bumi menurun drastis.

Temperatur suhu Bumi yang merosot menyebabkan mammoth tidak lagi mampu bertahan hidup.

Menurut Profesor Kenneth Tankersley, antropolog sekaligus geolog di University of Cincinnati, AS, meteor yang masuk ke atmosfer Bumi itu terpecah menjadi 10 juta ton fragmen api beracun yang berhamburan di atas langit empat benua.

“Penelitian ini merevisi penelitian sebelumnya yang mengatakan bahwa manusia prasejarah yang menjadi penyebab mammoth mengalami kepunahan,” kata Tankersley.

Penelitian ini menegaskan, meteor bertanggung jawab atas kepunahan mammoth. Temuan terbaru ini berdasarkan hasil penelitian yang mempelajari beberapa fragmen meteor yang sudah terbakar di sejumlah benua di Bumi.

“Serangan meteor itu mengakibatkan terjadi perubahan iklim secara cepat. Perubahan iklim di seluruh dunia menyebabkan kepunahan massal makhluk-makhluk di Bumi, tak hanya mammoth,” ungkap Tankersley.

Hasil dari penelitian telah diterbitkan di Jurnal Proceeding of National Academy of Sciences

Categories: Flora & Fauna, hewan purbakala | Tags: | Leave a comment

Mammoth

Status konservasi
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Proboscidea
Famili: Elephantidae
Genus: Mammuthus
Brookes, 1828
Spesies

Mamut adalah genus gajah purba yang telah punah. Ukuran tubuhnya lebih besar daripada gajah normal yang ada di dunia saat ini. Gadingnya melingkar membentuk kurva ke arah dalam dan, dalam spesies utara, dengan rambut panjang. Mereka hidup dalam masa Pleistosen sejak 1,6 juta tahun lalu sampai sekitar 10.000 tahun lalu. Kata mamut berasal dari bahasa Rusia (мамонт).

Spesies terbesar mamut yang diketahui, Mammoth Sungai Songhua, memiliki tinggi sekurangnya 5 meter pada pundaknya. Mamut umumnya memiliki berat 6-8 ton, namun mamut jantan yang besar beratnya dapat mencapai 12 ton. Gading mamut sepanjang 3,3 meter ditemukan di utara Lincoln, Illinois tahun 2005. Sebagian besar spesies mamut memiliki ukuran sebesar Gajah Asia modern.

sumber: wikipedia

Categories: Flora & Fauna, hewan purbakala | Leave a comment

Gaya Bercinta Dinosaurus

 

Sergey Krasovsky Stegosaurus

 

BERLIN, KOMPAS.com — Dinosaurus “punk” alias dinosaurus dengan bulu menyerupai paku ternyata bercinta dengan gaya yang mirip manusia pada umumnya. Dinosaurus yang mencakup golongan stegosaurus ini bercinta dalam posisi misionaris, jantan di atas dan betina di bawah.

Ilmuwan menguak gaya bercinta dinosaurus ini lewat simulasi komputer. Temuan ini bertentangan dengan pandangan sebelumnya bahwa dinosaurus bercinta mirip “doggy style”, jantan menunggangi betina dari belakang.

Brian Switek, ahli dinosaurus yang terlibat penelitian ini, mengatakan bahwa posisi misionaris mencegah dinosaurus jantan terluka. Dinosaurus jenis ini punya struktur serupa tanduk. Bila bercinta dengan posisi “doggy style”, pejantan justru terancam.

Heinrich Mallison, ilmuwan dari Museum of Natural History di Berlin yang juga terlibat riset, membuat simulasi komputer. Ia mencoba memperkirakan apa yang akan terjadi bila pejantan dinosaurus ini menunggangi betina dari belakang.

Hasilnya, pejantan justru bisa mati tertusuk “tanduk” pada ekor betina. “Dinosaurus ini harus bercinta dengan cara lain. Mungkin betina bisa berbaring dan pejantan berada di atas tubuhnya,” kata Mallison seperti dikutip Daily Mail, Minggu (24/3/2013).

 

Dinosaurs may have had sex in the missionary position to prevent them from being castrated, according to a new study.

 

Peneliti mengungkapkan, menguraikan cara bercinta dinosaurus sangat penting. Adaptasi morfologi dan seksual membantu ilmuwan memahami bagaimana dinosaurus mendominasi Bumi puluhan juta tahun yang lalu.

Tak semua ilmuwan setuju dengan hasil simulasi ini. John Long, profesor paleontologi di Flinders University, Australia, mengungkapkan, dinosaurus jantan mungkin saja tetap bercinta dengan menunggangi betina dari belakang dengan memiliki organ seksual super-panjang.

“Ankylosaurus dengan tanduk berukuran 33 kaki (sekitar 10 meter) bisa memiliki penis sepanjang 6 kaki (1,8 meter) untuk menjembatani diri ketika mendekati betina,” kata Long. Untuk membuktikan mana yang benar, perlu analisis fosil. Namun, menemukan fosil yang mampu mendukung analisis itu sangat sulit.

Categories: Flora & Fauna, hewan purbakala | Leave a comment

Dodo

 

Dodo
Rentang fosil: Baru saja
Rekonstruksi Dodo

Rekonstruksi Dodo
Status konservasi
Status iucn3.1 EX.svg
Punah  (akhir abad ke-17) (IUCN 3.1)
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Columbiformes
Famili: Columbidae
Upafamili: Raphinae
Genus: Raphus
Brisson, 1760
Spesies: R. cucullatus
Nama binomial
Raphus cucullatus
(Linnaeus, 1758)
Tempat hidup (berwarna merah)

Tempat hidup (berwarna merah)
Sinonim
  • Struthio cucullatus Linnaeus, 1758
  • Didus ineptus Linnaeus 1766

Dodo (Raphus cucullatus) adalah burung yang tak dapat terbang yang pernah hidup di Pulau Mauritius. Burung ini berhubungan dengan merpati. Burung ini memiliki tinggi sekitar satu meter, pemakan buah-buahan, dan bersarang di tanah.

Dodo punah antara pertengahan sampai akhir abad ke-17. Kepunahannya sering dijadikan arketipe karena terjadi dalam sejarah manusia dan akibat aktivitas manusia.

Etimologi

Tidak jelas dari mana kata dodo berasal. Mungkin berhubungan dengan dodaars, bahasa Belanda untuk sejenis bebek. Ada hubungan antara keduanya karena kemiripan bulu di kakinya atau karena kedua binatang ini kaku. Bagaimanapun, orang Belanda juga diketahui menyebut unggas dari Mauritius ini dengan walghvogel (unggas yang membuat mual) karena rasanya. Nama terakhir ini digunakan pertama kali dalam jurnal dari laksamana Wybrand van Warwijck yang mengunjungi dan memberi nama Mauritius tahun 1598. Dodo atau Dodaerse kembali tercatat dalam jurnal kapten Willem van West-Zanen empat tahun kemudian,[1] namun tidak jelas apakah dia yang pertama kali menggunakan nama tersebut, karena sebelum orang Belanda, orang Portugis sudah mengunjungi pulau itu tahun 1507, tetapi tidak menetap.

Menurut Kamus Encarta dan Kamus Etimologi Chambers, “dodo” berasal dari bahasa Portugis doudo (sekarang doido) berarti “bodoh” atau “gila”.[2] Namun, istilah Portugis untuk burung itu sekarang, dodô, berasal dari bahasa Inggris. Kata doudo atau doido di bahasa Portugis sendiri kemungkinan berasal dari bahasa Inggris lama (“dolt“). Keraguan bahwa asal kata itu dari Portugis juga karena, dalam bahasa Portugis, nama yang dibentuk dari pengulangan dua suku kata terdengar kekanak-kanakan.

Kemungkinan lain adalah bahwa dodo merupakan onomatope dari bunyi burung itu sendiri, bunyi yang mirip burung merpati ‘doo-doo’.[3]

Biologi

Morfologi and ketidakmampuan terbang

Pada Oktober 2005, bagian dari Mare aux Songes, tempat paling penting dari peninggalan dodo, dipindahkan oleh suatu tim peneliti internasional. Banyak peninggalan yang ditemukan, termasuk tulang dari burung dengan kedewasaan beragam,[4] dan beberapa tulang jelas-jelas berasal dari kerangka seekor burung dan tersimpan dalam posisi aslinya. [2] Temuan ini dipertunjukkan pada publik pada Desember 2005 di Naturalis, sebuah museum di Leiden. Sebelumnya, beberapa spesimen yang dikaitkan dengan dodo sudah dikenal, kebanyakan terdiri dari tulang-tulang berserakan. Museum Natural History di Dublin dan di Universitas Oxford, di antaranya, mempunyai spesimen yang disusun dari peninggalan yang tidak berhubungan ini. Telur dodo dipertunjukkan di Museum London Timur di Afrika Selatan. Sampai saat ini, peninggalan yang paling lengkap, yang dipertunjukkan di Museum of Natural History di Universitas Oxford, berupa sebagian tulang kaki dan kepala yang berisi satu-satunya bagian tubuh lunak yang masih ada dari spesies ini.

Gambar dodo oleh Jan Savery tahun 1651 berdasar pada lukisan Roelant Savery tahun 1626, dibuat dari spesimen yang diisi – perhatikan bahwa ia mempunyai dua kaki kiri dan burung itu tampak kegemukan di tempat penangkapannya.

Sisa dari dodo terakhir disimpan di Oxford‘s Ashmolean Museum, tapi di pertengahan abad ke-18, spesimen itu telah benar-benar rusak dan diperintahkan untuk dibuang oleh kurator atau direktur museum sekitar tahun 1755.

Di bulan Juni 2007, para petualang yang mengeksplorasi sebuah gua di Lautan Hindia menemukan kerangka dodo yang paling lengkap dan paling tersimpan baik dibanding yang lainnya selama ini.[5]

Dari gambaran artis kita tahu bahwa dodo memiliki bulu keabu-abuan, paruh sepanjang 23 cm dengan ujung bengkok, sayap yang sangat kecil, kaki kuning yang kokoh, dan seberkas bulu keriting di bagian ujung belakangnya. Dodo adalah unggas yang sangat besar, dengan berat sekitar 23 kg. Tulang dadanya tidak bisa menunjangnya untuk terbang; burung yang hidup di tanah ini berevolusi dengan memanfaatkan ekosistem pulau Mauritius yang tidak memiliki makhluk yang dapat memangsanya.

Gambaran tradisional dari dodo adalah burung yang gemuk dan canggung, tetapi pandangan ini telah dipertentangkan sekarang. Pendapat umum dari ilmuwan sekarang adalah bahwa lukisan lama itu menunjukkan spesimen yang ditangkap dan diberi makan terlalu banyak.[6] Karena Mauritius memiliki musim kering dan basah, dodo kemungkinan menggemukkan diri dengan buah matang di akhir musim penghujan untuk bisa selamat melalui musim kemarau saat langka makanan; laporan kontemporer menyebutkan burung ini memiliki selera makan yang “rakus”. Sehingga, dalam penangkapan, akan sangat mudah mengalami kebanyakan makan.

Makanan

Pohon tambalacoque, juga dikenal sebagai “pohon dodo”, dihipotesiskan Stanley Temple telah dimakan oleh Dodo, dan hanya melalui pencernaan dodo benih buah-buahan ini bisa tumbuh; ia menegaskan bahwa tambalacocque sekarang hampir punah karena ketiadaan dodo. Ia memaksa agar tujuh belas buah-buahan ini dimakan kalkun liar dan tiga di antaranya bisa berkecambah. Dalam penelitiannya, Temple tidak berupaya menumbuhkan benih dari buah-buahan lainnya sebagai kontrol yang tidak diberikan pada kalkun sehingga dampak pemberian buah-buahan kepada kalkun jadi tidak jelas. Temple juga tidak memperhatikan laporan penelitian tentang pengecambahan benih tambalacoque oleh A. W. Hill tahun 1941 dan H. C. King tahun 1946, yang menemukan bahwa benih itu bisa tumbuh, walau sangat jarang, tanpa dimakankan pada unggas.[7][8][9][10]

Kepunahan

Dodo (Abad ke-17)

Dodo adalah burung yang tidak takut pada manusia, dan ditambah ketidakmampuannya untuk terbang, membuatnya menjadi mangsa yang mudah ditangkap.[11] Orang yang mendarat di Mauritius memakan burung ini. Namun, banyak jurnal melaporkan rasa dodo tidak enak dan dagingnya yang keras, sementara spesies lokal lainnya seperti Rail Merah enak rasanya. Umumnya dipercaya bahwa pelaut Melayu menghargai burung ini dan membunuhnya hanya untuk menggunakannya sebagai hiasan kepala dalam upacara keagamaan.[12] Manusia pertama yang mendatangi Mauritius membawa binatang baru, seperti anjing, babi, kucing, tikus, dan kera pemakan kepiting yang menghancurkan sarang dodo, sementara manusia menghancurkan hutan tempat dodo tinggal.[13] Kini, dampak dari binatang-binatang itu—terutama babi dan kera—pada kepunahan dodo dianggap lebih berpengaruh dibanding pengaruh dari perburuan. Ekspedisi tahun 2005 menemukan banyak binatang yang mati akibat banjir. Kematian massal demikian semakin menyulitkan bagi spesies yang sudah terancam punah.[14]

Walaupun banyak laporan tentang pembunuhan massal dodo untuk bekal makanan dalam kapal, penemuan arkeologis sampai sekarang kurang mendapatkan bukti dari adanya manusia yang memangsa burung ini. Tulang belulang dari setidaknya dua dodo ditemukan dalam gua di Baie du Cap yang digunakan sebagai tempat berlindung buronan budak dan narapidana pada abad ke-17, tapi karena tempat itu terisolasi di ketinggian, daerah itu sukar dicapai oleh dodo.[15]

Kemungkinan gambar dodo terawal yang akurat (1601–1603).

Ada kontroversi seputar waktu kepunahan dodo. Robert dan Solow menyatakan bahwa “kepunahan Dodo adalah saat terlihat terakhir tahun 1662, seperti dilaporkan oleh pelaut Volkert Evertsz” (Evertszoon), tetapi banyak sumber lainnya menduga hal itu terjadi pada tahun 1681. Robert dan Solow menunjukkan bahwa karena dodo terlihat terakhir sebelum 1662 adalah pada tahun 1638, dodo kemungkinan sudah sangat jarang pada tahun 1660-an.[16] Analisis statistik tentang catatan perburuan Issac Johannes Lamotius memberikan perkiraan baru tahun 1693, dengan tingkat kepercayaan 95% dari 1688 sampai 1715. Mempertimbangkan bukti-bukti lain seperti laporan pelancong dan tidak adanya laporan yang baik setelah 1689,[15] sepertinya Dodo punah sebelum tahun 1700; sehingga, Dodo terakhir mati hanya satu abad lebih sedikit setelah penemuan spesies itu tahun 1581.[17]

Semula hanya sedikit yang memerhatikan burung yang punah ini. Pada awal abad ke-19, burung ini dianggap sebagai makhluk yang aneh dan banyak yang menganggapnya hanya mitos. Dengan penemuan serangkaian tulang dodo di Mare aux Songes dan laporan yang dibuat oleh George Clark mulai tahun 1865, minat terhadap burung ini mulai bertambah. Dalam tahun yang sama dengan dimulainya publikasi laporan Clarke, burung yang baru punah ini dijadikan salah satu karakter dalam ceritera Alice’s Adventures in Wonderland hasil karya Lewis Carroll.[18] Dengan populernya buku tersebut, dodo jadi banyak diketahui dan mudah dikenali sebagai ikon dari kepunahan.

sumber : wikipedia

Categories: Flora & Fauna, hewan purbakala | Tags: , | Leave a comment

Berburu Gading Gajah Purba

Kini di Arktika Rusia, orang mencari mamut demi gadingnya yang berharga.

Oleh BROOK LARMER
Foto oleh EVGENIA ARBUGAEVA

Satu gading lagi. Cuma itulah yang diinginkan Karl Gorokhov. Sudah lima bulan pemburu Siberia ini mencari buruan purbanya di pulau terpencil di Laut Siberia Timur, berjalan terseok-seok 18 jam se­hari melintasi tundra nan beku. Dia letih dan kedinginan, dan demikian kelaparan sampai-sampai burung camar pun dimakannya.

Bahkan, dua beruang kutub yang menyerang kemah­nya pun kelaparan. Perut beruang yang dibeleknya setelah ditembak mati juga kosong melompong. Gorokhov, pria 46 tahun dengan pipi busik akibat angin dan jenggot merah yang kusut, berangkat setiap hari melewati sembilan kuburan di dekat kemahnya.

Dia menduga itu tempat peristirahatan terakhir para pelarian yang datang ke pulau itu untuk menyelamatkan diri dari gulag Soviet. Badai salju akhir musim panas menerjang Pulau Kotelnyy, 1.000 kilometer di utara Lingkar Arktika, dan musim dingin utara yang ekstrem kembali menjelang.

Jemari dan te­lapak tangannya mulai gatal. “Pertanda baik,” kata Gorokhov belakangan. Rasa gatal itu biasa­nya muncul apabila dia akan menemukan buruannya: gading asmaradanta mamut purba. Raksasa berbulu tebal yang berkeliaran di Sibe­ria utara pada kala Pleistosen akhir ini ber­angsur punah sekitar 10.000 tahun lalu.

Be­berapa kelompok terisolasi bertahan di beberapa pulau di sebelah utara dan timur, dan mamut terakhir mati sekitar 3.700 tahun lalu. Gading mamut, yang bisa melengkung hingga lebih dari empat meter, kini muncul kembali dari balik es abadi—dan mendorong perdagangan yang menjadi berkah bagi penduduk Siberia Arktika.

Sudah hampir satu dasawarsa Gorokhov men­jadi pemburu gading, menjelajahi salah satu kawasan terganas di muka bumi. Dia men­jelajahi tundra itu sampai nyaris tersandung ujung gading. “Kadang-kadang gading muncul begitu saja,” katanya, “seakan-akan menanti kedatangan kita.”

Gorokhov perlu waktu hampir 24 jam non­stop untuk menggali dan mengeluarkan gading itu dari dalam es yang bercampur kerikil. Spesimen yang diperolehnya sebesar batang pohon—70 kilogram—dan dalam kondisi nyaris sempurna.

Gorokhov melemparkan anting-anting perak ke dalam lubang yang digalinya, sebagai sesajen bagi penunggu tempat itu. Jika relik purba ini berhasil dibawanya dengan selamat sampai ke rumah, harganya bisa mencapai 600 juta rupiah.

Categories: hewan purbakala | Tags: | Leave a comment

10 Kucing Prasejarah

1. Smilodon

Smilodon adalah salah satu predator prasejarah paling terkenal, dan juga salah satu yang paling tangguh. Setidaknya ada tiga spesies hidup di Utara dan Amerika Selatan; spesies terkecil, Smilodon gracilis, seukuran jaguar modern, sedangkan Smilodon fatalis sebesar singa.

Namun, spesies Smilodon Populator berbobot 300 kg dan rata-rata mencapai hingga 500 kg ketika dewasa.

Smilodon tidak begitu lincah seperti kucing modern, tapi ia sangatlah kuat, dengan kaki yang kuat juga leher yang tebal, dan terutama kukunya yang panjang untuk mencengkeram mangsanya.

Taringnya bisa mencapai 30 cm panjangnya, dan sempurna untuk menyebabkan cedera fatal bajing tanah, hewan besar, bahkan juga mammoth.

2. Harimau Pleistosen

Harimau Pleistosen merupakan ‘versi awal’ dari harimau yang sama kita lihat sekarang. Harimau berkembang di suatu tempat di Asia sekitar 2 juta tahun yang lalu, mangsanya beragam jenis herbivora besar yang tinggal di benua pada saat itu.

Harimau adalah kucing terbesar saat ini, dengan Bengal besar dan Siberia jantan yang berbobot hingga mencapai 300 kg atau lebih. Selama jaman Pleistosen, pasokan makanan lebih besar, sehingga harimau itu juga tumbuh lebih besar, dengan bobot 490 kg .

3. Singa Amerika

Singa Amerika atau Atrox Panthera, mungkin yang paling dikenal dari semua kucing prasejarah setelah Smilodon. Ia tinggal di Utara dan Amerika Selatan (dari Alaska ke Peru) selama zaman Pleistosen, dan punah 11.000 tahun lalu.

Singa Amerika adalah kucing terbesar di Amerika Utara selama Zaman Es, beratnya mencapai 470 kg, bahkan mungkin 500 kg dan mampu memangsa hewan yang sangat besar.

4. Machairodus Kabir

Machairodus, mungkin tampak seperti harimau raksasa dengan gigi pedang, walaupun tidak mungkin untuk mengetahui apakah kulitnya bergaris-garis, berbintik-bintik atau jenis lain dari tanda bulunya.

Machairodus jarang disebutkan sebagai kucing raksasa, tetapi fosil yang ditemukan di Chad, Afrika, (dan diklasifikasikan sebagai spesies baru, Machairodus kabir), menunjukkan bahwa makhluk ini merupakan salah satu kucing terbesar dengan bobot 490 kg atau mungkin 500 kg.

5. Homotheirum

Juga dikenal sebagai ‘kucing pedang’, Homotherium adalah salah satu kucing paling sukses di zaman prasejarah, ditemukan di Amerika Utara dan Amerika Selatan, Eropa, Asia dan Afrika. Ia pemburu yang baik, disesuaikan dengan kaki yang cepat berjalan dan aktif terutama pada siang hari sehingga menghindari persaingan dengan predator nokturnal lainnya.

Kaki depannya sangat panjang dan kaki belakang lebih pendek, yang memberikan penampilan yang sedikit seperti hyena. Meskipun Homotherium tidak terkenal untuk ukurannya, namun fosil beberapa sisa-sisa kucing pedang, baru-baru ini ditemukan di Laut Utara menunjukkan bahwa mereka bisa mencapai berat 400 kg, lebih besar daripada harimau Siberia modern.

6. Cave Lion

Singa Gua adalah subspesies singa raksasa, beratnya mencapai 300 kg atau lebih. Ini adalah salah satu predator paling berbahaya dan kuat selama Zaman Es terakhir di Eropa, dan ada bukti bahwa ia ditakuti, dan mungkin disembah oleh manusia prasejarah. Banyak lukisan gua dan beberapa patung telah ditemukan yang menggambarkan Singa Gua.

Menariknya, ini menunjukkan bahwa singa ini nyaris tidak memliki bulu leher, seperti pada harimau modern. Hal ini membingungkan, beberapa lukisan gua juga menunjukkan Singa Gua memiliki garis-garis samar pada kaki dan ekor. Hal ini menyebabkan beberapa ilmuwan menyimpulkan bahwa mungkin Singa Gua sebenarnya lebih terkait dengan Harimau.

7. European Jaguar

Berbeda dengan Jaguar raksasa, jaguar Eropa atau gombaszoegensis Panthera tidak berasal dari spesies yang sama seperti jaguar modern. Jaguar Eropa adalah predator besar, beratnya mencapai 210 kg atau lebih, dan mungkin di bagian atas rantai makanan di Eropa, 1,5 juta tahun yang lalu. Fosilnya telah ditemukan di Jerman, Perancis, Inggris, Spanyol dan Belanda.

8. Giant Jaguar

Jaguar sekarang bertubuh lebih kecil jika dibandingkan dengan singa atau harimau, berat rata-rata mereka biasanya 60-100 kg. Namun pada zaman prasejarah, bagian dari Amerika Utara dan Selatan adalah rumah bagi Jaguar raksasa.

Masih spesies yang sama dengan jaguar modern. Ia berukuran melebihi singa dewasa atau harimau, dan mungkin beberapa kali lebih kuat begitu pula dengan dengan gigitannya

9. Xenosmilus

Xenosmilus bertaring pendek, tebal, namun cukup tajam. Semua giginya (bukan hanya gigi taring) memiliki tepi bergerigi untuk memotong daging, dan lebih seperti gigi hiu atau dinosaurus karnivora, dibanding gigi kucing modern.

Dengan bobot 180-230 kg, Xenosmilus tidak mencekik mangsanya seperti kucing modern melakukannya, ia hanya menggigit sepotong besar daging dari korban, dan menunggu mangsanya mati kehabisan darah.

10. Giant Cheetah

Cheetah Raksasa (Acinonyx pardinensis), berasal dari genus yang sama dengan Cheetah modern kita (Acinonyx jubatus), dan mungkin tampak sangat mirip, tapi jauh lebih besar. Dengan bobot 120-150 kg, ia mampu memangsa hewan yang lebih besar daripada besar tubuhnya.

Namun ada beberapa perdebatan apakah ia bisa lari secepat Cheetah modern, karena beratnya yang lebih besar, namun menurut beberapa ahli, Cheetah Raksasa memiliki kaki lebih panjang dan jantung serta paru-paru yang lebih besar, memungkinan ia mampu berlari secepat atau bahkan lebih cepat daripada cheetah modern saat ini yang kemampuan larinya bisa mencapai lebih dari 115 km/jam.

Sumber :
apasih.com

Categories: Flora & Fauna, hewan purbakala | Tags: , | Leave a comment

7 Jenis Buaya yang Hidup di Jaman Purba

 

Buaya, mungkin agak jarang kita lihat kecuali saat kita mengunjungi kebun binatang atau kebetulan kamu tinggal di daerah yang memiliki habitat buaya, salah satu predator terganas di muka bumi ini adalah salah satu seleksi alam paling kejam, dimana saudara-saudara sereptilnya musnah dan punah disaat asteroid raksasa menghantam bumi 65 juta tahun yang lalu mahluk ini secara luar biasa mampu bertahan hingga sekarang.

bagaimana mereka bisa bertahan? ternyata hampir semua mahluk jaman purba yang masih hidup sekarang bisa selamat karena bisa bertahan di dalam air sebagai salah tempat paling aman dari bencana alam. untuk mengenal pebih jauh tentang buaya admin ajak kamu untuk mengenal jenis-jenis buaya yang hidup di jaman purba dulu, disimak ya.. 🙂

1. BoarCroc (Kaprosuchus saharicus)



Kaprosuchus adalah sebuah genus yang telah punah dari mahajangasuchid crocodyliform.Hal ini diketahui dari tengkorak yang ditemukan di Upper Cretaceous Echkar Formation di Niger.Namanya yang berarti “BoarCroc” dari bahasa Yunani kapros (“babi hutan”) dan souchos (“buaya”) mengacu pada gigi yang luar biasa besar yg berbentuk taring yang mirip dengan babi hutan.Buaya ini telah dijuluki “BoarCroc” oleh Paul Sereno dan Hans Larsson yang genusnya pertama kali dijelaskan di dalam monografi yang diterbitkan dalam ZooKeys pada tahun 2009 bersama dengan crocodyliformes Sahara lainnya seperti Anatosuchus dan Laganosuchus.

Kaprosuchus diperkirakan memiliki panjang sekitar 6 meter.Buaya ini memiliki tiga set gigi yang seperti gading yg berbentuk taring yang ada di bagian atas dan di bawah tengkorak, jenis gigi ini tidak terlihat dalam crocodyliform lain yang sudah dikenal.Karakteristik lain yang unik dari Kaprosuchus adalah kehadiran besar, tanduk berkerut terbentuk dari tulang squamosal dan parietal yang keluar dari tengkoraknya.

2. RatCroc (Araripesuchus rattoides)



Fossil-nya ditemukan di Maroko.Panjangnya tiga kaki.Mempunyai sepasang gigi di rahang bawahnya untuk menggali untuk mencari makanan.

3. PancakeCroc (Laganosuchus thaumastos)



Pada panjang 20 kaki, PancakeCroc sama besarnya seperti buaya terbesar yang hidup sekarang ini.Tapi rahang tiga kakinya benar-benar tipis, rapuh, dan kurang bertenaga.Karena rahangnya tidak cukup kuat untuk berkelahi dengan mangsanya, Paul Sereno percaya dia makan di bawah air, hanya dengan membuka mulutnya dan berharap sesuatu akan berenang di dalamnya. Tubuhnya sudah pasti dilengkapi dengan baik untuk mengintai tanpa bergerak di satu tempat selama berjam-jam, bahkan mungkin berhari-hari.

4. DuckCroc (Anatosuchus minor)


Diciptakan untuk bergerak di darat, DuckCroc mungkin sangat cekatan, serta cepat larinya. Scan otak menunjukkan otak DuckCroc dikelilingi oleh kantong udara – tanda-tanda bahwa itu adalah organ turbocharged yang membutuhkan pendinginan. DogCroc juga berbagi karakteristik serupa. Anda mungkin menyebut mereka korvet buaya. Tapi DuckCroc memiliki otak yang lebih besar yang terhubung ke hidung yang sangat khusus – mungkin sesuatu seperti Platypus berparuh bebek.

5. DogCroc (Araripesuchus wegeneri)



Makhluk aneh, dan kurus, yang tampak seperti anjing berlapis baja, mengendus tanah saat mereka pergi, dan juga mengendus udara dengan hidungnya yang berdaging. DogCroc adalah seniman melarikan diri yang lihai – siap untuk berenang menjauh dari dinosaurus atau lari dari buaya lain. Seperti DuckCroc, DogCroc memiliki otak besar – bagian berpikir, dan merasakan dari otak.

6. SuperCroc (Sarcosuchus imperator)



Para ilmuwan telah menggali sisa-sisa satu buaya kuno yang sepanjang bus kota dan berat seperti ikan paus kecil. Makhluk raksasa, yang hidup 110 juta tahun yang lalu, di masa Cretaceous Tengah, tumbuh sepanjang 40 kaki (12 meter) dan beratnya sebanyak delapan ton metrik (17.500 Pon).

Rahangnya sendiri hampir sepanjang enam kaki (1,8 meter) dan mempunyai lebih dari 100 gigi yang begitu kuat bahkan makhluk kolosal ini mungkin mengkonsumsi dinosaurus kecil serta ikan.

7. Deinosuchus rugosus


Deinosuchus adalah buaya dengan rahang besar serta menjadi makhluk terbesar yang menjelajahi daratan berair yang pernah ada di dunia. Mesin pembunuh raksasa purba ini bersembunyi di rawa yang lebat di Amerika Utara lebih dari 65 juta tahun yang lalu. Dengan rahang sepanjang tinggi badan manusia, ia dapat dengan mudah membunuh dinosaurus dengan bobot beberapa ton. Dengan mudah kita dapat membayangkan bagaimana makhluk buas ini menarik dinosaurus besar ke air untuk menenggelamkannya, lalu membunuhnya dengan gigitan yang mematikan.

Sejauh ini bagian dari makhluk ini telah ditemukan. Para ilmuwan memperkirakan ukuran dari makhluk ini berdasarkan tengkorak yang telah ditemukan di Texas.

Info

  • Panjang : 12 – 15 meter, termasuk 1.8 meter rahang
  • Bobot : 5 ton
  • Makanan : Hewan besar, termasuk dinosaurus
  • Deinosuchus hidup di akhir zaman Cretaceous, di rawa-rawa di sebagian besar tempat yang sekarang adalah Amerika Utara. Pemburu fosil telah menemukan sebagian kerangka dari buaya purba yang luar biasa ini di Montana dan Texas.

Fakta Lain

  • Deinosuchus adalah salah satu dari keturunan reptil buaya purba yang memiliki struktur tubuh yang sama dari sejak zaman Jurassic (sekitar 150 juta tahun yang lalu) hingga kini.
  • Seperti halnya dengan buaya moderen, Deinosuchus mungkin menelan bebatuan sebagai pemberat untuk menyeimbangkan daya apung tubuhnya dan membantunya untuk tetap didalam air saat mengincar mangsanya.
  • Deinosuchus juga dikenal sebagai nama samaran dari Probosuchus, atau ‘buaya menyeramkan’.
  • Berdasarkan pengkajian yang mendalam atas kerangkanya – dengan menghitung cincin pertumbuhan seperti cincin pada sebuah pohon – para ahli memperkirakan bahwa Deinosuchus membutuhkan waktu 35 tahun untuk tumbuh mencapai ukuran dewasanya.

bedanya Dinosuchus sama Sarcosuchus (SuperCroc) itu kalo Deinosuchus hidup di rawa2, kalo SuperCroc hidup di sungai & laut dangkal, kalo dari ukuran gk beda jauh…

SUMBER: APASIH.COM

Categories: Flora & Fauna, hewan purbakala | 1 Comment

Tyrannosaurus rex/ T-rex

Tyrannosaurus rex (Tyrannosaurus, arti ‘kadal yang kejam’ / rex, arti ‘raja) merupakan salah satu jenis dinosaurus karnivora yang terbesar. T-rex dapat tumbuh sepanjang 12,5 meter (sekitar 40 kaki)dan berat mencapai 4-7 ton . Dinosaurus ini memangsa dinosaurus herbivora besar seperti triceratops dan edmontosaurus yang merupakan herbivora terbesar di saat itu. Selain itu tyrannosaurus juga diketahui memiliki salah satu gigitan terkuat dibanding hewan darat lain yang pernah ada.

Deskripsi

Meskipun tubuh dan kepalanya amat besar tyrannosaurus memiliki suatu kejanggalan, yaitu tangannya yang amat kecil. Tyrannosaurus kemungkinan memakainya untuk bangkit dari tanah saat berbaring. Selain itu ada sedikit bukti kalau mereka memiliki bulu. Tengkorak tyrannosaurus sendiri panjangnya kurang lebih 1,5 meter (sekitar 5 kaki). Rahangnya memiliki gigi yang amat besar sepanjang kurang lebih 15 cm (terbesar). Panjang tubuh monster ini kemungkinan sekitar 11-12,4 meter (berdasarkan spesimen terbesarnya yaitu “Sue”). Namun baru-baru ini diketahui bahwa T-rex dapat tumbuh hingga 13 meter. T-rex dapat berlari hingga 40 km/jam,letak matanya pada kepalanya mirip dengan serigala.

Perilaku

Tyrannosaurus kemungkinan berperilaku sama seperti buaya dan dan reptil modern lainnya, hal ini diketahui dari bentuk otak mereka yang amat mirip dengan buaya dan aligator. Dalam catatan fosilnya juga ditemukan sedikit bukti perilaku sosial.Fosil menunjukkan bahwa Tyrannosaurus adalah binatang kanibal-ditemukan gigi spesimen yang lebih besar di spesimen yang lebih kecil. Dahulu para ilmuwan mengira Tyrannosaurus rex tidak mengasuh anak-anaknya,namun kini kita tahu bahwa mereka adalah orang tua yang baik.Tyrannosaurus mempunyai kehidupan sosial yang aktif.Mereka kemungkinan menjadi dewasa pada usia 20 tahun dan mungkin mati pada usia 50-70 tahun.Tyrannosaurus jantan tumbuh hingga 11,8 m dan berat 6 ton,lebih kecil daripada Tyrannosaurus betina yang bisa mencapai 12,5 m dan berat 7 ton.Saat musim kawin,Tyrannosaurus jantan akan berburu mangsa dan menghadiahkannya pada sang betina sebagai’persyaratan’.Ini mungkin bisa saja dilakukan karena ukuran si betina lebih besar dan bisa saja menjadikan jantan sebagai santapannya.Dari bukti fosil Tyrannosaurus adalah keluarga Tyrannosauridae,yang mencakup Albertosaurus(Panjang 9 m dari Kanada),Daspletosaurus(Panjang 9,2 m dari Amerika Serikat dan Kanada),Gorgosaurus(Panjang 8,5 m dari Amerika Serikat),dan Tarbosaurus(Panjang 10-11 m dari Mongolia).

Penemuan

Tyrannosaurus rex pertama kali ditemukan oleh Paleontolog bernama Henry Fairfield Osborn di Pegunungan Montana,Barat Laut Amerika Serikat tahun 1902.Fosilnya tidak utuh,tapi gigi dan rahangnya masih lengkap.Sejak itulah dinosaurus ini menjadi terkenal karena untuk waktu yang lama sempat diduga sebagai karnivora terbesar di darat,sampai Carcharodontosaurus ditemukan tahun 1920 dan Giganotosaurus tahun 1994,yang ternyata jauh lebih besar daripada T-rex.

Categories: hewan purbakala | 1 Comment