PENETAPAN AWAL DAN AKHIR RAMADHAN 2013

Ada dua metode yang dijadikan dasar oleh para ulama untuk menentukan masuknya awal Ramadhan, yaitu:
1. Metode rukyatul hilal (dengan melihat hilal), dan bila hilal terhalang sehingga tidak terlihat pada saat dilakukan rukyah, maka bulan Sya’ban disempurnakan menjadi tiga puluh hari. Hal tersebut berdasarkan sabda Rasulullah saw:

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah (berhari rayalah) kalian karena melihat hilal, jika hilal tidak nampak atas kalian, maka sempurnakanlah jumlah hari bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.“ (HR. Bukhari dan Muslim)
Pada metode inipun, sebagian ulama memakai prinsip wihdatul mathali’ (kesamaan masa terbit), dalam arti: apabila ada seorang muslim melihat hilal di suatu daerah, maka umat Islam di daerah lain berkewajiban untuk menyesuaikan. Dan sebagian ulama lain memakai prinsip ikhtilaful mathali’ (perbedaanmasa terbit), dalam arti: apabila seorang muslim di suatu daerah melihat hilal, maka tidak mewajibkan umat Islam di daerah lain yang belum melihat hilal untuk berpuasa karenanya.
2. Metode hisab, yaitu mentakdirkan adanya hilal (dengan ilmu falak). Metode ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw :

“Janganlah kalian berpuasa sebelum melihat hilal, dan janganlah kalian berbuka (berhari raya) sebelum melihat hilal, dan jika mendung menyelimuti kalian, maka perkirakanlah hilal itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mutharrif bin Abdullah bin Assyikhir (tokoh tabi’in), Abul Abbas bin Suraij, Ibnu Qutaibah dan lainnya mengatakan: makna فَاقْدُرُوا لَهُُ ialah ‘perkirakan hilal itu dengan berdasar hisab/ilmu falak’.

Pada metode ini, sebagian ulama memakai prinsip wujudul hilal, dalam arti: apabila hilal sudah wujud (ada) diatas ufuk dengan tanpa melihat tinggi posisinya, maka ditetapkan keesokan hari sudah masuk bulan Ramadhan.

Dan sebagian ulama lain memakai prinsip imkaniyatur rukyah, dalam arti bahwa keberadaan hilal diatas ufuk tersebut harus dalam posisi yang memungkinkan untuk di-rukyah, agar bisa dijadikan ukuran penentuan masuknya bulan Ramadhan.

Penetapan 1 Ramadan 1434 Hijriah atau awal puasa tahun 2013 antara Muhammadiyah dengan Nahdlatul Ulama (NU) kemungkinan akan berbeda. Warga Muhammadiyah akan mulai puasa pada 9 Juli 2013, sementara NU satu hari setelahnya.
Kepala Sub-Direktorat Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat Kementerian Agama, Ahmad Izzudin memperkirakan bahwa pada 9 Juli 2013 hilal belum nampak. “Diprediksi ketinggian hilal masih di bawah ufuk,” ujarnya. Menurut Izzudin, sidang isbat untuk melakukan rukyat pada 8 Juli 2013 yang akan digelar pemerintah tidak akan berhasil melihat hilal. Pasalnya, saat itu ketinggian hilal masih di bawah 1 derajat. Itu artinya, awal puasa versi NU akan jatuh pada 10 Juli 2013.
Hal itu pun dikuatkan oleh Ketua NU Jawa Tengah Moh Adnan. Menurut hisab tim Lajnah Falaqiah NU Jawa Tengah, bulan Syakban tahun 2013 ini memiliki usia 30 hari. “Maka awal Ramadan akan jatuh pada 10 Juli,” katanya, seperti dikutip dari Tempo.co, Selasa (18/6/2013). Izzudin juga menambahkan bahwa puasa Ramadan tahun 2013 ini diperkirakan hanya berlangsung selama 29 hari. Itu artinya, warga NU dan Muhammadiyah akan bersama-sama merayakan Hari Raya Idul Fitri pada 8 Agustus 2013.
Sementara itu, cendikiawan NU, KH Solahudin Wahid (Gus Solah) menilai hisab untuk menentukan 1 Ramadan tidak bisa dijadikan acuan tanpa pengamatan langsung (Rukyatul Hilal). Menurutnya, hasil hisab (perhitungan secara matematis dan astronomis) bisa saja salah.
Meskipun demikian, Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan bahwa pihaknya tetap berpedoman dengan cara hisab untuk menentukan 1 Ramadan. Pasalnya, cara hisab tersebut merupakan salah satu cara yang sah dalam agama Islam. Karena sudah menentukan 9 Juli 2013 sebagai 1 Ramadan 1434 Hijriah dan 8 Agustus 2013 sebagai Idul Fitri 1 Syawal 1434 Hijriah, Muhammadiyah mengaku tidak akan menghadiri sidang isbat, 8 Juli 2013, yang akan digelar Kementerian Agama. “Muhammadiyah tidak akan ikut (sidang isbat). Lebih baik menonton saja,” ungkap Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr H Yunahar Ilyas.

(berbagai sumber)
Categories: religi | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: