Mengubah Gaya Hidup, Mengubah Takdir Genetik

KEBANYAKAN organisme yang kompleks berkembang dari sel-sel reproduktif yang mengalami spesialisasi (sel telur dan sel sperma). Apabila dua sel reproduktif bertemu maka mereka akan menjadi satu dan bertumbuh kemudian membelah untuk membentuk berbagai tipe sel pada organisme dewasa. Agar proses ini dapat terjadi, epigenom harus dihapuskan melalui proses ‘pemrograman kembali’.

Proses pemrograman kembali penting karena sel telur dan sel sperma berkembang dari sel-sel yang khusus dengan profil ekspresi gen yang stabil. Dengan kata lain, informasi genetik mereka ditandai dengan penanda epigenetik. Sebelum suatu organisme dapat bertumbuh menjadi embrio yang sehat maka penanda epigenetik harus dihapus. Pada suatu waktu selama perkembangan, yang waktunya berbeda-beda bergantung pada spesies. Di dalam sel terdapat mesin seluler khusus  mengecek genom dan menghapus penanda epigenetiknya agar dapat mengembalikan sel ke dalam keadaan “kosong” secara genetik. Akan tetapi, untuk sejumlah kecil gen, penanda epigenetik berhasil lolos dari proses ini dan tidak mengalami perubahan, jadi sama seperti yang ada pada orang tuanya.

Menurut Dr. Bruce Lipton, kita bukanlah budak gen kita sendiri. Lingkungan memainkan peranan besar dan bagaimana kita mempersepsikan lingkungan kita dapat memberi dampak pada ekspresi gen. Dengan mengubah lingkungan atau persepsi kita akan lingkungan, maka sel akan dapat mengubah ekspresi genetiknya. Pendapat ini tentunya mengagetkan banyak orang karena seringkali kita berpikir tidak banyak yang bisa kita lakukan akibat persepsi yang sudah dibentuk di masyarakat kita bahwa kita terlahir seperti adanya kita dan tidak bisa diubah (genetic nihilism).

Fenomena epigenetik begitu luar biasa. Kita dapat menulis ulang program genetik kita dan mengubah kehidupan kita. Penjelasan sederhananya adalah kita dapat mengubah ekspresi sandi genetik dengan mengubah penanda-penanda kimiawi yang menutupi DNA kita, dan protein-protein histon yang membungkusnya. Penanda-penanda ini menghasilkan lapisan epigenetik dan secara efektif membungkam beberapa gen tertentu. Kuncinya adalah lapisan epigenetik ini memberikan respons terhadap rangsangan eksternal, misalnya dari apa yang kita minum dan makan sampai dengan stres yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengubah lapisan epigenetik, kita sebetulnya dapat mengubah cara DNA mengekspresikan dirinya.

Pengendalian epigenetik memperlihatkan bahwa informasi lingkungan mengubah ekspresi gen tanpa mengubah sekuens DNA. Dari satu gen saja, regulasi epigenetik dapat menyediakan sekitar 30 ribu variasi ekspresi yang berbeda. Analoginya begini. Gen-gen kita seperti halnya televisi. Jadi pada model epigenetik, kita bisa mengendalikan televisi kita, yaitu bisa kita matikan atau hidupkan, volumenya bisa dibesarkan atau dikecilkan. Warna pada siaran televisi bisa kita ubah, buat kontras, terang, gelap, dan lain-lain. Tetapi tetap kita tidak mengubah siarannya. Jadi potensi perubahan itu tidak terbatas. Perbedaan antara apa yang dikendalikan oleh gen-gen kita dan seleksi epigenetik ditentukan pada awal perkembangan manusia.

Bagaimana cara kita memicu ekspresi gen, sehingga kita bukan lagi korban gen kita akan tetapi kita menjadi tuan nasib kita sendiri. Otak adalah adalah alat pemancar, membaca signal dari luar, menginterpretasi signal dan meregulasi senyawa kimia di dalam tubuh yang mengendalikan ekspresi genetik di dalam sel. Interpretasi oleh pikiran sangat penting karena otak membaca kesan-kesan atau gambar dari lingkungan tetapi tidak memiliki opini mengenai arti dari kesan atau gambar tersebut. Pikiran menginterpretasikan signal lingkungan berdasarkan pengalaman yang telah kita pelajari. Sebagai contoh, jika apabila seorang anak belajar bahwa X adalah sesuatu yang mengancam, maka kapanpun X berada di lingkungan, interpretasi pikiran akan merangsang otak untuk mengeluarkan neurokimiawi yang mengendalikan perilaku sel dan aktivitas gen untuk mengkoordinasikan respons proteksi diri.

Seperti siklus, di mana lingkungan kita memberikan dampak bagi seleksi gen, yang kemudian memberikan dampak pada seleksi protein-protein di dalam tubuh kita untuk membangun jaringan yang kemudian memberikan dampak bagi tubuh kita dan kualitas hidup kita, yang kemudian memberikan dampak kepada lingkungan.

Oleh : Dr Trina E Tallei, Pakar Genetika Molekuler pada Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Unsrat.

Categories: biologi, sains | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: