Misteri Kematian Manusia Purba Neanderthal

detail berita

Tengkorak kepala Neanderthal (kiri) dan tengkorak kepala manusia modern (kanan) (Foto: BBC)

WASHINGTON – Kematian manusia purba Neanderthal tampaknya masih sebuah misteri. Misteri ini coba dipecahkan melalui penelitian yang dilakukan ilmuwan asal Inggris, yang mengungkap sebab kematian makhluk hidup yang pernah hidup ratusan ribu tahun lalu tersebut.

Dilansir BBC, Rabu (13/3/2013), berdasarkan studi terbaru pada fosil tulang Neanderthal, ditemukan penyebab kematian manusia purba lantaran mereka memiliki ukuran mata yang besar ketimbang manusia modern. Studi ini diterbitkan dalam Proceedings of the Royal Society B Journal.

Manusia purba Neanderthal merupakan spesies yang terkait erat dengan manusia yang hidup di Eropa sekira 250 ribu tahun lalu. Kabarnya, makhluk ini hidup berdampingan dan berinteraksi singkat dengan spesies Homo Sapiens hingga kepunahan mereka sekira 28 ribu tahun lalu.

Sebagian besar kematian manusia purba Neanderthal terjadi pada Zaman Es. Tim peneliti mengeksplorasi ide bahwa nenek moyang manusia, Neanderthals, meninggalkan wilayah Afrika dan harus beradaptasi dengan kondisi di Eropa.

Di Eropa, manusia purba Neanderthals harus bisa beradaptasi ketika di malam hari dan menjalani masa-masa ‘suram’. Hasilnya ialah, Neanderthals berkembang dengan mata lebih besar.

Selain itu, adaptasi tersebut juga mengakibatkan area pemrosesan visual besar yang terletak di bagian otak belakang mereka. Sebelumnya, Neanderthals tinggal di Afrika yang cenderung memiliki kondisi alam yang cerah dan tidak perlu memerlukan adaptasi lagi.

Eiluned Pearce dari Oxford University berupaya membuktikan teori ini dengan cara membandingkan tengkorak Homo Sapiens dan 13 fosil tulang Neanderthal. Pearce juga menemukan bahwa Neanderthals memiliki kelopak mata lebih besar, dengan rata-rata panjang 6mm dari atas ke bawah.

Ia menjelaskan, dengan kelopak mata yang besar, maka Neanderthal menggunakan kemampuan otak mereka untuk memproses informasi visual. “Sejak Neanderthal berevolusi di lintang yang lebih tinggi, banyak dari otak Neanderthal akan didedikasikan untuk penglihatan dan mengontrol tubuh,” tutur peneliti.

Ia mengatakan, dengan fokus otak untuk proses visual penglihatan tersebut, maka fungsi lain seperti jaringan sosial bisa kurang tertangani. “Kami menyimpulkan bahwa Neanderthal memiliki bagian kognitif yang lebih kecil dari otak dan ini akan membatasi mereka,” terang Chris Stringe dari Natural History Museum, London, Inggris.

Neanderthal diyakini memiliki visual lebih, yang memfokuskan pada struktur otak. Ini akan mempengaruhi kemampuan mereka untuk berinovasi dan beradaptasi dengan Zaman Es yang dianggap telah memberikan kontribusi terhadap kematian atau kepunahan mereka. (fmh)

Categories: paleontologi, sains | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: