kisah sukses

Nick D’Aloisio, Remaja 17 Tahun Pencipta Aplikasi Rp 290 Miliar

 

GETTY IMAGES/NADINE RUPP

Oleh: Atika Walujani Moedjiono

Keingintahuan, gairah, dan ketekunan membawa Nick D’Aloisio menjadi pusat perhatian dunia. Pekan lalu, Yahoo mengumumkan membeli aplikasi Summly yang dibuat remaja asal London berusia 17 tahun itu. Ia bahkan disebut majalah ”Forbes” sebagai salah satu dari ”30 entrepreneur berusia di bawah 30 tahun” yang perlu diperhatikan.

Yahoo tak membuka informasi berapa harga yang dibayar, namun banyak pihak memperkirakan nilainya sekitar 30 juta dollar AS (sekitar Rp 290 miliar). Summly adalah aplikasi dengan algoritma kompleks yang mampu meringkas berita panjang di daring dalam tiga paragraf pendek sehingga mudah dibaca di layar smartphone.

D’Aloisio membuat Summly karena frustrasi saat mengerjakan tugas sekolah. Ia kerepotan dengan banyaknya artikel tak relevan saat mencari bahan di internet. Hal itu mendorong dia mencari cara menyaring informasi.

”Saya tak sabar,” ujarnya. ”Seperti remaja generasiku, jika tak menarik, saya akan berhenti membaca. Saya hanya mau membaca hal-hal yang ingin saya ketahui dengan segera. Itu yang dilakukan Summly.”

Jagoan teknologi itu membangun Summly di meja belajar di kamarnya pada usia 15 tahun. Aplikasi itu telah diunduh jutaan kali dan meringkas setidaknya 90 juta berita sejak versi awal aplikasi diluncurkan dengan nama Trimit pada 2011.

Trimit yang muncul di Apple’s App Store dan langsung diserbu pengunduh menarik perhatian Horizons Ventures, perusahaan pemodal ventura milik jutawan Hongkong, Li Ka-shing, yang lalu berinvestasi 250.000 dollar AS.

Investasi itu mendatangkan investor lain, mulai aktor Ashton Kutcher, janda John Lennon, Yoko Ono, penulis dan penyiar kondang dari Inggris Stephen Fry, sampai raja media pemilik News Corp, Rupert Murdoch.

”Mereka ibarat berjudi dengan memberi modal saat saya berusia 15 tahun,” kata D’Aloisio merujuk investasi yang memungkinkan dia menggaji pegawai dan menyewa kantor. Namun, dia tetap menjadi pemilik saham terbesar Summly.

Summly, pengembangan dari Trimit, diluncurkan November 2012. Sebulan kemudian D’Aloisio dihubungi Yahoo dan sejumlah peminat lain.

Bagi remaja yang ingin menjadi entrepreneur, juga orangtua mereka, berita penjualan Summly yang spektakuler mengecilkan hati sekaligus menimbulkan kekaguman. Reaksi Brian Wong (21), salah satu pendiri Kiip, perusahaan periklanan di internet, mengundang senyum, ”Saya merasa tua!”

Beberapa tahun lalu, Wong diberitakan sebagai orang termuda yang mendapatkan modal ventura. Setelah itu bermunculan sejumlah anak muda. ”Nick memecahkan rekor kami,” kata Wong.

Ketertarikan D’Aloisio pada teknologi terjadi sejak usia dini. ”Saya tertarik detail, hal aneh, dan esoterik (yang hanya diminati kalangan terbatas),” katanya. ”Saya terobsesi untuk mendalami, komputer salah satunya.”

Pada usia lima tahun, D’Aloisio terpesona sistem galaksi dan Matahari sehingga ia hafal seluruh konstelasi. Usia sembilan tahun, ia mendapat komputer pertama. Pada usia 10 tahun, ia tertarik mengutak-atik peranti lunak pembuat film. Ia belajar coding (pemrograman) secara otodidak pada usia 12 tahun.

Sebelum Summly, ia membuat aplikasi lain untuk smartphone, termasuk SongStumblr, program pencari musik di internet, dan Facemood, program yang mampu memperkirakan suasana hati pengguna lewat status terbarunya di Facebook.

Kehidupan sosial

D’Aloisio adalah anak pasangan asal Australia. Dari Inggris, keluarganya kembali ke Melbourne tak lama setelah ia lahir. Saat D’Aloisio berusia tujuh tahun dan adiknya, Matthew, tiga tahun, keluarganya kembali ke Inggris.

Mereka menetap di Wimbledon, barat daya London. Ayahnya, Lou Motilla, Wakil Presiden Morgan Stanley, dan ibunya, Diana D’Aloisio, pengacara. Orangtuanya bukan ahli komputer, namun mereka mendukung minat putranya. Mereka bahkan mengizinkan dia cuti dari sekolah tahun lalu untuk fokus pada Summly. Sang ibu menemaninya dalam perjalanan bisnis ke sejumlah negara.

Minatnya tak terbatas pada komputer. Di sekolahnya, King’s College School, Wimbledon, ia belajar A-levels (persiapan masuk perguruan tinggi) untuk matematika, fisika, dan filsafat. Ia belajar bahasa Rusia dan Mandarin serta bercita-cita kuliah PPE (filsafat, politik, dan ekonomi) di Oxford. ”Pendidikan itu hal menarik bagi saya,” katanya.

Di luar urusan komputer dan bisnis, ia berkumpul dengan teman- teman pada akhir pekan untuk main rugbi dan kriket. ”Saya main di tim A saat berusia 14 tahun, tetapi kini tak lagi,” kata D’Aloisio yang punya pacar sejak 10 bulan lalu.

Apa yang dia lakukan dengan uang hasil penjualan Summly? Ia menjawab dengan serius, uang itu disimpan di dana perwalian sampai ia berusia 18 tahun. Dalam wawancara radio, ia mengaku terganggu dengan ramainya pembicaraan di Twitter soal tas yang akan dibelinya. ”Tas saya rusak, talinya hampir putus. Jadi ini bukan karena saya mendapat banyak uang.”

”Saya lebih suka menyimpan uang di bank. Kalaupun ada yang akan saya lakukan dengan uang itu, saya ingin melakukan angel investing (mendanai proyek para pemula di bidang teknologi),” ujar remaja langsing berambut coklat tua itu.

Saling menguntungkan

D’Aloisio menyatakan, tak ada masalah terkait hak cipta. Aplikasi ciptaannya, Summly, melakukan analisis statistik untuk meringkas berita. Ia menjalin kerja sama dengan sekitar 250 penerbit konten, termasuk Wall Street Journal milik News Corp. Perusahaan yang berbasis di New York itu membuat kontennya cocok dengan Summly.

Program itu menguntungkan perusahaan media. ”Kami memperkenalkan karya mereka kepada pembaca baru dari kalangan muda,” katanya.

”Jika pembaca suka ringkasannya, mereka akan membaca seluruh berita. Ini akan meningkatkan jumlah pembaca,” ujarnya. Namun, teknologi itu memiliki kelemahan, kadang aplikasi ini kesulitan memperpendek tulisan yang terlalu canggih.

Penjualan yang diumumkan pekan lalu adalah akuisisi Yahoo ke-5 dalam lima bulan terakhir. Ini upaya CEO Marissa Mayer menarik lebih banyak ahli teknologi untuk membangun pelayanan smartphone dan komputer tablet. Teknologi makin penting dan diyakini Mayer telah diabaikan perusahaan internet. Sementara ini Summly tak bisa diunduh, akan diintegrasikan dalam peranti lunak Yahoo.

D’Aloisio akan bekerja untuk Yahoo di London. Ini memungkinkannya menyelesaikan SMA. Ia mengaku bergairah bekerja pada ”perusahaan internet klasik” yang lebih tua dari dia. Yahoo didirikan tahun 1994.

D’Aloisio akan meningkatkan perhatian pada pentingnya pemrograman komputer dan berharap hal itu diajarkan di sekolah. Ia juga akan mengembangkan Summly, tak sekadar untuk meringkas berita. ”Saya berupaya agar Summly mampu meringkas Wikipedia, buku, blog, apa pun.”(AP/Reuters/Daily Telegraph/NY Times)

• Lahir: London, Inggris, 1 November 1996 • Pendidikan: King’s College School, Wimbledon, Inggris

 

Categories: kisah sukses | Leave a comment

BISNIS ITU PERMAINAN, BUKAN ILMU PENGETAHUAN…!

 

Selama kita merasa belum familiar dan takut memulai bisnis, biasanya yang timbul di pikiran kita adalah: “belajar!”. Pilihannya mungkin dengan jalan mengambil program S2 dan jadi seorang MBA, atau ikut sebanyak-banyaknya seminar dan pelatihan.

Atau bisa juga dengan berguru dan mengabdi pada seorang begawan bisnis. Kira-kira, sudah selaraskah alur pemikiran yang sedemikian dengan apa yang terjadi pada kenyataannya? Mari kita telaah.

Kebanyakan dari kita berbisnis karena ingin sukses, lalu menjadi kaya raya. Kita membayangkan, betapa enak dan hebatnya bila kita dapat sesukses dan sekaya Bill Gates atau Donald Trump. Menurut pandangan masyarakat pada umumnya, mereka itulah orang-orang sukses yang sebenar-benarnya. Merekalah sosok-sosok pebisnis yang prestasinya membuat banyak orang terobsesi.

Maka tidak heran jika para pakar pun berusaha menyadap dan mempelajari segala hal yang ada pada orang-orang sukses itu, dengan harapan dapat mentransfer nilai-nilai kesuksesannya kepada orang-orang lain yang juga ingin menjadi figur sukses. Mereka berpendapat bahwa: “Leaders are made, not born”.

Selanjutnya, segala sepak terjang yang dilakukan oleh para pebisnis tersebut, dikumpulkan, dipilah-pilah, lalu dianalisis. Dari analisis itu dibuat teori-teori. Hasilnya, muncullah berbagai teori kesuksesan yang terkemas dalam materi-materi “ilmu bisnis”, wacana profesionalisme, ilmu kepemimpinan (leadership), dan lain sebagainya.

Orang-orang awam memang ingin sekali menemukan cara-cara yang bisa membantu mereka untuk secara cepat mencapai kesuksesan. Semacam rel kereta yang tinggal diikuti saja akan mengantar orang tiba di gerbang kejayaan.

Namun demikian, apa benar kalau kita ingin menjadi figur sukses — lebih spesifiknya pebisnis sukses — harus menempuh perjalanan yang sarat dengan teori-teori kesuksesan seperti itu?

Dari berbagai catatan yang ada, tampaknya tidak demikian. Banyak sepak-terjang yang dilakukan oleh para pemimpin bisnis dunia tidak mencerminkan bahwa kesuksesan mereka disebabkan pembelajaran yang sungguh-sungguh dalam ilmu bisnis, profesionalisme dan teori kepemimpinan. Tidak juga pengetahuan ekonomi, teori-teori tentang kebebasan finansial, ilmu marketing dan lain sebagainya. Pun, tidak karena mereka rajin mengikuti seminar kesuksesan atau lokakarya tentang strategi bisnis.

Di lain pihak, banyak pemimpin bisnis ternyata merupakan orang-orang yang justru tidak suka belajar, malas sekolah, dan hanya ingin bermain-main saja. Boro-boro ikut seminar atau lokakarya. Lho kok bisa?

Ada beberapa contoh kasus. Yang pertama, Thomas Alva Edison. Nama ini sudah kita tahu sejak di bangku SD bukan? Namun, tentunya kita kenal Edison lebih sebagai tokoh ilmu pengetahuan, karena sekolah memfokuskan ajaran hanya pada penemuan atas lampu pijar dan berbagai temuan teknis lain yang dilakukannya.

Maka jarang kita memperhatikan bahwa sesungguhnya Thomas Alva Edison adalah juga seorang pengusaha besar yang sukses. Ia adalah pemilik dan pendiri berbagai perusahaan dengan nama-nama seperti Lansden Co. (mobil/otomotif), Battery Supplies Co. (baterai), Edison Manufacturing Co. (baterai dsb), Edison Portland Cement Co. (semen dan beton), North Jersey Paint Co. (cat), Edison General Electric Co. (alat listrik dll), dan banyak lainnya. Salah satu yang masih berjaya sampai sekarang adalah General Electric.

Apakah untuk mencapai itu semua Edison harus bersusah-payah mengikuti berbagai sekolah dan pendidikan tinggi? Atau mengikuti seminar kelas dunia yang diselenggarakan oleh para pakar kesuksesan, pakar bisnis atau pakar financial freedom? Ternyata tidak. Figur Edison adalah figur pemalas yang hanya tahan 3 minggu bersekolah. Ia lebih suka bermain-main dengan perkakas, dengan kawat dan dengan listrik. Itu kesenangannya dan dengan itu ia sukses.

Contoh lain adalah Kenji Eno. Ia juga tidak suka sekolah. Ia cuma suka bermain-main dengan permainan, istimewanya dengan video games. Kelas 2 SMA berhenti sekolah terus nganggur. Lalu dapat kerja di perusahaan perangkat lunak, sampai akhirnya ia berhasil mendirikan perusahaan perangkat lunaknya sendiri yang dinamakan WARP. Dalam tempo beberapa tahun saja Kenji Eno mampu membawa perusahaannya menjadi perusahaan video games terhebat di dunia yang diakui oleh tokoh-tokoh industri.

Fenomena-fenomena yang dibuat oleh orang-orang semacam Edison dan Kenji Eno ini memberi kesan kepada kita semua bahwa bisnis itu sebenarnya lebih dekat kepada sebuah permainan, dan terlalu jauh untuk diperlakukan sebagai sebuah ilmu pengetahuan.

Gede Prama yang dikenal sebagai pakar manajemen (bahkan dijuluki Stephen Covey Indonesia), mengomentari fenomena Kenji Eno sebagai kesuksesan dari kebebasan berfikir yang mampu melompat, karena belum terkena polusi-polusi yang dibuat sekolah.

Menurut saya, adalah keliru mempelajari fenomena pemimpin, untuk menciptakan pemimpin. Demikian juga, keliru mempelajari fenomena pebisnis sukses, untuk mencetak pebisnis sukses. Sebab, fenomena pemimpin (atau pebisnis) adalah fenomena manusia, yang tidak sama dengan fenomena alam. Kalau Isaac Newton mempelajari peristiwa jatuhnya buah apel ke tanah (fenomena alam) dan kemudian menemukan hukum gavitasi, maka itu oke-oke saja. Karena fenomena alam tidak berubah, hukum gravitasi pun akan tetap abadi.

Akan tetapi, mempelajari fenomena manusia pasti akan menimbulkan frustrasi. Sebab, manusia merupakan mesin perubahan, sehingga tidak akan ada fenomena manusia yang tinggal tetap abadi sepanjang masa, berlawanan dengan yang kita lihat pada peristiwa jatuhnya buah apel.
Pemimpin, dalam bidang apa pun termasuk bisnis, adalah sosok manusia yang bebas, yang bertindak semaunya tanpa memperhatikan teori mau pun kaidah, sehingga nyaris percuma kalau kita ingin mempelajari dan mengikuti jejak sepak terjangnya.

Coba lihat, pada saat terjadinya resesi ekonomi dunia tahun 1929, semua orang berdasarkan teori-teori yang ada, berusaha untuk berlaku sehemat mungkin. Tapi sebaliknya, Matsushita si raja elektrik dari Jepang malah royal mengeluarkan uang. Seakan uang itu tidak lebih dari mainan saja layaknya. Meski pun bukan tanpa alasan dia berlaku demikian.

Lihat juga Kim Woo Chong, pendiri imperium Daewoo. Ketika semua pengusaha (juga dengan teori-teori yang ada) berkonsentrasi memasuki pasar negara-negara kaya semacam Amerika dan Eropa, ia malah dengan santainya masuk ke pasar-pasar “keras” seperti Iran, Sudan dan Rusia serta negara-negara blok timur.

“Kesia-siaan” mempelajari dan berusaha mengikuti sepak terjang para pemimpin bisnis bisa dirasakan secara langsung di lapangan. Saat pertama kali Harvard Business Review mempublikasikan konsep pemasaran yang beken dengan “Marketing Mix” 4P (product, price, place dan promotion), nyaris semua pengusaha serta pakar bisnis menganut konsep ini secara fanatik. Begitu juga dengan perguruan-perguruan tinggi dan sekolah manajemen.

Tapi, tidak terlalu lama, sebagai akibat “ulah” para pemimpin bisnis yang gemar bermain-main, perubahan tren perekonomian dan industri memaksa para pakar dan pembelajar merubah lagi konsepnya dengan 6P, 8P bahkan yang terakhir disebutkan sebagai 12P.

Terus bagaimana? Kalau kita harus bersiaga setiap saat untuk belajar dan tidak ketinggalan zaman dengan ilmu marketing, kapan kita berbisnis?

Saya rasa kita semua banyak yang terjebak dan hanyut dalam “arus ilmu pengetahuan” yang dibuat oleh mereka yang “pakar ilmu pengetahuan”, sehingga kita tidak sempat lagi berinovasi yang justru merupakan kunci sukses bisnis. Kita malah terus menerus “dipaksa” mengejar ketinggalan ilmu pengetahuan tanpa tahu di mana ujung pangkalnya.

Pertanyaannya: ”Sebenarnya kita mau jadi pebisnis atau mau jadi ilmuwan sih?”

Saya sendiri yakin bahwa bisnis dan kesuksesan itu adalah semacam permainan saja. Seperti apa yang dikatakan oleh William Cohen dalam tulisannya “The Art Of The Leader” : “Success is acquired by playing hard, not by working hard..”.

Mengacu pada obsesi banyak orang tentang Bill Gates dan Donald Trump sebagaimana disebut di atas, perlu diketahui bahwa kedua orang tokoh ini pun mencapai sukses dari kesenangannya bermain-main.

Bill Gates sejak masih berusia 13 tahun sudah bermain-main dengan perangkat lunak komputer, dan dengan itu ia menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Donald Trump juga sejak kecil selalu bermain-main ke kantor ayahnya, Fred Trump. Dia suka sekali melihat-lihat maket gedung dan pencakar langit, sebelum tertarik dengan bidang bisnis sang ayah, yaitu properti. Dan jadilah Donald Trump seorang Raja Properti.

Terakhir yang ingin saya sampaikan adalah, orang yang mempelajari ilmu kepemimpinan tidak akan menjadi pemimpin. Tapi, orang yang mencoba menjadi pemimpin, akan menjadi pemimpin. Demikian juga, orang yang mempelajari ilmu bisnis, tidak akan menjadi pebisnis. Tapi, orang yang mencoba menjadi pebisnis, akan menjadi pebisnis.

Salam sukses,

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
Email: rusman@gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Group: gacerindo-club@yahoogroups.com
Mobile: 0816-144.2792

sumber: Gacerindo.com

Categories: kisah sukses | Leave a comment

Cari Duit VS Membangun Bisnis.

Saya selalu terinspirasi saat mendengar presentasi dari tokoh – tokoh UKM yang memberikan seminar untuk memotivasi pebinis ( atau calon pebisnis ). Mereka menjalankan bisnisnya dengan penuh antusias, dan bahkan tidak merasakan adanya kesulitan. Tentunya hal itu karena mereka mengerjakan bisnisnya dengan ikhlas dan perasaan senang
Beberapa peserta seminar juga kelihatan terinspirasi dan termotivasi. Mereka berdiri dan bertanya, bagaimana caranya untuk memulai berbisnis dengan sukses. Yang lainnya juga bertanya mengenai kiat sukses menjalankan bisnis

Sering kali saya mendengar pencerahan dari pemberi seminar bisnis bahwa untuk memulai bisnis yang terpenting segera memulai saja berbisnis. Yang terpenting action ! Jika makin dikaji – kaji maka biasanya bisnisnya tidak akan kunjung dimulai. Dan begitulah mereka memulai bisnis mereka dulu.
Tapi saya berpikir lagi sambil melihat kenyataan yang ada dari pebisnis disekitar kita. Pengamatan saya melihat bahwa tidak banyak pebisnis kita yang bisnisnya berstandar global. Pengusahanya mungkin menjadi kaya raya dan sangat sejahtera. Tetapi bisnisnya tidak menjadi bisnis kelas dunia. Atau fenomena yang lain terlihat bahwa pengusaha yang sudah kaya ini membuat bisnis-bisnis lain. Merek – merek baru. Kelihatannya mereka akan mengoptimalkan produktifitas uang dan kekayaannya
Saya jadi melihatnya bahwa mereka berorientasi menambah kekayaan. Cari duit adalah tujuan utamanya. Memang tidak ada yang salah bahwa bisnis memang yang dicari adalah keuntungan dan uang yang sebanyak – banyaknya

Sekarang saya merefleksikan perbandingan berikut ini, saya mengenal beberapa pemilik Factory Outlet di Bandung yang sangat sukses. Dari cerita mereka yang luar biasa, saya ketahui bahwa sebagian dari mereka merintis usahanya dari bawah di era tahun 1980 an. Bahkan ada yang memulai karir bisnisnya dari pinggir jalan menjual T- Shirt. Sekarang mereka memiliki puluhan Factory Outlet dan juga beberapa bisnis bidang lainnya. Dia kaya raya !

Saat saya mampir di beberapa kantor mereka, hampir semua mempunyai tipikal yang sama. Kantornya dibanjiri oleh suplier – suplier yang memasok barang. Bahkan situasinya boleh dibilang berantakan.
Pandangan saya yang lain, saya melihat bisnis dengan merek ZARA dan MANGO. Dimana keduanya juga berbisnis retail fashion. Mirip – mirip dengan Factory Outlet. Zara adalah salah satu merek yg berasal dari Spanyol dan bermarkas di Arteixo, Gallicia. Bisnisnya dimulai pada tahun 1975 dan sekarang ada di 73 negara dengan ribuan outlet
MANGO, adalah sebuah perusahaan desain dan manufaktur pakaian yang didirikan diBarcelona, Catalonia (Spanyol). Bisnisnya dimulai pada tahun 1989 dan saat ini sudah ada di lebih dari 103 negara dengan lebih dari 2000 outlet

Factory outlet teman – teman kita di Bandung dan kedua merek dari Spanyol di atas memulai usahanya dalam kurun yang tidak jauh berbeda. Sama-sama dari kota “kecil” di negaranya. Tetapi pencapaiannya sangat berbeda.
Pasti ada saja alasannya yang membuat hasil tersebut berbeda. Tetapi saya melihat bedanya pengusaha yang “Membangun Bisnisnya” dan pengusaha yang mungkin hanya berorientasi “Cari Duit”.
Pasti tidak ada yang salah dari keduanya. Masing – masing mempunyai rencananya sendiri – sendiri. Saya hanya ingin memperlihatkan dua fenomena yang berbeda.
Pengusaha yang kekayaannya sangat banyak bisa hidup sejahtera mungkin sampai tujuh turunan. Walau bisnisnya mungkin tidak terlalu “kemana – mana” dan mungkin tidak sampai tahan lama. Mungkin setelah mendirikan usahanya yang berhasil tersebut, dia berubah quadrant menjadi investor yang dapat lebih cepat lagi mendapatkan kekayaan.

Sedangkan pengusaha yang “Membangun Bisnisnya”, selain dia kaya raya dia juga mempunyai reputasi dimana – mana. Bisnisnya yang semakin besar pasti digiring oleh sistem yang membuat bisnis tersebut bisa lebih langgeng. Manfaat yang bisa diberikan dari bisnisnya juga akan dapat dinikmati oleh lebih banyak orang dan lebih panjang.

Kembali kepada memulai bisnis, mungkin ada baiknya jika sejak awal kita sudah membuka wawasan kita: apakah kita hanya akan “Cari Duit” atau akan “Membangun Bisnis” kita.
Boleh untuk menjadi renungan..

Burang Riyadi MBA.
partner

International Franchise Business Management (IFBM)
franchise consultant firm

Menara KADIN 30Fl
Jl. HR. Rasuna Said Blok X – 5 kav. 2 – 3
Jakarta 12950
Tel +6221 5299 4547
Email franchiseconsultant@ifbm.co.id
www.konsultanwaralaba.com

International Franchise Business Management ( IFBM )
Franchise Consultant

www.konsultanwaralaba.com

Categories: kisah sukses | Leave a comment

Pahala Sebanyak Bintang di Langit

Suatu malam Baginda Rasulullah SAW dan istrinya Sayidatina Aisyah r.ha. berdiri di depan rumahnya sambil memandang keindahan langit ciptaan Allah SWT. Sayidatina Aisyah r.ha. bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah SAW, pahala siapakah sebanyak bintang-bintang di langit itu. Di dalam hatinya sayidatina Aisyah r.ha. menebak pahala sebanyak ini pasti pahala bapaknya. “Pahala sebanyak ini adalah pahala sahabatku Umar (r.a.)”, jawab Rasulullah SAW. Sayidatina Aisyah r.ha. terkejut, lalu ia bertanya, “ya Rasulullah SAW bagai mana dengan bapakku?”. Rasulullah SAW tersenyum kepada istrinya sambil Beliau SAW berkata, ketahuilah istriku, satu hari penghijrahan Abubakar (r.a.) bersamaku pahalanya lebih banyak dari pahala Umar (r.a.) dan keluarganya sampai hari kiamat.

Categories: kisah sukses | Leave a comment

Kisah Pengusaha Sukses: Sir Richard Charles Nicholas Branson

Ringkasan

Lahir 18 Juli 1950, di Surrey, Inggris, Sir Richard Charles Nicholas Branson berjuang di sekolah dan drop out pada usia 16, keputusan yang akhirnya mengarah pada penciptaan dari Virgin Records. Proyek kewirausahaan beliau dimulai di industri musik dan diperluas ke sektor lain membuat Branson miliarder. Virgin Group-Nya memegang lebih dari 200 perusahaan, termasuk yang terakhir Virgin Galactic, sebuah perusahaan ruang pariwisata. Selain dikenal sebagai pengusaha sukses, Branson juga dikenal karena jiwa petualang dan prestasi olahraga seperti melintasi samudra dalam udara balon.

Kehidupan awal

Charles Richard Nicholas Branson lahir pada tanggal 18 Juli 1950 di Surrey, Inggris. Ayahnya, Edward James Branson, bekerja sebagai pengacara. Ibunya, Eve Branson, bekerja sebagai pramugari. Richard, yang berjuang dengan disleksia, mengalami kisah pengusaha sukseskesulitan dengan lembaga pendidikan. Ia hampir gagal lulus dari the all-boys Scaitcliffe School, disana Ia bersekolah sampai usia 13. Dia kemudian dipindahkan ke Stowe School, sebuah sekolah asrama di Stowe, Buckinghamshire, Inggris. Branson drop out pada usia 16 untuk memulai sebuah majalah budaya remaja bernama Student. Publikasi, yang dijalankan oleh siswa, untuk siswa, dalam edisi pertamanya berhasil memperoleh iklan senilai $ 8.000, yang diluncurkan pada tahun 1966. Penerbitan pertama dari 50.000 eksemplar disebarluaskan secara gratis, setelah Branson menutupi biaya dengan iklan.

Pada 1969, Branson tinggal di London commune, dikelilingi oleh musik Inggris dan narkoba. Selama disana Branson memiliki ide untuk memulai perusahaan mail-order kaset yang disebut Virgin untuk membantu mendanai majalahnya. Perusahaan ini didirikan secara sederhana, tapi mampu membuat Branson memperluas usaha bisnisnya, mendirikan sebuah toko musik di Oxford Street, London. Dengan keberhasilan membangun toko musik, Sang Drop-Out SMA ini mampu membangun sebuah studio rekaman pada tahun 1972 di Oxfordshire, Inggris.

Virgin Records

pengusaha suksesArtis pertamanya pada label Virgin Records, Mike Oldfield, merekam single “Tubular Bells” pada tahun 1973 dengan bantuan tim Branson. Lagu ini adalah meraih sukses instan, tinggal di tangga lagu Inggris selama 247 minggu. Memanfaatkan momentum keberhasilan Oldfield itu, Branson kemudian menandatangani kontrak dengan kelompok musik lain yang bercita-cita ke dapur rekaman, termasuk Sex Pistols. Musikus seperti the Culture Club, the Rolling Stones, dan Genesis mengikuti, membantu membuat Virgin Music salah satu dari enam besar perusahaan rekaman di dunia.

Ekspansi Bisnis

Branson memperluas upaya kewirausahaannya lagi, seperti perusahaan perjalanan the Voyager Group pada tahun 1980, perusahaan penerbangan Virgin Atlantic pada 1984, dan serangkaian Virgin Megastore. Tetapi keberhasilan Branson tidak pengusaha suksesselalu dapat diprediksi. Pada tahun 1992, Virgin tiba-tiba berjuang untuk tetap bertahan secara finansial. Perusahaan ini dijual akhir tahun itu kepada THORN EMI sebesar $ 1 miliar. Branson hancur oleh kerugian, dilaporkan menangis setelah kontrak ditandatangani, tetapi tetap bertekad untuk berkecimpung di bisnis musik. Pada tahun 1993, ia mendirikan the station Virgin Radio, dan beberapa tahun kemudian ia mendirikan sebuah perusahaan rekaman kedua, V2. Didirikan pada tahun 1996, V2 sekarang mempunyai kontrak dengan artis seperti Powder Finger dan Tom Jones.

Branson Virgin Group kini memiliki lebih dari 200 perusahaan di lebih dari 30 negara termasuk Inggris, Amerika Serikat, Australia, Kanada, Asia, Eropa dan Afrika Selatan.Dia telah memperluas bisnisnya  dalam berbagai bidang seperti perusahaan pengusaha sukseskereta api, perusahaan ponsel, dan perusahaan pariwisata ruang angkasa, Virgin Galactic.

Branson juga dikenal karena prestasi olahraganya, terutama memecahkan rekor melintasi Atlantik dalam lomba Virgin Atlantic Challenger II tahun 1986, dan yang pertama melintasi Atlantik  (1987) dan Pasifik (1991) dengan balon udara. Dia diberi gelas Knight pada tahun 1999 atas kontribusinya dalam berwirausaha, dan pada 2009 ia terdaftar di no 261 dalam daftar Forbes World Billionaires dengan kekayaan $ 2,5 milyar, termasuk dua pulau pribadinya.

Saya yakin Kisah Pengusaha Sukses: Sir Richard Charles Nicholas Branson dapat menjadi inspirasi bagi Anda yang bercita-cita menjadi pengusaha sukses.

http://www.biography.com

Categories: kisah sukses | Leave a comment

Yang Tidak boleh Dalam Wirausaha Usaha Kecil

Membangun suatu usaha kecil bisa di bilang gampang gampang susah, ada kalanya usaha seseorang berjalan begitu saja dan tumbuh menjadi besar. Namun, banyak juga yang sudah berusaha berulang kali harus jatuh bangun dan jalan di tempat. Mental yang kuat – dalam hal ini mental pengusaha – memang sangat menentukan dalam usaha kecil manapun, tanpa mental yang kuat modal yang kita miliki akan musnah dengan cepat, tanpa mental yang kuat produk yang sangat inovatif pun dan berpotensipun akan basi, dan tanpa mental yang kuat strategi pemasaran terbaikpun akan gagal.

 

Memang ada yang namanya keberuntungan dalam wirausaha, usaha yang awalnya di jadikan sampingan malah bisa tumbuh besar tanpa disadari dan tak ada yang spesial yang dilakukan. Namun mengandalkan keberuntungan dalam berusaha adalah Absrud, karena tuhan sekalipun melarang orang menggantungkan pada keberuntungan dan menyuruh berusaha, usaha, usaha dan berdoa. Oleh karena itu, mulailah dengan membuka pikiran kita dan menumbuhkan mental wirausaha yang kuat walaupun harus mengalami jatuh bangun dalam usaha kecil yang dialakukan.

 

Berikut ini adalah hal hal yang tidak boleh dalam wirausaha usaha kecil, diantaranya:

 

Terpasung hanya pada satu ide saja dalam waktu yang terlalu lama

Jangan hanya terfokus pada satu ide saja. Ingatlah bahwa ide merupakan hal yang paling utama dalam pribadi wirausahawan. Bermainlah dengan banyak ide dan amatilah ide mana yang menguntungkan dan membuat Anda lebih maju.

 

Tidak memiliki rencana pemasaran

Sebuah rencana pemasaran menciptakan perhatian yang Anda perlukan untuk dapat bertemu dengan orang orang atau wirausahawan yang sesuai dengan Anda. Inilah yang akan menarik orang menuju Anda.

Ada begitu banyak metode yang dapat diterapkan guna memasarkan usaha kecil Anda dengan biaya rendah atau bahkan gratis. Suatu rencana pemasaran yang dilaksanakan dengan penuh efisiensi dan kedisiplinan bisa menyingkirkan kebutuhan guna melakukan promosi yang tidak elegan atau promosi terlarang. Silahka lihat di Strategi Menyusun Rencana Pemasaran

 

Tidak mengenali konsumen Anda

Perubahan perubahan dalam selera dan kesukaan pelanggan serta dalam produk atau layanan pesaing bisa membuat usaha kecil Anda mengalami kemunduran kecuali bila Anda sudah benar benar mengenali konsumen Anda, apa yang konsumen kehendaki sekarang dan apa yang konsumen damba di masa depan, bagaimana pola pembelian konsumen, dan bagaimana Anda bisa menjadi andalan bagi pelanggan walau Anda saat belum mempunyai produk atau jasa layanan yang tepat bagi mereka.

 

Mengabaikan posisi keuangan Anda

Pelanggan tidak akan merespon terhadap produk sehebat apapun dalam jangka waktu yang Anda pikir. Anda memerlukan banyak uang untuk menopang diri Anda untuk sementara waktu.

 

Mengabaikan pegawai

Memotivasi, membimbing, dan mengatur staf adalah beberapa tantangan yang mesti dilakukan dan dihadapi sebagai wirausahawan masa kini. Tanpa adanya kesabaran, keteguhan semangat, dan keterampilan berhubungan dengan orang, masalah Anda akan menjadi bertambah berkali kali lipat. Semangat kerja, produktivitas, dan keuntungan bisa dengan mudah musnah.

 

Keliru memaknai peluang dengan kenyataan

Wirausahawan sukses hidup dalam dunia peluang tetapi mengeluarkan uang di dunia nyata.

 

Tidak ada rencana penjualan

Tanpa satu pun rencana penjualan, tidak ada cara serius untuk mengukur pertumbuhan keuangan serta kemajuan usaha kecil Anda. Anda butuh suatu peta yang realistis tentang dari mana penjualan berasal, bagaimana datangnya dan dari siapa saja.

 

Berjuang keras sendirian

Anda mungkin adalah kunci untuk menuju semuanya tapi Anda tidak bisa melakukan semua hal dan tumbuh secara bersamaan. Bahkan sebuah keberhasilan yang tidak terlalu besar pun bisa membuat Anda kewalahan bila Anda tidak mendapat bantuan dari keluarga atau mempekerjakan karyawan yang tepat dan mendelegasikan tugas dan kewajiban.

 

Tidak memiliki pencetus ide

Buatlah sebuah dewan penasihat atau pembimbing (mentor). Terdengar gila bagi suatu usaha kecil? Tentu saja tidak. Dewan ini bisa saja anggota keluarga atau teman kepercayaan Anda. Mintalah mereka untuk menjadi dewan penasihat Anda dan meninjau rencana dan hasil usaha Anda dengan mereka. Mempunyai seseorang yang bisa dimintai pendapat mengenai suatu ide secara objektif adalah sesuatu yang amat penting.

 

Menyerah

Sebagian besar wirausaha sukses gagal beberapa kali sebelum melakukannya dengan baik. Maka dari itu, jika Anda gagal, gagal saja. Dan gagallah dengan cepat. Dan belajar kembali. Dan coba kembali, kali ini dengan kebijakan yang baru.Jangan menyerah. Namun, jangan pula menderita.

 

Semoga ini bisa membuat kita membuka pikiran kita dan memiliki mental wirausaha, dan bagi yang sudah memulai usaha kecil bisa di jadikan bahan intropeksi bagi diri kita. Semoga kita semua bisa menjadi wirausaha sukses, salam UKM

(source refference: ciputraentrepreneurship.com)

Categories: kisah sukses | Tags: | Leave a comment

Wirausaha Kerajinan Batok Kelapa

Tas Kerajinan Batok Kelapa

Limbah tidak selamanya hanya menjadi sampah. Dengan sedikit kreatifitas, barang yang tak bernilai dapat diubah menjadi ‘mesin penghasil uang’. Salah satu contohnya adalah cangkang atau batok kelapa.

 

Batok kelapa yang tidak memiliki nilai, masih dapat disulap menjadi barang yang bermanfaat, salah satunya adalah dibakar untuk menjadi arang. Tetapi ternyata, cangkang kelapa ini masih dapat diubah menjadi barang yang lebih bernilai dari sekedar arang saja.

 

Adalah Ade Sumarno, seorang pria berumur 27 tahun yang sukses menyulap batok kelapa ini menjadi berbagai barang kerajinan batok kelapa unik. Mulai dari barang keperluan sehari hari sampai hiasan rumah yang mempunyai nilai seni.

 

Ade Sumarno mulai menggeluti bisnis ini sejak tiga tahun lalu. Awalnya, Ade mengubah limbah kelapa tersebut menjadi pernak pernik untuk ucapan terima kasih di pernikahan. Bentuknya bermacam macam, mulai dari sendok, garpu, asbak dan lainnya.

 

“Modalnya tidak banyak, hanya perlu batok kelapa, alat potong seperti gergaji, lem dan ampelas saja,” tuturnya kepada detikFinance saat ditemui di tempat kerjanya, Bandung, Minggu (6/11/2011).

 

Ade pun mulai melebarkan usahanya dengan mencoba menggali kreatifitasnya supaya dapat memberi nilai tambah bagi usahanya tersebut. Ade pun mulai mencoba membuat pajangan serta hiasan rumah dari batok kelapa tersebut.

 

Telah beberapa pajangan Ade hasilkan, berbentuk gajah, kuda bahkan mahluk mitologi yang hanya ada dalam dongeng, yaitu naga. Ade mengaku dapat menerima pesanan untuk hiasan rumah tersebut, tidak hanya bentuk yang telah ada, tapi tergantung keinginan pelanggan.

 

“Semua model juga dapat tergantung keinginan. Bisa model becak atau motor Harley (Davidson). Binatang lain juga dapat tidak hanya kuda atau naga,” kata wirausaha muda ini.

 

Untuk waktu pengerjaan, Ade mengatakan, tergantung dari bentuk serta tingkat kerumitan pemesanan. Ade mencontohkan, pengerjaan model naga yang cukup rumit membutuhkan waktu sekitar dua minggu, sementara model kuda yang lebih sederhana dapat di rampung hanya sekitar empat hari saja.

 

Harga yang ditawarkan pun beragam, sesuai dengan tingkat kesulitan dan hasil akhirnya. Ade menjual pajangan dan hiasan batok kelapa mulai dari Rp 500 ribu sampai Rp 1,5 juta.

 

Saat ini, Ade yang belum mempunyai toko sendiri, menjajakan barang dagangannya dengan menitip di galeri galeri seni sampai gerai gerai di stasiun dan hotel. Tetapi, Ade mengaku pembelian paling sering dilakukan oleh orang asing melalui pemesanan.

 

“Kebanyakan yang beli memang dari luar. Mereka biasanya telepon ingin model seperti apa. Nanti sesudah selesai langsung dikirim,” ujarnya.

 

Selain itu, wirausaha muda ini saat ini sedang mencoba untuk mengkolaborasi buah karyanya itu dengan medium keramik. Salah satunya adalah merangkai batok kelapa yang sudah dipotong di atas papan keramik berukuran 30×30 cm.

 

Menurutnya, keramik tersebut dapat disusun di tembok sehingga menjadi hiasan dinding yang cukup menawan. Bahkan, Ade mengaku pernah menerima pesanan dari salah satu direktur Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menghias seluruh dinding kamar mandinya dengan ornamen batok kelapa tersebut.

 

Atas jerih payahnya tersebut, Ade dapat meraup omzet sekitar Rp 10-20 juta per bulan. Uang yang cukup besar tersebut awalnya hanya dari modal yang sangat kecil, bahkan tidak sampai jutaan rupiah.

 

“Dari satu karung batok kelapa itu tidak sampai Rp 100 ribu. Itu isinya sekitar 10 kg, bisa jadi puluhan bentuk akhirnya,” tambahnya.

 

Anda tertarik dengan peluang usaha kerajinan batok kelapa ini?

Bisa anda hubungi:

Ade Sumarno

Jalan Terusan Dursasana

Bandung 40173

Email: Ade_magrib@yahoo.co.id

Facebook: Ade_magrib@yahoo.co.id

Refferensi
Categories: kisah sukses | Leave a comment

Kunci untuk menjadi Wirausahawan Sukses

Menggali diri

Kunci utama guna membangkitkan jiwa pengusaha adalah dengan cara melihat karakter seseorang, utamanya pada hal-hal yang menjadi kebiasaan, alami dan dilakukan dengan baik. Setiap manusia, mempunyai karakter karakter tertentu yang membuat kita apa adanya. Sebut saja Brain Karakter atau otaknya karakter itu sendiri yang menggambarkan unsur-unsur yang membentuk susunan karakter. Mengetahui Brain Karakter Seseorang adalah permulaan. Brain Karakter merupakan inti, dia mengumpulkan pengetahuan juga pengalaman didalam prosesnya. Inilah kunci untuk menjadi wirausahawan sukses.

Brain Karakter membangun pengetahuan juga pengalaman dalam suatu wilayah yang berhubungan. Jika seseorang dengan kreativitas sebagai Brain karakter yang dominan, maka dia akan memiliki kemampuan lebih baik guna mengatasi situasi yang memerlukan adaptasi dan perubahan jika dibandingkan dengan orang yang mempunyai Brain karakter dengan kreativitas yang lebih rendah. Pengalaman Hidup bisa mengembangkan dan memperkuat Brain karakter, tetapi bisa pula menguranginya. Pendidikan serta latihan dapat pula memberikan bentuk serta ukuran dari pengalaman, pentingnya mengetahui Brain karakter kita tidak dapat diremehkan sebaliknya semakin cepat kita mengetahuinya akan lebih baik bagi tujuan kita sebagai wirausaha sukses.

Wirausahawan sukses mempunyai enam Brain karakter utama yang membentuk karakternya :

1. Fokus

2. Kreativitas

3. Ego

4. Tim

5. Keuntungan

6. Sosial

 

Untuk memulai usaha, wirausahawan di bagi menjadi 4 sub kategori. 4 sub kategori ini akan menentukan Kemampuan Yang Diperlukan Oleh Seorang Wirausahawan. Yaitu :

1. Penemu, penemuan atau metodologi, mendefinisikan konsep, unik, baru

2. Inovator, Wirausahawan ini menerapkan sebuah penemuan atau teknologi baru atau metodologi guna memecahkan masalah baru atau memulai usaha baru.

3. Marketer, wirausahawan ini juga mampu mengidentifikasi kebutuhan di pasar juga dapat memenuhinya dengan produk baru atau produk substitusi baik itu milik sendiri atau milik orang lain. yang lebih efisien.

4. Oportunis, wirausahawan ini pada dasarnya sebuah broker, pialang, makelar atau afiliate yang menyesuaikan antara kebutuhan dengan jasa diberikan serta komisi yang di dapat.

 

Refferensi

Wikipedia

Wirausaha

Categories: kisah sukses | Leave a comment

Inilah Kisah Pengusaha Sukses yang Berusia 18 Tahun

Bisnis aneka minuman cepat saji kian mengalir. Mulai mengusung merek pribadi hingga waralaba (franchise). Bahan dasarnya bisa susu, cincao, teh, sinom alias jamu, buah, hingga yang serba racikan sendiri. Bisnis teh kemasan siap saji misalnya, banyak diminati lantaran keuntungan yang diperoleh cukup besar, cara pembuatannya juga tak sulit.
Meracik teh yoghurt kini menjadi andalannya. Padahal, Victor Giovan Raihan, pelajar 18 tahun ini, semula hanya iseng-iseng saja membuat minuman yang memadukan teh dan susu fermentasi ini. Hasilnya, minuman olahannya ternyata memiliki banyak penggemar.

Click here to view the original image of 620x310px.

“Modal awalnya Rp 3 juta dengan meminjam dari orangtua sekitar 2010. Saat ini per outlet paling apes menghasilkan Rp 2 juta per bulan. Outlet lain yang ramai bisa lebih dari itu,” aku pemilik merek Teh Kempot ini.
Ide menamai Teh Kempot berasal dari cara orang minum teh kemasan dengan sedotan, jika teh terasa enak dan hampir habis pasti orang akan terus menyedot hingga bentuk pipinya kempot. Begitu kira-kira harapan Victor menjadikan teh yoghurt berasa paling yummy.
Sulung dua bersaudara yang bersekolah di SMA Negeri 1 Kepanjen ini memiliki 10 outlet yang dikelola sendiri dan 17 outlet yang dikelola oleh mitranya. Bermitra dengannya cukup bayar Rp 3,5 juta dan akan mendapatkan 1 paket booth (gerobak), alat masak dan 100 cup (gelas kemasan) pertama. Dua mitra diantaranya ada di Jakarta dan Palembang, lainnya tersebar di Kota Malang.
“Saya belum berani menjual hak dagang secara franchise karena masih sangat pemula. Jujur saja bisnis teh kemasan siap saji ini marjin keuntungannya bisa 350 persen. Kalau kuliner seperti, Bakso Mercon yang sedang saya kelola, marjin keuntungannya hanya 100 persen,” lanjut putra pasangan Sri Winarsih dan Bambang Hermanto.
Victor memang lebih dulu mengelola bisnis bakso, ketimbang teh yoghurt. Outlet baksonya baru ada lima, kesemuanya ada di Malang. Tahun ini, ia berencana nambah lima outlet. Bisnis yang dikelolanya ini belakangan berkembang ke minuman. Alasannya sederhana, kalau orang makan bakso pasti butuh minum.
“Saya coba beli daun teh setengah matang dari pemasok, saya kelola sendiri lalu saya mix dengan yoghurt (susu fermentasi). Ada rasa lemon tea, stoberi, dan cokelat,” ujar pria yang bermukim di Jl Panji II Kepanjen ini.
Per kemasan atau segelas teh yoghurt ukuran 250 ml dijual seharga Rp 2.000-2.500. Jumlah karyawan yang bekerja padanya kini tak kurang dari 50 orang, termasuk untuk outlet bakso dan teh yoghurt.
Setiap harinya, ia bisa menghabiskan 20 kg daun teh kering untuk diproduksi atau menjadi 70 gelas. Gula yang dibutuhkan 4 kg per outlet per hari. Sedangkan kebutuhan daging untuk bakso sekitar 20 kg per hari.
“Usaha bakso tetap akan jadi core business saya karena omzetnya besar. Kalau teh hanya sampingan. Ke depan, saya akan tambah mitra di kota-kota besar, seperti Surabaya dan Sidoarjo,” lanjut Victor.
Ia mengaku, jalan yang ia tempuh dari hasil kerja kerasnya kini membawa keberuntungan yang luar biasa di usianya yang masih belia. “Saya tidak tahu jika dulu saya mengikuti anjuran ayah untuk sekolah di kepolisian apa ‘omzet’nya akan sebesar ini. Keluarga besar saya semua di jalur angkatan bersenjata. Tapi saya tidak minat mengikuti jejak tersebut,” yakinnya.
Untuk perluasan usaha, Victor masih enggan mengajukan kredit kemana-mana. Pakai modal pribadi dan pinjam orangtua masih memungkinkan. “Toh bapak saya dapat fasilitas kredit dari bank, yakni kredit kepolisian. Saya pinjam dari situ juga,” pungkasnya.

Sumber -> http://www.putunik.com/inilah-kisah-…-18-tahun.nick

Categories: kisah sukses | Leave a comment

Kepemimpinan Wirausahawan

Wirausahawan mesti menanggung beberapa peranan, tugas, dan tanggungjawab. Dan, Yang lebih penting adalah menjadi seorang pemimpin bagi usaha yang dikelolanya. Kepemimpinan wirausahawan (leadership) merupakan suatu proses mempengaruhi, mengarahkan dan memberikan semangat kepada orang lain guna bekerja dalam mencapai suatu tujuan umum serta kemudian memberikan mereka kekuatan dan kebebasan dalam pencapaiannya.

 

 

 

Ada beberapa hal penting yang mesti diperhatikan pada kepemimpinan wirausahawan.

 

1. Seorang wirausahawan yang baik mesti sanggup mempengaruhi orang lain dengan memberikan teladan, memberikan pandangan masa depan, melakukan bimbingan atau konsultasi dan memberikan motivasi.

2. Seorang wirausahawan yang baik, selain mesti pintar memotivasi karyawan juga mesti pintar membangun system guna mendorong karyawan agar terus-menerus mau bekerja keras agar tercapainya tujuan usaha.

3. Seorang wirausahawan yang baik mesti terus meninggkatkan kemampuan kepemimpinannya supaya bisa mengelola serta mengembangkan bisnisnya, melalui pemanfaatan waktu dan tenaga orang lain.

4. Kepemimpinan wirausahawan juga menyangkut distribusi kekuasaan, hal ini membuat wirausahawan memiliki otoritas guna menyerahkan sebagian kekuasaan kapada karyawan atau seorang karyawan yang diangkat menjadi pemimpin pada posisi tertentu yang dapat saja mewakili serta bertindak atas nama wirausahawan.

 

Banyak pendekatan, perspektif, serta definisi guna menjelaskan bagaimana sesorang dapat dikatakan sebagai pemimpin dan memiliki jiwa kepemimpinan. Pemimpin bukan hanya orang yang dicintai dan dikagumi, pemimpin itu nyata dan pemimpin memiliki pengikut.

 

Seorang pemimpin dapat melakukan beberapa hal agar tercipta pendekatan perilaku pemimpin yang efektif:

  1. Memberikan contoh kepada para karyawan.
  2. Menciptakan suatu tatanan dan keyakinan bagi para karyawan serta dengan bergairah mengejarnya.
  3. Menghargai dan juga mendukung para karyawan.
  4. Berkomunikasi dengan para karyawan.
  5. Mengupayakan agar para karyawan selalu fokus pada tujuan yang menantang serta terus mengarahkan karyawan guna mencapai tujuan tersebut.
  6. Menyediakan sumber daya yang dibutuhkan bagi para karyawan guna mencapai tujuan mereka.
  7. Mendorong kreativitas di antara para pekerja.
  8. Menghargai keragaman para karyawan.
  9. Merayakan keberhasilan para pekerja.
  10. Menatap terus masa depan.
  11. Mempertahankan selera humor.

 

 

Sumber Bacaan
6109060shinta.blog.mercubuana.ac.id
Categories: kisah sukses | Leave a comment

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.