Diskriminasi Terhadap Perempuan di India

Sistem Dowry (mahar)
Dowry adalah pemberian yang dilakukan oleh pihak pengantin wanita kepada pihak pengantin laki-laki ketika menikahkan anaknya, dowry bisa berupa uang tunai, barang-barang berharga seperti perhiasan, alat elektronik, furniture dll, tergantung permintaan dari pihak laki-laki. Terkadang semakin tinggi status sosial dan pendidikan dari calon pengantinlaki-laki, maka akan semakin tinggi pula jumlah dowry yang diminta. Menurut hasil studi yang dilakukan oleh Sonia Dalmia dan Pareena G. Lawrence5 ,ada hubungan yang kuat antara status hirarki dan jumlah transfer dari keluarga wanita kepada pihak laki-laki,pengantin laki-laki yang berasal dari kasta yang lebih tinggi akan menerima jumlah dowry  yang tinggi pula dibanding dowry  bagi pengantin laki-laki dari kasta yang lebih rendah. Seringkali permintaan keluarga pengantin laki-laki ini tidak berhenti saat awal pernikahan,namun terus berlanjut ketika anak-anak mereka sudah menikah. Pihak perempuan menjadi diharuskan memberikan apa yang diminta oleh pihak keluarga laki-laki jika ingin anak mereka diperlakukan dengan baik oleh keluarga pihak laki-laki.
Pembunuhan Bayi Perempuan dan Aborsi Selektif.
Karena rendahnya status wanita di dalam masyarakat India dan anggapa masyarakat bahwa anak wanita hanya akan menjadi beban bagi keluarganya kelak maka banyak orang tua yang melakukan aborsi atau pembunuhan bayi perempuan, atau jika bayi ini tetap hidup, mereka banyak yang ditelantarkan oleh keluarganya. Saat ini yang menjadiperhatian adalah kasus-kasus pembunuhan bayi perempuan di India dan aborsi selektif terhadap calon bayi berjenis kelamin perempuan. Para orang tua di India berbondong-bondong memeriksakan kandungan mereka untuk mengetahui jenis kelamin bayinya, dan jika calon bayi tersebut adalah perempuan, maka mereka akan melakukan aborsi. Bagi keluarga yang tidak mampu melakukan pemeriksaan jenis kelamin bayi, mereka dengan segera membunuh perempuan yang baru lahir atau yang disebut female infanticide yaitu pembunuhan bayi dengan sengaja karena didasarkan pada jenis kelaminnya. Berdasarkan hasil studi mengenai pembunuhan bayi-bayi perempuan ini di India, tradisi ini telah berlangsung sejak berabad-abad dan sudah dianggap sebagai hal yang wajar
Praktek Berbagi Istri
Jumlah wanita yang semakin menurun ini mengakibatkan posisi wanita semakinterpuruk, di Baghpat terjadi praktek-praktek berbagi istri. Seorang wanita yang menikah dengan seorang laki-laki di suatu keluarga akhirnya harus mengalami penderitaan dengan menjadi istri dari saudara-saudara lelaki dari suaminya. Sang wanita akan mengalami penyiksaan dan kekerasan jika menolak perintah dari anggota keluarga laki-laki yang ada.Umumnya mereka tidak bisa melaporkan kejadian yang mereka alami ke pihak yangberwajib karena para wanita dilarang untuk keluar rumah sendirian, mereka jarang sekali dapat melakukan kontak dengan dunia luar.
Penggantian Jenis Kelamin Anak Perempuan
Trend belakangan ini yang terjadi di India adalah melakukan operasi pergantian jenis kelamin terhadap anak perempuan yang berumur di bawah 14 tahun. Anak-anak ini dirubah jenis kelaminnya oleh para orang tua agar nantinya mereka tidak perlu memberikan dowry  .Trend penggantian jenis kelamin ini dikenal sebagai genitoplasty . Para orang tua kaya asal Delhi dan Mumbai dilaporkan berbondong-bondong ke Indore untuk mendapatkan operasiganti kelamin dengan biaya relatif murah. Sekitar 2.000 poundsterling atau Rp. 27,6 juta untuk mengganti kelamin putri mereka. Ahli bedah di Kota Indore dilaporkan telah mengubah kelamin ratusan anak perempuan dalam setahun. Dikhawatirkan operasi penggantian jenis kelamin seperti ini akan mengakibatkan gangguan psikologis dankelainan seksual pada anak saat mereka tumbuh dewasa.
Perlakuan Terhadap Para Janda (Tradisi Sati)
Tradisi pembakaran janda atau “ sati ” sudah sejak lama ada di India, bahkan sejak ratusan tahun yang lalu. Tradisi ini berasal dari ajaran Hindu untuk menghormati Dewi Sati dan sebagai wujud cinta dan pengabdian seorang istri kepada suaminya. Ketika seorangsuami meninggal dunia, maka istrinya dianjurkan untuk ikut mati dengan membakar diri bersama mayat suaminya. Ritual sati  ini meski hanya bersifat sukarela, namun di beberapakelompok masyarakat ortodoks, para janda dipaksa untuk menjalankannya. Ritual
sati  ini lazim dijalankan di daerah Rajashtan, di utara India dan juga di beberapa kasta di Bengal. Karena praktek sati

ini sudah dilarang oleh  pemerintah India,  tradisi yang banyak
dijalankan oleh masyarakat India adalah “living sati ”.  Janda yang ditinggal mati oleh suaminya diwajibkan menjalankan “living sati”

yaitu hidup dibawah belas kasihan keluarga suaminya, tidak diperbolehkan memakai perhiasan, meninggalkan segala hal yang berbau kesenangan duniawi dan hanya diperbolehkan memakai sari berwarna putih. Para janda initidak bisa kembali ke keluarganya lagi dan karena menjadi tergantung pada keluarga dari pihak suami seringkali para janda ini diperlakukan dengan semena-mena dan dijadikan pembantu oleh pihak keluarga suami. Bahkan ada yang kemudian dijadikan objek seksualdari anggota keluarga yang lain dan ada juga yang kemudian dijual ke prostitusi. Para janda ini juga tidak berhak mendapat harta peninggalan dari suaminya, ataupun hak asuh atas anak. Praktek semacam ini paling parah terjadi di daerah Bengal, dibandingkan daerah-daerah lainnya di India

Categories: sejarah | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: