Budidaya Belut

12.1. Sejarah Singkat
Budidaya belut di indonesia bergaung mulai tahun 1997 ketika krisis moneter melanda negeri ini, masyarakat kita mulai banyak yang tertarik dengan budidaya belut karena beranggapan bahwa bisnis budidaya belut ini sangat menguntungkan, pada perkembangannya, maka bermunculan peternak belut yang lahir dari seminar dan pelatihan yang diadakan.Tetapi kebanyakan para peternak belut banyak sekali yang gagal. Dari masalah media, pakan, benih dan bahkan informasi cara-cara budidaya yang didapatnya itu menjadi factor utama kegagalan tersebut.
Hingga saat ini pemain belut yang sukses masih bisa dihitung dengan jari mereka yang masih tetap eksis bertahan adalah sebagai petani pemijahan belut, supplier belut, pengepul dan pengrajin belut olahan.Untuk petani pembesaran jarang sekali mereka yang bisa bertahan lama, biasanya karena disebabkan factor kegagalan hingga menyerah tidak mau melangkah lagi dalam bisnis budidaya belut.
Budidaya belut memang fenomenal seiring perkembangan informasi dan teknologi masyarakat sudah mulai kritis dan dewasa menyikapi penomena ini. Banyak peternak belut yang merugi biasanya mereka memulai budidaya belut dengan pembesaran, padahal secara analisa usaha pembesaran kurang menguntungkan dari segi bisnis. Kecuali pembesaran yang bisa berhasil dengan peningkatan angka minimal diatas 2 x lipat selama jenjang waktu 4 bulan. Ini terjadi karena kost pakan terlalu besar nilainya sehingga tidak bisa menutupi penjualan hasil panen.
Untuk menutupinya maka diwajibkan untuk ternak pakan belut. Ternak pakan yang paling mudah adalah cacing ini menjadi salah satu pilihan budidaya belut yang disarankan, dengan system integrasi ini mempunyai keuntungan ganda Selain menutupi kost pengeluran pakan buat budidaya belut yang terlalu mahal dapat menjadi sumber penghasilan sampingan juga dengan menjual pakannya itu.
Belut merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh bulat memanjang yang hanya memiliki sirip punggung dan tubuhnya licin. Belut suka memakan anak-anak ikan yang masih kecil. Biasanya hidup di sawah-sawah, di rawa-rawa/lumpur dan di kali-kali kecil. Di Indonesia sejak tahun 1979, belut mulai dikenal dan digemari, hingga saat ini belut banyak dibudidayakan dan menjadi salah satu komoditas ekspor.

12.2. Sentra Peternakan
Sentra Peternakan belut Internasional terpusat di Taiwan, Jepang, Hongkong, Perancis dan Malaysia. Sedangkan sentra perikanan belut di Indonesia berada di daerah Yogyakarta dan di daerah Jawa Barat. Di daerah lainnya baru merupakan tempat penampungan belut-belut tangkapan dari alam atau sebagai pos penampungan.

12.3. J e n i s
Klasifikasi belut adalah sebagai berikut :

Jadi jenis belut ada 3 (tiga) macam yaitu belut rawa, belut sawah dan belut kali/laut. Namun demikian jenis belut yang sering dijumpai adalah jenis belut sawah.

12.4. Manfaat
Manfaat dari budidaya belut adalah:
1) Sebagai penyediaan sumber protein hewani.
2) Sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
3) Sebagai obat penambah darah

12.5. Persyaratan lokasi

  1. Secara klimatologis ikan belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis yang spesifik. Ketinggian tempat budidaya ikan belut dapat berada di dataran rendah sampai dataran tinggi. Begitu pula dengan kelembaban dan curah hujan tidak ada batasan yang spesifik.
  2. Kualitas air untuk pemeliharaan belut harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kondisi tanah dasar kolam tidak beracun. Air yang kurang layak/tidak bagus untuk budidaya belut di air bersih air PDAM karena banyak mengandung zat-zat kimia (kaporit), air yang langsung diambil dari sumur bur karena sangat minim kandungan oksigennya dan air limbah
  3. Suhu udara/temperatur optimal untuk pertumbuhan belut yaitu berkisar  25-31 0C.
  4. Pada prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus bersih dan kaya akan oksigen terutama untuk bibit/benih yang masih kecil yaitu ukuran 1-2 cm. Sedangkan untuk perkembangan selanjutnya belut dewasa tidak memilih kualitas air dan dapat hidup di air yang keruh.
  5. Kolam budidaya harus ada sirkulasi air walau dengan debit yang sangat kecil (ada yang masuk dan ada yang keluar). Dengan adanya aliran air kedalam kolam budidaya maka akan menambah kandungan oksigen didalamnya sehingga sangat berpengaruh dalam untuk perkembangan serta pertumbuhan belut serta tidak terlalu repot untuk penggatian air. Jika kolam budidaya belut tidak ada sirkulasi air dan pembuangan, air akan cepat kotor/keruh kecoklatan, maka kita harus sering mengganti air paling tidak selama 2 atau 3 hari sekali.

12.6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
A. Penyiapan Sarana dan Peralatan

  1. Perlu diketahui bahwa jenis kolam budidaya ikan belut harus dibedakan antara lain: kolam induk/kolam pemijahan, kolam pendederan (untuk benih belut berukuran 1-2 cm), kolam belut remaja (untuk belut ukuran 3-5 cm) dan kolam pemeliharaan belut konsumsi (terbagi menjadi 2 tahapan yang masing-masing dibutuhkan waktu 2 bulan) yaitu untuk pemeliharaan belut ukuran 5-8 cm sampai menjadi ukuran 15-20 cm dan untuk pemeliharan belut dengan ukuran 15-20 cm sampai menjadi ukuran 30-40 cm.
  2. Bangunan jenis-jenis kolam belut secara umum relatif sama hanya dibedakan oleh ukuran, kapasitas dan daya tampung belut itu sendiri.
  3. Kolam belut bisa berupa terpal, Seng, drum yang tidak digunakan atau kolam permanen dan lain-lain.
  4. Pembuatan kolam belut dengan bahan bak dinding tembok/disemen dan dasar bak tidak perlu diplester.
  5. Ukuran kolam induk kapasitasnya 6 ekor/m2. Untuk kolam pendederan (ukuran belut 1-2 cm) daya tampungnya 500 ekor/m2. Untuk kolam belut remaja (ukuran 2-5 cm) daya tampungnya 250 ekor/m2. Dan untuk kolam belut konsumsi tahap pertama (ukuran 5-8 cm) daya tampungnya 100 ekor/m2. Serta kolam belut konsumsi tahap kedua (ukuran 15-20cm) daya tampungnya 50 ekor/m2, hingga panjang belut pemanenan kelak berukuran 30-50 cm.
  6. Peralatan lainnya berupa media dasar kolam, sumber air yang selalu ada, alat penangkapan yang diperlukan, ember plastik dan peralatan-peralatan lainnya.
  7. Media dasar kolam terdiri dari bahan-bahan organik seperti pupuk kandang, sekam padi, gedebok pisak dan jerami padi. Caranya kolam yang masih kosong untuk lapisan pertama diberi gedobok pisang dan sekam padi setebal 10 cm, diatasnya ditimbun dengan pupuk kandang setebal 10 cm, lalu diatasnya lagi ditimbun dengan ikatan-ikatan merang atau jerami kering. Setelah tumpukan-tumpukan bahan organik selesai dibuat (tebal seluruhnya sekitar 30 cm), berulah air dialirkan kedalam kolam secara perlahan-lahan sampai setinggi 50 cm (bahan organik+ air). Dengan demikian media dasar kolam sudah selesai, tinggal media tersebut dibiarkan beberapa saat agar sampai menjadi lumpur sawah. Setelah itu belut-belut diluncurkan ke dalam kolam. Setelah satu bulan di taruh di kolam mediasi itu kemudian bulan keduanya Lumpur dikurangi tiap hari sampai habis, belut tidak kaget serta jadi terbiasa hidup diair jernih.

B. Penyiapan Bibit
1) Ciri-ciri bibit

  1. Pilih bibit belut yang berukuran “fiberling” yaitu seukuran batang rokok/pena, seragam waktu pengiriman jangan terlalu lama maksimal 1 jam mengurangi stressing.
  2. Pilih belut yang berwarna cokelat kekuningan (oranye) berdada kuning, atau kecoklatan bening dan bertutul hitam. Apabila dipegang/ diangkat tidak melengkung lemas.
  3. Ditempat penampungan kepala tidak mendongok ke atas dan tenang tetapi bergerak aktif posisi tetap dibawah dan dalam air. Kalau mau mengambil nafas mereka menjulurkan hidungnya keluar air langsung kembali ke dalam air dengan cepat. Warna disekitar insang cerah. Posisi perutnya masih dibawah jangan memilih belut yang sudah terlentang dipastikan tidak lama akan mati. Tidak luka atau cacat karena terkena penjepit/ pancing atau alat waktu menangkap.
  4. Pilihlah bibit belut yang dapat besar yakni berwarna kekuning-kuningan, coklat cerah bening, ada toto-totol hitam samar-samar, coklat agak kehijauan disekujur tubuhnya, kepala jendol dan dipunggug bagian ekor bergaris berwarna kuning cerah ada batikan/ motif terlihat jelas dibagian ekor. Bagian kepala ada corat coret berwarna kuning terlihat jelas, bibit yang punggungnya berwarna coklat kehitaman tetapi berdada kuning.

2) Menyiapkan Bibit

  1. Anak belut yang sudah siap dipelihara secara intensif adalah yang berukuran 5-8 cm. Di pelihara selama 4 bulan dalam 2 tahapan dengan masing-masing tahapannya selama 2 bulan.
  2. Bibit bisa diperoleh dari bak/kolam pembibitan atau bisa juga bibit diperoleh dari sarang-sarang bibit yang ada di alam.
  3. Pemilihan bibit bisa diperoleh dari kolam peternakan atau pemijahan. Biasanya belut yang dipijahkan adalah belut betina berukuran ± 30 cm dan belut jantan berukuran ± 40 cm.
  4. Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan dengan kapasitas satu ekor pejantan dengan dua ekor betina untuk kolam seluas 1 m2. Waktu pemijahan kira-kira berlangsung 10 hari baru telur-telur ikan belut menetas. Dan setelah menetas umur 5-8 hari dengan ukuran anak belut berkisar 1,5–2,5 cm. Dalam ukuran ini belut segera diambil untuk ditempatkan di kolam pendederan calon benih/calon bibit. Anak belut dengan ukuran sedemikian tersebut diatas segera ditempatkan di kolam pendederan calon bibit selama ± 1 (satu) bulan sampai anak belut tersebut berukuran 5-8 cm. Dengan ukuran ini anak belut sudah bisa diperlihara dalam kolam belut untuk konsumsi selama dua bulan atau empat bulan.

3)Perlakuan dan Perawatan Bibit
Dari hasil pemijahan anak belut ditampung di kolam pendederan calon benih selama 1 bulan. Dalam hal ini benih diperlakukan dengan secermat mungkin agar tidak banyak yang hilang. Dengan perairan yang bersih dan lebih baik lagi apabila di air yang mengalir.

C.Pemeliharaan Pembesaran
1) Pemupukan
Jerami atau gedebok pisang yang sudah lapuk diperlukan untuk membentuk pelumpuran yang subur dan pupuk kandang juga diperlukan sebagai salah satu bahan organik utama.

2) Pemberian Pakan
Pemberian pakan pokok yang disarankan dalam jumlah minimal perhari adalah :

  • Bulan pertama cacing merah dengan yuyu,
  • Bulan kedua dipakani cacing merah, cacahan keong, cacahan anak katak, cacahan ikan, ulat besar(belatung) yang diberikan setiap 10 hari sekali.
  • Bulan ke tiga diberi pakan keong separo dan anak katak,
  • Pada bulan ke empat sampai panen keong utuh dan anak katak utuh. Penggantian air rutin pada saat pemberian pakan yuyu, selama pemberian pakan keong pergantian air dilakukan seminggu sekali kita tetap menjaga air tetap jernih jangan sampai keruh karena pembusukan pakan.

3) Pemberian Vaksinasi
4) Pemeliharaan Kolam dan Tambak
Yang perlu diperhatikan pada pemeliharaan belut adalah menjaga kolam agar tidak ada gangguan dari luar dan dalam kolam tidak beracun.

D. HAMA DAN PENYAKIT
1. Hama

  • Hama pada belut adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan belut.
  • Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang belut antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air dan ikan gabus.
  • Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan belut secara intensif tidak banyak diserang hama.

2. Penyakit
Penyakit yang umum menyerang adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.

E. PANEN
Pemanenan belut berupa 2 jenis yaitu :

  • Berupa benih/bibit yang dijual untuk diternak/dibudidayakan.
  • Berupa hasil akhir pemeliharaan belut yang siap dijual untuk konsumsi (besarnya/ panjangnya sesuai dengan permintaan pasar/konsumen).
  • Cara Penangkapan belut sama seperti menangkap ikan lainnya dengan peralatan antara lain : bubu/posong, jaring/jala bermata lembut, dengan pancing atau kail dan pengeringan air kolam sehingga belut tinggal diambil saja.

F.PASCAPANEN
Pada pemeliharaan belut secara komersial dan dalam jumlah yang besar, penanganan pasca panen perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini agar belut dapat diterima oleh konsumen dalam kualitas yang baik, sehingga mempunyai jaringan pemasaran yang luas.

G.ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
Perkiraan analisis budidaya belut selama 3 bulan di daerah Jawa Barat pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:
1) Biaya Produksi
a. Pembuatan kolam tanah 2 x 3 x 1, 4 HOK @ Rp.7.000,-Rp. 28.000,
b. Bibit 3.000 ekor x @ Rp. 750,-Rp. 225.000,
c. Makanan tambahan (daging kelinci 3 ekor) @ Rp.15.000,-Rp. 45.000,
d. Lain-lain Rp. 30.000,-
Jumlah Biaya Produksi Rp. 328.000,
2) Pendapatan: 3000 ekor = 300 kg x @ Rp. 2.500,-Rp. 750.000,
3) Keuntungan Rp. 422.000,
4) Parameter Kelayakan Usaha 2,28

H.Gambaran Peluang Agribisnis
Budidaya belut, baik dalam bentuk pembenihan maupun pembesaran mempunyai prospek yang cukup baik. Permintaan konsumen akan keberadaan ikan belut semakin meningkat. Dengan teknik pemeliharaan yang baik, maka akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen.
Dari bibit satu kintal bisa menghasilkan 1 ton belut panen. Modal 25juta dalam empat bulan dapat menghasilkan uang 60jutaan keuntungan bersih setelah dikurangi beban bisa mencapai 20juta, jumlah angka yang menggiurkan.

Bibit belut ukuran 10-20cm
Rp 35.000/kg isi 90-100 ekor; Rp 40.000/kg isi 100-125 ekor dan Rp 45.000/kg isi 125-200 ekor
Sumber http://infopekalongan.com/content/view/62/1/
Sumbangan artikel dari :Harmono Penggiat Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Ngudi Ajining Tani Banjarmangu
Peternakan Belut Desa Kincang Kec Jiwan Kab Madiun 081803362605

12.7. URUTAN PERSIAPAN BUDIDAYA BELUT
A. PERSIAPAN PAKAN BELUT
Dalam budidaya belut pakan mempunyai urutan pertama dalam persiapan, karena untuk mendapatkan pakan belut tak semudah seperti layaknya budidaya ikan mas atau lele karena pakannya dapat dibeli di toko-toko. Untuk itu persiapan pakan belut menjadi kewajiban utama Sebelum persiapan yang lainnya.

1) Persiapan pakan belut
Sebelum mengawali ternak belut kita harus mempersiapkan pakan belutnya terlebih dahulu, karena kebutuhan pakan dalam budidaya belut cukup besar. Biasanya kebutuhan pakan belut berbanding lurus dengan hasil panen yang akan dihasilkan.
Perbandingannyaadalah 1 kg bibit belut ukuran100 ekor pakan yang dibutuhkan selama jenjang waktu 4 bulan adalah 6 kg , itu artinyasetiap bulan kebutuhan pakan belut adalah 1,5 kg atau setiap hari nya kebutuhan pakan sebanyak 0,05 kg  setiap hari untuk 1kg belut.

Pakan belut bisa didapatkan dengan mencari di tempat sekitar atau dengan cara ternak sendiri. Apabila mencari di tempat sekitar maka carilah yang termudah dan termurah biasanya disetiap daerah akan sangat berbeda.
Tetapi jalan terbaik adalah dengan memilih cara membudidayakan pula pakannya, sehingga diharapkan pasokan pakan akan selalu cukup dan aman. Disini penulis sengaja tidak akan membahas bagaimana cara-cara untuk mebudidayakan pakan seperti cacing, kodok, bekicot ataupun belatung dikarenakan keterbatasan ruang.
Pembaca bisa mencari referensi dan informasi yang lengkap dibuku-buku agrobisnis ataupun diinternet.

2. Macam-macam pakan belut
Dibawah ini adalah nama-nama pakan belut diantaranya adalah, cacing, kodok, yuyu, bekicot, ikan-ikan kecil, belalang, belatung dan lain-lain. Bangkai juga bisa menjadi pakan belut dengan syarat tidak dijadikan pakan utama setiap hari, karena selain menimbulkan bau yang kurang enak dapat menggangu juga perkembangan belut itu sendiri,  Bangkai akan dimakan oleh belut setelah lama tersimpan didalam Lumpur biasanya minimal setelah 1 minggu makanya jangan heran kalo pakan utamanya bangkai maka perkembangan belut akan lamban. Kalaupun bangkai yang menjadi pilihan variasi pakan buat belut gunakan bangkai ayam yang sudah di kubur sebelumnya selama 3 hari, kemudian masukan kedalam Lumpur media belut. usahakan dibersihkan dahulu bulu-bulunya.

Contoh salah satu cara Pemberian pakan
Apabila pakan yang akan diberikan adalah Cacing maka brikan lah pada kolam yang tepat pada gundukan media yang dibuat sebelumnya ini untuk memungkinkan cacing berkembang biak.
Kemudian apabila pemberian pakan dengan keong mas / bekicot bisa dilakukan proses sebagai berikut :

  1. Sebelumnya rebus dulu keong mas agar matang, ini berfungsi untuk memudahkan mengeluarkan daging dari cangkangnya.
  2. Kemudian cincang kecil-keci untuk memudahkan dimakan oleh benih belut yang masih kecil.
  3. Buat jamu penambah nafsu makan untuk belut, bisa menggunakan parutan temu lawak dan kunyit, bila perlu berikan 3 hari sekali atau seminggu sekali.
  4. Campurkan parutan temulawak dan kunyit pada pakan keong mas atau bekicot yang sudah di cincang kecil-kecil

B. PERSIAPAN KOLAM
Setelah persiapan pakan baru kemudian kita mempersiapakan kolam untuk budidaya belut. Sebelumnya tentukan dahulu lokasi untuk pembuatan kolam, pilihlah lokasi kolam yang teduh tidak terik terkena sinar matahari langsung. Dan usahakan mudah dalam sistem pengairan.

1. Macam-macam kolam belut
Secara struktur kolam belut dapat dibedakan menjadi dua macam:

a. Kolam permanen
Kolam permanen biasanya terbuat dari semen atau tembok, anda bisa memanfaatkan kolam bekas budidaya ikan yang tidak produktif. Kolam ini mempunyai keuntungan tahan lama dan kuat serta suhu air biasanya stabil menggunakan kolam ini. Sebelum anda investasi awal di kolam permanen ada baiknya menghitung dahulu untung ruginya serta harus benar-benar mempersiapkan keilmuan Sumber Daya Manusianya secara matang agar pilihan budidaya belut ini berhasil dengan baik. Apa lagi apabila berniat terjun besar-besaran secara total di bisnis ini.

b.Kolam semi permanen
Apabila anda berencana untuk mencoba – coba dulu untuk budidaya belut ini, kolam semi permanen bisa menjadi pilihan, biasanya kolam semi permanen ini dapat  menggunakan kolam plastik, kolam terpal, kolam jaring, kolam drum / kolam tong, kolam fiber dan lain-lain.
Kolam ini selain murah juga cukup efisien digunakan di halaman yang tidak terlalu luas walaupun mempunyai resiko sangat rentan dengan kebocoran tetapi dengan perlakuan hati-hati kolam ini bisa awet dan tahan lama.

2. Jenis-jenis kolam belut
Menurut jenisnya kolam budidaya belut terbagi atas 3 (tiga) bagian diantaranya adalah :

Kolam untuk pemijahan/pendederan
Ukuran kolam pemijahan bisa disesuaikan menurut pilihan.
Apabila anda memilih untuk memijahkan belut sepasang, bisa  dengan jumlah  belut indukan 3 (tiga) ekor, yaitu 1(satu) ekor pejantan dan 2(dua) ekor betina menggunakan kolam ukuran.(P)1 m x (T) 0,8 m x (L) 1 m.
Tetapi apabila pilihannya pemijahan secara masal bisa menggunakan kolam sesuai ukuran belut indukan yang akan ditebar, idealnya kolam pemijahan 1 : 1 sama dengan kolam untuk pembesaran, yaitu 1 (satu) m luas kolam bisa diisi dengan belut indukan 1 (satu) pasang. Dalam kolam pemijahan masal, 1 (satu) pasang belut indukan bisa ditambahkan belut betinanya menjadi 3-4 ekor. Ini dilakukan agar dapat mempercepat proses perkawinan dan supaya bisa memperbanyak telur yang akan dihasilkan nantinya.

Kolam untuk pembesaran
Kolam pembesaran terbagi menjadi 2 (dua) tahapan,

  • pada tahap pertama kolam pembesaran dimaksudkan untuk pemeliharaan belut ukuran 5-8 cm, lama pemeliharaan 3 bulan hingga menghasilkan belut ukuran 15 – 20 cm.
  • tahap berikutnya kolam pembesaran untuk belut ukuran 15 – 20 cm pemeliharaan selama 3 bulan untuk menghasilkan belut ukuran 30 – 40 cm.
  • Untuk 1 (satu) tahap sekaligus pemeliharaan bisa dilakukan langsung dari belut ukuran 5-8 cm sampai menghasilkan belut ukuran 30 – 40 cm selama jenjang waktu 6 (enam) bulan, yang masa panennya di lakukan 2 bulan sekali untuk mensortir ukuran belut yang kecil dan besar hal ini dilakukan untuk mengurangi kanibalisme..
  • Bagi pemula yang ingin mencoba dalam pembesaran belut dapat memulai pemeliharaan dari belut ukuran 15-20 cm sampai menghasilkan belut ukuran 40-60 cm dalam jenjang waktu 4 bulan (disarankan panen dilakukan 2 kali selama 2 bulan).

Kolam untuk penampungan dan karantina
Kolam penampungan berfungsi sebagai sarana untuk menyimpan belut hasil panen dan dapat digunakan pula sebagai tempat karantina belut sebelum ditebar kekolam. Karantina belut mempunyai manfaat yang penting selain untuk menghindari penularan bibit penyakit juga untuk mengurangi kematian di kolam pemeliharaan, sehingga diharapkan belut yang ditanam di kolam pembesaran adalah belut yang benar-benar sehat dan lincah setelah diadakan seleksi di kolam karantina.
Karantina cukup dilakukan maksimal selama sehari semalam dengan menggunakan air bersih yang mengalir dan sirkulasi, walaupun pada dasarnya belut dapat bertahan lama di air bersih.
Selama karantina belut tetap harus di berikan pakan, ini agar belut yang lincah tidak menjadi lemes dan yang lemas tidak menjadi mati.
Kapasitas daya tampung kolam yang ideal adalah 1:1 yaitu 1 (satu) m kolam belut  diisi dengan 1 (satu) kg belut, atau dengan rincian sebagai berikut:

  • Untuk belut ukuran 1 – 5cm mempunyai daya tampung 500 ekor/m
  • Untuk belut ukuran 5-10cm mempunyai daya tampung 250 ekor/m
  • Untuk ukuran belut 15-20cm mempunyai daya tampung 50 ekor/m
  • dari jumlah belut per ekor diatas diasumsikan mempunyai berat 1 kg sesuai ukuran panjangnya masing-masing.

C.PERSIAPAN MEDIA BELUT
Di habitat aslinya media hanya berfungsi sebagai tempat tidur saja, tetapi memiliki peranan yang sangat penting untuk kelangsungkan hidup belut selanjutnya. Jadi usahakan media harus benar-benar nyaman dan di buat sealami mungkin. Hindari penggunaan bahan-bahan kimia berbahaya untuk media belut, seperti penggunaan pestisida.

1. Bahan-bahan media belut untuk pembesaran
Bahan-bahan yang diperlukan antara lain :
a. Tanah sawah / Lumpur. Sebagai media utama yang harus disiapkan, berfungsi sebagai penahan suhu agar belut tidak terkena panas akibat terik sinar matahari langsung. Ketebalan media Lumpur sebaiknya tidak kurang dari 20 cm setelah dilakukan permentasi atau sekitar 50% dari tinggi kolam. Karena biasanya media awal yang kita masukan pasti akan mengalami susut hampir setengahnya dari ketinggian awal setelah dilakukan permentasi.
b. Jerami, harus dipermentasikan (pembusukan) dahulu diluar kolam sebelum dimasukan sebagai media tanam
c. Gedebong pisang / kompos, harus dipermentasikan (pembusukan) dahulu diluar kolam sebelum djadikan sebagai media tanam

Pembusukan atau permentasi dapat menggunakan bantuan EM4 atau SO Kontan LQ untuk mempercepat prosesnya.caranya adalah sebagai berikut :

  • masukan bahan media jerami dan gedebong pisang tadi kedalam kantong plastik,
  • kemudian berikan larutan bahan EM4 atau SO Kontan LQ secukupnya sesuai dosis dan petunjuk pemakainnya,
  • selanjutnya tutup rapat kantong plastik tersebut dan diamkan selama 7 (tujuh) hari, hingga bahan media tadi menjadi busuk dan terurai.

Setelah bahan jerami dan gedebong pisang busuk kemudian masukan kedalam kolam yang sudah diisi dengan Lumpur atau tanah sawah, kemudian alirkan air secara merata dan penuh sehingga semua media terendam semuanya. Diamkan selama 7 hari baru setelah 7 (tujuh) hari kemudian air dibuang seluruhnya kemudian setelah itu isi kembali air hingga merata dengan permukaan media.
Untuk kelebihan air usahakan tidak lebih dari 3 cm kalo bisa dipertahankan tidak lebih dari 3 cm. Selanjutnya media bisa ditanami eceng gondok secukupnya, usahakan jangan terlalu penuh apalagi menutupi permukaan media seluruhnya, hal ini untuk menjaga air tidak cepat kering.
Cara ini selain efektif berhasil ternyata sebagai solusi bagi yang tidak memiliki air untuk sirkulasi. Hingga nantinya sirkulasi air dapat dilakukan selama 3 hari sekali.

2. Tahapan dalam membuat media belut untuk pemijahan

  1. Siapkan media tanah atau Lumpur setebal 80% dari tinggi kolam.
  2. Masukan media kompos sebanyak 20% dari tinggi media yang telah dibuat sebelumnya kedalam kolam, campur dengan Lumpur dan aduk hingga merata.
  3. Masukan air secara perlahan dan buat media menjadi becek kemudian diamkan selama 7 (tujuh) hari.
  4. Setelah media cukup matang dan sudah terlihat jentik-jentik , jasad renik, plankton dan kutu air tumbuh tambahkan air kedalam kolam pertahankan ketinggian air usahakan tidak lebih dari 3 cm dari permukaan media.
  5. Selanjutnya media sudah siap di tebar belut untuk pemijahan.
  6. Penebaran belut dilakukan pada pagi hari atau sore hari ketika matahari tidak terlalu terik dan panas untuk menjaga belut agar tidak stress.

D. PEMILIHAN BELUT UNTUK BUDIDAYA
Salah satu factor keberhasilan budidaya belut juga adalah dalam pemilihan bibit belut yang berkualitas dan unggul. Umumnya bibit belut didapat dari hasil tangkapan alam dan hasil budidaya. Apabila akan menggunakan bibit belut dari hasil tangkapan usahakan dari hasil yang di budidaya jangan hasil setruman. Lebih baik lagi dari hasil budidaya karena selain ukurannya yang rata, hasil dari budidaya sudah bisa beradaptasi dengan media buatan sehingga tidak sulit lagi untuk dibudidayakan.

1. Cara-cara pemilihan bibit belut untuk kolam pembesaran

  • Usahakan bibit belut ukurannya rata, agar tidak terlalu tinggi resiko kanibalismenya. Sortir terlebih dahulu sesuai ukuran yang ada.
  • Perhatikan fisik belut, pilih yang mulus, sehat, lincah dan agresif.
  • Apabila sudah mengalami perjalanan yang jauh sebaiknya bibit belut dikarantina dahulu.
  • Masukan bibit belut secara perlahan dan hati-hati agar belut tidak luka dan stress.
  • Tidak disarankan membolak balik kan dan mengaduk-aduk media tanam setelah belut ditebar kekolam, ini akan mengakibatkan belut stress dan harus adaptasi kembali dengan media karena lubang yang sudah dibuat menjadi rusak.

2. Cara – cara pemilihan belut untuk kolam pemijahan

  • Usahakan belut indukan didapat dari hasil budidaya atau dari tangkapan yang bukan hasil setruman.
  • Fisik belut mulus, sehat, lincah dan agresif.
  • Pastikan belut indukan sepasang (ada jantan dan betina)

3. Cara mebedakan belut jantan dan betina

E. MEMILIH PEMIJAHAN DALAM BUDIDAYA BELUT
Banyak peternak belut yang merugi akibat kegagalan, biasanya mereka memulai budidaya belut dengan pembesaran, padahal secara analisa usaha pembesaran kurang menguntungkan dari segi bisnis. Kecuali pembesaran yang bisa berhasil dengan peningkatan angka minimal diatas 2 x lipat selama jenjang waktu 4 bulan. Ini terjadi karena kost pakan terlalu besar nilainya sehingga tidak bisa menutupi penjualan hasil panen. Untuk menutupinya maka diwajibkan untuk ternak pakan.
Belajar dari pengalaman dan kegagalan ini, penulis merekomendasikan untuk memulai bisnis budidaya belut ini dari tahap pemijahan dalam skala kecil dulu. Memulai usaha pemijahan belut memiliki tantangan tersendiri, karena dituntut untuk memahami sifat dan karakter belut.
Dalam pemijahan bibit belut cukup sekali didapat hanya untuk indukan saja, selanjutnya jika berhasil anda tinggal mengembangkannya.
Keuntungan lain, kebutuhan pakan tidak terlalu besar karena jumlah belut tidak sebanyak untuk pembesaran dan tidak memakan tempat yang luas seperti halnya untuk pembesaran.

F. PEMIJAHAN DAN PENDEDERAN
Proses pemijahan belut pada umumnya berlangsung pada malam hari ketika waktu kawin tiba biasanya belut jantan membuat lubang perkawinan berbentuk hurup U. Didalam lubang tersebut belut jantan akan mengeluarkan gelembung-gelembung udara berbentuk busa untuk menarik perhatian belut betina. Setelah masa perkawinan belut betina mengeluarkan telur-telurnya disekitar lubang yang mangapung dipinggiran kolam diatas permukaan air.
Telur yang sudah dibuahi lalu dimasukan ke mulut belut jantan untuk diamankan kedalam lubang dan dierami. Setelah mengeluarkan telur biasanya belut betina diusir dari lubang sebaiknya belut betina diambil. Setelah 2-3 minggu telur akan menetas dan akan dijaga terus oleh pejantan didalam mulutnya hingga anak belut usia sampai 10 hari. Setelah usia 10 hari anak belut sudah harus dipisahkan ke kolam pendederan. Anak belut ini sudah bisa mencari pakannya sendiri dengan memakan jasad renik, plankton dan kutu air yang berada di kolam, usahakan pada kolam pendederan ini kandungan probiotiknya harus cukup tinggi agar pakan belut buat anakannya dapat tercukupi.
Selama 2 (dua) bulan anak belut itu harus sudah diberi pakan yaitu cacing, ikan-ikan kecil dan anak-anak kodok agar perkembangannya bisa maksimal.

1. Tekhnik Pemisahan Anak belut dengan indukan
Pada prinsipnya teknik pemijahan itu terletak pada teknik memisahkan anak dan indukannya, karena pada proses perkawinan belut kita tidak mengatahuinya secara pasti, biarkan secara alami saja.
Pemisahan anak belut dilakukan setelah 10 hari masa perkawinannya atau ketika terlihat ada anakan didalam lubang belut indukannya, biasanya akan terlihat apabila media tanam tidak menggunakan eceng gondok. Untuk itu pada media pemijahan eceng gondok, jerami dan gedebong pisang tidak wajib digunakan.
Media yang mudah bisa menggunakan tanah Lumpur sawah 100%  atau tanah Lumpur 80% dan kompos 20%
Ada berbagai tekhnik dan cara memisahkan anakan belut didalam kolam pemijahan :

  1. Dengan cara dipancing pada malam hari ketika belut sedang mencari pakan, yaitu dengan menggunakan pipa atau bambu yang dimasukan kedalam media tanam belut, berdekatan dengan lubang belut pejantannya sebelum pipa dimasukan sebaiknya terlebih dahulu sudah diberikan pakan berupa cacing sebagai pancingan. ujung sebelah pipa harus ditutup menggunakan kain atau plastik. teknik ini dapat digunakan pada kolam pemijahan  yang ditanam hanya dengan sepasang x 1mdengan kolam ukuran 1m indukan saja. Keuntungan menggunakan cara ini anakan belut dapat terangkat semuanya, tetapi harus sabar menunggu dan terus mencobanya, karena cara ini tidak akan langsung dapat berhasil terlebih lagi apabila tidak mengatahui sama sekali lubang-lubang belut indukannya, usahakan memsang pipa dengan beberapa buah untuk mempercepat keberhasilannya.
  2. Dengan memasang jaring ketika awal pembuatan media pemijahan, sebelum media tanam dimasukan jaring terlebih dahulu dipasang. Tekhnik memisahkan indukan dan anakannya dengan cara mengangkat jaring tersebut ketika setelah 10 hari masa perkawinan selesai dilakukan atau ketika belut anakan sudah terlihat di lubang-lubang belut indukan, pengangkatan jaring ini dilakukan malam hari ketika belut indukan sedang mencari pakan. Keuntungan cara ini lebih praktis karena mengangkat belut indukannya saja sedangkan belut anakannya tetap tersimpan pada media pemijahan, tetapi apabila belut anakan masih diamankan pada mulut belut pejantannya, maka anakannya akan terbawa.Teknik ini bisa digunakan pada kolam belut ukuran 1 (satu) pasang.
  3. Mendesain kolam dengan membuat saringan kecil diatas pipa kelebihan air, pipa ini harus ditutup ketika akan digunakan untuk memisahkan anakannya, caranya ketika belut anakan akan dipisahlan kolam di isi air secara penuh hingga air luber dan mengalir pada saringan yang dibuat itu, aliran air yang tumpah pada kolam pemijahan ini di tampung pada kolam atau wadah yang lain agar anakan belut yang keluar tidak kabur. Cara ini ideal dilakukan pada kolam pemijahan secara masal. Dengan cara di dipanen secara berkala, setiap 2 (Dua) bulan sekali. teknik ini digunakan pada kolam pemijahan masal yang indukannya lebih dari 1 (satu) pasang.

Cara – cara diatas dapat terus di kembangkan dengan penemuan-penemuan yang inovatif lagi agar dapat lebih mudah dan lebih efektif.
Demikian uraian mengenai tekhnik budidaya belut pembesaran dan pemijahan, ini disampaikan. semoga para pembaca yang ingin memulai ternak belut dapat memahami secara dalam dan dapat memulainya dengan budidaya pemijahan dalam bisnis ini.

sumber: http://rohmatfapertanian.wordpress.com

 

Categories: budidaya, Flora & Fauna | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: